Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Tag: sekolah (page 1 of 2)

Buku Pelajaran

Si gendhuk yang masih SD itu sibuk membongkar buku-buku yang ia punya, juga majalah setumpuk. Tidak kurang dari itu, ia pinjam pondas (telepon cerdas) milik ibunya. Ia kemudian juga minta saya menggogle lewat laptop karena hp ibunya terlalu kecil hingga gambar yang didapat tidak jelas.

Rupanya ia ada tugas dari sekolah. PR mengerjakan soal pada buku LKS. Ada gambar rangkaian organ pencernaan manusia yang harus diberi nama pada bagian-bagi”an yang ditandai.

“Ya baca bacaannya dulu to, Ndhuk,” saya menyaran. Struktur isi bab buku itu biasanya berupa bacaan disusul dengan soal-soal.

“Tidak ada, Pak!” jawabnya. Guru katanya juga tidak mengajarkan tentang hal itu di kelas.

Bukan kali ini saja kasus itu terjadi. Minggu ini saja setidaknya sudah tiga kali ia menemui masalah yang sama.

Entah bagaimana logika yang dianut oleh penulis buku pelajaran itu. Hemat saya, sebelum ditanyakan pada soal, mestinya diberitahukan terlebih dahulu atau diajarkan pada bagian “bacaan”. Entah kenapa kami menemui banyak masalah serupa pada buku-buku pelajaran, terutama yang dicetak pada kertas buram itu.

Beruntung anak saya karena bapak-ibunya makan sekolahan sehingga akses terhadap informasi juga lumayan. Ia punya majalah, buku-buku, dan Internet. Bagaimana dengan anak-anak lain yang tak seberuntung dia?

***
Siang itu ia pulang dengan bersungut-sungut. Rupanya jawaban yang kemarin kami berikan atas PR yang ia kerjakan disalahkan gurunya.

“Katanya Candi Pawon itu peninggalan Kerajaan Majapahit, Pak!”

Lho?!

261 total views, no views today

Dirundung Perundungan

Perundungan. Kata ini rasanya baru terdengar oleh saya kemarin pagi, pada judul berita di layar televisi. Saking barunya, meski sudah ada laman tahun 2010 yang menggunakan kata ini, agak sulit menemukannya menggunakan google. Mesin pencari ini menyaran “perundingan”, “peruntungan”, dan “perundangan”..

Jika kata perundungan berkata dasar “rundung”, maka saya sudah mengenalnya sejak SMP ketika membaca roman Tak Putus Dirundung Malang karya pujangga besar Sutan Takdir Alisyahbana. Menurut kamus,

rundung /run·dung/ v, merundung /me·run·dung/ v 1 mengganggu; mengusik terus-menerus; menyusahkan: anak itu ~ ayahnya, meminta dibelikan sepeda baru; 2 menimpa (tt kecelakaan, bencana, kesusahan, dsb): ia tabah atas kemalangan yg telah ~ nya\1

Dari satu sumber saya dapat bahwa “perundungan” sama dengan “harrashment” yang biasa kita terjemahkan dengan “pelecehan”. Kali ini, dalam berita televisi itu, kata tersebut dikaitkan dengan bullying pada MOS atau masa orientasi sekolah, atau resminya sekarang MOPD alias Masa Orientasi Peserta Didik. Lalu, apa padan kata di-bully? Dirundung? Dirundungi?

Orientasi dan Perploncoan

Senin kemarin adalah hari pertama anak-anak masuk sekolah. Tahun ajaran baru, biasanya diwarnai dengan pengenalan sekolah. Malangnya, acara tesebut sering menjadi arena bullying atau perundungan itu tadi.

Berbagai praktik ditengarai sebagai upaya perundungan. Intinya adalah merendahkan siswa baru. Mereka harus melakukan sesuatu, mengenakan sesuatu, berperilaku tertentu, yang bersifat melecehkan dan menekan. Atau ditekan dengan bentakan. Apa yang dilakukan atau dikenakan dapat membuat malu, seperti kaos kaki berbeda warna, atau pita kucir berlebihan.

