Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Tag: suvenir

Oleh-Oleh

Salah satu ‘budaya kita’ adalah memberi oleh-oleh pada orang yang kita kunjungi. Kita juga biasa memberi oleh-oleh pada orang-orang yang kita tinggalkan dan kemudian ketemu lagi, seperti teman atau keluarga yang kita tinggal sebentar ke tempat lain, entah berwisata, ziarah, atau keperluan lain.

Terdapat ‘semacam kewajiban’ bagi yang pergi untuk membawa pulang oleh-oleh. Buah tangan, cenderamata, atawa suvenir. Entah berwujud apa, meski biasanya makanan atau kerajinan khas. Maunya adalah benda yang khusus dibuat di situ, tempat yang dikunjungi, sehingga merupakan benda ‘orisinal’ tempat tersebut. Akan tetapi, dibuat di Tiongkok juga sering tidak masalah. Oleh-oleh orang pergi beribadah haji ke Arab Saudi malah kadang dibeli di Indonesia.

• Baca juga: Otentik atawa Aseli

Saya sebut tadi membawa oleh-oleh ini sebagai ‘budaya kita’.

Hari minggu kemarin, pas tahun baru 2017, toko dan kantor di Yogyakarta umumnya tutup. Setelah sedikit memutar kota, terlihat bahwa tempat komersial yang masih buka antara lain adalah minimarket, warung atau restoran, pom bensin, dan… toko oleh-oleh. Sampai macet-cet jalan di depan toko-toko benda suvenir itu. Penuh dengan, kayaknya, orang luar kota yang kebetulan berlibur di Yogyakarta dan kelihatannya akan segera pulang. Maklum, dua hari lagi sudah masuk kerja atau sekolah.

Nah, kesimpulan saya bahwa membawa oleh-oleh ini adalah ‘budaya kita’ muncul ketika lewat di depan sebuah toko oleh-oleh yang jejel riyel dengan pengunjung dan tempat parkir penuh kendaraan, pun jalan di depannya menjadi macet. Di seberang toko itu terdapat dua orang bule berkali-kali memotret keriuhan itu dengan kamera poket, sambil geleng kepala dan senyum-senyum.

Entah apa yang mereka pikirkan. Dua orang itu yang pastinya bukan orang Yogyakarta itu rasanya bukan akan membeli oleh-oleh di toko yang mengunggulkan bakpia itu. Barangkali mereka malah tidak tertarik untuk membawa oleh-oleh apa pun sewaktu pulang nanti. Mereka mungkin tidak memiliki ‘obligasi’ untuk membawa oleh-oleh pada mereka yang ditinggalkan, di negerinya sono….

Bukan budaya.

***
Oh ya, hari ini seorang kolega yang baru pulang dari Negeri Gajah Putih membawakan kami, orang-orang sekantor, oleh-oleh berupa tas kecil bergambar gajah… [z]

272 total views, 1 views today

“Kasta” Batik

Tidak semua batik adalah “batik”. Paguyuban Pecinta Batk “Sekar Jagad” di Yogyakarta mempopulerkan istilah BBB, alias “batik bukan batik” untuk menjuluki kain yang tidak dikerjakan dengan teknik batik namun menggunakan motif hias yang umum digunakan pada kain batik.

Secara sederhana, batik adalah kain yang dihasilkan dengan teknik tutup-celup dengan menggunakan malam (lilin batik) sebagai bahan penutup. Teknik ini akan menghasilkan warna celupan pada kain di luar bagian yang tertutup malam. Terdapat banyak cara untuk menghasilkan kain batik yang masing-masing memiliki keunggulan tersendiri.

Kasta

Maka, secara berturut-turut, “kasta” batik dari sisi teknis ini adalah sebagai berikut.

  • 1. Batik tulis. Dikerjakan dengan menempelkan malam pada kain dengan menggunakan canting sebelum dicelup dengan pewarna.
  • 2. Batik cap. Dikerjakan dengan menempelkan malam menggunakan cap tembaga sebelum dicekup dengan pewarna.
  • 3. Batik kombinasi, antara cap dan tulis.
  • 4. Batik coletan, dikerjakan dengan tulis atau cap, namun pada bagian-bagian tertentu diberi warna menggunakan kuas.
  • 5. Batik kombinasi printing dan tulis/cap. Ada yang rajin memberikan sentuhan batik pada kain printing bermotif batik. Biasanya pola dasar dikerjakan dengan printing, sementara detil atau isen-isen dilakukan dengan batik, meski dapat pula sebaliknya, misalnya mengisi bagian-bagian tertentu dengan teknik sablon.

