Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Tag: pidato

Komunikasi KKN

Pernah menjalani dan kemudian menjadi ‘objek’ kegiatan KKN, Kuliah Kerja Nyata, terpikir beberapa hal yang mungkin perlu dikuasai oleh para mahasiswa. Sering terlihat para mahasiswa bingung ketika berada di depan publik. Mungkin mereka terpaku dengan tegang pada masalah ‘apa yang harus dilakukan’, dalam arti program-program apa yang harus dilakukan nanti di lokasi KKN. Namun, tak kurang penting adalah perkara ‘bagaimana melakukannya’, dalam arti cara komunikasi dijalin dengan para warga.

Komunikasi, atau ‘pertukaran kode’ dalam istilah teknisnya, terjalin dari berbagai tindakan. Dalam konteks KKN, proses ini telah dimulai setidaknya sejak penerjunan (begitu disebut di UGM) mahasiswa ke lokasi. Mengenakan seragam almamater, misalnya, sudah menunjukkan perilaku komunikasi.

***

Secara resmi, komunikasi mulai dilakukan oleh mahasiswa ketika mengunjungi warga, melakukan perkenalan. Umumnya, pertama adalah mengunjungi para tokoh desa, baik formal maupun bukan. Kemudian warga lain, termasuk para tetangga dari rumah pondokan. Kemudian, ada lagi komunikasi dengan para warga ketika mereka berkumpul. Umumnya peserta KKN akan menemui kumpulan warga untuk menjalankan program-programnya. Pada kesempatan semacam itu diperlukan sedikit kemampuan berkomunikasi agar kegiatan berjalan lancar.

Dalam kegiatan penyuluhan, sosalisasi, demonstrasi, atau motivasi, kadang mahasiswa tidak tahu apa yang harus dikatakan. Sebagai warga yang kadang didatangi KKN, saya merasa ada beberapa hal yang harus dipersiapkan atawa dilakukan oleh para tamu saya, mahasiswa KKN itu karena kadang mereka tidak tahu apa yang harus dibicarakan, bagaimana memulainya dsb. Berikut mungkin berguna bagi mereka.

Umumnya para mahasiswa datang berombongan, tidak sendirian dalam menemui warga. Nah, salah satu harus bertindak sebagai ketua rombongan atau juru bicara. Kenalkan kepada warga siapa mereka (mungkin belum pernah berkenalan sebelumnya, namun jika pernah bertemu, mengenalkan lagi dapat mencairkan suasana). Kemudian, apa maksud kedatangan mereka. Misalnya, kali ini akan memberikan penyuluhan tentang pembuatan benda tertentu. Nah, kenalkan siapa yang akan melakukan apa, dan bagaimana urutan acara kali ini.

Pembicaraan tentang membuat suatu benda, baik kerajinan, pengolahan sesuatu, dsb, tentu tidak bisa langsung kepada cara membuatnya. Perlu diberi pengertian mengapa hal itu perlu dilakukan. Misalnya, karena di desa ini terdapat banyak limbah jerami, maka akan sangat baik jika dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, bukan hanya memberi makan ternak atau malah hanya dibakar. Jelaskan pula bagaimana hal itu akan membantu warga, meski tidak kemudian kemudian menjadi miliarder. Misalnya, lingkungan menjadi bersih, mendapatkan sedikit tambahan penghasilan, atau mempermudah hidup.

Baru kemudian cara mengerjakan sesuatunya itu. Apa alatnya, bagaimana cara kerjanya, apa bahan bakunya, apa hasilnya, dan bagaimana perhitungan efektivitasnya. Alat peraga sangat diperlukan. Jika tidak dapat didemonstrasikan secara langsung (misalnya harus membakar sesuatu padahal lokasi pertemuan berada di dalam rumah), perlu pengganti seperti foto, gambar, bagan. Hasil akhir yang sudah jadi perlu dibawa untuk diperlihatkan. Mirip dengan acara memasak di televisi. Presenternya sudah menyiapkan barang jadi yang ditunjukkan di akhir acara.

Kemudian dialog dengan warga dibuka, meski biasanya warga boleh juga menyela pembicaraan/presentasi dengan pertanyaan.

Setelah semua selesai, ucapkan terima kasih, dan harapan ” … semoga kami para mahasiswa lakukan dapat membantu warga. Kurang-lebihnya mohon maaf … ”

Begitu.

