Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Tag: televisi (page 1 of 2)

Sepak Maya

Nonton “Mata Najwa” di MetroTV tentang suap dan pengaturan skor sepak bola, lantas nonton sinetron anak main sepak bola, “Si Madun” di stasiun tv lain, membuat saya teringat akan Baudrillard.

Konon, menurut sosiolog dari Prancis tersebut, kita mempercayai yang maya sebagai nyata. Hiper-realitas. Tidak jelas batas antara nyata dan maya. Begitu kira-kira, karena saya sebenarnya tidak dong dengan beliau.

Nah, nonton sepak bola yang nyata itu, ternyata maya juga: skor sudah diatur. Hal tersebut mirip nonton si Madun. Skor juga sudah diatur oleh penulis naskah dan kemudian sutradara. Jadi, nonton keduanya adalah nonton hal yang sama. Para suporter yang kehabisan suara di stadion pada intinya adalah menyemangati hal yang maya. Tidak ada pengaruh sama sekali pada pertandingan di lapangan. Seakan ada dinding kaca di antara tribun penonton dan lapangan hijau. Para pemain tidak mendengar mereka sama sekali. Persis seperti kita nonton televisi. Ada batas kaca antara kita dan ‘pemain’.

Oleh karena itu, seperti itu pula para penonton siaran langsung di rumah, yang lemas karena tim kesayangan mereka kalah. Kira-kira mereka mirip ibu-ibu yang menangis sewaktu tokoh idola mereka menderita, di sinetron yang mereka tonton.

Apalagi jika pertandingan sepakbolanya ditayang di televisi. Sinetron juga, meski sutradara dan penulis naskah tidak dicantumkan pada kredit di akhir tayangan. Lebih rumit lagi jika nanti sinetron si Madun juga tertarik untuk bercerita tentang suap pengaturan skor. Hiper-hiper-realitas. [z]

ke atas

350 total views, no views today

Artis

Sungguh menarik mengamati pertelevisian kita di situasi sekarang terutama berkait dengan mereka yang tampil. Mereka yang disebut artis kelihatan berlaku lebih sebagai pesohor ketimbang seniman. Banyak datang kecaman terhadap mereka, tetapi anjing menggonggong, kafilah berlalu. Bukannya menyurut, tetapi malah semakin menjadi. Yang menentukan keberlanjutan mereka di layar televisi bukan pengkritik, melainkan pemasang iklan. Selama masih banyak penonton, maka mereka akan tetap digentayangkan di televisi.

(D-) evolusi akting

Dahulu terdapat para aktor yang muncul di panggung hiburan, baik teater, film, maupun televisi. Mereka melakukan akting sehingga disebut aktor dan aktris. Dalam akting mereka memerankan figur lain, bukan dirinya. Mereka hanya akting, yang secara sederhana dapat dipahami sebagai berpura-pura, seolah-olah, menjadi seseorang. Namun, rasanya kita sekarang menyebut para pemain di televisi (dan media serupa seperti film) dengan artis belaka. Tidak ada lagi aktor.\1 Bahkan, sering muncul sebutan selebritis, pesohor.

Tidak hanya kepiawaian dalam berakting, kemudian terlihat kehidupan pribadi mereka pun mendatangkan ketertarikan. Maka berkembanglah infotainmen yang memberitakan dunia di seputar kehidupan seorang pesohor, atau barangkali masih dapat disebut artis. Segala hal berhubungan dengan kehidupannya, jarang berhubungan dengan kesenimanannya, diungkap. Hampir semua media televisi memiliki acara gosip tentang selebritas semacam ini. Masyarakat dan si artis kelihatannya juga menikmati, terbutkti dari bertahannya acara-acara semacam ini di layar televisi.

Setelah gosip bertaburan lengkap dengan pasang surutnya, setahun terakhir terlihat para artis tersebut memerankan diri mereka sendiri. Mereka sudah berbeda dari para aktor karena bertingkah di atas panggung atas nama mereka, bermain di antara mereka. Mereka main tebak-tebakan, memainkan permainan dengan hukuman …\2 Nonton acara televisi semacam itu mirip dengan nonton anak-anak yang lagi bermain di halaman. Bedanya, kita menonton mereka di televisi dengan membayar melalui pembelian barang-barang iklan. Mereka juga memerankan diri sendiri dengan saling membongkar rahasia masing-masing.

Tahap berikutnya, saling membongkar rahasia di panggung rupanya tidak hanya dengan dialog di antara para artis itu. Didatangkanlah yang disebut para ahli hipnotis. Para artis dihipnotis sehingga bercerita tentang perasaan diri mereka dan sebagainya. Kurang? Para awak panggung, mereka yang mendukung penampilan juga dapat dimunculkan di panggung, sekalian dengan gosip-gosipnya. Sekarang tidak jelas mana pemain mana pekerja.

