Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Tag: sosial

Sapi

Seminggu yang lalu, negeri ini digegerkan oleh persoalan sapi. Bukan karena sapi pada mengamuk, tetapi karena harga dagingnya membuat orang malas berbelanja, meski konon hal tersebut hanya terjadi di wilayah jakarta dan seputarnya.

Di Yogyakarta yang berhati nyaman ini, konon harga daging sapi baik-baik saja.

Di berbagai pasar di Jakarta dan Jawa Barat para pedagang mogok dalam rangka memprotes tingginya harga tersebut. Mungkin juga waktu itu pas tidak ada yang mampu beli, sekaligus tidak ada stok.

Saya mencoba mengingat, seberapa sering makan daging sapi.

Yap. Hari Ahad kemarin saya makan daging ini pada sebuah perhelatan, dalam bentuk bakso. Selain itu, … rasanya saya tidak begitu sering mengkonsumsi daging vertebrata satu ini. Kebutuhan protein terpenuhi terutama dari tahu-tempe, ayam, telur, susu, dan ikan.

***

Juga, rasanya banyak modifikasi masakan dari bahan dasar daging sapi. Sekarang sudah diproduksi rendang daun ketela, misalnya. Steak tempe juga sudah dikembangkan. Ingin membuat sop? Kaldu sapi sudah dijual dalam bentuk blok atau serbuk yang dapat dicairkan. Sekali tuang, sepanci terasa daging sapi.

Jadi, mengapa ribut dengan daging sapi yang harganya melangit?

Boleh jadi karena mahal itu. Nilai sosial lebih bermain daripada nilai gizi. Menghidangkan daging sapi (di meja makan atau lebih-lebih bagi tetamu) adalah satu hal yang bernilai sosial tinggi, atau dalam kata yang lebih sederhana: bergengsi. Jadi, meski makanan buffet tidak lagi begitu diminati tetamu pada suatu pesta, namun tetap saja daging sapi dihidangkan dalam berbagai olahan baik di meja buffet atau gubuk-gubuk.

… dan kemudian ada yang mengambil kesempatan karena mengetahui kebutuhannya secara nasional tetap tinggi. Kira-kira… [z]

ke atas

407 total views, no views today

Nyadran

S emua tempat di Jawa, mungkin, minggu-minggu ini sibuk dengan nyadran. Ritual ini dilakukan menjelang bulan puasa yaitu pada bulan ruwah. Acara umumnya adalah pergi ke makam.

Ada beragam cara untuk melaksanakan nyadran. Umumnya orang menyempatkan diri pergi ke makam keluarganya. Mereka membersihkan makam dan berdoa. Kadang disertai tabur bunga atau bahkan ada yang membakar kemenyan.

Di Yogyakarta, rasanya juga di beberapa tempat lain, umum orang membuat apem pada saat nyadran. Menurut tradisi, keluarga tidak boleh pergi ke makam sebelum membuat apem. Sebenarnya tidak hanya apem yang dibuat, namun juga nasi ketan dan kolak ketela. Sebagian apem diberi lapisan daun dadap srep. Para warga dapat membuat sendiri-sendiri di rumah. Namun karena dianggap repot–dan tidak setiap orang biasa membuat apem, di samping mungkin tidak memiliki wajan khususnya, maka beberapa kampung mengorganisir warganya untuk membuat apem bersama. Lebih praktis lagi, orang dapat memesan atau membeli apem di pasar. Maka, penjual apem yang terkenal itu di Pasar Ngasem, hari-hari ini kebanjiran order. Orang harus mengantri cukup panjang di depan lapaknya untuk mendapatkan apem.

Mengapa apem? Saya gelagepan juga ditanya sewaktu menghadiri acara ngapem. Saya tahu bahwa ada yang menghubungkan istilah ketan, kolak, dan apem, dengan kata-kata arab, namun saya pikir itu hanya karena dicari penafsirannya. Mungkin makanan-makanan itu sudah ada jauh sebelum mendapatkan pengaruh arab. Apem, misalnya, mungkin merupakan makanan impor kita dari india selain martabak karena di sana terdapat dijumpai makanan yang mirip dan bernama appam!

***

Salah satu acara nyadran yang saya saksikan, di sebuah desa, dimulai pukul 09.00 tepat. Acara diawali dengan pembacaan ayat suci al Quran, diikuti sambuatan kepala dusun sebagai wakil panitia. Acara ‘dihentikan’ sejenak karena panitia membagikan minum dan nasi kotak. Setelah selesai makan, kira-kira, sambutan dilanjutkan oleh Pak Camat. Kemudian, pengajian oleh kyai setempat yang dimulai kira-kira pukul sepuluh pagi dan memakan waktu kurang lebih setengah jam. Setelah itu, dilaksanakan acara inti yaitu tahlil yang dipimpin oleh kyai setempat yang lain. Tahlil diakhiri pukul 10.40 disusul dengan pembagian keranjang berisi makanan kepada para seluruh hadirin bahkan anak-anak yang berkerumun. Sebaga akhir acara, pak kyai yang tadi membaca doa.

