Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Tag: magelang

Jembatan Duwet


Satu lagi objek wisata budaya dan alam. Lokasi objek tersebut terletak di perbatasan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, dan Kabupaten Kulonprogo, DIY. Jembatan Duwet, yang disebut oleh teman-teman saya sebagai Jemdu, yang mengangkangi Kali Progo, menghubungkan langsung dua kecamatan di kedua provinsi tersebut, yaitu Kecamatan Kalibawang di Kulonprogo, dan Kecamatan Ngluwar di Kabupaten Magelang, wetan Progo tentunya.

Jembatan ini bukan jembatan baru. Saya sudah beberapa kali melintasinya sejak duduk di bangku SD di sekitar akhir tahun 1970-an. Prasasti yang terletak di sisi Kalibawang menjelaskan bahwa jembatan ini dibangun pada tahun 1960. Sumber lain bercerita bahwa jembatan ini sudah ada pada masa Kolonial, dibangun pada tahun 1930-an. Yang baru dari jembatan ini adalah beberapa bagian hasil pemugaran di akhir tahun 2015 yang baru lalu, seperti lantai kayu. Jembatan ini sekarang kinclong, tidak seperti sebelumnya yang kusam sehingga agak menakutkan untuk dilewati.

Jembatan Duwet adalah jembatan gantung. Dua utas kabel besar terlihat melengkung di bagian atas, dan selasar jembatan bergantungan kepada dua kabel tersebut melalui kawat-kawat yang lebih kecil. Di kiri-kanan selasar terdapat pagar besi dengan konstruksi sederhana, yang sekarang dirapatkan dengan kawat kasa di sisi luar. Aliran air kali yang coklat nun jauh di bawah jembatan, diapit oleh tebing-tebing yang curam di sisi-sisinya.

Atraksi

Sebagai objek wisata, tentu (harus) ada atraksi yang dapat dinikmati oleh para pengunjung. Beberapa di antara atraksi tersebut adalah sebagai berikut.

What to see. Konstruksi jembatan gantung, alam berupa Kali Progo yang lebar dan dalam, lengkap dengan tebing, air coklat, dan tetumbuhan di sekitarnya. Di sisi selatan jembatan juga terdapat air terjun kecil.

What to do. Pengunjung dapat berjalan melintasi jembatan sekaligus uji nyali. Bagian tengah jembatan ini terasa bergoyang terutama jika terdapat sepeda motor yang lewat. Pengunjung kemini umumnya mengambil foto lingkungan dan terutama foto selfi.

What to buy. Durian! Kawasan di sekitar jembatan ini terkenal sebagai penghasil buah durian yang dianggap baik oleh penggemar di seputar Yogyakarta. Durian dijajakan pada beberapa rumah tepat di mulut jembatan di sisi Ngluwar/Bligo.

Jembatan duwet

Panorama sisi hilir Kali Progo di Jemdu.

jembatan duwet

Prasasti tentang… prasasti.

jembatan duwet

Sosok jembatan, dengan para turis lokal yang menikmati sore di Jemdu.

jembatan duwet

Konstruksi besi penopang kabel.

jembatan duwet

Sekerup raksasa di ujung jembatan.

jembatan duwet

Fasilitas parkir, terutama untuk para pembeli durian.

Aksesibilitas
Untuk mencapai Jembatan Duwet, wisatawan dapat melalui jalan Nanggulan-Muntilan, untuk kemudian berbelok ke arah timur di sebelah utara Dekso mengikuti petunjuk ke arah Ngluwar.

Dari jalan Yogyakarta-Magelang, pengunjung dapat mengambil arah selatan dari pertigaan Semen ke arah Ngluwar. Sekitar delapan kilometer, setelah SD Bligo III, mengambil arah kanan. Jika menumpang angkutan umum, dari Muntilan atau Semen, ambillah jurusan Blaburan. Turun di Bligo Beteng setelah SD Bligo III tersebut, atau di Selokan Mataram, dan diteruskan dengan berjalan kaki beberapa ratus meter ke arah kanan.