Panitia yang mengharuskan ini-itu umumnya adalah para senior, dengan legalitas sekolah tentunya. Jika memang berniat saling mengenal, mengapa mereka tidak mengenakan atribut yang sama, minimal papan nama yang sama bentuk, besar, dan isi. Barusan ditayang di televisi Mendikbud memegang papan nama seorang siswa peserta perundungan yang bertuliskan nama neneknya.

Mendikbud Anies melarang perundungan dan menghimbau pemda untuk mengawasi MOPD. Meski begitu, sepertinya tetap ada upaya bullying itu. Diberitakan bahwa pengawas independen mendatangi sekolah, ditayang juga pendapat murid dan orang tua murid korban perundungan.

Namun, pihak sekolah selalu bilang: tidak ada perundungan. “Anda lihat sendiri, anak-anak bergembira, tidak tertekan.”

Baiklah jika itu yang menjadi ukuran. Tetapi jika memaksa tanpa terasa, atau justru anak-anak merasa takut untuk terpaksa, atau malah senang hati untuk terpaksa, sehingga gembira saja?

MOS, OPSPEK, dan sebangsanya, cenderung merupakan tradisi belaka. Seorang pejabat Kemendikbud menyatakan bahwa salah satu kesulitan memberantas perundungan adalah karena beban sejarah bagi sekolah. Mereka melaksanakan karena sudah bertahun-tahun kegiatan tersebut ada di sekolah.

Anak-anak ini dapat menjadi pendendam sebagai salah satu reaksi. Atau terpatri dalam benak bahwa nanti mereka juga akan melakukan hal yang sama jika kelak menjadi senior. Atas nama tradisi, bukan edukasi.

Re-orientasi Orientasi

Perlu pemberdayaan agar acara tersebut tepat sasaran: memberikan orientasi dunia baru kepada siswa baru, bukan merendahkan mereka dengan menjadikan subordinasi para senior dengan perintah-perintah tidak jelas tujuannya. [z]

ke atas

Catatan Kaki
  1. http://kbbi.web.id/rundung ^

621 total views, no views today

Survival di Belanda


Seorang teman lagi mau ke Belanda untuk sekolah. Berikut beberapa tips saya untuknya berdasar pengalaman beberapa waktu berada di Amsterdam. Untuk kota lain, rasanya tidak terlalu berbeda. Tips ini mungkin tidak akurat atau masih terlalu ribet dan lebay, tetapi semoga sedikit berguna baik bagi yang (akan) berangkat maupun yang akan ditinggal.

Kadang yang akan ditinggal malah lebih khawatir …

***

#1 Telepon. Ada baiknya segera mengganti simcard dengan nomor lokal terutama jika akan berada di Belanda dalam waktu yang lama. Simcard saya dari provider Indonesia memang dapat digunakan di Belanda, akan tetapi kadang jika kirim sms ke Indonesia belum tentu langsung sampai ke penerima, kadang hingga keesokan harinya. Barangkali hp dengan dual simcard akan membantu. Jika kelebihan rezeki juga dapat membeli hp ‘minimalis’ yang sangat murah, di bawah 10 euro plus charger

Provider di Belanda antara lain adalah Lyca dan Lebara. Pembelian pulsa atau kredit dapat dilakukan melalui internet, kios selular, maupun voucher di supermarket.

#2 Transportasi lokal. Terdapat beberapa jenis transportasi umum, seperti kereta api, tram, metro, dan bis. Taksi juga ada tetapi rasanya jarang terdapat orang naik taksi.

Jika tinggal cukup lama di Belanda dan intensif menggunakan kereta api, ada baiknya membeli tiket elektronik personal, dengan nama dan foto kita. Caranya adalah dengan memesan pada situs kereta api Belanda, www.ns.nl, atau www.ov-chipkaart.nl. Tiket akan diantar dengan pos ke alamat kita seminggu kemudian.

Keuntungan dari tiket personalized ini adalah kita akan mendapat diskon hingga 40% pada jam tidak sibuk. Kita juga dapat ‘mendiskon’ tiga orang teman yang bepergian dengan kita, yang membeli tiket kertas. Untuk mendapatkan diskon, kita harus mendaftar lagi di situs tersebut dan membayar langganan. Harga langganan cukup beragam, antara lain 50 euro per tahun.