Ditutup

Mirip main striptis, para pemain ini melucuti diri sendiri hingga ke hal pribadi. Mungkin sebagian ‘settingan’ tetapi barangkali juga nyata. Yang jelas, sebagai puncak dari striptising para artis itu, salah satu program dibanned oleh KPI.

Dua-tiga hari yang lalu satu acara hiburan di televisi ditutup oleh Komisi Penyiaran Indonesia. Pemicu dari pentupan tersebut (yang istilahnya adalah diskors tetapi tidak boleh diperpanjang) adalah karena ketersinggungan kelompok masyarakat atas satu tayangan yang menghadirkan hipnotis. Seorang artis dihipnotis sehingga merasa melihat tokoh tertentu jika ia melihat anjing.

Mudah-mudahan televisi kemudian tidak hanya mengganti nama atau mentransformasi gagasannya ke acara lain. Kita membutuhkan tontonan yang cerdas dan mencerdaskan.

Catatan Kaki
  1. Barangkali ini juga membuat FFI kehilangan urgensi: tidak ada lagi aktor dan aktris terbaik karena sudah tidak ada aktor dan aktris…. ^
  2. Rumusan teman kost saya dahulu, ketika televisi swasta mulai muncul: angel-angel ditonton kok malah guyon dhewe … ^

431 total views, 1 views today

Sawer

Komedi atawa lawak di Indonesia rupanya berkembang sedemikian rupa sehingga kadang bikin bingung, mereka itu ngelawak atau menurut teman saya: malah gojek dhewe, ‘malah bercanda sendiri’.

Begitulah, nonton komedi di televisi masa sekarang membuat saya mengenang acara lawak di masa lalu. Sekarang, para penonton yang mendatangi langsung studio tempat acara direkam atau langsung disiarkan, rupanya begitu beruntung. Selain konon dibayar–di awal minggu ini ada artis guyon yang di panggung menyebut bahwa para penonton masing-masing dibayar dua puluh ribu rupiah–mereka juga mendapatkan kesempatan untuk memperoleh berbagai hadiah, baik dari acara (produksi) maupun langsung dari para pemain.

Saya ingat tayangan Sri Mulat di televisi pada masa ‘revitalisasi’ di paruh pertama tahun 1990-an dahulu. Konsepnya masih benar-benar seperti tobong atawa teater dengan tempat penonton yang gelap, panggung tempat pentas yang terpisah dan cukup tinggi dan sebagainya itu. Nah, setiap penonton berkenan dengan lawakan para pemain, justru mereka–para penonton–yang menyawer. Benda-benda semacam uang atau rokok dilempar ke atas panggung oleh penonton. Semakin lucu, semakin banyak seorang pemain menerima lemparan bingkisan.

Tetapi, ya barangkali itu kehendak zaman. Media komersial semacam televisi swasta membuat mungkin acara-acara semacam itu dengan konon rating tinggi–yang berarti pemasukan besar dari iklan–, membuat para pemain kaya, pihak televisi juga kaya, pengiklan juga kaya. Boleh jadi para penonton sekarang merasa berhak mendapat bagian dari perputaran uang di acara guyon semacam itu. Mereka juga merasa menjadi bagian dari panggung atawa layar televisi, ikut diperintah untuk tertawa, tepuk tangan, dan mungkin berdandan secantik atau seaneh mungkin.

Para pelawak dahulu meskipun mereka juga seniman, tetapi adalah bagian tak terpisah dari keseharian masyarakat. Mungkin status ekonomi mereka juga sama, atau bahkan lebih buruk, tetapi tidak kemudian sangat jauh dengan penghasilan yang digembar-gemborkan nilai kontraknya. Mereka barangkali juga menjalani hidup seperti kebanyakan orang, jika siang bertani atau mencari penghasilan dengan cara lain. Oleh karena itu, para penonton akan suka rela memberikan saweran kepada para pelawak itu.

***
Merindu guyon yang cerdas, yang penontonnya suka rela untuk tertawa … Mungkin keinginan ini sulit terwujud karena kesenian kelihatannya memang susah berjaya secara komersial. [z]

404 total views, 1 views today

Sinetron

Saat ini lagi ramai pemberitaan tentang shooting sinetron di sebuah rumah sakit, yang dikeluhkan oleh bapak seorang pasien. Anaknya meninggal di ICU, sementara konon pada saat yang sama bagian dari kompleks ICU (atau ICCU?) digunakan sebagai tempat shooting.\1

*

Aku Cinta Indonesia

Sampul kaset ACI.
Sumber: Wikipedia.

Zaman dulu ketika hanya TVRI yang bersiaran di televisi, tahun delapan puluhan, ada satu sinetron atau film seri yang T.O.P. B.G.T. Judulnya adalah A.C.I., singkatan dari “Aku Cinta Indonesia.”

