Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Tag: simbol

Esem menteri

Terdapat pameo Jawa: esem mentri, semu bupati, dupak bujang, seblak jaran. Mungkin dulu kata-kata ini ditujukan untuk menggambarkan bahwa dalam berkomunikasi kita perlu menyesuaikan dengan target komunikasi kita. Seorang menteri cukup diberi esem, atau senyum, dan ia akan tahu apa yang dimaksud. Pada kutub yang berseberangan, seekor jaran, yaitu kuda, harus di-seblak, atau dipukul dengan cemeti agar tahu apa yang harus diperbuat.

***

Mengamati perkembangan desain jalan-jalan yang sering saya lewati, membuat saya teringat kepada pameo di atas. Dulu ada jalan yang tidak memiliki marka, orang tahu bahwa jika berjalan harus di kiri. Kemudian diberi marka yang menandakan bahwa mereka tidak boleh melewati garis. Sekarang, marka dan segenap tanda yang simbolik itu tidak lagi mempan. Pengelola jalan menambahkan bangunan pemisah atau devider berupa pagar rendah di bagian tengah jalan. Pagar itu diperlukan untuk memaksa pengendara agar tidak berjalan di sisi yang salah.

Beberapa jalan di pemukiman menambahkan ‘polisi tidur’ untuk memaksa agar pengendara melambatkan kendaraan. Atau sebenarnya tidak peduli apakah pengendara melambatkan kendaraan, yang penting kendaraan melambat. Kita sekarang sudah senang berkendara dengan cepat meski di tengah pemukiman ramai. Bahkan, di tempat yang sedang ada upacara (layatan, hajatan) yang terpaksa menggunakan sebagian jalan pun kendaraan berlalu lalang seperti biasa.

Apakah kita sudah jatuh ke level jaran, yang harus diseblak agar tahu apa yang harus, atau harus tidak, dikerjakan? [z]

ke atas

472 total views, no views today

Api nan Tak Kunjung Padam

Api bukan sekedar benda gas yang digunakan untuk memanaskan makanan, menghilangkan sampah, dan sebagainya. Api juga memiliki makna simbolis.

Makna itu berada dalam level benda maupun ikon-indeks seperti ungkapan verbal dan ungkapan material. Dalam level benda, misalnya api pada demonstrasi sering diwarnai dengan aksi membakar ban bekas. Tentu bukan ban bekas yang menjadi simbol dalam hal itu, melainkan “benda” apinya. Entah apa yang disimbolkan dengan api pada peristiwa demonstrasi. Mungkin semangat atau penghancuran. Dalam demonstrasi, api tersebut sering menjadi sumber konflik antara pendemo dan polisi. Jadi, secara simbolik terlihat bahwa api cukup penting.

Api sering digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang terus hidup, abadi. Hal ini juga dinyatakan secara verbal dengan ungkapan ‘api nan tak kunjung padam’ dalam di Indonesia. Pepatah atau peribahasa tersebut digunakan untuk menggambarkan semangat yang hidup terus-menerus. “Api nan tak kunjung padam” sendiri juga merupakan nama bagi logo Departemen Penerangan dahulu, yang bergambar orang setengah badan dengan tangan berapi menyala menyangga bola dunia. Dalam bentuk tiga dimensi, logo ini dapat dilihat di depan Museum Penerangan di Kompleks Taman Mini Indonesia Indah.

***

Simbol api dapat ditemukan pada berbagai monumen lain baik di Indonesia maupun di luar negeri. Monumen-monumen tersebut simbol api baik dalam bentuk gambar, relief, patung, bahkan api itu sendiri.

Monas, Monumen Nasional Jakarta, terkenal antara lain karena simbol api di bagian atas yang dilapis dengan lembaran emas. Lidah api ini sebagai simbol semangat perjuangan rakyat Indonesia dalam upaya meraih kemerdekaan. Puncak tugu berupa “Api Nan Tak Kunjung Padam” yang bermakna agar Bangsa Indonesia senantiasa memiliki semangat yang menyala-nyala dalam berjuang dan tidak pernah surut atau padam sepanjang masa.

monumen nasional

Monumen Nasional, dengan puncak berupa lidah api berwarna emas.

