Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Tag: pemilu

Prerogatif


Presiden konon menyatakan menggunakan hak prerogatifnya ketika memilih panglima TNI yang baru lalu\1. Memang, tidak semua orang mengamini pernyataan tersebut karena pemilihan panglima TNI tetap harus meminta pendapat DPR\2. Hal serupa juga terjadi dengan pengangkatan kapolri\3.

Saya pikir sebagai rakyat, kita juga punya hak prerogatif. Pemilu, pilkada, pilpres, adalah kesempatan rakyat untuk menggunakan hak itu. Ketika MK memutuskan kerabat petahana boleh maju sebagai caleks\4, alias calon eksekutif, maka kita dapat menggunakan hak kita untuk memilihnya atau tidak. Secara konstitusional, mereka memang berhak mencalonkan diri, namun rakyatlah yang memutuskan. Begitu kira-kira logika saya tentang hak prerogatif ini.

***

Dan banyak lagi caleks dan caleg selain berkait dengan petahana. Menelusuri berita-berita tentang caleg, cagub, dan ca-ca yang lain, para pembicang politik di negeri ini sering mendiskusikan apakah layak seseorang mencalonkan diri: keluarga petahana, artis, keluarga artis, bekas narapidana, kutu loncat, tersangka, pencari kerja, calon baceman (yang dipasang untuk menggenapi proses), dsb, dsb.

Memang tidak semua dapat ‘digebyah uyah‘, mengganggap sebagai garam yang semua sama asinnya. Pengetahuan dan nurani kita kemudian yang akan menentukan apakah kita akan memilih mereka. [z]

ke atas

Catatan Kaki
  1. http://www.jpnn.com/read/2015/06/08/308431/Jokowi:–Calon-Panglima-TNI-Itu-Hak-Prerogatif-Saya ^
  2. http://porosberita.com/2015/06/11/salah-kaprah-penunjukan-panglima-tni-adalah-hak-prerogatif-presiden/ ^
  3. http://www.jpnn.com/read/2015/03/01/289919/Presiden-Sudah-Kehilangan-Hak-Prerogatif-Angkat-Kapolri ^
  4. http://nasional.kompas.com/read/2015/07/08/12341531/MK.Larangan.Keluarga.Petahana.Ikut.Pilkada.Melanggar.Konstitusi ^

258 total views, no views today

Pilar Demokrasi

Konon pers menjadi pilar demokrasi keempat. Seperti diketahui, demokrasi ala Aristoteles membagi lembaga-lembaga pemegang kekuasaan menjadi tiga, yaitu legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Pembagian menjadi tiga pilar tersebut dikenal dengan trias politica. Pers disebut memiliki kekuatan yang dahsyat sehingga disebut sebagai pilar keempat dari demokrasi.

Dalam konteks ini, pers dapat menjadi pengontrol terhadap praktik ketiga lembaga demokrasi formal. Pers juga dapat memberikan informasi kepada masyarakat sehingga mereka memiliki cukup data untuk mempertimbangkan kontestan mana yang akan dipilih. Pers juga dapat memberikan pendidikan politik kepada masyarakat agar dapat berpartisipasi dalam demokrasi dengan penuh kesadaran.

Namun, di saat hiruk pikuk pesta demokrasi sekarang, terlihat banyak media massa yang memihak kepada kontestan tertentu. Rasanya setiap melihat pemberitaan di beberapa televisi kita dapat mengidentifikasi bahwa mereka sedang menjadi partisan: terlihat adanya berita positif berlebihan kepada salah satu kontestan, dan kadang negatif kepada pihak lain. Rasa ini terkonfirmasi dengan adanya rencana laporan Komisi Penyiaran Indonesia kepada Kominfo untuk tidak memberi sanksi kepada stasiun televisi tertentu.

Apakah mereka, pers, sedang mengkerdilkan diri, dari pilar keempat demokrasi menjadi … ah, entahlah.

250 total views, no views today

Jer ngefans mawa beya

Saya sering terkagum dengan kemampuan tetangga-tetangga di desa saya dalam berfilsafat. Mereka petani, buruh, atau paling tinggi adalah guru.

Dalam suatu pertemuan yasinan di rumah seorang tetangga, tiba-tiba salah satu di antara hadirin berkata yang kurang lebih berarti: jika seorang memiliki idola, senang kepada seseorang, maka sebenarnya dia lah yang mengeluarkan biaya. Jika seseorang mengidolakan seorang penyanyi, misalnya, maka ia harus membeli kasetnya … dan seterusnya.

