Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Gender (warung) makanan


Tadi pagi saya lewat Mbarek, kawasan di utara kampus UGM yang terkenal dengan ‘kampung gudeg’. Ada layatan dengan mendirikan tenda di depan salah satu warung, atau restoran, gudeg. Menurut tulisan pada beberapa karangan bunga yang dipasang, yang meninggal dunia adalah Bu Hj. Ahmad. Nama tersebut menjadi nama salah satu warung gudeg terkenal di kawasan itu, juga warung di Alun-alun Lor. Inna lillahi wa inna ilahi rajiuun.

Bu Hj. Ahmad. Nama yang digunakan adalah ‘bu’, meski kelihatan beliau mencantumkan nama suaminya, Pak Ahmad. Hajjah, dan bukan haji. Penjual gudeg yang lain di kawasan itu adalah “Yu Jum” dan “Gudeg Yu Narni”.\1 Yu adalah sapaan bagi kakak perempuan. Di tempat lain di kota ini juga terdapat gudeg “Bu Tjitro”.

Selain gudeg, gender perempuan juga melekat pada warung ayam bakar atau ayam goreng. Ada “Nyonya Suharti” meski ada juga yang “Suharti” saja, “Mbok Berek”, “Mbok Sabar”, dan yang agak akhir adalah “Ayam Goreng Bu Tini.” Namun jangan lupa ada bapak-bapak, yaitu Kolonel Sanders, yang jual ayam goreng dari Amerika sono. Sementara itu, di beberapa tempat terlihat Pak Slamet dari Kartasura menjual bebek goreng dengan menamai warungnya sebagai “H. Slamet”.

Di kawasan Magelang terdapat “Wajik Nyah Week”, yang sekarang menjadi “Wajik Week” saja. Ada lagi “Dodol Nyah Pang” di Muntilan. Keduanya adalah kios olih-olih makanan, seperti juga kios “Bu Tutik” di Jalan Mataram, Yogyakarta. Rupanya, sektor makanan yang akan dibawa pulang untuk orang rumah (atau teman kantor) dikuasai oleh para perempuan. Namun, di Sokaraja, penjualan getuk goreng dilakukan oleh bapak-bapak, yaitu Haji Tohirin …

Sementara itu, soto kelihatannya lebih dinamai menurut jender laki-laki. Maka ada soto “Soto Pak Marto” di Tamansari, “Soto Pak Soleh” di Tegalrejo, soto Pak Sadari dari Playen, Gunungkidul. Perkecualian yang sedikit antara lain adalah “Soto Bu Cip” di barat Kali Winongo dan Soto Bu Repan/Bu Rini di Ngasem sana. Soto Jatim, Surabaya, dan Lamongan yang membuka lapak tenda di pinggir jalan semua berjender laki-laki karena biasanya menggunakan nama panggilan “Cak”, seperti “Cak Sulkan” di Lor Selokan. Pak Min dari Klaten menjadi brand warung sop ayam yang menyebar di berbagai tempat. Update: Maret, 2015, seorang teman menyatakan menamai warung sotonya dengan nama ibunya agar tidak mainstream …. Semoga laris, Jit!

Bakmi atau nasi goreng juga berjender laki-laki, seperti “Bakmi Pak Pele” di Alun-alun Lor. Mirip dengan bakmi adalah bakso, yaitu “Bakso Mas Kribo” di Ringroad Selatan sana. “Sate Pak Kromo” ada di sekitar Gondomanan.

Kelihatannya terdapat pembagian gender dalam bisnis makanan. Beberapa jenis dikelola oleh wanita, sementara yang lain dikelola oleh laki-laki sehingga hal itu tercermin dalam penamaan warung atau rumah makan. Mungkin hal ini terkait dengan pembagian domestik-publik, atau primer-rekreatif …

Eh, perusahaan katering ternyata juga menggunakan nama ibu-ibu. Di seputar Yogyakarta terdapat nama-nama seperti “Ibu Supardi”, “Bu Wasi”, dan dahulu ada “Bu Sayid” sebelum ganti nama. [z]

ke atas

Catatan Kaki
  1. Dulu sering sarapan gudeg suwir Rp. 450,00 di Yu Narni yang dekat kost. ^

1 Comment

  1. Tennie Negley

    20/12/2015 at 01:13

    Restoran merupakan salah satu tempat untuk menikmati hidangan makanan dan minuman yang berkelas, tetapi tidak sedikit dari restoran yang pernah ada gulung tikar karena ketatnya persaingan diantara mereka untuk mendapatkan pelanggan. Menurut saya sebuah restoran akan tetap eksis dan terus berkembang apabila memiliki tampilan ciri khas tersendiri dan salah satu hidangan istimewa yang menjadi ciri khas mereka serta tentu saja pelayanan yang memuaskan bagi pelanggan. Saya yakin tempat ini memiliki hal-hal tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *