Sabtu (5 Juni 2010) kemarin kami mengantar mahasiswa D3 Kepariwisataan kuliah lapangan ke Situs Manusia Purba Sangiran dan Dayu Park, Sragen, Jawa Tengah. Peserta berjumlah 50 orang mahasiswa beserta 3 dosen, sehingga epet-epetan di sebuah bis pariwisata kapasitas 60-an yang rasanya sudah cukup uzur.

Mungkin ada yang juga akan melakukan wisata ke Sragen, gambaran berikut dapat digunakan untuk menyusun itinerari.

07.15 – 10.06 perjalanan Bulaksumur, Yogyakarta, ke Sangiran
10.06 – 10.45 kegiatan di gardu pandang: pengamatan situasi kawasan dari ketinggian gardu, nonton film dokumenter sepanjang 30 menit.
10.45 – 11.07 perjalanan ke museum
11.07 – 12.06 kunjungan ke museum
12.06 – 14.44 perjalanan ke Dayu, 13.19 – ishoma di jalan raya timur Sragen KM 5
14.44 – 16.24 kunjungan ke Dayu Alam Asri (Dayu Park)
16.24 – 19.57 perjalanan pulang ke Bulaksumur.

Sangiran

Terletak sekitar 17 km di sebelah utara Kota Solo, atau sekitar 90 km dari Kota Yogyakarta, Sangiran adalah situs tempat ditemukannya fosil-fosil manusia purba, peralatan batu dan tulang, serta fitur-fitur alam penting lain. Kawasan seluas lebih dari 50 km persegi ini telah ditetapkan sebagai Warisan Dunia (World Heritage) oleh Unesco.

Kali ini kuliah lapangan mengunjungi gardu pandang dan museum. Di gardu pandang pengunjung dapat melihat keseluruhan area Kubah Sangiran yang telah tererosi menjadi basin, juga nonton film dokumenter sepanjang 30 menit tentang Sangiran.

Sementara itu, di museum terdapat pajangan tentang fosil-fosil yang ditemukan di Sangiran, baik fosil manusia maupun binatang. Terdapat juga cerita tentang evolusi. Di kompleks ini telah beberapa gedung baru yang rencananya akan digunakan untuk memperbaharui pameran museum. Di pelataran parkir kita dapat menjumpai penjual kerajinan yang rata-rata terbuat dari bebatuan.

Para Homo sapiens sapiens mejeng bersama patung kepala Homo erectus di Museum Sangiran; dan rase-terbang di Dayu, Sragen.

Dayu Park

Terletak sekitar 5 km di barat daya kota Sragen, Dayu Park adalah satu kawasan agro wisata, yang oleh pengelola disebut sebagai “Taman Edukasi”. Di kawasan seluas lebih dari 20 hektar ini terdapat kebun jati dengan berbagai fasilitas seperti taman lalu lintas, panggung hiburan. Terdapat juga fasilitas outbond, kebun binatang mini (isinya rusa, buaya, kodok, burung… ), rumah kaca (green house), kolam ikan, kolam renang, dan fasilitas penginapan serta pertemuan.

Untuk memasuki ODTW disediakan tiket terusan yang dapat digunakan mencoba lima atraksi utama yang disediakan yaitu rase-terbang [flying fox], kolam renang, bebek apung, bonbin mini, serta perahu gethek. Dengan menggunakan tiket tersebut hampir semua mahasiswa hanya memilih permainan rase-terbang yang cukup menantang, merosot pada tali melewati sebidang kolam berair coklat.