Untuk anak-anak terdapat tiket Railrunner seharga 2,5 euro yang dapat digunakan seharian untuk berkereta ke seluruh Belanda.

Baca juga: Kendaraan umum di Belanda

Jika menetap untuk waktu yang lama pertimbangkan untuk membeli sepeda yang irit dan praktis untuk sekedar bepergian dalam kota. Tetapi pertimbangkan untuk melatih diri mengatasi kerusakan-kerusakan sepeda karena ongkos bengkel sangat mahal. Di toko-toko dijual alat penambal ban bocor dan berbagai perlengkapan lain.

Baca juga: Balada Kota Sepeda

#3Bank. Meskipun kartu atm beberapa bank dari Indonesia dapat digunakan di Belanda (pada atm bertanda khusus), akan tetapi jika menetap cukup lama dan mendapat beasiswa tentu akan lebih mudah memiliki akun bank Belanda. Ada beberapa bank yang populer digunakan teman-teman Indonesia saya, antara lain adalah ING, ABN-AMRO, dan Rabobank. Aplikasi akun ke bank cukup mudah dan kartu atm akan dikirim melalui pos dalam waktu seminggu.

Jangan lupa membuat akun internet banking karena akan memudahkan kita bertransaksi misalnya untuk membeli pulsa hp, tiket pesawat, atau hal-hal lain karena e-commerce cukup berkembang di negeri yang konon memiliki rumah tangganya terhubung ke internet terbanyak ini. Toko-toko dan lembaga pemerintah juga memiliki ‘alat gesek atm’ sehingga di negeri keju ini kita bisa hidup tanpa memegang uang betulan …

Jika tidak memiliki akun bank Belanda, kita dapat membeli kartu pin yang dapat digunakan layaknya kartu atm. Hanya perlu perhatian karena beberapa toko, tidak banyak, mengutip ongkos tambahan untuk penggunaan kartu baik pin maupun atm.

#4 Makan. Sebenarnya tidak terlalu merepotkan, juga bagi muslim. Supermarket berada di setiap sudut, kadang juga ada pasar di beberapa tempat. Di supermarket tersedia berbagai ragam bumbu dan bahan makanan yang kita kenal, mulai dari beras, mi instan, hingga cabe dan krupuk serta emping.

Untuk makanan halal, beberapa supermarket terkenal seperti Albert Heijn menyediakan konter makanan halal pada toko yang berlokasi di tempat-tempat yang banyak dihuni komunitas muslim. Memang harganya lebih mahal, tetapi coba konter Mr. Wahid jika ada di supermarket, yang menyediakan berbagai makanan halal baik matang maupun mentah dengan harga yang cukup fair.

Kita juga dapat mengunjungi toko milik bangsa Timur Tengah seperti Turki dan Maroko yang banyak bertebaran di buurt atau ‘kampung’ yang dihuni banyak orang Islam. Harga makanan atau bahannya di tempat-tempat tersebut cukup murah dan umumnya memasang tanda halal di depannya.

Jika tidak, ya pilih yang kira-kira aman, misalnya sandwich tuna yang cukup mudah ditemui di supermarket dan berbagai gerai makanan lain.

#5Belanja. Bukan promosi, tetapi saya mendapat barang-barang yang saya butuhkan dengan mudah pada tiga ‘toko’ ini yang bertebaran di berbagai tempat di kota: Albert Heijn yang merupakan supermarket, Blokker yang menjual barang-barang rumah tangga dan dapur, serta Hema yang menjual beraneka ragam mulai makanan, pakaian, elektronik ‘ringan’, serta barang rumah tangga dan dapur.

Di supermarket biasanya terdapat barang-barang yang dikorting. Akan tetapi, umumnya korting hanya diberikan pada pelanggan yang memiliki kartu. Oleh karena itu, di Albert Heijn misalnya, mintalah kartu ‘Bonus’ di customer service. Jika tidak menunjukkan kartu ini kepada kasir sebelum membayar maka korting tidak diberikan.

