Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Tag: transportasi (page 1 of 3)

Telolet

Sebenarnya saya tulalit mendapati perkembangan kemini. Anak-anak, juga yang dewasa, berdiri di pinggir jalan dan meminta sopir bis menekan klakson yang berbunyi “telolet” itu. Mereka kemudian tertawa bahagia. Konon postingan hal ini menjadi trending topik di dunia.

Tulalit saya adalah apa bagusnya mendengar suara itu di jalan. Saya lebih setuju pada semboyan “injak rem daripada bunyikan klakson”. Jika ada yang mengklakson, apa lagi di bangjo, saya biasanya merengut.

Tapi memang suara klakson itu cukup khas dan menarik perhatian. Bis (mungkin truk juga) yang biasa melaju kencang perlu menyingkirkan segenap halangan dan rintangan di jalan agar mereka tiba di tujuan tepat waktu. Atau lebih cepat agar punya sedikit waktu untuk beristirahat di terminal.

Suara itu jelas tidak dicipta untuk ditujukan kepada segerombolan anak di pinggir jalan. Jadi, mengapa anak-anak bahagia dengan pembajakan itu?

Ikut tren, boleh jadi. Karena lagi viral di dunia maya (anak-anak itu tahu apa tidak?) maka mereka juga ikut. Atau karena jenuh. Cari lucu-lucuan yang murah meriah. Teman saya, Fajri, malah menganalisis bahwa hal itu karena orang bosan dengan segala macam hoax dan kebencian di medsos. Maka, guyon sederhana yang gampang dicerna lebih disuka.

Boleh jadi, Jri… [z]

183 total views, no views today

Mudik


Salah satu kata yang populer di seputar hari raya adalah “mudik”. Pengertian umumnya adalah pulang ke tempat asal. Pada hari-hari semacam ini, negeri riuh rendah dengan orang yang pulang kampung. Perhatian seluruh negeri tertuju ke peristiwa ini, yang konon di tahun 2016 diperkirakan terdapat 17,6 juta orang yang mudik lebaran. Jumlah ini sama dengan perkiraan jumlah penduduk Mali tahun 2015, atau lebih banyak dari penduduk Belanda tahun 2016 ini yang berjumlah 16.963.200 orang.

Media massa memberikan porsi yang banyak dalam pemberitaan tentang mudik, atau disebut dengan “arus mudik”. Para naralapor, reporter, dipasang di berbagai ruas jalur penting yang biasanya ramai atau macet. Mereka melapor pada segmen berita khusus tentang peristiwa ini. Umumnya yang terjadi adalah orang-orang pergi dari Jakarta ke tempat-tempat lain di seluruh Nusantara, terutama “Jawa” dan Pulau Sumatera.

Nah, setelah satu-dua hari setelah hari raya, para pemudik mulai kembali ke tempat semula. Orang-orang yang minggu-minggu kemarin meramaikan jalanan dengan arus mudik, sekarang balik ke Jakarta untuk melanjutkan hidup. Media massa memberitakan hal sama dengan beragam istilah: “arus balik”, atau “arus balik mudik” di samping tetap menggunakan kata “mudik”. Terlihat kita agak bingung memberikan istilah yang merupakan lawan kata dari mudik.

Jadi, antonim dari “mudik” adalah “balik”, dalam kasus ini.

Dahulu waktu sekolah saya diajari kata majemuk “hilir-mudik”. Kata ini berarti ada objek yang ke sana ke mari, entah itu orang atau barang seperti kendaraan. Menariknya adalah “mudik” disandingkan dengan kata “hilir”. Hilir tentu bermakna pergi ke tempat air mengalir. Ingat lawan kata “hulu-hilir”. Mudik konon berarti “meng-udik”, “pergi ke udik”, ke suatu tempat nun jauh di sana, tempat air sungai bermula. Istilah “hilir-mudik” mungkin dahulu muncul zaman transportasi sungai masih populer, menjadi andalan. Orang pergi dengan perahu ke hulu dan ke hilir mengikuti panjang sungai, jadi hilir-mudik.

Istilah mudik tentu relevan untuk menyebut orang Jakarta yang pergi pulang kampung ke, misalnya “Jawa”. Namun, banyak mahasiswa saya yang berasal dari Jakarta, dan juga melaksanakan tradisi “mudik” ini. Entah, apa mereka sebaiknya menyebut “ngilir” atau “milir”. [z]

ke atas

462 total views, no views today

Ojek

Dari mana dan bagaimana ceritanya sehingga muncul kata ‘ojek’. Di lingkungan saya moda angkutan ini disebut dengan ‘trayek’. Menariknya, guru lagu kedua kata ini sama, yaitu ‘-ek’. Saya sedang membayangkan bahwa barangkali kata ‘ojek’ bersaudara dengan ‘odong-odong’ karena huruf ‘o’ di depan.

