Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Tag: yogyakarta (page 2 of 2)

Nonton FKY di Pasar Ngasem

sbr: internet

Festival Kesenian Yogyakarta atawa FKY kali ini cukup istimewa. Pada usianya yang mencapai seperempat abad, pusat kegiatan berpindah dari tempat biasanya, yaitu dari kompleks Museum Benteng Vredeburg, ke kompleks Pasar Ngasem. Perhelatan seni ini dilaksanakan mulai 25 Juni-5 Juli 2013 yang baru lalu. Selain di bekas Pasar Burung Ngasem, kegiatan juga dilakukan antara lain di beberapa monumen dan rumah seniman.

Kompleks Pasar Ngasem hasil revitalisasi memiliki tempat terbuka dengan panggung serupa amfiteater di sisi selatan dan kios-kios di sisi timurnya. Di sisi utara terdapat juga los-los yang kelihatannya sebagian besar masih kosong. Pasar sayur di sisi barat juga telah direnovasi sehingga cukup nyaman untuk berbelanja–bahkan berwisata.

Kompleks timur itulah yang digunakan untuk arena FKY. Selain itu, beberapa spot di Tamansari juga disertakan sebagai pendukung, seperti bengkel (workshop) para kriyawan dan seniman Tamansari.

festival kesenian yogyakarta

Salah satu pentas FKY sore hari di plasa Pasar Ngasem. Tampak di kanan belakang adalah Pulo Cemethi, sementara di sisi kiri terdapat kios dengan atap warna bata tempat para perajin-pedagang membuka lapak.

Barangkali, kemeriahan semacam ini yang dibayangkan oleh para penggagas dan perancang revitalisasi Tamansari. Orang berdatangan menikmati sajian kesenian di panggung terbuka, para perajin membuka lapak di kios-kios sekitarnya.\1

Rasa saya keren sekali kompleks Pasar Ngasem sewaktu FKY itu. Kawasan itu menjadi hidup, para pedagang dan perajin memenuhi kios-kios, juga panggung terbuka menjadi ramai dengan kegiatan kesenian. Keindahan sisa bangunan Pulo Cemethi yang merupakan bagian dari Tamansari dapat dinikmati. Apalagi ketika di malam hari bangunan tersebut diberi sorotan pola-pola cahaya dari beberapa lampu dari belakang panggung.

***

lampion festival kesenian yogyakarta

Lampion berbentuk keranjang menyambut di selasar masuk, mengingatkan pada 'kurungan manuk' Pasar Ngasem dahulu.

Hal yang perlu dipikirkan untuk penyelenggaraan acara besar di Tamansari, terutama untuk acara temporer yang pastinya mengundang banyak pengunjung adalah penataan lalu-lintas dan parkir. Jalan Ngasem cukup sempit, sering dilewati rombongan dengan bis besar. Sehari-hari, parkir sepeda motor biasanya hanya di sisi dalam pagar pasar dan sisi barat Jalan Ngasem. Parkir juga dapat dilakukan di sebelah barat pasar, juga di sekitar Sompilan, ‘pulau’ jalan yang ada pohon beringinnya di timur pasar itu.

Pada FKY kali ini konon terdapat tujuh kantung parkir. Akan tetapi, seputar pertigaan di depan venue Pasar Ngasem terlihat ramai digunakan untuk meletakkan kendaraan roda dua sehingga menambah sempit jalan.

Jangan sampai masalah parkir ini kemudian membuat orang malas mengunjungi kasawan pasar Ngasem, seperti dahulu ketika pasar burung dan ikan hias masih berada di tempat ini. Parkir motor yang dapat dua lapis di bahu jalan di depan pasar waktu itu cukup membuat orang malas sekedar melewati Pasar Ngasem di hari minggu.

Integrasi dengan pasar tradisional di sisi barat juga perlu lebih dipertegas. Pasar Ngasem yang legendaris dengan berbagai makanan tradisonalnya juga sayur-mayurnya dapat menjadi alternatif wisata. Boleh jadi, kegiatan kesenian semacam FKY dapat menjadi sarana promosi bagi pasar tradisional.

***

Tidak sabar menunggu ada event lain di Plaza Pasar Ngasem … [z]

ke atas

Catatan Kaki
  1. Setelah direnovasi beberapa waktu yang lalu, kompleks ini terlihat sepi kegiatan meski pernah terdapat beberapa pentas malam minggu. ^

Melukis Cagar Budaya


Sabtu kemarin, saya mewakili Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia komisariat daerah DIY-Jateng menjadi salah satu juri lomba lukis anak-anak. Acara tersebut diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta bekerjasama dengan Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komisariat Daerah DIY-Jawa Tengah.

lomba lukis anak-anak

Mengambil tema “Cagar Budayaku Kebanggaanku”, lomba ini diselenggarakan untuk memperingati ulang tahun Lembaga Purbakala, yang tahun ini bertepatan dengan usia ke-100. Dengan dihadiri hampir seratus peserta, acara berlangsung pada tanggal 22 Juni 2013 di kompleks Masjid Gedhe Kotagede, Yogyakarta.

Lomba ini ditujukan untuk para siswa SD/Madrasah Ibtidaiyah se-DIY kelas IV, V, dan VI. Setiap peserta diwajibkan melukis salah satu objek cagar budaya: Candi Prambanan, Kraton Ratuboko, Tamansari, Kraton Yogyakarta, Masjid Gedhe Mataram, Masjid Agung Kauman, Bank Indonesia, Benteng Vredeburg, atau Gedung Agung.

