Sepeda motor menjadi salah satu alat angkut utama bagi mahasiswa di kawasan Bulaksumur. Dulu, parkir terdesentralisasi, terdapat di masing-masing fakultas atau upt. Beberapa tahun terakhir, terdapat kebijakan untuk mensentralisasi parkir. Portal kemudian dijadikan satu, misalnya di Jalan Sosio Humaniora. Beberapa jalan menuju kawasan Bulaksumur juga dipasang portal. Akibatnya, kadang terjadi penumpukan pengantre bermotor yang hendak keluar kawasan.

Satu hal yang saya amati cukup menghambat pemeriksaan karcis parkir adalah karcis yang di-uwel-uwel. Petugas di pintu pemeriksaan membutuhkan waktu cukup lama untuk membuka dan membaca nomor kendaraan yang tertulis. Antrian motor atau mobil pada pintu pemeriksaan tidak terhindarkan lagi.

Mungkin pemeriksaan akan lebih cepat kalau kita membiasakan menyimpan karcis parkir dengan baik, kemudian memberikan pada petugas dengan posisi tulisan di atas, menghadap kepada petugas. Untuk lebih cepatnya lagi, karcis (semoga) bisa diberikan dengan tangan kiri tanpa dianggap melanggar sopan santun–saya masih risih dengan menggunakan tangan kiri untuk memberikan sesuatu.

Selain sebaiknya tidak di-uwel-uwel, karcis juga jangan diberikan dalam bentuk origami. Meskipun mungkin indah, waktu yang dibutuhkan untuk membuka lebih lama lagi….

karcis

kiri: sebaiknya ya, tengah: sebaiknya jangan, kanan: apalagi yang ini!