Setelah hiruk-pikuk ojek di media, baru tersadar bahwa moda satu ini tidak legal sebagai angkutan penumpang umum. Soalya, selama ini sering di pertigaan atau perempatan tempat para penumpang turun dari angkutan umum terdapat pangkalan ojek, lengkap dengan bamgunan peneduh, dan kadang daftar giliran para tukang ojek untuk membawa penumpang. Kadang mereka berseragam.

Ojek atawa trayek tadi menjadi andalan di wilayah kami jika hari sudah senja. Angkitan umum sudah nyaris tidak ada sejak maghrib. Maka, jika pulang terlalu sore dan tidak ada yang menjemput kemungkinan besar para tetangga saya akan naik trayek dari pada berjalan hingga lima-enam km.

Para pengojek ini biasanya bukan sekedar mereka yang biasa nongkrong dengan sepeda motor di mulut jalan. Biasanya mereka terorganisir. Salah satu organisasi yang terkenal di akhir 80-an adalah CCCP. Bukan pengojek dari Uni-Sovyet, namun Condong Catur Club Pengojek. Mereka mangkal di bawah pohon beringin di dekat Terminal Condong Catur, Sleman, dan mengenakan kaos dengan tulisan CCCP di bagian dada, mirip dengan para pemain sepakbola dari Sovyet yang waktu itu sangat terkenal.

Ojek juga menjadi andalan sebagian warga yang tidak memiliki pekerjaan tetap, namun mempunyai motor. Zaman ojek juga dapat dihubungi dengan cara daring atawa online seperti sekarang, profesi ini semakin naik pamornya: berseragam, smartphone nangkring di stang kiri. Mereka berafiliasi pada ‘kantor’ atau perusahaan tertentu, yang mengelola secara daring. Penghasilan mereka pun bisa luar biasa. Seorang ibu yang dua-tiga hari yang lalu diwawancara di teve bercerita bahwa penghasilannya mencapai delapan juta! Pantesan antrean untuk mendaftar tukang ojek online bisa mengular.

Namun, jika profesi tukang ojek berstatus tidak formal alias termasuk sektor informal, bagaimana status mereka berkait dengan posisi hukumnya: informal dan ilegal?

Atria, Magelang.

433 total views, no views today

Istimewa

Menjadi yang istimewa mungkin impian terpendam manusia, keinginan untuk berbeda dari orang lain, terutama dalam hal kelebihan. Menurut Pak Abraham Maslow, keinginan menjadi istimewa masuk ke dalam keinginan nomor dua dari atas, yaitu kebutuhan akan penghargaan: kebutuhan akan status status hingga dominasi.

Maka orang berburu akan status demi keistimewaan.

Orang tua mendaftarkan anaknya ke sekolah tertentu, yang istimewa tentunya. Yang bagus atau kadang yang mahal. Sekolah sendiri membuat diri mereka istimewa, membuat prestasi, dengan status akreditasi, atau itu tadi, mematok uang sumbangan yang cukup besar. Atau sekedar membuat seragam yang berbeda dari sekolah lain.

Rombongan pesepeda motor, yang bukan karena mudik, adalah orang-orang yang memburu status. Mereka masuk ke lingkaran sosial tertentu dengan berbagai atribut material mereka. Kemudian mereka istimewa, atau ingin merasa istimewa dengan berbagai perlakuan: dikawal polisi, mendominasi jalan, hingga ‘boleh’ menerobos lampu merah. Kemudian mereka menyampaikan status itu dalam suara knalpot yang memekakan telinga.

Tetapi sebagian mereka jelas memang istimewa. Tidak semua orang berkesempatan mengendarai moge kesana-kemari.

***

Saya intip tukang martabak di depan pasar. Martabak biasa dengan satu butir telur seharga 12.000 rupiah, martabak istimewa mengandung tiga butir telur dibanderol dengan harga 20.000 rupiah.

“Jogja Jogja tetap istimewa
Istimewa negerinya istimewa orangnya
Jogja Jogja tetap istimewa
Jogja istimewa untuk Indonesia”

“Jogja Tetap Istimewa”, Jogja Hip Hop Foundation

755 total views, no views today

Eksekutif

Saya senang Stasiun Tugu antara lain karena ada wifi gratis sembari menunggu kereta. Di tempat yang bukan merupakan habitat saya ini, pikiran sering kemana-mana di samping badan pun juga sedang akan kemana-mana. Maka, biasanya di stasiun ada banyak hal yang muncul di kepala untuk ditulis dan dibagi di blog.