Tips lain adalah: coba lihat barang di bagian bawah rak. Biasanya terdapat tiga jenis barang yang dijual di supermarket. Pertama adalah barang bermerek, kedua adalah barang yang dibungkus dan diberi merek oleh supermarket. Ketiga adalah barang yang diberi merek oleh pemasok tertentu. Barang pertama tentu mahal, yang kedua lebih murah, dan yang ketiga biasanya paling murah. Barang terakhir ini, misalnya di Albert Heijn bermerek Euroshopper, biasanya diletakkan di rak bagian bawah dan berharga ekonomis …

Jangan lupa membawa tas sendiri jika belanja di supermarket sebab jika tidak kita harus membeli tas yang cukup mahal untuk kalkulator Indonesia … Tidak hanya tas, kita juga harus memasukkan sendiri barang ke dalam tas … Di beberapa supermarket bahkan kita bisa menghitung sendiri dan kemudian membayar barang yang kita beli kepada mesin.

#6 Hati-hati. Tidak ada salahnya berhati-hati di negeri orang. Polisi dan caretaker asrama selalu rutin memperingatkan warga untuk mengunci pintu dan sebagainya. Hati-hati juga perlu terlebih jika mengunjungi kota wisata macam Amsterdam. Jaga baik-baik barang bawaan.

Baca juga: Copet di Amsterdam

#7 Bacaan. Untuk mengetahui lebih lanjut, dapat membaca buku yang populer seperti Undutchables: an observation of the netherlands, its culture and its inhabitants, buku yang penuh humor tentang etika dan berbagai remeh-temeh bagi orang asing yang tinggal di Belanda.

books netherlandsBuku berikutnya yang cukup baik untuk Belanda for beginner adalah The Low Sky, Understanding the Dutch. Sejarah dan sebagainya dapat dipelajari di buku ini. Jika bertujuan wisata, buku yang lain tentunya adalah panduan wisata seperti DK Eyewitness Travel Guide: Netherlands yang penuh gambar.

#8Jika kangen Indonesia? Entahlah. Mungkin cari teman dari tanah air. Tentu, coba skype dan berbagai fasilitas di internet yang dapat digunakan untuk berhubungan bervideo dan suara dengan keluarga di tanah air.

Atau mencoba makanan di beberapa restoran Indonesia, namun biasanya cukup mahal. Rata-rata, seperti juga restoran lain, adalah 10 euro, dengan minuman teh sekitar 2-2,5 euro berupa teh celup dengan air panas secangkir! Untuk agak hemat kita dapat menelusuri supermarket dan mendapati beberapa makanan yang biasa ada di rumah. Kerupuk, sambal, indomie … juga berbagai camilan produk dari Go-Tan, seperti emping, gendar manis, dan sebagainya. Untuk kecap, meski disebut kecap manis tetapi bentuknya lebih encer dan rasanya lebih asin. Di beberapa toko cina dan supermarket tertentu dijual kecap dari Indonesia.

Baca juga: Menu Indonesia di Supermarket

Baca juga: Indonesia di Bungkus Teh

Atau memasak sendiri jika setiap hari mengunyah menu seperti pistollete atau mungkin pizza gaya Timur Tengah yang murah meriah. Bahan-bahan dapat dibeli di supermarket atau di pasar. Di toko Cina yang biasanya juga terdapat di berbagai kota menyediakan tempe, tahu, segala macam bumbu dapur, dan lagi-lagi indomie …

Atau nonton televisi lewat Internet. Beberapa website televisi Indonesia menyajikan siaran live, atau coba mivo.com atau binus-access.com … Untuk radio seputar Yogya dan Jateng, dapat dinikmati melalui jogjastreamers.com.

Bisa juga mencoba berjalan-jalan mengunjungi berbagai museum yang menyimpan benda-benda dari Indonesia, atau nonton Tongtong Fair di Den Haag jika sedang digelar.

Baca juga: Nonton Pasar Tongtong

[z]

ke atas

2,279 total views, no views today

Susahnya jadi murid SD zaman sekarang

Anakku yang baru duduk di semester pertama kelas dua sekolah dasar rupanya lagi galau. Mukanya kusut sepulang sekolah. Pagi berikutnya, ia tidak mau sarapan sebelum berangkat.

Rupanya ia tidak sendiri. Teman akrabnya di sekolah juga tidak sarapan hari itu. Bahkan menurut ibunya, pada hari sebelumnya ia muntah-muntah.

