Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Tag: warung

Otentik


Zaman sekarang ketika orang pergi ke warung, rumah makan, resto(-ran) bukan hanya untuk mengenyangkan perut, maka rasa menjadi penting. Selain itu terdapat pula gaya, dan kemudian paduan di antara keduanya: rasa dan gaya. Hari ini kita ke penyedia makanan lebih untuk mendapatkan pengalaman, experience, bukan sekedar memenuhi kebutuhan jasmani. Foto-foto makanan pesanan yang kita ambil menjadi penting untuk diberitahukan kepada kerabat atau bahkan khalayak melalui media sosial.

Untuk menggaet konsumen yang memburu pengalaman itu, maka identitas warung menjadi penting, karena sesungguhnya hal inilah yang akan dikonsumsi. Dahulu identitas untuk menandai warung secara lokasional (ini warung, ini warung soto), sekarang lebih kepada simbol-simbol yang lebih jauh.

*

Berkait dengan rasa makanan, banyak warung menyatakan diri otentik, artinya menyajikan masakan yang ‘aseli’. Sebagian warung menyatakannya dengan menggunakan nama daerah asal masakan (warung padang, misalnya. Atau gudeg jogja). Kadang pernyataan tersebut disertai dengan ciri arsitektur: gonjong untuk rumah makan padang atau joglo untuk gudeg.\1

Sebagian lain, yang beberapa tahun terakhir menjadi tren, adalah dengan memberi nama yang menyatakan diri aseli, bersumber dari asal makanan. Dalam kategori ini terdapat nama-nama warung yang menggunakan kata seperti desa, dapur, atau yang lebih ‘tradisional’ lagi, pawon. Maka di seputar Yogyakarta terdapat warung, resto, atau rumah makan bernama “Gudeg Pawon”, “Pawon Desa”, “Bumbu Pawon”, dan “Bumbu Desa” yang waralaba itu. Sebagian lagi menyatakan aseli dengan mencatut nama leluhur, seperti nyonya, ibu, nenek, mbah, bahkan madam. Mereka dianggap sebagai para pemilik ‘resep tradisional’ yang benar dan membuat rasanya ngangeni. Maka ada “Kedai Tiga Nyonya”, Warung “Mbah Jingkrak” misalnya. Yang mengambil dua-duanya menulis besar-besar di depan warungnya “Dapur Ibu” dan “Pawon Nenek”.

**

Entah apakah kelak butuh sertifikasi untuk lebih meyakinkan bahwa masakan yang mereka hidangkan adalah sesuai dengan apa yang dijanjikan. Jadi, mungkin nanti ada warung iso yang bukan berisi iso-babat\2 melainkan iso 2000 sekian. [z]

ke atas

Catatan Kaki
  1. Arsitektur warungnya pun bisa juga menjadi simbol yang dikonsumsi oleh pengunjung. ^
  2. yaitu istilah jawa untuk usus sapi … ^

795 total views, 1 views today

Gender (warung) makanan


Tadi pagi saya lewat Mbarek, kawasan di utara kampus UGM yang terkenal dengan ‘kampung gudeg’. Ada layatan dengan mendirikan tenda di depan salah satu warung, atau restoran, gudeg. Menurut tulisan pada beberapa karangan bunga yang dipasang, yang meninggal dunia adalah Bu Hj. Ahmad. Nama tersebut menjadi nama salah satu warung gudeg terkenal di kawasan itu, juga warung di Alun-alun Lor. Inna lillahi wa inna ilahi rajiuun.

Bu Hj. Ahmad. Nama yang digunakan adalah ‘bu’, meski kelihatan beliau mencantumkan nama suaminya, Pak Ahmad. Hajjah, dan bukan haji. Penjual gudeg yang lain di kawasan itu adalah “Yu Jum” dan “Gudeg Yu Narni”.\1 Yu adalah sapaan bagi kakak perempuan. Di tempat lain di kota ini juga terdapat gudeg “Bu Tjitro”.

Selain gudeg, gender perempuan juga melekat pada warung ayam bakar atau ayam goreng. Ada “Nyonya Suharti” meski ada juga yang “Suharti” saja, “Mbok Berek”, “Mbok Sabar”, dan yang agak akhir adalah “Ayam Goreng Bu Tini.” Namun jangan lupa ada bapak-bapak, yaitu Kolonel Sanders, yang jual ayam goreng dari Amerika sono. Sementara itu, di beberapa tempat terlihat Pak Slamet dari Kartasura menjual bebek goreng dengan menamai warungnya sebagai “H. Slamet”.

Di kawasan Magelang terdapat “Wajik Nyah Week”, yang sekarang menjadi “Wajik Week” saja. Ada lagi “Dodol Nyah Pang” di Muntilan. Keduanya adalah kios olih-olih makanan, seperti juga kios “Bu Tutik” di Jalan Mataram, Yogyakarta. Rupanya, sektor makanan yang akan dibawa pulang untuk orang rumah (atau teman kantor) dikuasai oleh para perempuan. Namun, di Sokaraja, penjualan getuk goreng dilakukan oleh bapak-bapak, yaitu Haji Tohirin …

Sementara itu, soto kelihatannya lebih dinamai menurut jender laki-laki. Maka ada soto “Soto Pak Marto” di Tamansari, “Soto Pak Soleh” di Tegalrejo, soto Pak Sadari dari Playen, Gunungkidul. Perkecualian yang sedikit antara lain adalah “Soto Bu Cip” di barat Kali Winongo dan Soto Bu Repan/Bu Rini di Ngasem sana. Soto Jatim, Surabaya, dan Lamongan yang membuka lapak tenda di pinggir jalan semua berjender laki-laki karena biasanya menggunakan nama panggilan “Cak”, seperti “Cak Sulkan” di Lor Selokan. Pak Min dari Klaten menjadi brand warung sop ayam yang menyebar di berbagai tempat. Update: Maret, 2015, seorang teman menyatakan menamai warung sotonya dengan nama ibunya agar tidak mainstream …. Semoga laris, Jit!

