Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Tag: tahun baru

Tahun Baru (Lagi)

Sering saya ditanya, seperti apa perayaan tahun baru di Indonesia. Pusing juga menjawabnya. Pasalnya, di Indonesia banyak tahun baru. Terdapat beragam kalender yang dimiliki oleh beragam etnis di negeri ini.

Jika saya pilih tahun Masehi, mungkin jawabnya lebih gampang: orang-orang muda pada keluar ke jalan muter-muter di kota, bikin macet. Menyalakan kembang api. Di Jakarta diselenggarakan pesta di beberapa ruas jalan utama. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjadi penyelenggara dengan dana satu milyar untuk acara yang disebut Jakarta Night Festival tersebut.\1

Atau membakar jagung.

Penjual jagung tahun ini saya lihat tidak hanya terpusat di Pasar Sentul, tetapi juga hingga trotoar di Sayidan.

***

Hanya itu? Mungkin yang “mainstream” adalah merayakan semacam itu. Di luar itu, ada sikap-sikap resisten. Sepulang dari kampus, saya melewati serombongan mahasiswa berdemonstrasi, kelihatannya menentang perayaan tahun baru. Sepintas mampir ke telinga suara dari megaphone yang mereka bawa, bahwa nanti malam ada banyak anak muda melepaskan lajang. Maksudnya, keperawanan. Koran Merapi memberitakan bahwa karet kontrasepsi laris manis di berbagai minimarket.

Di rumah, saya baca koran pagi, atau mungkin dari hari sebelumnya, bahwa pemerintah di Aceh melarang perayaan dan menyita petasan dan kembang api.\2 Walikota Surabaya juga tidak merayakan dengan kembang api, tidak ada anggaran untuk itu, dan memilih untuk bergabung dengan masyarakat dengan cara lain.\3

Sementara itu, warga Yogyakarta sedang berduka. Adik sultan meninggal dunia. Kediaman beliau dekat dengan alun-alun utara yang sedang digunakan untuk pasar malam yang biasanya menjadi salah satu pusat keramaian menyambut tahun baru. Konon ada himbauan melalui media sosial agar warga Yogyakarta tidak menyalakan petasan dan kembang api karena suasana berduka itu.

Tetapi, tetap saja suara petasan dan kembang api terdegar sekitar pukul 11.45 hingga 00.30.

***

Yang lebih moderat, kelihatannya, menyelenggarakan renungan akhir tahun. Pagi hari kemarin saya lihat berbagai spanduk dan baliho di pinggir jalan yang mengiklankan acara ‘muhasabah’ tahun baru di beberapa masjid dan event. Acara yang lebih besar juga digelar di Jakarta, di Masjid At-Tien, yang dihadiri juga oleh menteri.

Muhasabah, menghitung, introspeksi menjelang tahun baru.

***

Saya sendiri: tidur menemani anak saya yang ketakutan mendengar suara petasan atau kembang api.

 

Catatan Kaki
  1. http://www.koran-sindo.com/node/354663 akses 2-1-14 ^
  2. atau lihat  http://news.liputan6.com/read/788615/aceh-larang-rayakan-tahun-baru-terompet-dan-kembang-api-disita?news.trkn akses 2 Januari 2014 ^
  3. http://rri.co.id/index.php/berita/84535/-Walikota-Pilih-Interaksi-Dengan-Warga-Sambut-#.UsT7U6HJDw0 akses 2 Jan 14 ^

249 total views, 1 views today

Selamat (di) Tahun Baru

Kalender suku bangsa Maya tiba-tiba menjadi terkenal sepanjang tahun ini. Bangsa dari Amerika Selatan ini, konon, memiliki beragam kalender. Setidaknya ada dua puluh sistem kalender yang dikenal.\1 Salah satu dari kalender-kalender tersebut diperkirakan oleh para ahli mengakhiri satu siklus beberapa hari yang lalu, 21 atau 23 Desember 2012. Sebagian dari kita menduganya sebagai akhir dunia, kiamat.

Tetapi, syukurlah, dunia masih berputar.