Saya bercuriga, mungkin mereka tidak merasa happy di sekolah. Tetapi kenapa? Bulan lalu memang terdengar ada yang mogok sekolah karena pak guru yang baru, pindahan dari kecamatan lain, dikatakan suka njewer telinga para murid. Tetapi hal itu sudah diprotes oleh seorang wali murid.

Barangkali ini penyebabnya: minggu ini mereka harus mengikuti ulangan tengah semester. Sebenarnya ulangan bukan masalah besar bagi anak saya. Biasanya ia mendapat peringkat 1, 2, atau 3 di kelas.

***

Mengintip pelajaran sekolah dasar sekarang, saya tidak yakin dapat mengerjakan dengan baik jika diberikan pada usia saya sekolah di SD dahulu. Memang, anak-anak sekarang lebih pandai dari zaman saya bersekolah. Di usia saya masih bermain layang-layang, mereka sudah bisa utek-utek komputer. Mereka mempelajari teknologi maju ini, dalam batas-batas tertentu, dengan enteng saja.

Pelajaran mereka tidak kurang dahsyatnya. Di kelas dua sekolah dasar (zaman dulu saya masih berkutat dengan “i-n-i i-b-u b-u-d-i” ), kami lihat di LKS\1 siswa telah diperintah dengan kata: “deskripsikan”. Mereka juga sudah diberi pelajaran kewarganegaraan, menghafal bahwa kata ‘demokrasi’ berasal dari bahasa Yunani Kuno, dari kata demos yang berarti ‘rakyat’ dan cratein/cratos yang berarti ‘memerintah’. Memikirkan bahwa ada sesuatu yang disebut voting dan dilakukan dengan dua cara, yaitu terbuka dan tertutup.

Setiap malam menemani belajar, kami, ayah dan ibu dari anak yang usianya belum genap delapan tahun itu, selalu geleng-geleng kepala melihat materi yang harus dipelajari. Mungkin kami yang gagap, merasa susah menerangkan pemahaman kami dengan cara yang kami kira ia akan mengerti. Dahulu kami diajari hal-hal semacam itu di SMP atau SMA dengan cara guru sekolah menengah tentunya.

Belum lagi jika melihat buku LKS yang harus dikerjakan sebagai PR. Jika beberapa waktu yang lalu dunia pendidikan negeri ini dihebohkan dengan beberapa LKS yang secara moral dianggap kurang bertanggung jawab, maka kami menemukan hal-hal lain yang menyulitkan. Selain hal-hal konseptual yang kami rasa ‘ketinggian’ bagi anak-anak seusianya seperti telah disebut di atas, beberapa kali kami temui misalnya hal yang ditanyakan dalam soal ternyata tidak terdapat di dalam bacaan …

ke atas

***

Oleh karena itu, kami berharap-harap\2 akan perubahan kurikulum yang akan segera diberlakukan pemerintah. Semoga dapat membuat anak-anak belajar dengan suka cita. Kami juga dapat menemani belajar dan menjelaskan dengan baik apa yang tidak ia pahami.\3 [z]

ke atas

Catatan Kaki
  1. LKS = Lembar Kerja Siswa, buku tambahan yang kata anak saya tidak diwajibkan dimiliki, tetapi umumnya guru memberi pekerjaan rumah dari buku tersebut. ^
  2. … disertai sedikit kecemasan tentunya, kelihatannya guru harus menyesuaikan diri kepada sistem pembelajaran yang baru, mengubah kebiasaan pengajaran yang selama ini diterapkan. ^
  3. Update: Melihat perkembangan, kelihatannya kami harus menunggu lebih lama untuk perubahan. Konon, karena masalah persiapan, maka Kurikulum 2013 baru akan diterapkan pada bekas sekolah RSBI!! ^

329 total views, no views today

Internasional

Many institutions (and things) in Indonesia add the magic word ‘International’ in their name or predicate.

Label ‘internasional’ rupanya menjadi salah satu andalan untuk menarik perhatian. Mulai dari martabak,\1 rokok, hingga lembaga pendidikan menggunakan kata ini dalam nama atau sebutan.

Di awal Januari 2013 ini, Mahkamah Konstitusi membatalkan salah satu pasal dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Pasal tersebut menjadi landasan bagi penyelenggaraan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI).