Sebelumnya, para warga telah datang sejak pagi, boleh jadi sebelum jam delapan. Mereka tidak hanya warga setempat namun juga dari desa lain. Beberapa juga merupakan undangan khusus. Mereka yang datang membawa uang sumbangan yang diberikan kepada panitia–ada meja penerima sumbangan. Yang datang kadang juga membawa keranjang berisi makanan ‘standar’, atau kardus berisi makanan kecil. Mereka yang membawa makanan ini akan diberi kembali satu keranjang makanan. Umumnya mereka membawa lebih dari satu keranjang, biasanya tiga. Keranjang-keranjang inilah yang akan dibagikan kepada hadirin.

sekti-keranjangnyadran

Makanan di dalam keranjang. Di bagian bawah keranjang terdapat nasi dalam jumlah yang cukup banyak.

Makanan untuk isi keranjang ini seperti umumnya masyarakat di tempat tersebut menyiapkan makanan untuk berbagai keperluan seperti kenduri dan ater-ater. Nasi, daging ayam, peyek-krupuk, tempe kemul, jangan kentang, jajan pasar, dan sebangsanya.

Panitia juga membagikan keranjang makanan kepada orang-orang tertentu, umumnya orang terpandang di masyarakat. Keranjang ini langsung diantar ke rumah. Konon makanan keranjang yang untuk ‘punjungan’ itu dipesan secara khusus sehingga isinya lebih ‘baik’.

***

Pak kyai tadi menekankan nilai religi dari acara nyadran ini, juga masalah kontroversi yang berkembang di masyarakat. Namun hal-hal itu tidak menjadi fokus perhatian saya kali ini.

Saya mencoba mengamati dari sisi lain. Yang pertama menarik bagi saya adalah kenyataan bahwa para warga mengenakan pakaian terbagus mereka. Bahkan, rasanya hanya saya yang bersendal jepit meski sudah kuusahakan agar tidak mengenakan sandal seperti yang bermerek swallow. Agak bagus dikit, karena akan bertemu dengan orang lain dalam situasi agak formal.

Berangkat dari itu, saya melihat nyadran juga bernilai ekonomi dan sosial. Dari sisi ekonomi, nyadran membuat seluruh warga berbelanja sejumlah bahan makanan demi dapat membawa tiga keranjang makanan ke makam. Masing-masing keranjang dapat berharga 15-20 ribu rupiah. Belum lagi terdapat acara makan bersama sehingga masing-masing rumah tangga mendapat jatah untuk membuat beberapa kardus makanan berat.

Tetangga saya pun panen pada bulan ruwah seperti ini, karena ia berjualan keranjang bambu.

Nilai ekonomi juga terlihat dari sumbangan yang diberikan oleh warga, di tempat penyelenggaraan–karena sebagian sumbangan juga sudah dikeluarkan dan dikelola oleh warga untuk penyelenggaraan. Pada acara kali ini terdengar diumumkan bahwa sumbangan mencapai delapan juta rupiah.

Nyadran juga sering membuat adanya perjalanan mudik. Mudik saat nyadran sering kali tidak dapat ditawar dan warga di perantauan merasa harus melakukannya di samping mudik lebaran. Meski tidak seheboh mudik lebaran, mudik saat nyadran pun dapat bermakna ekonomi bagi warga. Mereka yang mudik dari kota sering mendatangkan tetes rupiah pada keluarga atau warga desa.

***

Nilai sosial terlihat dari kehadiran semua warga ke kompleks makam, bahkan warga dari desa lain dan para tetamu undangan. Pada jalan masuk ke tempat acara, berderet para tokoh masyarakat menyambut tamu. Di samping ucapan selamat kepada penyelenggara dan warga pada umumnya, Pak camat berpidato tentang program dari instansinya juga menghimbau akan kerukunan warga.

Nyadran keluarga, yang diselenggarakan oleh keluarga, pun, dapat merekatkan hubungan sosial. Orang kemudian tahu silsilah keluarga. Pada saat nyadran seorang kolega saya bertemu dengan saudaranya yang belum dikenal karena mendatangi makam yang sama. Dan mereka yang mudik tadi, akan menjalin lagi tali temali persaudaraan dengan keluarga besarnya yang mungkin telah lama terpisah.

***

Begitu (dulu). [z]

ke atas

920 total views, no views today

MQ: Manajemen (daging) Qurban

Tentu banyak pelajaran dapat kita petik dari perayaan Hari Raya Idul Adha yang berlangsung sejak kemarin hingga dua hari mendatang.

Penyelenggaraan acara tersebut biasanya merupakah hal amatir, hanya berdasar guyub rukun sesama warga. Oleh karena itu, meskipun bertahun-tahun bahkan berabad-abad peristiwa semacam ini kita jalani selalu saja ada masalah yang mungkin tidak besar tetapi cukup bikin pening.

Pembagian daging

Salah satu hal yang selalu menjadi masalah adalah pembagian daging hewan kurban. Pembagian secara makro sudah pernah saya tulis di blog ini. Kali ini perhatian saya tertarik dengan peristiwa di kampung saya kemarin, yang panitianya pusing tujuh keliling membagi daging kurban.