*

Sistem kalender diperlukan (antara lain) untuk menandai posisi waktu, atau ruang-waktu, kita. Kita biasa menandai posisi tempatan kita, atau ruang-tempat, dengan alamat, dengan fitur-fitur alam, dengan bangunan, dengan penanda lahan. Kita juga perlu menandai ruang-waktu kita dengan jam, dengan tanggal, dengan tahun, dan sebagainya. Penanda-penanda ini perlu untuk mengetahui keletakan kita baik secara ruang-waktu maupun ruang-tempat.

Apa yang terjadi pada ruang waktu sebelumnya yang telah kita tinggalkan, dan apa yang akan kita rencanakan untuk ruang waktu berikutnya. Ruang waktu-ruang waktu itu kemudian kita beri nomor, yang disebut tahun. Bagian-bagiannya diberi nama, yang disebut bulan. Dan seterusnya.

Kalender Batak
koleksi The Children's Museum of Indianapolis.
Sumber: wikipedia.

Ada banyak sistem penandaan waktu ini. Dalam skala kalendrikal, terdapat misalnya penanggalan suku Maya yang setidaknya terdapat dua puluh sistem sebagaimana telah disebut di atas. Terdapat juga sistem kalender Hijriah yang digunakan oleh umat Islam, yang tahun barunya bertepatan dengan tanggal 15 November 2012 kemarin.

Sistem kalender Cina baru akan mendapatkan tahun baru pada tanggal 10 Februari 2013 nanti. Sementara itu, bulan pertama sistem Pranatamangsa (kalender Jawa berdasar sistem matahari untuk bercocok tanam), yaitu bulan Kasa, dimulai setiap tanggal 23 Juni.\2

*

Tidak seperti pergantian sistem kalender yang lain, pergantian dari 31 Desember ke 1 Januari (sistem gregorian) umumnya disambut dengan gegap gempita. Tahun ini, 2012, konon tak kurang dari enam belas panggung disiapkan di jalan-jalan utama di Jakarta oleh pemerintah provinsi.\3

*

Sementara benda-benda di langit tetap bergerak seperti biasa. Kadang-kadang mereka berkonjungsi tetapi kemudian tergelincir lagi, seperti yang telah dilakoni selama bermilyar-milyar tahun.

*

Satu hal yang penting di setiap pergantian waktu yang selalu merambatdatang, detik demi detik, adalah: bersyukur. Bahwa kita telah dapat menjalani kurun waktu yang telah lampau, dan berharap masih diperkenankan oleh-Nya untuk mengecap kurun-kurun yang lain. [z]

ke atas

Baca juga

Catatan Kaki
  1. http://id.wikipedia.org/wiki/Kalender_Maya ^
  2. Eh, jangan-jangan setiap hari selalu ada kalender yang ber-‘tahun’ baru… ^
  3. http://www.solopos.com/2012/12/31/malam-tahun-baru-jakarta-inilah-posisi-16-panggung-di-car-free-night-2-363427 ^

531 total views, no views today

Ritual Tahun Baru

Mau ngapain malam tahun baru nanti? Selama belasan tahun, ritual saya tetap sama: tidur di rumah seperti biasa. Maksimal nonton kembang api dari teras rumah, karena mau tidak mau terbangun oleh suara riuhnya kembang api. Nonton TV sudah tidak begitu tertarik. Acaranya begitu-begitu saja. Film, musik, jam 10 malam ada pemberitahuan bahwa di WIT sudah berganti tahun, jam 11 giliran WITA, jam 12 WIB berganti tahun.

turun ke jalan karena di jalan banyak orang yang turun ke jalan karena di jalan banyak orang.

Di Yogyakarta, keramaian kira2 berpusat di Malioboro dan Alun-Alun Lor. Biasanya ada panggung musik di alun-alun yang nanti diakhiri dengan melontar-letuskan kembang api pada jam 12 malam atau 00, yang suaranya memekakkan telinga. Entah apakah para pasien RS PKU Muhammadiyah yang tidak jauh dari sana juga menikmati kemeriahannya. Malioboro jelas akan macet, oleh karena itu terdengar kabar di media online bahwa kapolda DIY melarang orang berkunjung ke Malioboro.

