Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Tag: yogyakarta (page 1 of 2)

Oleh-Oleh

Salah satu ‘budaya kita’ adalah memberi oleh-oleh pada orang yang kita kunjungi. Kita juga biasa memberi oleh-oleh pada orang-orang yang kita tinggalkan dan kemudian ketemu lagi, seperti teman atau keluarga yang kita tinggal sebentar ke tempat lain, entah berwisata, ziarah, atau keperluan lain.

Terdapat ‘semacam kewajiban’ bagi yang pergi untuk membawa pulang oleh-oleh. Buah tangan, cenderamata, atawa suvenir. Entah berwujud apa, meski biasanya makanan atau kerajinan khas. Maunya adalah benda yang khusus dibuat di situ, tempat yang dikunjungi, sehingga merupakan benda ‘orisinal’ tempat tersebut. Akan tetapi, dibuat di Tiongkok juga sering tidak masalah. Oleh-oleh orang pergi beribadah haji ke Arab Saudi malah kadang dibeli di Indonesia.

• Baca juga: Otentik atawa Aseli

Saya sebut tadi membawa oleh-oleh ini sebagai ‘budaya kita’.

Hari minggu kemarin, pas tahun baru 2017, toko dan kantor di Yogyakarta umumnya tutup. Setelah sedikit memutar kota, terlihat bahwa tempat komersial yang masih buka antara lain adalah minimarket, warung atau restoran, pom bensin, dan… toko oleh-oleh. Sampai macet-cet jalan di depan toko-toko benda suvenir itu. Penuh dengan, kayaknya, orang luar kota yang kebetulan berlibur di Yogyakarta dan kelihatannya akan segera pulang. Maklum, dua hari lagi sudah masuk kerja atau sekolah.

Nah, kesimpulan saya bahwa membawa oleh-oleh ini adalah ‘budaya kita’ muncul ketika lewat di depan sebuah toko oleh-oleh yang jejel riyel dengan pengunjung dan tempat parkir penuh kendaraan, pun jalan di depannya menjadi macet. Di seberang toko itu terdapat dua orang bule berkali-kali memotret keriuhan itu dengan kamera poket, sambil geleng kepala dan senyum-senyum.

Entah apa yang mereka pikirkan. Dua orang itu yang pastinya bukan orang Yogyakarta itu rasanya bukan akan membeli oleh-oleh di toko yang mengunggulkan bakpia itu. Barangkali mereka malah tidak tertarik untuk membawa oleh-oleh apa pun sewaktu pulang nanti. Mereka mungkin tidak memiliki ‘obligasi’ untuk membawa oleh-oleh pada mereka yang ditinggalkan, di negerinya sono….

Bukan budaya.

***
Oh ya, hari ini seorang kolega yang baru pulang dari Negeri Gajah Putih membawakan kami, orang-orang sekantor, oleh-oleh berupa tas kecil bergambar gajah… [z]

209 total views, no views today

Ngapain Saja di Yogya


Yap. Ngapain saja di Yogya. Apa yang dilakukan jika berada di Yogya?

Bagi kami, di Yogya adalah hidup. Makan, bekerja, tidur… Namun, bagi pendatang yang disebut turis atawa wisatawan, yang menurut kamus pariwisata adalah “orang yang bepergian tidak untuk mencari nafkah alias tidak untuk penghidupan”, ngapain?

Tentu banyak hal yang dapat dilakukan oleh para wisatawan. Tengok situs-situs biro travel yang menawarkan berbagai kegiatan untuk dinikmati. Lihat pula blog para ‘travel writer’ atau para pelancong-penulis amatiran. Banyak hal menarik yang mereka sampaikan. Saya sendiri, yang nyaris sepanjang tahun berada di kota ini, sebenarnya bingung jika ditanya ‘apa yang dapat dikunjungi di Yogya’.

Banyak objek wisata yang “mainstream” seperti berbagai pantai, dan monumen. Namun banyak juga hal-hal tersembunyi yang dapat dicoba. Berbagai desa wisata mencoba menawarkan keunikan. Banyak pula keunikan yang justru tidak disadari oleh para penduduk setempat. Coba kita lihat daya tarik Yogyakarta dari tiga kategori: what to see, what to do, dan what to buy.

