Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Tag: wayang

Wayang Singapura

Di Singapura ada wayang. Tentu bukan hal yang aneh, dikelilingi oleh budaya yang mengenal wayang, setidaknya ada Indonesia di sisi selatan, Malaysia di utara, dan Thailand lebih jauh di utara, membuat negara pulau ini juga mengenal wayang.

Namun entah seperti apa rincian bentuknya, saya tidak sempat menjumpai artefak apalagi pertunjukannya. Jejak keberadaan wayang saya lihat sebagai mural pada satu pagar di antara Museum Peranakan dan Museum Filateli, November 2015. Wayang kulit, dengan perpaduan dari berbagai etnis: dari Jawa dapat dikenali dari bagian kepala, dengan tampak samping dan ikatan rambut yang khas seperti para ksatria Pandawa. Sementara pengaruh dari Thailand terlihat pada ujung-ujung pakaian yang mencuat.

Mural Wayang pada sepenggal pagar di Singapura

Unsur Singapura modern tentu ada pula: tokoh wayang mengenakan dasi kupu. Di sana-sini di pagar tembok yang sepanjang dua puluhan meter itu terdapat gambar pixel, yang seperti bata ditumpuk-tumpuk itu. Dan tentu isi cerita scene tersebut juga Singapura: satu tokoh membawa cat semprot, dan satu membawa rol cat. Saya rasa scene itu menggambarkan kampanye antigrafiti, di samping bahwa mural itu sendiri adalah upaya mengurangi grafiti.

189 total views, no views today

Nonton Wayang

A wayang kulit performance was held in Prambanan, Klaten, Central Java, in the beginning of October 2008. The story of the wayang was entitled “Kangsa’s cockfighting”. In the past, the spectators viewed wayang from behind the screen.

Awal Oktober 2008, saya nonton wayang kulit di Prambanan, Klaten. Acara tersebut digelar untuk memeriahkan tumbuk ageng,\1 ulang tahun ke-64, salah satu kolega yang juga mantan dosen saya. Lakonnya, jika tidak salah ingat, adalah “Kangsa Adu Jago”. Wayang ini digelar dengan gaya Surakarta.

*

Wayang dapat dinikmati dari dua arah, dari depan dan dari belakang (balik) layar. Pada rumah Jawa yang lengkap terdapat bagian yang disebut peringgitan. Bagian ini terletak di antara dalem dan pendapa. Disebut peringgitan karena bagian ini merupakan tempat digelarnya ringgit atau wayang.

Para sesepuh dan tamu terhormat lain menikmati wayang dari dalam rumah, dalem, yang hangat, sembari menikmati suguhan nyamikan dari tuan rumah. Mereka hanya melihat bayangan siluet wayang yang berkelebatan berwarna hitam di kelir berwarna putih. Makna dan cerita menjadi penting bagi mereka.

Sementara itu, para penonton umum berada di pendapa, dapat melihat kemilau wayang yang umumnya dicat perada berwarna keemasan itu. Sekarang, mereka dapat juga menikmati para sinden yang bahkan akhir-akhir ini sengaja dipajang menghadap ke penonton, bukan ke wayang memperhatikan cerita seperti dahulu.

*

Saya hanya nonton sekitar seperempatnya. Berikut foto-foto yang saya dapat dari belakang layar.

Sugeng mirsani. [z]

ke atas

Catatan Kaki
  1. Tumbuk ageng adalah ulang tahun ke-64. Bagi masyarakat Jawa hal ini cukup istimewa, karena pada hitungan 8×8 ini weton seseorang akan berulang sama persis. ^

1,230 total views, 2 views today

Garèng dan Bima Ngêtèh Barêng

A big company in the Netherlands produced a new serie of tea bag, one of them is ‘Flowery Java’. Illustration at the box depicts a wayang scene: Bima, the master, is pouring tea into the Garèng’s cup, a servant. It only happens when they are away from Indonesia …

Paruh terakhir tahun 2012 ini, salah satu produsen teh di Belanda mengeluarkan serial baru untuk produk teh celup, yaitu ‘Finest Classics’. Seri ini terdiri atas empat ragam rasa, atau aroma, yang salah satunya adalah Flowery Java. Teh ini berasa teh hitam dengan aroma melati seperti yang kebanyakan dikonsumsi di Jawa.

Bungkus teh celup ‘Flowery Java’ tersebut didesain dengan gambar wayang siluet. Digambarkan Bima atau Wêrkudara menuang air teh dari teko untuk… Garèng! Mungkin Bima, sang satria Jodipati ini menjadi demokratis ketika berkunjung di Negeri Belanda dan mau menuang teh untuk Nala Garèng, si pembantu.

kotak teh celup gambar wayang

Wayang Ngêtèh

Ngapain juga Bima bersama Garèng ke Belanda? Kemana Arjuna yang ndara-nya si punakawan? Garèng pergi diam-diam? Atau ia diutus keluarga Pandawa untuk menemui Bima yang pergi ke Belanda tidak pulang-pulang seperti Bang Toyib? Hehhe…

Tetapi, adalah satu hal yang bagus aroma Jawa digunakan dalam teh di Belanda. Finest classics lagi … Teh-teh lain dalam seri tersebut umumnya adalah teh Belanda (dan Batavia). Rupanya, hubungan Jawa, Batavia, dan Belanda di masa lampau masih menjadi komoditas yang dapat dijual kepada publik di Negeri Kincir Angin ini.[z]

ke atas

474 total views, no views today