Masih di Jakarta, terdapat patung Pemuda Membangun, di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Monumen yang terletak pada bundaran di tengah persimpangan jalan tersebut berbentuk seorang pemuda yang penuh semangat menyangga piring berisi api. Selain itu, terdapat monumen yang lebih eksplisit menggambarkan hubungannya dengan api: Tugu Api Pancasila di Taman Mini Indonesia Indah.

Bentuk api pada tonggak di Memorial H.M. Soeharto

Memorial Jenderal Besar H.M. Soeharto di Yogyakarta yang diresmikan pertengahan tahun 2013 ini juga menyelipkan simbol api. Di sudut kompleks, tempat peninggalan dari masa kecil Pak Harto yang masih utuh, yaitu bekas pondasi bangunan dan sumur, terpancang tonggak dengan ujung akrilik yang diukir berbentuk api. Di bagian tengah terdapat akrilik berbentuk bendera berkibar dengan tulisan berisi petuah-petuah Pak Harto.

Api di memorial tersebut terlihat ditujukan untuk simbol penjagaan semangat yang diwariskan oleh Pak Harto berupa kata-kata bijak atau petuah. Pak Harto boleh meninggal tetapi pesan pemikirannya tetap hidup. Begitu kira-kira maksud tampilan di sudut kompleks monumen tersebut.

Baca juga: Memorial Jenderal Besar H.M. Soeharto.

La Flamme de la Liberté, Paris. Patung ini merupakan replika persis dari nyala obor pada patung Liberty di New York. Menurut prasasti yang tertera pada bagian penyangga, patung ini dipersembahkan oleh penderma di seluruh dunia untuk masyarakat Prancis sebagai simbol persahabatan antara bangsa Prancis dan Amerika. Menarik bahwa dari patung Liberty yang berwujud perempuan mengenakan mahkota bintang dan membawa obor serta buku itu diambil hanya bagian nyala api untuk menyimbolkan persahabatan di antara kedua bangsa.

Monumen ini terletak di jembatan ujung terowongan tempat Putri Diana mengalami kecelakaan hingga meninggal. Kebetulan yang tidak disengaja, banyak orang yang datang meletakkan tanda kenangan terhadap Putri Diana di bawah patung api ini.

Api emas "La Flamme de la Liberte" Paris.

Berkait dengan monumen ini adalah api pada obor Patung Liberty itu sendiri yang terletak di dekat New York Amerika Serikat. Akan tetapi, kelihatannya makna nyala api di kedua monumen ini berbeda.

Di Amsterdam, Belanda, terdapat satu bekas gedung teater bernama Hollandsche Schouwburg. Sekarang gedung tersebut digunakan untuk mengenang korban Perang Dunia II dari kaum Yahudi di Belanda. Pada saat PD II bangunan teater ini digunakan sebagai penampungan bagi orang-orang Yahudi yang akan dikirim keluar Belanda.

Di lantai bawah sisa bangunan yang menjadi monumen ini, yaitu pada bagian yang disebut chapel, terdapat api kecil yang selalu hidup. Pada dinding ruang tersebut terdapat nama-nama korban perang. Pengunjung juga sering datang menuliskan nama pada batu dan meletakkannya di sekeliling obor.

Api kecil di bekas Hollandsche Schouwburg, Amsterdam.

***

Monumen-monumen menggunakan simbol api boleh jadi karena bangunan tersebut dimaksudkan untuk mengenang dan untuk menjaga agar semangat yang dikandung tetap ‘menyala’ terus menerus.