Lihat-lihat

Alam Yogyakarta menawarkan berbagai hal, terutama puluhan pantai di sisi selatan, pegunungan agak ke tengah dengan berbagai luweng dan gua, waduk, dan sisa-sisa gunung api, serta Gunung Merapi di ujung utara. Banyak yang telah dikembangkan, seperti Pantai Parangtritis, Gua Pindul, Gunungapi Purba Nglanggeran, Waduk Sermo, hingga kawasan dingin Kaliurang di lereng Merapi.

• Baca juga: Jembatan Duwet.

Dari sisi budaya tangible, monumen dan relik, di kawasan Yogyakarta terdapat banyak peninggalan dari masa Prasejarah hingga Kolonial. Peninggalan prasejarah di Gunungkidul, meski belum dikembangkan, cukup menarik untuk dikunjungi. Dari masa Klasik terdapat berbagai candi terutama di kawasan Kabupaten Sleman di kaki Gunung Merapi. Yang paling besar adalah kompleks Prambanan, yang terdiri atas ratusan bangunan candi, mulai dari Candi Sewu di Utara hingga Ratu Boko di selatan.

Pada masa Islam terdapat situs bekas keraton Mataram di Kotagede, Plered-Kerto, dan Keraton Yogyakarta tentunya. Di samping itu masih terdapat berbagai sarana seperti (bekas) pesanggrahan, dalem, dan tata kota lama. Tamansari adalah salah satu peninggalan yang terkenal, juga Puro Pakualaman.

• Baca juga: Potensi Wisata Njeron Beteng.

Pada masa Kolonial terdapat berbagai bangunan lama terutama di kawasan kota, seperti di Kilometer Nol, Kotabaru, Bintaran, dan Jetis. Benteng Vredeburg dan Gedung Agung mewakili bangunan-bangunan itu. Pada masa tersebut juga berkembang pemukiman Tionghoa, yang dapat dilihat di sekitar Malioboro, terutama kawasan Ketandan di utara Pasar Beringharjo.

Museum juga menyajikan peninggalan sejarah serta budaya Yogyakarta. Terdapat tidak kurang dari tiga puluh museum di Yogyakarta, dengan Museum SOnobudoyo sebagai museum tertua di sini, kemudian terdapat juga Museum Dirgantara dengan berbagai pesawat tempur. Berkait dengan museum adalah Kebun Binatang Gembira Loka yang sekarang menyebut dirinya GL Zoo, dan Taman Pintar sebagai tempat pembelajaran sains.

• Baca juga: Museum di Yogyakarta

Dari sisi budaya takbenda, atau intangible, terdapat berbagai pertunjukan kesenian, event, serta budaya keseharian yang menarik untuk diamati. Di keraton secara rutin digelar pertunjukan, yang bergantian dari wayang kulit dan tari, juga kerawitan. Tiga kali setahun diadakan upacara besar yang disebut garebeg.

Di kawasan Prambanan terdapat pertunjukan sendratari, yang mengambil inspirasi cerita Ramayana seperti tertera pada dinding percandian Lara Jonggrang. Dalam versi yang pendek, sendratari Ramayana juga terdapat di kompleks Purawisata. Jika menghendaki melihat wayang kulit, selain mungkin akan menemukan digelar pada upacara adat–seperti rasulan di Gunungkidul–kita juga dapat melihatnya dalam versi ringkas di Museum Sonobudoyo.

Musik dan teater modern juga dapat dicari di Yogyakarta. Terdapat Taman Budaya belakang Benteng Vredeburg, yang sering digunakan untuk menggelar pertunjukan seni dan teater. Pasar Burung Ngasem, sekarang sebagian telah disulap menjadi plaza. Sering digelar pertunjukan di tempat tersebut.

20141025-038_cr

Konser musik di Plaza Ngasem, dengan latar belakang sisa bangunan Pulo Cemeti Tamansari.

Pameran lukisan sering diselenggarakan di kota ini. Berbagai galeri bertebaran di samping beberapa museum seni. Taman Budaya, Bentara Budaya, Jogja Gallery, Jogja National Museum, Galeri Cemeti, Kedai Kebun, Museum Affandi, Museum Amri Yahya, dan Museum Nyoman Gunarsa hanya sebagian dari venue pameran lukisan.

Untuk budaya keseharian, kita dapat melihat budaya agraris di pedesaaan. Petani mengelola sawah, misalnya. Di Bantul terdapat pengolahan mie tradisional yang dapat juga dikunjungi. Pasar tradisional juga menarik untuk dikunjungi. Terdapat pasar hampir di setiap kecamatan di Yogyakarta, namun Pasar Beringharjo sebaiknya tidak dilewatkan.