Menjadi penjaga sisi arkeologi, saya menggunakan paradigma pengelolaan sumber daya arkeologi. Oleh karena itu, perhatian difokuskan kepada tema cagar budaya sebagai kebanggaan daripada teknik melukis: apakah benda cagar budaya dalam karya lukis merupakan satu dari sembilan BCB yang diwajibkan, apakah benda cagar budaya tersebut dapat dikenali, dan apakah peserta melakukan tafsir atau memberikan konteks atas cagar budaya tersebut sesuai dengan tema. [z]

ke atas

Pelang Jalan Malioboro

Lama tidak melintas Malioboro, ternyata pernah ada diskusi publik yang hangat tentang papan nama jalan legendaris tersebut.\1 Tentu hal ini berarti (bagi masyarakat Yogya) hingga muncul banyak perhatian atas penggantian papan nama tersebut. Konon sekarang papan nama jalan sudah dikembalikan lagi.

Konon pula, pemerintah setempat akan mengganti lima ratusan nama jalan, yang berarti akan mengganti pula papan namanya. Setidaknya seribu papan nama, yang akan memiliki dampak besar bagi identitas kota.\2

papan nama malioboro yogyakarta

Lama dan baru ...

*

Piranti jalan, seperti papan nama jalan rupanya cukup menarik untuk diperbincangkan. Dari banyak segi. Papan nama jalan tidak sekedar papan pemberitahuan tentang nama jalan tersebut, melainkan di dalamnya terlibat banyak hal.

Identitas, misalnya. Para pengkritik papan baru di Malioboro rata-rata merasa bahwa papan yang lama cukup sesuai dengan identitas kawasan Malioboro, juga lebih luas lagi, dalam konteks Yogyakarta. Lebih menggambarkan ‘jiwa kawasan’, mungkin begitu.

Seperti dimuat di berbagai situs, papan nama jalan tersebut memang ngepop, ala anak muda. Pilihan font atau jenis huruf, penggunaan warna pelangi …

*

Font\3 merupakan salah satu sarana identitas yang kuat. Tetapi, apa ya font yang pantas untuk Kota Yogyakarta? Berlin misalnya, menggunakan font yang cukup khas, menarik hati peminat grafis.\4 Beberapa orang lantas membuat font yang mirip dengan yang digunakan kota tersebut.

Pemilihan font tidak hanya berkait dengan identitas. Bayangkan, jika biar terkesan kuno kemudian menggunakan old english atau gothic malah susah dibaca. Menurut hemat saya, aspek keterbacaan merupakan hal yang penting bagi papan nama. Mestinya ada aturan di Kementerian Perhubungan atau sebangsanya, tentang pemilihan huruf, ukuran, penempatan, dan sebagainya untuk tanda lalu lintas. Itu jika papan nama jalan termasuk tanda lalu lintas.\5

Tentu pemilihan jenis huruf dan ukuran bukan satu-satunya yang harus dilakukan. Masih banyak lagi: apakah harus condensed (dimampatkan), atau malah ekspan (dimelarkan). Atau suka-suka. Jika terlalu nama terlalu panjang ya dimampatkan, jika terlalu pendek ya diperlebar, yang penting ukuran papan sama besar. Perlu dipikirkan pula, apakah menggunakan huruf besar semua, huruf kecil semua, atau besar kecil.

*

Berikut gambaran papan nama di Malioboro dan seputarnya, setelah meramban di Internet secara cepat.

papan nama jalan yogyakarta

Beragam 'gaya' papan nama, lama dan baru. Gambar kiri dan kanan tidak mesti merujuk tempat dan waktu yang sama.

Jika saya perhatikan, huruf yang digunakan berganti menjadi gendut setelah diperbarui (dengan tiang besi cor malioboroan). Font yang digunakan Kelihatannya arial bold yang di-condense dengan faktor berbeda-beda menyesuaikan antara panjang nama dan papan. Gendut dan kondens rasanya menjadikan papan nama lebih sulit dibaca. Bandingkan dengan papan-papan lama. Hurufnya memang amburadul, tidak rapi, tetapi lebih gambang dibaca.

Tetapi, kenapa harus arial? Kondensnya beda-beda lagi …

papan nama pasar kembang yogyakarta

Lama dan baru, malam hari.

Papan Jl. Pasar Kembang yang baru, yang hurufnya gendut berdempetan itu, dibuat dengan kertas lekat scotchlite yang memantulkan sinar, baik tulisan maupun latar hijaunya. Dua hal ini, pemilihan huruf dan material, membuat papan nama menjadi lebih sulit dibaca di malam hari jika terkena sinar dari arah tertentu.\6

*

Pihak tertentu semacam konsultan grafis, yang mempelajari jenis-jenis font atau huruf seperti dari ISI perlu dilibatkan dalam merancang papan nama jalan. Pekerjaan mereka mulia dan menurut saya cukup sulit. Oleh karena itu, tulisan ini diakhiri dengan segenap hormat kepada mereka. [z]

*Foto-foto dari berbagai situs di Internet.

ke atas

Catatan Kaki
  1. Seperti diberitakan regional.kompas.com/read/2012/09/02/15394131/Papan.Nama.Baru.Malioboro.Menuai.Kontroversi ^
  2. solopos.com/2012/09/26/pengembalian-nama-jalan-332635 ^
  3. Apa istilah tepatnya? Font, jenis huruf, typeface, atau … Karena saya awam, saya gunakan istilah itu dulu. ^
  4. Dapat dibaca di sini ^
  5. Saya membaca papan baru sebagai “Mal Boro”. ^
  6. Mungkin gambar contoh yang lama tidak pas untuk bandingan. Mestinya tulisan itu juga dibuat dengan scotchlite. ^

Mengunjungi Museum, Meneladani Sang Sultan

Dipindah ke sini. Maaf.

Newer posts »