“I don’t want to lose this feeling”
The Bangles, “Eternal Flame”

[z]

ke atas

1,599 total views, 1 views today

Pelat Nomor

Awal tahun ini kita sudah diributkan dengan beberapa masalah tentang pelat nomor kendaraan. Wagub DKI yang menyatakan tidak bisa menggunakan pelat nomor resminya.\1 Menteri BUMN yang memasang ‘pelat nomor’ pesanan (dari) pinggir jalan di mobil tucuxi-nya.\2 Sebelumnya, di akhir tahun lalu gubernur DKI melontarkan gagasan tentang pembatasan kendaraan di jalan dengan menggilir antara nomor ganjil dan nomor genap …\3

*

Kelihatannya terdapat beberapa fungsi pelat nomor kendaraan.

Fungsi utama pelat nomor adalah sebagai sarana registrasi dan identifikasi. Oleh karena itu, secara logis masing-masing pelat nomor adalah unik, tidak ada yang sama. Pelat nomor juga dikeluarkan oleh lembaga yang berwenang, berkaitan dengan pendaftaraan (registrasi) kendaraan bermotor.

Pelat nomor B 2 DKI yang ditunjuk oleh wagub DKI rasanya berkaitan dengan aspek identifikasi. Orang akan tahu siapa yang melintas jika melihat kendaraan dengan pelat nomor tersebut. Akan tetapi, kelihatannya sekarang belum jelas, siapa pengguna pelat nomor tersebut.\4

Pelat nomor juga dapat berfungsi sekunder antara lain sebagai sarana penggaya, alias aksesori. Menjadi lebih keren mungkin …

Hingga tahun ’90-an, rasanya, pernah ada tren memasang pelat nomor kendaraan luar negeri, entah asli entah hanya serupa. Parahnya, seringkali pelat nomor ini sering dipasang pada tempat yang semestinya digunakan untuk pelat nomor yang aseli dan resmi Indonesia sementara nomor yang resmi malah hanya ditempel di bagian bawah dari muka/belakang kendaraan. Pemerintah kemudian melarang penggunaan pelat nomor asing tersebut.

Sebagai sarana penggaya, terdapat istilah ‘nomor cantik’. Beberapa pelat nomor memiliki kombinasi angka dan huruf yang istimewa (toh semua mestilah unik) seperti angka berurutan, angka kembar, dapat dibaca, atau memiliki arti tertentu (personal, kultural, feng shui, … ).

Untuk ‘membaca’ pelat nomor harus mengkonversi angka yang ada, misalnya angka 0 menjadi huruf O atau D, angka 1 menjadi huruf I, angka 2 menjadi Z atau S, angka 3 menjadi E, 4 sebagai huruf A, 5 sebagai S, angka angka 6 sebagai G atau B, 7 sebagai huruf J atau T, 8 sebagai B, dan 9 sebagai G, misalnya. Dua angka juga dapat dijejerkan agar dapat menjadi huruf. ’13’ = B, ’12’ = R…\5

Untuk membuatnya terbaca, terkadang dilakukan modifikasi letak huruf atau angka, dengan mendekatkan atau merenggangkan. Juga modifikasi pada bentuk angka agar sesuai dengan huruf yang dikehendaki.

Selain itu, para pengguna kadang juga memodifikasi dengan menutup sebagian huruf/nomor dengan cat, menebalkan huruf/nomor tertentu, melipat huruf di pinggir ke belakang … dan sebagainya. Pelat AB 9199 BA misalnya (sekadar contoh, semoga tidak ada nomor tersebut), ditutup bagian huruf A dan ketiga angka 9 sehingga sepintas seperti nomor cantik dan istimewa dari Jakarta.

Nomor cantik yang ‘maksa’.\6

Tetapi ‘nomor cantik’ mungkin kadang perlu juga. Nomor semacam ini mudah diingat, mudah dicari, mudah dikenali.

*

Hari ini, KPU (Komisi Pemilihan Umum) mengundi nomor partai peserta pemilu tahun 2014. Cakupan nomor cantik akan melebar ke nomor urut partai, dengan tiga huruf di belakang sebagai singkatan nama partai.

