Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Tag: pendidikan

Buku Pelajaran

Si gendhuk yang masih SD itu sibuk membongkar buku-buku yang ia punya, juga majalah setumpuk. Tidak kurang dari itu, ia pinjam pondas (telepon cerdas) milik ibunya. Ia kemudian juga minta saya menggogle lewat laptop karena hp ibunya terlalu kecil hingga gambar yang didapat tidak jelas.

Rupanya ia ada tugas dari sekolah. PR mengerjakan soal pada buku LKS. Ada gambar rangkaian organ pencernaan manusia yang harus diberi nama pada bagian-bagi”an yang ditandai.

“Ya baca bacaannya dulu to, Ndhuk,” saya menyaran. Struktur isi bab buku itu biasanya berupa bacaan disusul dengan soal-soal.

“Tidak ada, Pak!” jawabnya. Guru katanya juga tidak mengajarkan tentang hal itu di kelas.

Bukan kali ini saja kasus itu terjadi. Minggu ini saja setidaknya sudah tiga kali ia menemui masalah yang sama.

Entah bagaimana logika yang dianut oleh penulis buku pelajaran itu. Hemat saya, sebelum ditanyakan pada soal, mestinya diberitahukan terlebih dahulu atau diajarkan pada bagian “bacaan”. Entah kenapa kami menemui banyak masalah serupa pada buku-buku pelajaran, terutama yang dicetak pada kertas buram itu.

Beruntung anak saya karena bapak-ibunya makan sekolahan sehingga akses terhadap informasi juga lumayan. Ia punya majalah, buku-buku, dan Internet. Bagaimana dengan anak-anak lain yang tak seberuntung dia?

***
Siang itu ia pulang dengan bersungut-sungut. Rupanya jawaban yang kemarin kami berikan atas PR yang ia kerjakan disalahkan gurunya.

“Katanya Candi Pawon itu peninggalan Kerajaan Majapahit, Pak!”

Lho?!

267 total views, no views today

Selamat Hari Guru

Terlambat sedikit. Kemarin adalah Hari Guru.

Satu kerisauan saat ini adalah adanya pertanda bahwa profesi guru tidak begitu diminati lagi. Dahulu guru adalah profesi populer, banyak anak yang bercita-cita menjadi guru. Guru juga merupakan profesi yang ‘turun-temurun’ atau profesi keluarga. Anak mencontoh orang tuanya yang menjadi guru. Adik mencontoh kakaknya. Waktu itu, guru berkaitan dengan etika: pengabdian.  Di samping itu, menjadi guru (mungkin menjadi pegawai negeri) adalah menjadi orang terhormat. Ia sangat berguna bagi masyarakat di sekelilingnya, dan seringkali menjadi tokoh setempat.

Pada perkembangannya, kira-kira di perempat terakhir abad yang lalu, profesi ini populer mungkin karena sempat terjadi ‘booming’ sekolah dasar dan guru menjadi pilihan yang relatif mudah untuk mendapatkan pekerjaan.

Entah kenapa profesi ini sekarang ditengarai menjadi tidak populer lagi. Mungkin karena sekolah negeri banyak yang tutup, atau barangkali guru memang tidak ‘berbakat’ untuk mereproduksi dirinya sendiri. Ia bertugas mengantarkan anak didiknya ke jenjang yang lebih tinggi, ke kehidupan yang lebih baik daripada dirinya. Mulia.

Salah satu upaya pemerintah mempopulerkan lagi (dengan kata lain: menambah jumlah guru) adalah dengan menaikkan kesejahteraannya. Hal ini merupakan hal yang tidak dapat dihindari, meskipun kemudian menjadi guru kadang bukan lagi panggilan hati, dan berlakulah hukum ekonomi.

(Jadi ingat sekolah-sekolah yang mahal itu..)

Selamat Hari Guru. Kami titipkan anak kami kepadamu. [z]

ke atas

247 total views, no views today

Berjabat tangan atawa Salaman

Apa yang salah dengan berjabat tangan alias salaman? Ketika disalami oleh peserta ujian masuk UGM hari Minggu kemarin, saya sempat kaget. Di akhir waktu ujian, saya sebagai penanggungjawab ruang mengucapkan selamat berpisah kepada para peserta dan sampai jumpa di tanggal 18 Agustus, yaitu hari penerimaan mahasiswa baru oleh rektor. Sejurus kemudian, para peserta ujian keluar ruang sambil menyalami kami para penjaga.

Saya kemudian teringat penelitian Mas Heri dari Fakultas Filsafat UGM, yang menyarankan agar guru-guru sekolah bersalaman dengan para murid, tentunya dengan sepenuh hati, untuk mengurangi tindak kekerasan di sekolah.

Barangkali, saya perlu bersalaman juga dengan para mahasiswa peserta kuliah, mulai semester depan.

456 total views, 1 views today