Tidak hanya rutinitas sehari-hari, terdapat juga “keseharian” yang dilakukan masyarakat secara berkala. Jika kebetulan berada di kota ini dalam rangka mudik lebaran, maka malam idul fitri kita boleh jadi akan dapat menikmati arak-arakan takbiran. Anak-anak dari masjid-masjid berkeliling kampung dengan berbagai atribut dan lampion. Lumayan untuk dilihat sambil mempersiapkan diri menyambut kemenangan esok paginya. Selain pada malam idul fitri, takbiran juga dapat ditemui pada malam idul adha. Spot favorit saya untuk melihat pawai itu adalah seputar Ngabean dan Gerjen, di sebelah barat alun-alun keraton.

Coba-coba

Dari sisi “what to do”, kita dapat belajar membatik di kawasan Tamansari, membuat cincin perak di Kotagede. Bersepeda keliling kota, maupun menjelajahi desa-desa di sekitar Yogyakarta cukup menarik. Di berbagai desa wisata, pengelola menawarkan pengalaman untuk mengelola sawah, seperti membajak, menanam padi, dan sebagainya.

Nongkrong di warung dan resto termasuk ke dalam kegiatan yang dapat dilakukan. Terdapat berbagai warung legendaris yang menjadi jujugan baik wisatawan maupun warga setempat. Makanan yang disajikan mulai dari nasi kucing, kopi, bakmi, hingga steak.

Alun-alun selatan juga menjadi tempat nongkrong. Jika di malam hari terdapat banyak penjual jagung bakar, di pagi hari terkenal dengan lontong opor dan bubur ayam, terutama di minggu pagi. Para warga berolah raga di minggu pagi, sementara para wisatawan mencoba keberuntungan dengan masangin, berjalan di antara dua pohon beringin dengan mata tertutup. Sepeda hias dengan lampu kelap-kelip juga dapat disewa untuk berkeliling alun-alun ini.

Belanja-belanja

What to buy? Malioboro menjadi pusat cinderamata untuk wisatawan. Kemudian, berbagai perusahaan batik yang bertebaran di seluruh provinsi, terutama di kota, di Bantul, dan Kulonprogo, menyediakan kain tradisional dengan kualitas yang baik dan harga yang relatif terjangkau. Namun, harap memahami dahulu apa yang disebut batik, karena tidak semua “batik” dikerjakan dengan malam dan dicelup ke pewarna. Di kawasan Tamansari kita dapat menjumpai batik lukis, kreasi modern dalam bentuk kaos serta hiasan dinding. Mereka masih mengerjakan dengan teknik batik dan umumnya juga membuat motif tradisional.

• Baca juga: Kasta Batik

Masih dari sisi kriya, Kotagede yang merupakan salah satu kecamatan di Kota Yogyakarta terkenal dengan kerajinan perak. Berbagai kios seni dan bengkel kerajinan di tempat tersebut menjual barang dari perak.

Gudeg menjadi andalan untuk dibeli para wisatawan selain bakpia. Pusat penjualan gudeg ada di daerah Wijilan, yaitu di sebelah timur Alun-alun Utara, serta di utara kampus UGM Bulaksumur. Bakpia, yang sering diincar wisatawan adalah di wilayah Pathok. Namun, percayalah, terdapat banyak penjual bakpia berkualitas di kota ini, juga beragam jenis makanan lain.

Kaos, terutama yang bermerek “Dagadu” cukup legendaris sebagai cinderamata. Selain merek tersebut yang sepertinya hanya disediakan di tiga gerai, terdapat banyak penjual kaos khas Yogyakarta berbagai merk di seputar keraton.

… dan lain-lain!

Daftar itu tentu belum berakhir, karena selalu muncul yang baru. Mahasiswa D-3 Kepariwisataan dan atau S-1 Pariwisata yang bertemu saya baik dalam bimbingan tugas akhir atau dalam perkuliahan, dulu, selalu datang dengan ide-ide segar tentang pengembangan destinasi wisata di Yogyakarta.