Dari Tempel, Seyegan, atau Godean, pengunjung harus mencapai pertigaan Sepetek (setelah Buk Renteng dari arah Minggir) dan mengambil arah ke Muntilan/Magelang. Setelah bertemu dengan Selokan Mataram, dapat menyusuri jalan inspeksi ke arah kiri.

Kunjungan
Kunjungan ke Jemdu sebaiknya dilakukan sore hari, ketika matahari sudah tidak begitu menyengat. Jalan-jalan sore ke objek ini dapat dilakukan sembari menikmati sawah-sawah hijau di wilayah Bligo–sisi timur Progo, atau pegunungan Menoreh dengan jalan berkelok-liku di sisi barat Progo, yaitu di daerah Kalibawang. Jika ingin lebih serius, dapat pula dilakukan dengan bersepeda menelusuri Selokan Mataram yang membentang dari Sungai Progo di ‘Ancol’, Kecamatan Ngluwar hingga berhilir di Kali Opak di kawasan Berbah, Sleman. [z]

untuk Cah-cah ’87.

ke atas

1,251 total views, no views today

Magelang, ’80-an


Seperempat abad yang lalu saya lulus dari sebuah SMA di Magelang yang sekarang di dekatnya terdapat tempat rekreasi Taman Kyai Langgeng. Berarti sudah seperempat abad pula kutinggalkan kota tersebut meskipun sering melintasinya. Sekitar tiga kali berurusan administrasi: membuat kartu kuning di Dinas Tenaga Kerja, juga membuat dan perpanjang SIM di kompleks Polres Jagoan. Beberapa kali ke Taman Kyai Langgeng, menjenguk tetangga ke rumah sakit … Ke sekolah? Barangkali hanya ketika reuni beberapa belas (dua puluh?) tahun yang lalu.

***

Di pertengahan tahun ’80-an itu suasana sekitar sekolah yang berada di pinggir kota masih nyaman. Taman Kyai Langgeng belum ada, baru cikal bakalnya yang disebut dengan TB atau Taman Bunga. Biasanya digunakan oleh warga untuk jogging. Pada akhir masa sekolah pun baru beberapa fasilitas taman yang dibangun, seperti jembatan dan patung dinosaurus, juga sarana taman standar lain seperti kolam renang, jungkat-jungkit, dan ‘ombak banyu’ kecil, kursi melingkar yang muter pada porosnya itu.

Tidak jauh dari tempat tersebut, kawasan jalan tembus ke selatan dari Jalan Diponegoro sedang dikembangkan. Kompleks SPG–yang sekarang menjadi SMA Negeri 4 sedang dibuat untuk menggantikan kompleks yang ada di daerah Jalan Nanggulan. Eh, waktu itu ada SGO juga, di dekat Jagoan sana, juga ada PGA di sebelah selatan lagi. Banyak banget pendidikan gurunya!

***

Proyek-proyek lain di kota yang terlihat adalah pembuatan Jalan Ikhlas di sisi barat Kali Manggis di bawah Gunung Tidar. Jalan lingkar ke terminal sekarang (Jl. Soekarno-Hatta) sedang dikerjakan. Waktu itu masjid YAMP di dekat Jalan Soka itu masih terasa berada di tengah sawah.

Kira-kira sekitar tahun ’85-’86 menara masjid agung di barat alun-alun dibuat. Pemda mengedarkan permintaan sumbangan ke rumah-rumah warga Kodya Magelang waktu itu.

***

Keramaian kota terpusat di antara Alun-alun dan Pasar Rejowinangun, yaitu seputar Pecinan atau Jalan Pemuda. Jalan Tidar juga cukup ramai meskipun tidak ada pertokoan besar. Ada rumah sakit dan kompleks perguruan Muhammadiyah di situ, jalan ini juga menghubungkan dua jalan besar waktu itu, yaitu Jalan Pemuda dan Jalan Bayeman.