Nomor ini mungkin yang akan menjadi buruan: B 2 PKB, B 3 PKS, B 8 PAN, dan B 9 PPP.

[z]

ke atas

Catatan Kaki
  1. http://jakarta.tribunnews.com/2013/01/04/ini-penjelasan-ahok-soal-b-2-dki-dan-plat-nomor-cantik ^
  2. http://www.solopos.com/2013/01/07/plat-mobil-tucuxi-ilegal-365590 ^
  3. http://www.merdeka.com/jakarta/jokowi-ganjil-genap-bisa-januari-maret-atau-september.html ^
  4. Update: Akhirnya mobil dinas gubernur DKI menggunakan pelat ‘B 1 DKI’. http://jakarta.tribunnews.com/2013/01/15/jokowi-akhirnya-pakai-plat-nomor-b-1-dki ^
  5. Kok seperti 4l4y … ^
  6. UU No. 22 Tahun 2009 ttg Lalu lintas dan Angkutan Jalan, ps 280: “Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan yang tidak dipasangi TNKB (Tanda Nomor Kendaraan Bermotor) yang ditetapkan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 68 ayat (1) dipidana dengan kurungan 2 (dua) bulan atau denda paling banyak Rp500.000 (Lima ratus ribu rupiah)”. ^

1,337 total views, 1 views today

Bukumuka, oh bukumuka


Ketika facebook masih agak baru dulu, seorang artis menyatakan bahwa status facebook yang dibuat sebaiknya berguna bagi pembaca dan tidak menyakiti orang. Pada waktu itu, masih sangat disadari bahwa facebook adalah sarana komunikasi yang perlu digunakan dengan hati-hati.

Hingga suatu pagi, saya jumpai satu status di facebook, yang kira-kira berisi: “facebook adalah fasilitas yang aneh, memungkinkan kita berbicara kepada dinding”.

Kepada dinding? Tentu tidak. Facebook berada di jaringan publik dan bukan hanya stand alone di komputernya. Status tentu dibaca orang lain–dengan asumsi dia memiliki teman/kontak facebook. Hanya, perasaan ‘berbicara kepada dinding’ ini mungkin cukup dihayati sehingga kita sering menemukan status  yang membuat saya (yang lagi belajar berprasangka baik) ingin sekali menulis komentar: ‘egp‘. Tetapi karena hal tersebut bisa menyakiti si penulis, dan membuat perkara, maka cukup saya ucapkan dalam hati.

Facebook adalah sarana komunikasi, yang berarti menjembatani hubungan antara satu orang dengan orang lain, atau pihak-pihak yang berkomunikasi.  Apapun yang ditulis dan diunggah di facebook adalah bentuk komunikasi kita kepada orang lain. Mereka tidak berteriak di tengah padang. Mungkin lebih tepat seperti seseorang melarung pesan di dalam botol dan berharap entah siapa menemukan. Atau seperti berteriak di lembah, dan tanggapan orang lain seperti gema yang datang kembali (dan kita menikmati gema itu).

… tanggapan orang lain seperti gema yang datang kembali (dan kita menikmati gema itu).

Hanya, kadang-kadang komunikasi yang dilakukan oleh para facebooker bersifat simbolik. Agar tak terlalu serius, kita gunakan saja: ilmu karambol. Status facebook (dan segala hal yang diunggah di facebook) dapat seperti biji karambol: yang diincar yang lain, yang dikenai yang lain lagi. (Hah, malah jadi rumit). Seorang yang berteriak di wall-nya “I hate this restaurant!!!!!” dapat dibaca sebagai “dia lagi makan di restoran”. Kenapa juga benci sama restoran diumum-umumkan?

Semoga ini bukan ilmu sirik tanda tak mampu. Tetapi satu-dua tahun yang lalu teman saya pernah menulis di wall-nya yang kira-kira berbunyi: ‘facebook kok mung kanggo umuk’. Hmmm. Ketimbang “umuk“, mungkin istilah ‘manipulasi citra’ lebih tepat. Fasilitas facebook memang dapat digunakan untuk hal ini. Bahkan, dengan tampilan timeline facebook yang baru nanti, upaya ini akan lebih mudah karena kita (konon) dapat memilih apa saja yang akan kita tampilkan dalam ‘sejarah’ kita.