Selamat datang di Yogyakarta! [z]

ke atas

1,586 total views, no views today

Macet

Nonton acara televisi tentang jalan-jalan, atau wisata, membuat saya membayangkan bahwa hidup di tempat wisata adalah enak. Coba kita tinggal di dekat lokasi itu, ODTW itu, kita tidak perlu pergi jauh tetapi dapat makan di warung dan resto yang di maknyus dan topmarkotp di televisi itu, dapat berkunjung ke objek itu, atau belanja di distro, di pasar yang itu. Kita dapat melakukannya setiap hari jika mau.

Akan tetapi sebagai seorang yang kadang tinggal di tengah-tengah pusaran turisme, di tengah kota Yogyakarta, saya merasa tidak seenak bayangan tersebut. Jika kami harus makan keluar–karena tidak sempat makan di rumah misalnya, harus berpikir: ke warung yang mana. Warung yang biasa disebut di televisi? Rasanya bagus untuk sekali-sekali saja makan di sana. Tentu tidak setiap hari kita dapat makan sate klathak, kupat tahu pak itu, mie goreng mbah ini, bakso super pedas, atau makanan lain yang sebangsanya. Kadang warung atau resto itu beraroma fancy, saya sebut demikian saja–yaitu yang bukan untuk keperluan sehari-hari, atau turistik: mahal. Yang lebih parah adalah jika merupakan kombinasi dari keduanya, fancy dan mahal.

Beruntungnya adalah masih ada sangat banyak warung, kios, toko, yang tidak beraroma wisata. Jadi, kami tetap tahu tempat misalnya untuk membeli kaos keperluan sehari-hari, bukan sebagai olih-olih turistik.\1

***

Satu lagi balada tinggal di kota wisata\2 : macet.

Musim liburan seperti ini, menempuh jalan Malioboro yang hanya satu kilometer itu bisa setengah jam. Jalan alternatif bagi saya nyaris tidak ada, karena Malioboro adalah jalan paling dekat dari kantor ke rumah. Di musim liburan kami biasa menghindari kawasan Malioboro. Selain itu, kemacetan biasanya juga terjadi di Jalan Solo hingga Kalasan, dan Jalan Magelang terutama di sekitar Jombor dan Tempel.

Berkait dengan kondisi lalu-lintas tersebut, kami berkesimpulan untuk tinggal di rumah jika musim libur. Berbagai kebutuhan sehari-hari dicukupi jauh hari. Jadi, menghadapi musim liburan malah siaga seperti menghadapi bencana.

***

Tetapi, tetap saja kami sambut para wisatawan. Selamat datang, selamat menikmati Yogya. [z]

ke atas

Catatan Kaki
  1. Sebenarnyalah kios turistik hanya sedikit dan kami dengan mudah mengenalinya. ^
  2. haiyah, malah ada kompleks perumahan di dekat Jakarta saya yang menamakan diri kota wisata ^

401 total views, no views today

Wisata & Jalan


tambal ban
Wisata dan jalan-jalan, bagi saya rasanya sama saja. Istilah “jalan-jalan” sering digunakan untuk menggantikan pengertian yang mirip dengan kata “wisata”. Sementara, salah satu syarat dari wisata adalah: jalan-jalan di luar tempat tinggal. Berwisata berarti juga mesti menggunakan jalan, baik sebagian maupun nyaris seluruhnya.

Jalan dapat diartikan sebagai mlaku dalam bahasa jawa. Berjalan. Dalam hal ini, ada kecenderungan pengelola kota sekarang sedikit menjauhkan parkir dari objek wisata. Maka, pengunjung harus sedikit berjalan dari tempat parkir menuju ke objek. Banyak alasan yang dikemukakan, dugaan saya alasan utamanya adalah mengatur pengunjung agar menjadi lebih nyaman: lahan luas untuk parkir sulit ditemukan di sekitar ODTW. Kemudian dibuatlah perencanaan tata ruang wisata, yang menggunakan gagasan bahwa dengan parkir sedikit jauh maka wisatawan akan berjalan kaki ke objek dan di sepanjang jalan mungkin mereka akan berbelanja. Atau mereka akan menggunakan kendaraan setempat. Maka, diharapkan para wisatawan lebih banyak mengucurkan rupiahnya kepada sektor ekonomi lokal.

Wisata memang [masih] identik dengan ekonomi.