Toko terbesar, mungkin adalah Toko “Sinar Matahari” di Jalan Pemuda. Bukan toko swalayan. Setelah memilih barang di counter, harus antre ke kasir dan nanti ambil barang.\1 Ketika saya lulus, menjelang akhir dekade 80-an itu, sebuah toko swalayan, “Gardena”, dibuka di timur Alun-alun. Meski ada dua universitas di kota ini waktu itu (dan satu Akabri), toko buku terbatas. Ada sebuah toko yang (juga) menjual buku-buku terbitan Gramedia di Jl. Pemuda sisi timur. Di seberangnya, di dekat kelenteng juga ada toko buku. Satu toko lagi berada di dekat Masjid Besar di barat Alun-alun.

Toko roti yang besar adalah Holland Bakery, juga di Jalan Pemuda. Sementara itu, Podomoro, yang memproduksi kopi itu, malah berjualan kaset, juga di Jalan Pemuda sisi timur.

Toko foto, atau apa namanya, berubah di tahun 80-an itu. Ada toko “Kawan” di sisi barat Jalan Pemuda yang menjual perlengkapan dan menerima cuci-cetak foto, juga studio foto, yang sudah berdiri sejak lama. Kemudian, di dekade tersebut kelihatannya terdapat perkembangan dalam mesin cuci-cetak foto. Beberapa toko baru muncul dengan menjanjikan proses cuci-cetak yang semakin singkat, misalnya “Artha” di sisi timur Jalan Pemuda. Pada masa awal toko-toko tersebut masih mempromosikan proses selama satu jam, kemudian dipromosikan proses yang lebih cepat, dalam hitungan menit. Masih ingat jingle iklan di radio: “Yukiiiii color lab…”

Eh, juga ada “Zainuri” di penggal utara Jalan Pemuda, yang terutama melayani keperluan pasfoto.

Gedung bioskop ada beberapa di kota ini. Di timur alun-alun terdapat “Rahayu Theater” (sekarang menjadi Gardena) dan kompleks MT (“Magelang Theater” ) serta “Tidar Theater” yang terletak di belakangnya. Sedikit ke selatan ada “Kresna Theater” yang bangunannya bergaya art deco. Di sisi barat kota terdapat “Bayeman Theater”. Di daerah tenggara kota sempat ada “Rejowinangun Theater” yang tidak bertahan lama.

Filmnya, apa ya … Warkop masih ngetop. James Bond yang diputar waktu itu adalah “A View to A Kill” dengan lagu dinyanyikan oleh Duran-Duran. Bersama teman-teman se-SMA pernah nonton bareng ke MT sewaktu terdapat pemutaran film “Kereta Api Terakhir” yang dibintangi Gito Rollies\2 dan “Pengkhianatan G 30 S PKI” yang legendaris itu.

***

Saat itu radio merupakan media yang sangat populer. Salah satu acara yang sedang ngetop adalah sandiwara radio, terutama “Trinil” yang horor itu … Kirim-kiriman lagu di radio juga banyak diminati. Di Radio Polaris acara tersebut menggunakan nama yang cukup unik, seperti “Merangkai Bunga Meraih Prestasi”, atau “Seikat Bunga Menjelang Senja”.\3 Dua radio lainnya adalah RWB (Radio Widya Bhakti) di Jalan Pahlawan dan RSPD yang berkantor di Sasana Bumi Kyai Sepanjang. Di samping itu, dari kota Magelang masih dapat menangkap radio-radio Yogyakarta. Waktu itu semua radio masih mengudara di jalur AM.\4

Telepon umum sedang banyak dipasang, berada di sudut-sudut jalan. Radio sering menyiarkan ucapan langsung dari telepon. Radio-radio juga mengadakan semacam kuis berhadiah lewat telepon, yang jawabannya dapat tidak tertebak selama beberapa hari dan hadiah meningkat menjadi semakin banyak. Ketika juara tinju kebanggaan Indonesia kalah, pertanyaannya: “Mengapa Ellyas Pical kalah?” Jawaban yang betul waktu itu adalah: “Karena Khaosai Galak-sih…”