Selain dicelup dengan pewarna, pada perkembangannya terdapat kain batik yang diproses dengan penghilang warna. Jika dicelup pewarna maka motif batik akan menjadi negatif, sementara jika dicelup penghilang warna, yang disebut dengan batik cabut, maka hasilnya akan positif. Bagian yang tertutup malam akan tetap berwarna.

Di luar kategori teknik-teknik batik tersebut, terdapat kain yang oleh masyarakat juga sering disebut dengan batik meski tidak dikerjakan dengan teknik batik. Terkadang malah tidak menggunakan motif yang biasa digunakan dalam batik sama sekali. Jadi, sebenarnya “batik” ini di luar kasta.

  • 6. Batik printing. Kain ini berkategori BBB, alias “batik bukan batik”, yaitu kain yang menggunakan motif batik sebagai hiasan dan diproduksi dengan teknik cetak.

Harga dan Kualitas

Perbedaan teknik pembuatan tersebut berdampak pada kualitas dan tentu harga kain. Kualitas kriya batik terlihat tinggi pada teknik canting. Sebagaimana teknik manual lain, teknik canting menghasilkan gambar yang kadang tidak konsisten dan kerumitan sedang. Sementara itu, batik cap menghasilkan pola yang cukup seragam.

Secara ekstrem, hal tersebut di atas berbeda dari motif batik yang dihasilkan dengan mesin, yang sama merata pada setiap pola dan dapat menghasilkan garis tipis atau titik kecil yang halus dan konsisten. Besar garis atau titik pada batik manual ditentukan oleh besar lubang canting atau cap tembaga.

Tentang harga, umumnya batik tulis dikerjakan secara manual, satu demi satu, sehingga menjadi lebih mahal. Namun, banyak siasat untuk membuat harga batik tulis tidak terlalu tinggi. Misalnya adalah membuat motif sederhana, memberikan malam hanya satu sisi (tidak diterusi pada sisi kain yang lain), atau pewarnaan tidak intensif seperti batik kelengan yang hanya menggunakan satu warna. Maka, harga batik tulis pun dapat murah, lebih murah daripada batik cap.

Paling murah adalah batik printing karena diproduksi di pabrik secara besar-besaran dengan mesin atau dengan teknik sablon. Batik jenis ini mudah ditemui di toko-toko, juga di tempat-tempat wisata sebagai cinderamata massal. Baju seragam sekolah, kantor, PKK, dan sebangsanya, biasanya menggunakan batik jenis ini karena murah dan motif yang sama persis dapat diperoleh dalam jumlah besar.

1,274 total views, no views today

Kartu Pos

Di era semua orang genggam telepon saat sekarang ini, kartu pos rasanya sudah hampir tersingkir dari kehidupan berkomunikasi. Perangkat telematik telah menggantikannya dengan membuat berita terkirim dan terterima secara semerta. Kartu pos mungkin tinggal menjadi perangkat untuk menjawab TTS–karena kuis-kuis yang lain juga telah dijalankan melalui perantara SMS.\1

Hal ini berbeda dari kebiasaan masyarakat Eropa, setidaknya pada kenalan dan teman yang saya temui. Mereka menyempatkan diri mengirim kartu pos kepada kolega atau keluarga jika mereka pergi ke suatu tempat. Padahal, mungkin dalam seminggu lagi mereka akan bertemu. Maka dapat kita temui penjual kartu pos di berbagai tempat, terutama pada objek-objek wisata. Dinas pos pun berjalan dengan baik, mendapatkan penghasilan dari pengiriman kartu pos yang menurut perhitungan kalkulator Indonesia saya tidak murah juga ongkosnya.

kios suvenir paris

Pengunjung melihat kartu pos di kios di depan Centre du Pompidou di Paris.

Saya suka membeli kartu pos jika berkunjung ke museum-museum di Eropa. Bukan apa-apa, selain saya suka seni grafis, kartu pos benda yang paling murah yang dapat diperoleh di kios cinderamata museum. Benda ini juga merupakan oleh-oleh yang saya tega untuk meminta jika ada teman bepergian … Di Jepang saya rasa kartupos juga murah, terutama jika dibanding dengan suvenir lain yang pating plenik khas itu.

Beberapa kali saya membuat kartu pos sendiri. Umumnya kartu itu untuk cinderamata. Salah satunya adalah untuk suvenir pernikahan kakak ipar yang demen sama filateli.