***

Apa masalah dengan menambah panjang jalan wisatawan dari tempat parkir ke objek wisata? Mungkin masalah utamanya adalah wisatawan mengucurkan lebih banyak rupiah juga mengucurkan lebih banyak keringat. Ongkos menjadi lebih mahal, dan durasi kunjungan semakin lama. Dilihat dari sisi pengelola kawasan hal ini barangkali memang diharapkan. Namun dari sisi wisatawan, boleh jadi hal ini akan mengurangi minat berkunjung. Mereka akan ‘awang-awangen’, malas untuk berjalan kaki dari tempat parkir ke objek wisata. Mungkin mereka diburu waktu, atau memang tipe orang kita adalah lebih suka ‘turun di depan pintu’. Lihat, halte-halte kita biasanya sepi dari kegiatan turun-naik penumpang kendaraan umum karena kita lebih suka turun di tempat yang sangat dekat dengan tujuan.

Faktor aksesibilitas memang penting bagi satu ODTW, selain akomodasi dan atraksi. Para ahli dan praktisi pariwisata menyebutnya sebagai 3A. Kemudahan untuk mencapai satu tujuan, baik secara literal maupun psikologis, akan mempengaruhi keputusan wisatawan (atau para operatornya) untuk berkunjung.

***

Di Yogyakarta sudah lama muncul gagasan untuk menghentikan bis wisatawan di luar benteng. Taman parkir Ngabean dan Senopati menjadi sebagian lahan untuk tempat parkir bagi wisatawan. Entah kenapa, upaya ini tidak terlaksana dengan baik untuk waktu yang sangat lama. Namun, sekitar awal Desember 2014 diluncurkan kendaraan shuttle untuk beberapa tempat di njeron beteng dan malioboro. Pengunjung harus turun dari kendaraan mereka di tempat parkir yang ditentukan dan dapat berganti dengan kendaraan ini, atau memilih moda lain seperti becak. Jika mau, mereka juga dapat berjalan kaki karena sebenarnya objek-objek wisata tidak terlalu jauh.

Apakah wisatawan ke kawasan njeron beteng sepi dengan pelarangan masuk bis-bis wisata? Entah. Akhir tulisan ini hanya akan melihat prospek wisata dengan ‘terpaksa’ berjalan kaki ini bagi perkembangan wisata.

Beberapa hari yang lalu saya melihat beberapa remaja dengan gembira melangkahkan kaki di Perempatan Gerjen menuju selatan. Mungkin mereka akan ke Pasar Ngasem atau Tamansari. Saya juga tidak tahu pasti apakah mereka terpaksa turun dari bis rombongan di Taman Parkir Ngabean. Namun, beberapa di antara mereka membawa kamera SLR, bukan sekedar kamera poket atau HP, pertanda keseriusan mereka.

Melihat mereka, saya optimistis dengan ‘wisata jalan’ ini. Di samping mengurangi keruwetan lalu lintas di kawasan objek wisata, dengan berjalan kaki maka wisatawan akan lebih melihat banyak hal. Mereka dapat bertemu penduduk, para penjaga kios, tukang becak, pedagang, dan sebagainya. Interaksi dapat muncul dengan lebih intens, sehingga mereka akan lebih banyak mendapatkan sesuatu, yang intangible. Barangkali akan terjadi juga kesepahaman di antara orang luar dan orang lokal, yaitu antara para wisatawan dan penduduk.

Wisata seperti ini mirip dengan gagasan tentang ekowisata dan wisata minat khusus yang disarankan oleh para ahli melihat apa dampak pariwisata akhir-akhir ini. Wisata massal tidak dianggap cocok lagi. Wisata dalam kelompok kecil, memperhatikan lingkungan baik alam maupun budaya, mempelajari dengan serius, serta berpartisipasi dalam pelestariannya, dianggap lebih baik untuk dikembangkan.

Maka, berjalan kaki dan moda-moda pergerakan yang ‘slow’ lain dari para wisatawan akan lebih baik.

***

Untuk itu perlu persiapan lebih banyak bagi ODTW. Jalan-jalan pedestrian perlu ditata dengan lebih baik, lengkap dengan petunjuk-petunjuk dan tempat-tempat yang dapat dikunjungi, atau menarik untuk dilihat di sepanjang jalan. Trotoar harus nyaman untuk pejalan kaki, tidak dihabiskan untuk berdagang, parkir, atau pot bunga.