Magelang di pertengahan ’80-an itu juga tidak tertinggal dalam hal musik populer. Ada Andi Mapajalos dan sebangsanya. Tiga radio yang ada memiliki segmen berbeda sehingga pilihan lagunya juga berlainan. Beberapa toko kaset berada di seputar Jalan Pemuda, seperti Podomoro, kemudian satu toko di selatannya, yang menyediakan beberapa tape deck yang dapat digunakan untuk mencoba kaset sebelum dibeli. Di Jalan Tidar, tidak jauh dari ujung timur, juga ada toko kaset jika tak salah.\5

Televisi masih hanya TVRI. Klompencapir digalakkan di mana-mana, termasuk di lingkungan tempat kost saya berada. Para bapak dan ibu tetangga sering bertemu dengan lokasi bergilir dari rumah ke rumah.\6

***

Masih tentang media: Interkom! Tiba-tiba alat komunikasi ini mewabah. Di berbagai lorong kampung terpancang tiang-tiang bambu dengan beberapa jalur bendrat kawat tembaga di atasnya. Peralatan yang gampang dibuat dan dikembangkan oleh warga. Saya tidak tahu kapan dan kenapa surutnya, saya sudah meninggalkan Magelang waktu itu. Seingat saya wabah ini tidak lama. Banyak isu-isu beredar tentang keamanan perangkat ini, seperti pengguna yang tewas karena tersambar petir atau karena dinakali orang dengan mengalirkan listrik ke kawat.

***

Apa lagi, ya? [z]

ke atas

Lihat juga

Catatan Kaki
  1. Mungkin sampai sekarang masih demikian? ^
  2. Film ini keren abis, tetapi kok tidak ngetop ya? ^
  3. Harus minta kartu berwarna hijau buat kirim lagu … ^
  4. Konon RRI Yogyakarta telah menggunakan FM secara terbatas. ^
  5. 80-an: ada Utha Likumahuwa dan Dian Pramana-Deddy Dhukun (2D, K3S), Malyda, Vonny Sumlang, Festival Lagu Pop tingkat Nasional, Nicky Astria. Waktu itu Titi Dwi Jayati baru bikin kaset … ^
  6. Serial yang populer di TV nasional tersebut antara lain adalah drama seri ACI, film seri “Reminton Steele” dan drama seri “Losmen”. ^

1,218 total views, 1 views today

GHS, 25 tahun yang lalu

Tak terasa, sudah lebih dari seperempat abad kutinggalkan almamater yang satu ini, SMA Negeri 1 Magelang. Bulan Agustus dan Desember tahun ini teman-teman Angkatan 1987\1 mengadakan reuni tetapi tetapi sayang saya tidak berkesempatan datang.\2

Berikut catatan ngalor-ngidul seingat saya. CMIIW, teman.

# Magelang

Kurang lengkap rasanya mengenang GHS tanpa membicarakan lingkungan sekitarnya, kota Magelang. Waktu itu, Taman Kyai Langgeng belum ada, baru cikal bakalnya yang disebut dengan TB atau Taman Bunga. Pada akhir masa sekolah pun baru beberapa fasiltas yang dibangun, seperti jembatan dan patung dinosaurus, juga sarana taman standar lain seperti kolam renang, jungkat-jungkit, dan ‘ombak banyu’ muter itu.

  • Cerita lebih lengkap tentang kota Magelang pada pertengahan 80-an klik di sini.

# GHS

Sekolah yang sekarang di dekatnya berdiri Taman Kyai Langgeng ini juga sering secara populer menyebut dirinya dengan nama Gladiool High School, atau GHS. Hal ini lantaran di dekatnya terdapat satu taman–yang kelihatannya sekarang sudah menjadi kompleks perumahan– bernama Gladiool, atau sering diucap ‘gradiol’.