Betul juga Pak Ram, tetangga saya itu. Para sosialita terdengar sering ngefans terhadap merek tertentu, utamanya produk tas, sehingga mereka berusaha mati-matian (eh, mungkin mereka berusaha dengan santai juga sebenarnya) untuk memiliki produk tersebut, yang harganya bisa ratusan juta rupiah sebuah.Tidak cukup memiliki satu atau dua, konon mereka dapat memiliki hingga puluhan buah dan disebut ‘mengkoleksi’ …

***

D ahsyatnya pemikiran tetangga saya yang sudah berlalu bertahun-tahun itu itu muncul lagi dalam benak saya menjelang pilpres kali ini. Mungkin banyak orang yang mengidolakan entah Pak Jokowi atau Pak Prabowo, dan kemudian rela menyumbang ke rekening kampanye, atau setidaknya membeli kaos bergambar tokoh itu. Tentu, ini tidak berlaku bagi para oportunis yang mencari kesempatan, atau para pebisnis yang juga sedang menanamkan investasi. Mereka berharap akan mendapatkan sesuatu yang lebih besar di kemudian hari. Barangkali juga tidak berlaku bagi pemlih yang rasional, yang menilai para calon dari rekam jejak dan visi-misinya.

Tetapi bagi para pemuja, maka tidak ada hitung-hitungan atas apa yang dikeluarkan sekarang sebagai kerugian atau investasi.

***

Di televisi kemarin sore tersiar kabar adanya antrean para penggemar boyband asal Inggris, One Direction. Para fans ini antre untuk membeli tiket pertunjukan yang baru akan digelar hampir setahun mendatang di Jakarta. Antrean ini sedemikian panjang dan kemudian dibubarkan oleh polisi karena tidak berizin. Menurut salah satu koran daring, biaya untuk membeli tiket yang harus dikeluarkan oleh para penggemar, belum termasuk ongkos antre tersebut dan sebangsanya, adalah: Rp 500 ribu untuk kelas tribune 2, Rp750 ribu untuk tribune 1 dan 3. Kelas Festival E dan F seharga Rp 1 juta, Festival C dan D Rp 1,2 juta serta Festival A dan B dihargai Rp 1,4 juta. Kelas termahal yaitu VIP dibanderol dengan harga Rp 1,7 juta.

Bagi saya yang bukan penggemar, fans, uang sebesar itu adalah sangat banyak. [z]

ke atas

281 total views, no views today

Pemilu atawa Memilih Caleg

Minggu-minggu ini atmosfer Indonesia dilingkupi gegap gempita para caleg yang mengiklankan diri agar dipilih oleh para warga di dapilnya. Beragam cara yang mereka lakukan, meskipun kebanyakan yang terlihat adalah memajang foto-foto manis mereka, atau dimanis-maniskan, dengan poster besar dan kecil di pinggir-pinggir jalan. Sebagian melakukan iklan di media massa, sebagian lagi melakukan cara aneh-aneh seperti memijit kaki para calon penumpang bis di terminal.

Rasanya setiap warga yang berhak memilih akan berhadapan dengan sekitar tiga ratus orang calon anggota legislatif, alias mereka yang berkontes di ajang pemilu ini. Memilih empat orang dari ratusan nama itu tentu tidak mudah. Daftar nama juga tidak gampang didapat (situs KPU daerah yang saya intip ternyata tidak menyediakan data  caleg alias kosong … ), apa lagi untuk mendapatkan data yang lebih rinci. Bahkan, konon ada caleg yang menolak dipublikasikannya profil dirinya.\1 Sementara banyak saran untuk menelusuri rekam jejak caleg. Lah, kami lantas harus menelusuri dengan cara apa? Bagaimana cara kami memilih orang yang kami percaya untuk duduk di parlemen mewakili kami?

Untunglah ada beberapa situs yang entah siapa pengelolanya yang memajang data para caleg meskipun serba sedikit.

Dari ratusan nama di dapil tempat saya tinggal, rasanya hanya tiga orang yang saya kenal. Mereka ini teman sekolah atau ketika kuliah dulu. Entahlah, apa saya harus memilih mereka karena merekalah yang (paling) saya kenal.\2 Selebritas kali ini tidak ada yang nyaleg di dapil ini dan pesohor lain kelihatannya juga tidak ada.

Melintas di jalan lingkar di Purworejo pagi tadi, di tengah berjubelnya poster yang mengharap atau menyaran seseorang atau partai tertentu untuk dipilih, ada poster kecil yang menyarankan sebaliknya: jangan pilih caleg dengan kriteria tertentu. Poster yang kelihatannya dipasang oleh pecinta pohon ini menyarankan untuk tidak memilih caleg yang memasang poster kampanyenya dengan memaku ke pohon.

 

Rasanya menolong juga memilah dengan cara terbalik ini: mulai dengan mencoret caleg yang tidak kita ingini duduk di parlemen. Banyak kriteria yang dapat diterapkan untuk ini jika kita menguping pembicaraan para komentator di televisi atau di media lain. Atau googling dengan kata kunci “caleg tak layak pilih” dan sebangsanya.

Semoga pemilu mendatang berjalan damai dan lancar.

Catatan Kaki
  1. lihat misalnya di news.detik.com/read/2013/06/26/153515/2284956/10/kpu-140-caleg-menolak-dipublikasikan-profilnya ^
  2. Ada juga mantan mahasiswa saya yang nyaleg di dapil sebelah. Semoga sukses! ^

389 total views, no views today