Melarang? Mungkin maksudnya menghimbau agar tidak memadati kawasan wisata itu. Selebihnya, anak-anak muda akan berputar-putar keliling kota dengan sepeda motor tanpa tujuan jelas. (Agregasi orang tanpa tujuan di jalan itu menjadi hal yang menarik: turun ke jalan karena di jalan banyak orang yang turun ke jalan karena di jalan banyak orang. Aneh juga.)

*

Yang cukup mengejutkan bagi saya, entah tadi atau kemarin, di layar kaca tv terlihat seorang ustad memperingatkan akan adanya ribuan keperawanan dan keperjakaan yang akan hilang di malam tahun baru. Naudzubillah.

Rupanya beliau bukan ngarang. Tadi terlihat seorang teman di facebook mengunggah tautan tentang hal yang mirip. Ada seorang yang kehilangan keperawanan karena dipaksa pacarnya untuk merayakan pergantian tahun. Nasihat bijak dari teman tadi: adakah yang lebih baik daripada merayakan pergantian tahun dengan tetap berada di rumah bersama keluarga?

Ok. Saya juga akan bersama keluarga saja. [z]

ke atas

243 total views, no views today

Tahun Baru, Jiwa Baru

panggung di alkid malah ngrusak suasana sakral 1 suro……mestine kontemplasi bukannya malah berisik

xxx: bener Ta..masalahe ki le iso empan papan kuwi lo, nek wayangan po ngaji malah apik…la kuwi mik promo seluler je

xxx: semedi wae wkwk

xxx: neng parkir ngabean yo ho oh..malah reage nan, nek metallica sisan sing maen malah rapopo wekeke

(kutipan fb teman saya, 26 November 2011)

*

Ini malam tahun baru Jawa, 1 Sura, yang juga merupakan tanggal 1 Muharram, karena sahdan suatu ketika Sultan Agung menyesuaikannya.

Beragam cara digunakan untuk menyambut 1 Sura, terutama dengan cara-cara penuh prihatin dan kontemplasi. Banyak orang akan berjalan mengitari benteng kraton Yogyakarta tengah malam ini, kegiatan yang dikenal dengan tapa bisu mubeng beteng. Bukan dengan pawai atau karnaval yang meriah, berbicara saja mereka tidak berniat melakukan. Di Solo juga diadakan kirab yang resmi dilakukan oleh kraton, dengan mengeluarkan beberapa pusaka. Jalan Yogyakarta-Parangtritis dijamin macet pada malam seperti ini, banyak warga ingin pergi ke pantai alam yang beraroma mistis tersebut.

Beragam cara digunakan untuk menyambut 1 Sura, terutama dengan cara-cara penuh prihatin dan kontemplasi.

Pada bulan Sura, selain berkontemplasi, juga diadakan acara bersih-bersih. Secara simbolik, bersih-bersih tersebut dilakukan dengan membersihkan berbagai ‘pusaka’ yang dimiliki. Kegiatan tersebut kurang lebih merupakan rite of passage untuk memasuki tahun yang baru dengan jiwa yang baru.

Jadi, agak heran juga sewaktu membaca kabar bahwa di alun-alun selatan Kraton Yogyakarta didirikan panggung, meskipun rasanya hal tersebut adalah perkembangan menarik untuk dikaji. Kurang tahu apa yang ada di panggung tersebut, rasanya adalah panggung musik dengan sponsor perusahaan seluler.

Semoga 1 Sura, juga 1 Muharram, belum menjadi komoditas, sebab boleh jadi nanti kita akan menyambutnya (=merayakan) di pusat-pusat perbelanjaan.

*

Saya tiba-tiba tertarik untuk mengamati kata-kata yang digunakan berkaitan dengan datangnya tahun baru Jawa dan Islam ini: menyambut, merayakan, memperingati, atau apa… Di tahun 1990-an, Jama’ah Shalahuddin UGM selalu mengadakan acara TTBH: Tasyakuran Tahun Baru Hijriah, acara bersyukur untuk menyambut kedatangan tahun baru Islam.

*

Selamat tahun baru, jiwa baru.[z]

ke atas

356 total views, no views today