Dalam hal konten, sepanjang pedestrian dari parkiran ke ODTW mestinya nantinya tidak hanya dipenuhi oleh pedagang benda-benda suvenir bagi para turis. Rasanya hal-hal yang ‘asli’ bagi penduduk kawasan tersebut perlu dipertahankan, misalnya adalah kios-kios atau warung yang melayani kebutuhan masyarakat sekitarnya. Wisatawan juga akan dapat menikmati sajian visual lokal, baik keseharian penduduk, kios dan pasar dagangan lokal, atau bangunan-bangunan unik setempat. Jika tidak, tampilan baru seperti mural dapat juga menjadi daya tarik.

Jika pengaturan ini tidak segera diadakan, mungkin sepanjang jalan akan seragam semua: berjual kaos sablon atau batik printing untuk wisatawan. Maka, keunikan setempat akan hilang, dan wisatawan hanya akan menemui produk turistik baik secara visual maupun material. Aspek intangible, cerita dan gagasan setempat tidak tersampaikan. [z]

ke atas

914 total views, no views today

Minggu Museum

Minggu kedua bulan September 2013 ini terdapat tiga ‘peristiwa museum’ yang menarik perhatian saya. Kebetulan peristiwa ini terjadi di berbagai level, yaitu di tingkat jurusan, provinsi, dan tingkat nasional.

Berikut peristiwa-peristiwa tersebut.

1 Pameran mahasiswa S2 Arkeologi FIB UGM, minat Museologi. Para mahasiswa angkatan 2012 berpameran di selasar Gedung Margono, FIB UGM. Mengambil tema “Fire inside You”, pameran ini mengungkap simbol-simbol berkait dengan api yang melingkupi diri, dari semangat, passion, cinta, hingga sifat jahat/baik. Kemarahan, misalnya, merupakan api di dalam diri yang oleh para mahasiswa digambarkan dengan ekspresi wajah. Kita pun dapat melihat ekspresi marah diri kita di cermin yang disediakan, atau memasang gambar ekspresi wajah marah kita sendiri di pameran.

Pameran ini berlangsung dari tanggal 9-13 September 2013, dan konon juga diselenggarakan candle light dinner beneran di salah satu malam …

fire inside you exhibition

Seorang pengunjung memperhatikan pajangan tentang sati di India, pengorbanan seorang istri yang ditinggal mati suaminya.

2 Pameran “Museum Goes to Campus” yang diselenggarakan oleh Barahmus DIY (Badan Musyawarah Musea DIY). Tidak seperti biasanya yang mengambil lokasi di museum, pameran bersama kali ini mengambil tempat di Kompleks Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH), kampus UGM, Bulaksumur. Memenuhi dua gedung utama di kompleks tersebut, pameran diikuti oleh museum-museum di DIY juga beberapa museum di wilayah yang tergabung dalam Mitra Praja Utama, seperti Jawa Tengah, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Banten.

Selamat untuk Mas Donny dan teman-teman …

3 Pencurian empat artefak emas di Museum Nasional. Peristiwa mengagetkan ini berlokasi di Jakarta, tetapi menjadi perhatian nasional. Saya melihat berita tersebut ditayang di beberapa televisi disertai dengan wawancara kepada beberapa tokoh berkait dengan museum. Beberapa koran nasional juga menjadikannya sebagai tajuk berita …

Dari berita-berita yang beredar terdengar bahwa museum kebanggaan bangsa ini tidak memandang penting CCTV. Perangkat keamanan seperti yang sekarang mulai umum dipasang di rumah-rumah pribadi ini konon telah mati sejak beberapa bulan yang lalu! Kasus ini mengingatkan kita kepada Museum Sonobudoyo, Yogyakarta, yang pernah kecurian artefak emas di tengah tidak berfungsinya CCTV.

koran pencurian museum

Dua kora, nasional dan daerah, yang memberitakan pencurian di Museum Nasional.

Selain masalah keamanan, hal lain yang menarik adalah pilihan benda yang dicuri, yaitu beberapa benda yang kelihatannya adalah peripih beserta wadahnya. Benda-benda tersebut merupakan benda keagamaan yang sering disertakan dalam upacara-upacara tertentu. Menurut keterangan yang dimuat di media massa, artefak-artefak yang dicuri tersebut dahulu ditemukan di kompleks Petirtan Jalatunda dan Petirtan Belahan, Jawa Timur.

Kumpulan berita media daring tentang hal ini dapat dibaca misalnya di http://lipsus.kompas.com/topikpilihanlist/2706/1/pencurian.emas.di.museum.nasional

Semoga segera terungkap kasus ini dan keamanan museum-museum kita segera ditingkatkan. [z]

ke atas

510 total views, no views today

Older posts