Kali ini melintas di pikiran saya mengapa kelas kereta api di Indonesia disebut eksekutif, ekonomi, dan bisnis. Di Belanda rasanya ada kelas 1 dan 2 pada setiap rangkaian kereta reguler. Memang ada kereta antarnegara yang lebih mewah, yang entah apa nama kelasnya. Pada spoor Sprinter yang berjarak dekat itu terdapat Kelas satu di bagian depan gerbong dengan warna kursi merah. Sementara kelas dua berkursi biru terletak di belakangnya, kadang pada gerbong yang sama.

Memperhatikan pembagian kelas kereta itu, saya ingat bahwa dahulu sewaktu di SMP diajari adanya trias politika. Gagasannya adalah memisahkan antara legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Kira-kira, ketiganya berarti pembuat (peraturan), pelaksana, dan pengawas.

Berbeda dari trias politika yang menempatkan masing-masing pihak secara setara, maka trias kereta merupakan perbedaan kelas. Perbedaan ini tercermin dalam fasilitas yang didapat. Jika duduk dalam gerbong kereta eksekutif, misalnya, maka tempat duduk lebih nyaman (di depan tertulis kapasitas lima puluh penumpang per gerbong). Kereta eksekutif juga dapat sampai lebih cepat ke tujuan ketimbang jenis lain, karena mendapat prioritas. Kereta ekonomi akan menepi di stasiun dan mempersilakan kereta ini lewat jika kebetulan akan menggunakan satu penggal rel yang sama.

Kelihatannya begitu. Namun, kereta yang saya tumpangi ini ternyata juga pernah berhenti di salah satu stasiun, menunggu kereta ekonomi lewat. Mungkin kereta yang berpapasan itu lebih dulu masuk ke jalur.

jug gicak gicuk gicak gicuk …
kereta berhenti …

***

Pembagian tiga ini juga terjadi pada moda angkutan pesawat terbang. Namun, sekarang konon banyak maskapai penerbangan yang menghilangkan kelas eksekutif dan hanya berujung pada kelas bisnis. Mungkin kini para eksekutif sudah tidak semakmur dulu sehingga tidak lagi mampu numpang di kelas yang diperuntukkan bagi mereka.

Bis juga sering mencantumkan tulisan “eksekutif”, pada bodi samping. Tidak tahu, apakah hal itu benar-benar penunjuk kelas atau hanya gaya-gayaan. Saya juga belum tahu apakah juga ada bis kelas bisnis, sementara di jalan sering berseliweran bis bertulis “ekonomi ac”.

Eh, tapi ternyata masing-masing kelas kereta itu masih terbagi dalam empat sub-kelas. Menurut mbak-mbak yang melayani penjualan tiket di Gamawisata, perbedaannya hanya pada masalah posisi gerbong pada rangkaian.

***

Nah, pertanyaannya adalah kenapa yang tertinggi disebut eksekutif, yang menengah adalah bisnis, dan terendah adalah ekonomi. Yang terakhir ini lebih mudah dipahami karena mungkin berkait dengan kata ekonomis yang berarti ngirit. Namun, perlu diingat bahwa Fakultas Ekonomi biasanya merupakan fakultas ‘elite’ di suatu kampus.

Berkait dengan eksekutif, mungkin pernah suatu ketika para eksekutif menempati pucuk piramida sosial kita, baru disusul oleh para pebisnis. Di tahun ’80-’90-an dulu ada radio di Yogyakarta yang menyapa pendengarnya dengan sebutan “eksekutif dan intelektual muda”. Entah sekarang, sudah lama saya tidak mendengarkan radio. Tentunya sapaan “eksekutif” di situ adalah dalam konotasi baik. Sapaan dan predikat semacam itu tentu dalam tujuan menyanjung. Namun, belum tentu menggambarkan kenyataan.

Jika ada iklan lowongan pekerjaan sebagai “sales executive” “executive marketing”, berarti yang dibutuhkan adalah mereka yang langsung melakukan pemasaran dan bertemu konsumen.

***

Secara historis, pemisahan kelas gerbong sudah terjadi sejak kereta api dikenalkan sebagai transportasi penumpang. Menurut penelitian teman saya, Riris Purbasari, waktu dia bikin skripsi dahulu, pada masa Kolonial orang kulit putih mendapat tempat tersendiri di ruang tunggu. Saya tidak tahu bagaimana di kereta, apakah di gerbong tersendiri, atau malah kereta yang berbeda, dan apa nama kelasnya, jika ada.

[z]

ke atas

774 total views, 1 views today

Older posts