# Kompleks Sekolah

Berada di tempat yang tidak begitu luas, fasilitas gedung cukup terbatas waktu itu. Satu gedung utama berlantai tiga yang berasal dari tahun 50-an\3, satu gedung perpustakaan, satu gedung kelas yang terpisah, laboratorium fisika, biologi, dan kimia, juga sebuah aula.

Mushola pada masa awal masih berada satu gedung dengan berbagai fasilitas lain seperti ruang pramuka. Baru pada tahun kedua atau ketiga, sebuah mushola kecil dibangun di sudut barat. Hampir bersamaan, dibangun juga laboratorium bahasa. Kantin nempel di tembok belakang. Lapangan basket dan tenis menjadi satu di sisi timur, di pinggir lapangan upacara.

Gedung lantai tiga tersebut pada waktu itu menjadi kebanggaan. Pada satu acara karnaval di kota Magelang, mungkin menyambut tujuh belasan, sekolah membuat maket gedung ukuran besar dengan tripleks, diusung dengan mobil pick up. Saya ikut berkonvoi di bak belakang mobil itu. Jika sekarang dipikir-pikir, wagu juga. Pamer kotak ndengguk besar seperti itu.

# Kendaraan ke sekolah

Parkiran motor dan sepeda di sebelah gedung laboratorium tidak begitu luas. Pemilik kendaraan bermotor kelihatannya juga tidak banyak. Kebanyakan siswa berjalan kaki atau naik ‘darling’, alias angkutan tidar keliling, yaitu mobil kijang bermoncong itu yang dikonstruksi sebagai mobil angkutan umum. Apa ya sebutannya, kopata? Meskipun saya tinggal di bagian lain dari kota Magelang, saya jarang naik angkutan ini, karena berjalan kaki memintas umumnya lebih cepat.

Operasi Zebra sedang digalakkan oleh kepolisian. Pada waktu kelas dua terdapat pengumuman di papan tulis bahwa pengendara sepeda motor harus mengenakan helm. Si penulis pengumuman selalu mengenakan helm setiap hari, ia, C.A., adalah putri dari wakapolresta.

# Ekstra Kurikuler

Seperempat abad yang lalu, ketika baru masuk sekolah terdapat acara semacam opspek, yang lupa apa namanya. Para senior masuk kelas …. dan memberikan tugas, memarah-marahi, dst.

Pramuka menjadi kegiatan wajib pada kelas satu. Latihan pramuka diadakan seminggu sekali. Buku panduan dibuat oleh para bantara bernama ‘Boneka’. Setiap tahun terdapat acara wide game, yang waktu itu (dan kayaknya sering begitu) berjalan ke kawasan Candi Selogriyo. Di sepanjang jalan para bantara memberikan tugas kepada regu-regu peserta. Jika tak salah, regu kami mendapatkan salah satu gelar. Selain wide game, pernah diadakan kemah, di kawasan Gedong Songo. Salah satu acaranya juga wide game!

Ketika kelas dua, sekolah mengadakan lebih banyak kegiatan ekstra, termasuk seni tari. Waktu itu ada pilihan belasan kegiatan ekstra kurikuler, meskipun berapa yang berjalan saya tidak tahu. Majalah dinding yang tertempel di lorong dekat pintu masuk jika tak salah bernama Sigma Beta Gamma. KIR digiatkan setelah Fahmi Amhar, seorang kakak angkatan, memenangi lomba KIR tingkat nasional.

Waktu kelas dua ada lomba melukis kaligrafi. Acara apa ya itu? Saya ikut mengirimkan lukisan kaligrafi geometrik meskipun tidak menang. Peserta lain yang sekelas jika tak salah adalah yang tinggal di Botton itu (L.S., halo!).