“Mahkamah Konstitusi kemarin membubarkan sekolah bertaraf internasional dan rintisan sekolah bertaraf internasional. Hal ini sebagai dampak dari dikabulkannya uji materi terhadap Pasal 50 Ayat 3 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional yang mengatur pembentukan sekolah bertaraf internasional.”\2

Rupanya, program tersebut dipandang tidak berhasil dan malah menciptakan kesenjangan serta ketidakadilan. Malahan, menurut rumusan Mahkamah Konstitusi: melanggar Undang-Undang Dasar 1945.\3

Istilah “internasional’ menjadi label yang digunakan untuk menarik minat calon peserta didik. Lebih parah lagi, ditengarai mereka menggunakannya untuk menarik biaya (besar) dari wali murid.

“Pelaksana Tugas Kepala Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan DIY dan Jawa Tengah, Budhi Masturi, mengakui banyaknya sekolah RSBI di DIY yang berlindung di balik label internasionalnya itu untuk menarik biaya dari wali murid.”\2

Demo menentang RSBI.
Sumber: suatu tempat di Internet.

Oleh karena itu, seringkali singkatan RSBI ini diplesetkan sebagai ‘rintisan sekolah bertarif internasional’.

Meskipun demikian, konon tidak semua sekolah RSBI menarik iuran tambahan dari siswa. Pemerintah Kota Surabaya, misalnya, dikabarkan menanggung biaya RSBI.\4

Sebagai dampak dari putusan tersebut, “Embel-embel internasional yang tidak jelas itu harus dihilangkan,” kata juru bicara Mahkamah Konstitusi, Akil Mochtar, Selasa (8/1).\5

Beberapa tahun yang lalu juga terdapat gejala maraknya rumah sakit yang menggunakan kata ‘internasional’ atau ‘international’ dalam namanya. Pemerintah kemudian menertibkannya alias melarangnya.

“Rumah Sakit Indonesia Kelas Dunia dilarang mencantumkan kata kelas dunia/internasional/global atau yang sejenis sebagai nama rumah sakit. Semua RS yang menggunakan nama kelas dunia/ internasional/global dan sejenisnya diberi batas waktu sampai 14 Agustus 2010 untuk menghilangkan atau mencabut kata kelas dunia/internasional/global.”\6

Rupanya, di dunia perumahsakitan terdapat proses tersendiri untuk mendapatkan akreditasi internasional.\7 Oleh karena itu, tidak selayaknya rumah sakit menggunakan kata tersebut dalam namanya. Pada waktu kasus itu muncul (tahun 2010-an), hanya terdapat satu rumah sakit di Indonesia yang mendapatkan akreditasi internasional.

Tentu baik-baik saja memiliki standar internasional, meskipun harus didiskusikan, apa yang disebut dengan standar internasional itu, sampai ke tahap apa, dan sebagainya. Jargon “think globally act locally” barangkali dapat ditengok.

Sering kita terjebak pada label, bukan esensi. Kulit, bukan isi. [z]

ke atas

Catatan Kaki
  1. Ada lapak “Martabak Internasional” yang ngetop di pinggir Alun-Alun Utara Yogyakarta, http://www.tipswisatamurah.com/2012/12/martabak-internasional-jogja-memang-enak.html ^
  2. http://www.tempo.co/read/news/2013/01/09/079453153/Guru-Akui-RSBI-Memang-Tak-Beres ^ ^
  3. http://news.detik.com/read/2013/01/09/102352/2136911/10/bubarkan-rsbi-karena-melanggar-uud-1945-mk-banjir-pujian ^
  4. http://www.tempo.co/read/news/2013/01/09/058453169/Ini-Beda-RSBI-di-Surabaya-dengan-Kota-Lainnya ^
  5. http://www.republika.co.id/berita/nasional/hukum/13/01/08/mgavyy-mk-hilangkan-tulisan-internasional ^
  6. http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/823-rs-dilarang-menggunakan-kata-kelas-duniainternasionalglobal-.html ^
  7. http://www.tnol.co.id/psikologi-kesehatan/1707-gelar-rumah-sakit-internasional-sudah-dilarang.html ^

302 total views, no views today

Older posts