Begitu ceritanya, sehingga terdapat setumpuk kartu pos yang saya simpan. [z]

Catatan Kaki
  1. Seeingat saya sekitar tahun 90-an diselenggarakan ketoprak sayembara di televisi lokal yang membuat kartupos sulit dicari di Yogyakarta karena habis di-rush oleh masyarakat. ^

307 total views, no views today

Otentik atawa Aseli

Mampir ke rumah seorang kawan yang baru mudik dari Palembang, kami disuguh pempek yang maknyus. Jan maknyus. Tetapi tentu maknyus dengan catatan bahwa selera itu pribadi. Saya percaya bahwa pempek yang kami makan sore itu bercitarasa aseli Palembang-karena dibawa dari sana, dan suami teman saya itu urang Palembang.

Perkara apakah pempek dari teman saya itu dibuat dengan tapioka yang mungkin diimpor dari luar Palembang, lain masalah.

Hal itu sama ketika kami membicarakan kain jumputan. Kain ini dianggap sebagai salah satu hasil khas Palembang meskipun tidak mengandung gambar pempek atau Sungai Musi dan Jembatan Ampera.\1 Teman kami bercerita bahwa ketika mencari kain tersebut tidak banyak terdapat sediaan di tangan pedagang yang dikunjungi. Di tempat tersebut hanya terdapat satu motif. Si penjual mengatakan bahwa para pekerja sudah mudik menjelang lebaran. Bukan ke OKU, Banyuasin, atau tempat lain, mereka mudik ke Jawa.

Jadi, kain jumputan Palembang itu dibuat orang Jawa di Palembang? Tetapi, tetap jumputan (dari) Palembang, kan?

***

Masalah otentisitas memang serba repot di zaman seperti sekarang yang tidak banyak memberikan sekat-sekat geografis. Gerakan manusia dari satu wilayah ke wilayah lain dengan mudah. Apalagi, dengan keunggulan berbeda di masing-masing wilayah–atau mungkin dapat dibaca sebagai ketimpangan antarwilayah–membuat satu benda dapat lebih murah dibuat di wilayah lain daripada dibuat di wilayah benda tersebut dicipta atau dibutuhkan.

Di sisi lain, wisata yang meskipun kian marak menjadi hal yang sedang ditimbang: apakah tidak cukup kita melihat melalui internet ketimbang mendatangi langsung tempatnya? Suvenir sebagai produk ikutan dari pariwisata pun ikut terimbas. Kita ingin suvenir yang aseli merupakan ciri khas tempat yang kita kunjungi, dibuat di tempat tersebut, dengan bahan dari tempat tersebut, oleh orang dari tempat tersebut.

Beberapa waktu yang lalu, di Paris terjadi penyitaan besar-besaran atas produk suvenir menara Eifel yang palsu. Produk ini diimpor dari negara lain dan (akan) dijual di sekitar menara Eifel sebagai cinderamata. Mungkin banyak pengunjung yang tidak tahu bahwa benda yang mereka beli dianggap palsu, karena toh merupakan miniatur Menara Eifel dan dibeli di sekitar menara. Perkara dibuat di Cina, bahkan di beberapa bandara di Eropa dipasang iklan produk Cina, antara lain adalah miniatur menara itu.

Saya sendiri sempat tercenung ketika satu setasiun televisi menyiarkan adanya ekspor keramik delf blue ke Belanda sebagai suvenir. Pasalnya, beberapa bulan yang lalu saya repot-repot mencari dan membawa keramik delf blue dari Amsterdam sebagai suvenir (sebenarnya Amsterdam juga bukan Delf). Jangan-jangan ada di antara gantungan kunci dsb itu yang berasal dari Purbalingga …

Berbagai aspek otentisitas dari cinderamata dan sebangsanya yang terlintas dalam pikiran adalah berkait dengan bentuk, tempat pembelian, produsen, dan budaya.

# Bentuk
Replika tempat kunjungan (ODTW) merupakan aspek yang cukup penting. Karena suvenir merupakan kenangan atas tempat kunjungan baik berupa atraksi maupun daya tarik lain. Oleh karena itu, benda-benda yang mereplika ODTW sering digunakan sebagai suvenir. Miniatur Candi Borobudur, misalnya.

# Tempat
Tetapi, kadang kita hanya menemukan suvenir sebagai ‘barang yang dibeli di tempat tersebut’. Boleh jadi suvenir menjadi produk lain tempat, lain negara dan kemudian dijual di tempat tersebut. ‘Membeli’ itu sendiri adalah pengalaman yang nyata, ditambah dengan lokasi yang otentik akan menyebabkan benda yang dibeli pun menjadi berharga, sebagai bukti dari pengalaman tersebut.

Benda yang dibeli belum tentu berkait dengan tempat, atau tidak ada ciri khasnya karena faktor tempat merupakan hal yang lebih penting. Jadi, masalah otentisitas kadang adalah masalah asal pembelian.