A-C-I
Aku Cinta Indonesia
A bisa Amir
C bisa Cici
I Bisa Ito

Tapi A-C-I
Aku Cinta…
Indonesia…

Mungkin karena satu-satunya yang terpampang di televisi, film seri tersebut sangat populer. Kisah film seri ini adalah tentang persahabatan beberapa anak pelajar di sebuah sekolah rekaan, SMP Kota Kita. Cerita berkisar seputar tanggung jawab, setia kawan, persahabatan, sportivitas, dan sebangsanya. Dengan naskah ditulis oleh Arswendo Atmowiloto, ceritanya bener-bener seperti membaca majalah remaja waktu itu, yang damai.

Tentu ada konflik, dan itu adalah bagian wajar, atau malah keharusan, dari plot suatu karya fiksi. Tokoh antagonis pada film ini adalah Wati yang judes. Akan tetapi meskipun kadang para tokoh bertengkar, mereka tidak sampai melotot-lotot apa lagi tampar-tamparan.\2 Berkelahi memang kadang-kadang ada seperti yang terjadi di realitas keseharian para murid sekolah.

Adanya kata ‘cinta’ dalam judul serial ini tidak lantas membuatnya terjebak dalam cerita termehek-mehek. Cerita ACI yang berlevel SMP (tetapi tetap disuka hingga anak SMA) itu bukan tentang rebutan pacar atau harta warisan, meskipun kadang ada bumbu asmara juga. Ada episode tentang Cici yang sedang beranjak dewasa.

Tokoh baik juga tidak lantas tertabrak mobil dan/atau masuk rumah sakit.\3\4

Yang juga bikin adem adalah para guru digambarkan sebagai orang baik, terhormat, bukan orang aneh yang bahkan ikut menjadi bagian dari masalah. Acara tersebut dibuat antara lain oleh Pustekkom (Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan) Depdikbud. Jadi, jelas muatan pendidikannya menonjol.\5

sampul buku aci

Drama ini serial, sekali tayang cerita selesai, jadi tidak mengular kemana-mana. Masing-masing cerita juga diterbitkan dalam bentuk buku kecil yang tidak terlalu tebal. Theme song drama seri ini dihapal oleh setiap anak dan diedarkan juga dalam bentuk kaset.

*

Saya bayangkan betapa serunya jika drama seri tersebut dibuat ulang. Dengan demikian remaja kita akan memperoleh tontonan alternatif selain sinetron ajaib yang sekarang beredar, reality show yang tak kurang anehnya, atau gosip yang tidak penting. Hanya berkhayal, karena mungkin tidak ada stasiun televisi (swasta) yang mau membiayai.

Jika pun ada yang mau bikin, masih berharap nih, semoga tidak di-‘sinetron’-kan yang lebay itu.

Hanya ada satu cinta
dengan bumbu rindu selalu
Cinta kita cinta bersama
Da.. da.. da.. da.. da..

[z]

ke atas

Catatan Kaki
  1. Tengok misalnya http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/12/27/mforhf-rs-harapan-kita-dan-pihak-sinetron-kelewatan, diakses 27-12-2012 ^
  2. Hehe, menurut komentar seorang paman saya, bintang sinetron sekarang yang penting dapat melotot sepanjang cerita. ^
  3. Hmmm, cerita ‘Love in Paris’ pun harus shooting di RS Harapan Kita Jakarta sebagaimana ramai diberitakan ini. Konon ada adegan sakit leukemia. ^
  4. Update 28/12/12: akhirnya pemerintah melarang shooting di rumah sakit. Semoga meredam keinginan pembuat sinetron untuk merumahsakitkan tokoh cerita. Memang ada kemungkinan mereka membuat studio rumah sakit… ^
  5. Baju para murid juga rapi dimasukkan. Kelihatannya para pemain ini anak sekolah betulan, apa adanya… ^

649 total views, no views today

Bahasa sinetron

* Mumpung Bulan Bahasa belum lama lewat ..

Mengapa ya, di televisi sekarang\1 bertabur kata-kata “Ya sudah, kalau begitu…” atau tepatnya “Ya udah, kalo gitu…”.\2

Coba perhatikan sinetron-sinetron. Apakah karena jalan cerita sinetron sekarang sedemikian rupa\3 sehingga untuk melanjut ke cerita berikutnya diperlukan frasa penghubung semacam itu.

Pembaruan: Setelah agak lama saya perhatikan, Kalimat tersebut juga muncul di acara-acara pentas, baik pentas musik maupun pentas adu bakat. Para penyaji (presenter) berbicara ke sana kemari dan salah satu akan menukas dengan berkata, “Ya udah …” atau seperti yang telah dikemukakan di atas, “Ya sudah kalau begitu …”

😕

Catatan Kaki
  1. … atau memang sejak dulu dan saya baru nyadar sekarang? ^
  2. Mungkin bahasa Indonesia ‘baik dan benar’-nya adalah: “Ya sudah, jika demikian …” ^
  3. ‘Sedemikian rupa’ itu seperti apa, ya … Apa pula penyebabnya? ^

420 total views, no views today

Older posts