***

Tentu komunikasi, sebagaimana telah disampaikan di awal tulisan ini, bukan hanya ketika melakukan sosialisasi. Pendekatan kepada warga perlu dilakukan setiap hari. Tidak perlu muluk-muluk harus ketemu secara formal, namun kadang komunikasi informal lebih mengena. Misalnya, dengan memilih berjalan kaki daripada naik sepeda motor, maka akan lebih banyak bertemu dengan warga, dapat saling menyapa. Kumpulan warga, seperti ronda, atau sekedar kerumunan di sudut jalan, perlu juga didatangi. Umumnya warga akan senang jika para pendatang ini berpartisipasi dalam kegiatan mereka atau bahkan sekedar menyapa berbasa-basi.

Bahasa yang berbeda bukan halangan untuk dekat dengan warga. Tetangga saya di desa masih ingat dengan peserta dari Papua yang tidak dapat berbahasa Jawa namun selalu berkomunikasi dengan warga dengan cara sebisanya setiap mereka bertemu.

331 total views, 1 views today

17-an (lagi)

Hadirin yang saya hormati,

Malam ini kita patut bersyukur setidaknya dua kali.

Tadi Pak RT telah mengemukakan bahwa kita patut bersyukur karena dapat hadir di acara ini dengan selamat, maka yang kedua adalah kita patut bersyukur kehadiran Allah SWT, atas karunia kemerdekaan ini, yang sekarang telah mencapai usia ke-70. Usia 70, jika manusia, sampun sepuh. Kita bersyukur antara lain karena kita tidak perlu menjalani perang kemerdekaan sendiri. Para pejuang, yang sekarang disebut veteran itu, telah melakukannya untuk kita. Dan mereka tidak melakukannya untuk mereka sendiri. Dengan mengusir penjajah, maka yang diarah adalah membentuk wadah, yaitu negara, untuk waktu yang lama, sehingga anak-cucu dan keturunan mereka lah yang akan menikmati.

Dan kita kini sudah menikmati hal itu. Dengan kemerdekaan kita dapat menentukan nasib sendiri.

***

Kita dapat menentukan corak kebudayaan kita sendiri. Jika orang lain memiliki pakaian resmi berupa jas, kita boleh mengenakan batik, meski sebenarnya pakaian sipil lengkap kita menurut aturan pemerintah adalah jas. Namun kita lebih suka batik, dan boleh dikenakan saat apapun juga. Waktu jagong manten mengenakan batik, yang kadang-kadang terbuat dari kain satin sehingga mengkilat. Sarimbit, lagi. Waktu hadir saat hari pencoblosan waktu pemilu, pilpres, pilgub, pilbub, pilkades, pilkadus, juga banyak yang mengenakan batik. Saat layat pun kita mengenakan batik yang bergambar-gambar itu. Satin mengkilat lagi.

Bandingkan dengan orang Eropa. Jika ada acara sedih namun mengenakan pakaian yang meriah, orang akan mengatakan saltum, salah kostum. Tetapi karena kita merdeka, kita dapat menentukan sendiri corak pakaian kita. Batik boleh, mengenakan jas pun boleh. Adik-adik yang akan menikah, jika tidak punya, pinjam Pak Kodari.

Lha wong merdeka.

Kita juga boleh menentukan akan makan apa. Jika ada. Wong merdeka. Mau makan kimpul ya boleh, makan nasi beras juga boleh. Makan indomie terus juga boleh, asal tidak kebanyakan.

Semua makanan jika kebanyakan tentu tidak baik.

Mau makan pizza juga boleh, mumpung sekarang harga makanan ini di Pojok sana sudah turun menjadi 13.000 rupiah. Atau jika tidak doyan makanan Itali tersebut, seperti saya, boleh makan martabak di depan pasar itu. Boleh pilih yang manis atau yang telor yang entah dari India atau Mesir itu.

Tetapi itu kan makanan asing? Tidak apa-apa, wong merdeka. Kita boleh memilih.

Namun, jika ingin mengkonsumsi makanan dari negeri sendiri tentu juga lebih baik. Tahukah apa makanan terbaik di dunia?
Tahun 2010 terdapat survei yang menghasilkan kesimpulan bahwa rendang adalah makanan paling lezat di dunia. sayang sekarang harga daging sapi sedang naik, terutama di Jakarta dan Jawa Barat-Banten.

Kemudian, survei yang lain menyatakan bahwa gado-gado adalah makanan paling sehat di dunia. Tentu bukan untuk orang yang alergi kacang.

Kita masih punya makanan hebat yang lain. Nasi goreng termasuk makanan favorit dari Indonesia. Sementara tempe dianggap makanan yang sehat pula, dan sedang dikembangkan di beberapa negara. Sayang kedelai di Indonesia banyak yang masih impor.