Seorang teman di Belanda yang akan pulang ke Indonesia membelikan titipan keluarganya yaitu tembakau, kopi, teh, dan coklat. Wah, rasanya semua barang tersebut produk Indonesia, setidaknya dalam bentuk bahan baku. Tidak ada perkebunan tembakau dsb di Belanda. Pabrik di Belanda (jika ada) tinggal memodifikasi atau mengemasnya. Masalahnya adalah tidak adanya identifikasi Indonesia pada produk-produk tersebut.

# Produsen
Benda diproduksi oleh orang di tempat tersebut. Boleh jadi bentuk suvenir tidak ‘aseli’ tempat pembelian. Seorang teman yang pergi ke Jepang pernah akan memberi saya oleh-oleh berupa benda elektronik kecil. Tetapi, setelah sampai ke Indonesia, benda tersebut tidak jadi diberikan kepada saya karena terdapat tulisan yang jelas “Made in Indonesia”.

Kaos Dagadu yang terkenal sebagai salah satu suvenir dari Yogyakarta itu mencantumkan tulisan “Aseli Bikinan Dagadu Jogja” pada desain-desainnya. Tidak dinyatakan bahwa kaos-kaos buatan mereka itu digunakan oleh orang Yogya. Untungnya, Dagadu masih setia dengan Yogya sehingga desain-desainnya mengambil aspek dari budaya daerah istimewa ini sehingga dapat menjadi suvenir yang ‘mewakili’ wilayah ini.

# Budaya
Paling komplet, original, dan sulit, menurut saya, adalah apakah suatu barang berasal dari budaya setempat. Benda tersebut bukan benda turistik melainkan diciptakan untuk kebutuhan setempat. Hanya, tingkat keaseliannya masih dapat dilihat secara bertingkat. Apakah memang dibuat di tempat tersebut?

***

Asli dari tempat yang dikunjungi merupakan syarat utama suvenir. Yang penting dibawa dari sono …. Banyaknya toko suvenir haji di berbagai tempat di Indonesia mempermudah para jemaah. Mereka dapat membeli suvenir bahkan sebelum berangkat. Akan tetapi jelas mereka tidak akan bercerita bahwa benda tersebut dibeli di pasar di sini. Bahkan, meskipun dibeli di Arab Saudi, banyak barang seperti parfum, sajadah, dlsb. itu kelihatannya juga bukan buatan Mekah atau tempat lain di wilayah padang pasir itu. Bendanya pun kadang tidak khas Arab Saudi.

***

Jika berkait dengan makanan, apa yang disebut aseli atau khas?

Bagi wisatawan yang datang ke Yogyakarta salah satu olih-olih yang diburu adalah bakpia. Jika ke Semarang, maka lumpia (sering ditulis juga loenpia) akan diburu. Jika dilihat, nama makanan-makanan ini menggambarkan asalnya dari Cina. Untung tidak digugat orang dari Negeri Tirai Bambu itu karena kita ‘mengklaim’ makanan mereka. Entah sengaja untuk membedakan dari aselinya atau tidak dahulu bakpia diberi nama tambahan ‘patuk’ atau ‘pathook’ di belakangnya mengingat pusat produksi yang terkenal berada di kampung di sebelah barat Malioboro itu. Jadi, para penduduk di daratan Asia itu akan sulit mengklaimnya karena ini bukan sekedar bakpia melainkan bakpia patuk. [z]

Baca juga:

Suvenir Manten

Oleh-oleh

ke atas

Catatan Kaki
  1. Jadi ingat ‘batik-instan daerah’ yang secara ‘semena-mena’ mengangkat benda khas daerah ke dalam rancangan batik. ^

413 total views, 1 views today

Suvenir bin cenderamata

Criteria for an “ideal” wedding souvenir.

 

Suvenir atawa cenderamata merupakan hal yang sulit ditinggalkan ketika mengadakan resepsi pernikahan. Si empunya hajat merasa kurang jika tidak menyambut para undangan, yang telah merelakan waktu, dengan benda tanda ucapan terima kasih. Maka, seakan menjadi kewajiban bahwa penyelenggara pesta manten selalu menyiapkan cenderamata untuk tetamu. Para hadirin pun merasa kurang jika tidak ada suvenir di meja penerima tamu, baik karena sudah habis maupun memang tidak disediakan. Maka, mereka yang memiliki relasi luas akan punya sekumpulan besar cenderamata manten di rumahnya.