*

Jadi ingat ngelmu ‘apropriasi’. Kita akan memilih-milih, mematut-matut, ‘penampilan’ kita. Ndilalah, namanya juga facebook, bukumuka, tempat kita mematut diri. [z]

ke atas

249 total views, no views today

Jembatan Simbolik?

Jembatan Kutai Kertanegara Nyungsep (Republika.co.id)

Jembatan Kutai Kertanegara runtuh, Sabtu 26-11-2011.\1 Jembatan yang dinamai ‘Mahakam II’ ini dibanggakan karena merupakan salah satu jembatan terpanjang di Indonesia. 

Konstruksi jembatan ini adalah gantung, yang dalam versi kecilnya sering membuat takut kalau kita melintas di atasnya karena bergoyang-goyang. Jika kebetulan melintas jalur Pacitan-Ponorogo, dapat mencoba beberapa jembatan gantung di atas Kali Grindulu untuk menguji nyali …

Kabarnya, hanya terdapat tiga jembatan besar dari tipe ini di Indonesia, dua di Kalimantan dan satu melintasi Sungai Mamberamo di Papua. Kemarin pewarta di televisi sering sering menyebut jembatan  ini sebagai kebanggaan warga dan juga diucapkan oleh mereka kira-kira “… jembatan yang didesain mirip Golden Gate di San Fransisco ini …”

Mirip Golden Gate? Karena kebetulan struktur tanah, lebar sungai, dan sebagainya\2 menuntut konstruksi semacam itu atau karena sengaja dibentuk mencontoh jembatan yang menjadi ikon salah satu negara bagian di AS tersebut? Jadi, apa yang menentukan jembatan mengambil bentuk semacam itu? Simbolik, karena keinginan memiliki jembatan seperti di negara adidaya Amerika Serikat tersebut? Atau fungsional: memang bentuk semacam itu yang paling efisien untuk kasus tersebut.

Atau masyarakat yang pingin kita setara dengan negara-negara maju sehingga jembatan yang cuma sedikit mirip, atau secara garis besar mirip atau setipe, tersebut kemudian dianggap mirip dalam perbincangan sehari-hari.

Akan tetapi jangan-jangan kita nggak kuat niru jembatan milik Paman Sam. Jembatannya jadi minder dan nggregeli, runtuh. \3

Berkaitan dengan runtuhnya jembatan tersebut, di televisi juga diberitakan bahwa banyak jembatan di dunia ini yang runtuh karena berbagai sebab. Tidak saja di negeri sedang berkembang, tetapi runtuhnya jembatan juga di negara-negara yang maju dalam dunia konstruksi seperti Amerika Serikat, Jerman, dan Jepang. Lumayan menghibur…

*

Jadi ingat jembatan Kali Krasak, antara Sleman dan Magelang, tipe Alexander Hamillton yang diimpor pada tahun 1970-an. Jembatan baja tersebut terbakar meleleh setelah kecelakaan yang melibatkan satu bus ngebut dan mobil tangki BBM di tahun 1990-an. Sementara itu, beberapa bulan yang lalu jembatan lama Kali Pabelan, di ujung utara kota Muntilan, hancur diterjang banjir lahar dingin dari Gunung Merapi.

Catatan Kaki
  1. Saya pilih kata ‘runtuh’ bukan ‘ambruk’, karena orang Jawa bilang semua jembatan ambruk dan memang tidak ada yang berdiri.  ^
  2. Apa saja faktor yang menentukan konstruksi dan struktur suatu jembatan? ^
  3. Pingin juga melihat suatu waktu ada jembatan di Amerika sono yang dikatakan: ini mirip yang di Indonesia, lho.. heheh.. ^

356 total views, no views today