***

Kemudian, bagaimana cara untuk menghargai kemerdekaan itu, yang telah memungkinkan kita bebas menentukan pilihan kita?

Yang pertama tentu adalah tidak melanggar kebebasan orang lain. Dumeh merdeka, terus boleh semaunya, tentu tidak. Kebebasan itu batasnya adalah kebebasan orang lain. Kira-kira begitu.

Sebagai contoh, kemarin Yogyakarta geger karena ada pengendara sepeda ontel yang mencegat kelompok moge. Mereka ini sering melanggar lalu lintas, pergi dengan rombongan besar, menyulitkan pengguna jalan lain, dan suara yang cukup membuat telinga sakit. Komentar dari salah seorang teman saya cocok dengan tema pembicaraan kita ini: kita kok seperti belum merdeka, dijajah para pengendara moge.

Nah, pengonthel ini memaksa agar kelompok yang kelihatannya serem ini untuk mematuhi aturan lalu lintas. Jadi, di bangjo ringroad mereka dihentikan, disuruh ikut aturan.

Kita juga punya banyak contoh pelanggaran semacam ini. Nyumet mercon di pemukiman. Untungnya di RT ini untuk waktu yang lama tidak pada nyumet mercon, mungkin sangune untuk berangkat teraweh sithik. Tetapi saya tinggal di perbatasan dusun, jadi ya tetap banyak mendengar suara keras seputar lebaran kemarin.

Kemudian, kita senang juga membuat suara keras dengan motor kita, terlebih jika pergi rombongan. Perginya berombongan kadang memenuhi jalan, dengan tongkat yang diobat-abitkan, sehingga menakutkan orang yang lewat. Belum lagi dengan suara kerasnya yang cukup mengganggu.

Yang kedua, adalah dengan menghargai apa yang telah dikaruniakan oleh Allah. Dengan kemerdekaan kita dapat menikmati semau kita, tanpa harus nyetor ke negeri penjajah. Konon, jaman Jepang dulu, iles-iles pun harus disetor ke tentara pendudukan jepang, katanya untuk diolah menjadi makanan mereka. Nah, kita kini dapat menikmati kekayaan alam kita–jangan tanya tentang perusahaan Freeport dan sebangsanya, saya ora dong.

Kekayaan alam kita kan luar biasa. Kita ingat lagunya Koesplus zaman dulu, jaman nom-nomannya Pak RT tahun 1973.
Bukan lautan, hanya kolam susu,” jadi yang kimplah-kimplah di pantai selatan yang kita lihat dulu di Pantai Kwaru itu adalah susu, bukan hanya air. Jadi, manfaatnya sangat besar. Air saja manfaatnya sangat besar, apalagi jika air susu.

kail dan jala cukup menghidupimu,” cukup dengan kail dan jala,

tiada badai tiada topan kau temui
ikan dan udang menghampiri dirimu.” Seperti di surga.
Orang bilang tanah kita tanah surga.” Betul, kan…
tongkat kayu dan batu jadi tanaman,” tancapkan saja kayu nanti akan thukul jadi tumbuhan.

Nah, untuk itu tentu perlu pengelolaan yang tepat. Kita tidak boleh berlebihan mengambil hasil bumi, karena kebutuhannya bukan hanya sekarang.

Kita tidak perlu bom ikan, atau potas dan jenu, atau strum. Pancing dan jala saja sudah mencukupi kebutuhan kita sehari-hari.

Jadi, saya ringkas bahwa kita dapat menghargai kemerdekaan dengan dua hal. Yang pertama adalah kita harus bertoleransi, agar kemerdekaan kita tidak melanggar kemerdekaan orang lain. Yang kedua adalah menghargai apa yang menjadi milik kita, baik kebudayaan yang kita ciptakan, maupun apa yang dikaruniakan Allah kepada kita berupa alam seisinya. Tentu masih banyak yang dapat kita lakukan.

Demikian apa yang dapat saya sampaikan untuk menyambut ulang tahun kemerdekaan esok hari.

Wonten tumpang-suh ing atur, saya mohon maaf.

*)teks untuk ngobrol tirakatan bersama warga RT 3 plus KKN UII. Karangkopek Kulon, 16 Agustus 2015.

802 total views, 1 views today

17-an

Tadi Pak Rt memerintahku untuk menyampaikan sesuatu pada malam tirakatan tujuh belasan nanti.