Bakmi atau nasi goreng juga berjender laki-laki, seperti “Bakmi Pak Pele” di Alun-alun Lor. Mirip dengan bakmi adalah bakso, yaitu “Bakso Mas Kribo” di Ringroad Selatan sana. “Sate Pak Kromo” ada di sekitar Gondomanan.

Kelihatannya terdapat pembagian gender dalam bisnis makanan. Beberapa jenis dikelola oleh wanita, sementara yang lain dikelola oleh laki-laki sehingga hal itu tercermin dalam penamaan warung atau rumah makan. Mungkin hal ini terkait dengan pembagian domestik-publik, atau primer-rekreatif …

Eh, perusahaan katering ternyata juga menggunakan nama ibu-ibu. Di seputar Yogyakarta terdapat nama-nama seperti “Ibu Supardi”, “Bu Wasi”, dan dahulu ada “Bu Sayid” sebelum ganti nama. [z]

ke atas

Catatan Kaki
  1. Dulu sering sarapan gudeg suwir Rp. 450,00 di Yu Narni yang dekat kost. ^

1,108 total views, no views today

Warung maknyus?

How to choose a good warung or food stall? Sometimes, the ‘visual performance’ doesn’t correlate with the taste.

Beberapa tahun terakhir terdapat semacam booming warung makan. Berbagai tempat makan menjamur di seluruh penjuru kota. Tema-tema arsitektural yang diusung mirip: berkonsep gubug, bangunan bambu atau kayu, lingkungan yang mencerminkan suasana desa dan alam.

Akan tetapi, barangkali menjamurnya warung makan hanya semacam eforia setelah acara-acara wisata kuliner juga menjamur di layar kaca televisi. Banyak di antara warung-warung tersebut yang kini gulung tikar atau mungkin lipat kursi, dan warung-warung ‘beneran’ biasanya dapat bertahan. Beragam analisis dapat diajukan untuk hal ini, misalnya karena warung ‘beneran’ yang dikelola secara tradisional itu telah mempunyai konsumen tetap, yaitu mereka yang kelaparan, para pengelola menggantungkan hidup di sana sehingga serius dan tidak melakukannya sebagai pekerjaan sambilan … dlsb.

Oke.

*

Perkara lain: bagaimana memilih warung yang enak dan maknyus jika kita tidak pernah nonton televisi untuk melihat rekomendasi Pak Bondan? Teman saya memiliki resep begini: pilih warung yang tidak begitu bersih tetapi ramai. Teman lain memberi kriteria: harus spesialis. Tidak boleh jualan beragam makanan. Jika warung bakso ya jualan bakso saja.

Beberapa warung soto yang sekarang berkembang besar dan meng-upgrade bangunannya menjadi kinclong dengan keramik, menjadi agak mengecewakan.

Oke juga. Ide tentang warung spesialis cukup beralasan. Warung sate yang ngetop biasanya tidak menjual bakso, meskipun mereka juga menyediakan makanan dari keluarga daging kambing selain sate. Maka terdapat warung bakso, warung nasi goreng, warung soto … (Di kawasan Yogyakarta barat terdapat sebuah tempat usaha dengan papan nama bertuliskan “bakso & modiste”. Susah membayangkan apa yang terdapat di dalamnya. Mungkin layanan two-in-one, sambil menunggu jahitan, dipersilakan belanja bakso atau sebaliknya.)

Hanya saja, mengharap menemukan warung yang tidak begitu bersih mungkin menentang zaman. Semua harus ‘menuju ke arah bersih’, harus meningkat higienitasnya. Tetapi rasanya pendapat teman tadi juga masuk akal. Beberapa warung soto yang sekarang berkembang besar dan meng-upgrade bangunannya menjadi kinclong dengan keramik, menjadi agak mengecewakan. “Tidak enak seperti dulu ketika masih jelek,” begitu umumnya komentar teman saya. Wah, entah beneran atau tidak, atau hanya sugesti.. Banyak soto yang rasanya lebih enak disantap insitu daripada dibawa pulang meskipun warung tersebut panas, sempit, bau selokan dan tempat sampah di sebelahnya, atau kadang terdapat tikus lewat dan kecoak beterbangan.

*

Jadi, mendengar salah satu televisi swasta akan mengadakan acara bedah warung, saya berharap nanti hasilnya baik terutama bagi pemilik yang (kelihatannya di iklan acara tersebut) umumnya masyarakat kecil. Tidak kemudian mengecewakan pengunjung yang berkomentar: yah, enak dulu ketika masih sederhana …[z]

ke atas

304 total views, no views today