Kurban waktu itu hanya seekor sapi yang disembelih dengan mengundang Mbah Kaum untuk melakukannya. Karena umumnya pekurban dari RT tempat saya tinggal, maka hewan tersebut diurus oleh warga RT. Beberapa warga lain RT juga membantu, karena mereka dianggap terbiasa melakukan pemotongan hewan berkaki empat.

Nah, meskipun hanya seekor sapi dan menurut catatan dari Pak Kadus (hanya) terdapat 130-an orang yang hendak diberi jatah daging, tetapi hingga tengah hari baru kami dapat menyelesaikan acara tahunan tersebut.

Hal itu terjadi karena ternyata perkara pembagian bukan hal yang mudah. Siapa, mendapat apa, dan seberapa menjadi perhatian. Para pekurban diambilkan terlebih dahulu beberapa bagian daging. Tidak masalah. Pak Kaum yang tadi membantu (meskipun sudah diberi honor berupa uang tunai) juga diberi daging lebih dari yang lain. Ok.

Daftar membengkak

Setelah pembagian untuk para pekurban itu, masalah mulai muncul. Daging ternyata cukup banyak. Takaran yang mulanya 250 gram dinaikkan menjadi 350 gram. Jumlah bungkusan daging pun hampir menjadi dua kali lipat. Maka setelah bergerak ke daftar warga, masalah lain juga menyusul: siapa saja yang hendak ditambahkan, terutama dari luar wilayah yang tadi menjadi target.

Kemudian daftar yang sudah dibuat berkembang dengan cukup pesat hingga menghasilkan 200-an calon penerima. Setelah semua pihak yang didaftar sebagai calon penerima mendapatkan pembagian daging, ternyata bungkusan masih cukup banyak. Para anak muda yang tadi membantu pun sudah mendapat bagian. Mereka tidak diberi upah, melainkan sekedar diberi lebih agar lebih merasa senang.

Akhirnya daging juga mengalir ke berbagai pihak di luar desa, yaitu pada mereka yang sering berhubungan dengan warga kami. Saya pikir tidak apalah, karena menurut penjelasan di televisi tadi pagi sepertiga daging ditujukan untuk para kenalan.

Akan tetapi, masih tersisa juga cukup banyak. Akhirnya, para shahibul qurban mendapat bagian lagi: mereka mendapat sekitar selusin bungkus daging untuk dibagikan sesuai pilihan sendiri, mungkin ke saudara atau kenalan dan sebaganya yang tidak diakomodasi oleh panitia.

Manajemen Daging

Untuk mempermudah pembagian daging dalam acara tahunan semacam ini dapat diciptakan satu sistem manajemen daging yang fleksibel. Saya bayangkan, yang dapat disiapkan sejak awal mula adalah daftar calon penerima. Daftar ini cukup besar dengan mencakup calon penerima prioritas dan calon penerima cadangan. Jika daging dengan kuota tertentu berlebih di penerima prioritas, maka akan melimpah ke penerima cadangan.

Calon penerima prioritas dapat sesuai dengan rumah yang biasanya berjumlah lebih sedikit. Jadi, satu rumah akan mendapat satu bungkus daging. Kemudian, calon tambahan dapat merupakan anggota rumah yang memiliki dapur sendiri, atau memiliki KK sendiri. Dapat juga warga di sekitar wilayah target pembagian. Atau jika anggota keluarga melebihi jumlah tertentu maka akan mendapat satu lagi kupon …

Semua tergantung kepada pandangan panitia: siapa saja yang akan diajak berbahagia di hari raya ini.

Untuk berat daging per bungkus, dapat didapat dari jumlah total berat daging dibagi penerima prioritas. Jika hasilnya melebihi kelayakan (biasanya 250-350 gr) maka jumlah penerima ditambah, melebar ke penerima cadangan. Dst. Perlu diingat, pembagian tersebut juga memperhatikan bahwa kualitas bagian-bagian ternak tidak sama, antara daging, jeroan, kulit, dan tulang. Terdapat dua model utama berkait dengan kualitas ini: dibuat rata dan orang-orang tertentu mendapat kualitas tertentu. Saya perhatikan, panitia menggunakan model campuran di antara dua model tersebut.

Software MQ

Karena banyak faktor if-then atau jika-kemudian dalam urusan pembagian daging kurban ini, maka mestinya dapat diciptakan perangkat lunak untuk membagi hewan kurban sehingga panitia dan shahibul qurban tidak pusing bahkan sebelum makan sate kambingnya …

Tentu software bukan satu-satunya solusi, bukan pula solusi terbaik. Barangkali memegang ketat perencanaan termasuk memudahkan pekerjaan. Hanya 130 kantong yang akan dibagi, apapun nanti yang terjadi … misalnya.

Akan tetapi, kita ingin semua ikut menikmati kegembiraan hari raya ini. Warga yang membutuhkan dapat lebih tersantuni dan bersama-sama merayakan dengan kegembiraan yang setara …

1,210 total views, no views today