Bingung juga.

khalayak yang akan mendengarkan nanti bukanlah khalayak tradisipnal saya, yaitu para mahasiswa. Topiknya pun bukan topik alami saya yang biasanya soal arkeologi, museologi, dan sebangsanya.

Pokoknya saya harus berbicara tentang kemerdekaan bagi para tetangga yang umumnya adalah para petani atau pekerja di bidang bangunan.

—mikir dan browsing—

Rasanya semua yang dikemukakan di laman-laman Internet dapat diringkas menjadi dua hal.. Pertama adalah berbuat baik. Berbuat baik terhadap orang lain, berbuat baik terhadap alam, terhadap diri sendiri. Yang kedua, adalah menunjukkan prestasi. Menunjukkannya kepada masyarakat sekitar, masyarakat Indonesia, juga kepada bangsa-bangsa lain.

Jadi, sebenarnya jika tidak berbuat negatif, tidak merusak, apakah berarti kita telah mengisi kemerdekaan? Setidaknya, berbuat tidak baik hanyalah mengambil alih peran penjajah. Kita menjajah orang lain dengan niat dan perilaku kita.. Begitu kira-kira.

Modal yang digunakan untuk kedua hal tersebut dapat diambil dari nilai-nilai agama juga nilai-nilai budaya. Etos yang digunakan adalah temen atau bersungguh-sungguh, menghargai, dan berhati-hati.

Kita bekerja sebagai sistem. Masing-masing merupakan satu skrup pada sebuah mesin. Peran masing-masing skrup adalah sama, tidak ada skrup yang istimewa. Maka, sebagai petani, pegawai, pamong, itu hanya pembagian tugas.

Dalam hal hati-hati itu, Tuhan sudah mengkaruniai kita dengan alam dan segenap sumber daya yang melimpah. Berbuat baik kepada alam berarti menjaga kelestariannya, dan memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Prinsip pelestarian dan pemanfaatan membuat kita harus berhati-hati dalam mengelolanya.

–mikir lagi–

Hal lain yang sering dikemukakan adalah bahwa kemerdekaan telah dicapai dengan susah payah. Jadi, kita tidak boleh mengabaikannya. Kita harus menghargai mereka yang susah payah itu.

Pak RT-ku sendiri menyampaikan bahwa dulu kemerdekaan dicapai dengan bekerjasama dan rukun, jadi kita sekarang juga harus kompak …. untuk kerjabakti misalnya. Jadi, berdasar logika tersebut saya pikir kita perlu melihat apa landasan para pejuang itu, kemudian menggunakannya untuk keperluan sekarang.

–mikir lagi–

Kira-kira begini sajalah.

557 total views, no views today

Mantera

P idato dalam acara-acara tradisional semacam perkawinan, jika didengar-dengar mirip mantera. Para pemidato itu mengucapkan kata yang seringkali tidak dimengerti oleh para pendengar, bahkan mungkin olehnya sendiri. Terdapat kecenderungan anggapan bahwa semakin sulit dicerna kata-katanya maka semakin canggihlah ia berbicara, semakin tinggilah kadar ‘sastera’-nya.

Pidato yang intinya adalah ‘kami datang dengan membawa calon mempelai laki-laki’ misalnya, yang maksudnya sudah diketahui oleh semua orang di tempat tersebut, dibuat sedemikian rupa sehingga melingkar-lingkar dan berkepanjangan. Namun, ya itulah. Harus diucapkan karena menjadi bagian dari upacara. Kata-kata yang dikeluarkan pun bukan menggunakan kosa biasa karena ini adalah upacara. Sakral.

***

Pidato yang serupa mantera saya dengar juga di masjid desa. Dalam khotbah jumat biasanya Mbah Kaum membaca naskah dari buku ‘khotbah setahun’ dalam bahasa jawa, dengan cepat tanpa nada. Mungkin yang penting adalah sudah mengucapkan khotbah sebagai salah satu rukun dalam shalat jumat.

Boleh jadi, pidato di masa mendatang benar-benar mantera, jika para pemidato itu mengikuti pendapat Sutardji Calzoum Bachri beberapa puluh tahun yang lalu, tentang asal mula kata adalah mantera.

***

Namun, tentu hal ini bukan tanpa kecuali. Pidato paling lugu (=lugas) yang pernah saya dengar terjadi kurang dari seratusan meter dari tembok keraton Yogyakarta. Ketika menerima rombongan calon pengantin yang menyerahkan calon pengantin, pemidato ini hanya berbicara pendek: “Ya, saya terima”. Sama artinya, dan semua yang duduk hadir pun tahu maksudnya. [z]

ke atas

402 total views, no views today