Cenderamata manten telah berkembang dengan pesat. Dulu, di awal tahun 80-an, cenderamata yang saya ingat hanya berupa kertas tebal bertuliskan “Terima kasih atas doa restu … ” dst, yang dipotong berbentuk tertentu seperti hati atau kipas. Pesta pernikahan tetangga saya malah menuliskan nomor di balik kertas tersebut dan mengundinya untuk memberikan satu bingkisan kepada tetamu yang beruntung.

Dari sekadar kertas ucapan, kemudian ditambahkan satu benda pemanis seperti butiran gabus (styrofoam) dibungkus kain tule. Biasanya, calon pengantin membuat sendiri suvenir tersebut. Secara fisik terlihat bahwa ungkapan terima kasih merupakan hal yang penting: kertas ucapan tetap mendominasi.

Sekarang, cenderamata telah berkembang sedemikian rupa. Benda menjadi bagian utama, kertas ucapan cenderung mengecil dengan tulisan sebesar anak semut. Bisnis cenderamata muncul di mana-mana. Peminat dapat memilih dengan leluasa apa yang hendak mereka berikan kepada para tetamu di hari istimewa. Batasnya hanya satu: kekuatan kantong ….

Beberapa orang mendesain sendiri cenderamata sehingga lebih personal. Sebagian lain membuat sendiri sehingga lebih ekonomis. Setidaknya dalam hal finishing seperti membungkus atau memberi label. Bungkus ini pun bisa membuat cenderamata menjadi personal. Ada ‘sentuhan’-nya…

***

Sembari membantu seorang adik mem-finishing cenderamata untuk pesta pernikahannya, berikut hal-hal yang terpikir tentang cinderamata ‘ideal’.

  1. Handy, cemangking. Benda-benda berbentuk kecil, praktis untuk dibawa cocok untuk cenderamata. Biasanya cenderamata diberikan ketika para undangan datang mengisi buku tamu. Bayangkan, mereka akan membawa benda itu sepanjang pesta, bersalaman dengan para among tamu, keluarga, dan mempelai. Mereka juga harus memegang piring atau gelas dalam pesta tersebut, sambil makan dan minum tentunya. Maka tidaklah bijak memberikan cenderamata yang besar yang tidak cemangking kecuali jika dapat mengaturnya untuk diberikan ketika para tetamu akan meninggalkan tempat.
  2. Berguna. Yak, cenderamata memang benda basa-basi. Akan tetapi, akan sangat bagus jika benda tersebut juga mengandung guna praktis, tidak sekadar benda yang untuk dipajang-simpan. Namun, benda yang ‘terlalu’ sehari-hari kadang dapat membuat kening tetamu berkerut: mengapa memberikan benda semacam ini?
  3. Memorabel, atau kemingat. Diharap para tetamu masih mengingat peristiwa yang bagi mempelai dan keluarganya sangat penting itu. Tetapi, ini aspek egois, ya … Benda yang didisain secara khusus dan unik akan memenuhi aspek ini.
  4. Personal. Tentu akan memuaskan bagi pihak pengantin apabila dapat memberikan benda yang personal, yang dirancang secara khusus, mencerminkan diri mempelai, diperoleh secara susah payah, dibuat dengan repot … tetapi lagi, ini perkara egoisme pihak mempelai.
  5. Tidak berbahaya. Tentu kita tidak ingin agar tetamu terluka, atau keluarganya di rumah terluka. Benda tajam, misalnya, tidak layak untuk cenderamata. Selain alasan praktis-teknis agar tidak terluka, benda tajam konon juga dipercaya pantang diberikan sebagai cenderamata.
Suvenir manten dari seorang, eh, dua orang, teman.

Suvenir manten dari seorang, eh, dua orang, teman.

***

Jika pihak penyelenggara (mempelai) ingin membuat sendiri cenderamatanya, agar memuaskan diri dan lebih ekonomis, maka perlu diperhatikan kemampuan untuk mengerjakannya. Ukur kemampuan diri (dan keluarga, karena biasanya akan dibantu … hehe) apakah tahap-tahap pengerjaan dapat dilalui dengan baik. Apakah tersedia tenaga untuk mengerjakannya karena kesibukan menjelang pesta pernikahan tidak hanya menyiapkan cenderamata. Ukur juga waktu, apakah dengan sumber daya yang tersedia benda-benda tersebut akan siap di hari “H” dengan jumlah dan mutu yang memadai?

Maka, rancangan yang sederhana, simpel, akan lebih masuk akal daripada benda-benda rumit yang membutuhkan tahapan pengerjaan yang panjang dan kemampuan khusus untuk melakukannya. [z]

ke atas

 

1,424 total views, 1 views today