# Seragam

Seragam wajib masih seperti sekarang, putih abu-abu, dengan berbagai atribut. Sering diadakan razia seragam ini yang menimbulkan cerita-cerita lucu …

Meskipun ini sekolahan ngetop, tetapi para siswa tidak memiliki ‘seragam’ olah raga. Pakaian resmi olah raga adalah kaos putih dengan celana pendek hitam (seragam juga sebenarnya.. ). Itu saja. Sekarang, kupikir-pikir bener juga, karena 1) seragam bersablon nama sekolah tidak esensial dan akan menambah biaya sekolah, 2) seragam identitas hanya perlu jika berhadapan dengan tim lain. Kelihatannya, jika ada pertandingan dengan sekolah lain para anggota tim baru mengenakan seragam, yang entah dipinjami atau diberi oleh sekolah.

# Mata pelajaran

Saat saya sekolah, SMA sedang mengalami perubahan sistem. Penjurusan diberi nama A1-A5, meskipun di SMA N 1 hanya memiliki A1, A2, dan A3. Sewaktu lulus, juga terdapat perubahan sistem penerimaan di perguruan tinggi.

Mata pelajaran yang baru pada kurikulum baru tersebut antara lain, di kelas A3, adalah Sosiologi dan Antropologi serta Bahasa Prancis. Pengajar Sosiologi dan Antropologi adalah Pak Amin (almarhum) yang menulis tangan diktatnya dan kami memfoto kopi naskah pada kertas folio bergaris tersebut.

Pengajar Bahasa Prancis adalah seorang guru dari luar SMA yang sudah sepuh. Setiap kelas mulai atau hendak bubar beliau memberi aba untuk menghormat bendera dalam bahasa Prancis: Salut le drapeau, faire! Pernah tanpa sengaja, beliau terkena lemparan pesawat terbang dari kertas dari kelas kami di lantai tiga. Kemudian kelas kami mendapat teguran dari sekolah.

Komputer masih berstatus ‘terdengar’ pada waktu itu. Di salah satu matapelajaran tentang matematika, di kelas satu atau kelas dua, dikenalkan tentang alur prosesual yang ‘yes-no’ itu.

# Guru

*Sedang mengingat-ingat, siapa saja guru kami waktu itu.

Ada yang galak, ada yang lucu, ada yang kami suka nakali … Ada yang setiap masuk ruang, beliau adalah wali kelas, selalu ngendika: “Mohon tempat sampah diperkecil!” Kami kemudian sibuk mencari sampah yang bertebaran. Bapak ini memang sangat mengesan. “Buka halaman …. Ada yang tidak punya halaman?” Maksud beliau, ada yang tidak membawa buku?

Wali kelas pada waktu kelas I adalah Pak Nurhadi Amiyanto,\4  kelas II diasuh oleh Pak Mufti, dan kelas III Bu Christiana S. jika tak salah. Kepala sekolah adalah Pak Wahono dan wakil kepala sekolah dijabat Pak Abdul Manaf, yang kemudian pindah menjadi kepala sekolah SMA 3.

Semoga para guru senantiasa dirahmati Allah …

# Swastika dan Palang Putih

Satu peristiwa iseng menimbulkan masalah. Ketika diadakan lomba kebersihan antarkelas, kami mencat jendela dengan gambar swastika dan palang seperti PMI. Seingat saya waktu itu tidak ada bayangan sedikitpun tentang meniru logo nazi–mana berani. Penggunaan bentuk palang PMI memang guyon agar seperti rumah sakit. Kebetulan kaca jendela akan dicat putih. Pada awal-awalnya tidak bermasalah, tetapi kemudian konon dikritik oleh pejabat pendidikan di kotamadya. Jadi, kami mencat ulang jendela-jendela tersebut.

Kelas II A3-1 memang tidak menang pada lomba tersebut.

# Piknik

Piknik sekolah dilakukan dua kali, yaitu ke Yogyakarta dan ke seputar Bandung. Yang ke Yogyakarta sebenarnya studi wisata ke Kraton dan mampir ke Pantai Kukup dan Baron.\5  Sementara itu, yang di Bandung benar-benar piknik: Maribaya, Tahura Ir. H. Juanda, dan Ciater. Mampir juga di salah satu pusat perbelanjaan di seputar alun-alun Bandung.

Kelas juga mengadakan studi wisata sendiri, yaitu ke Museum Abdul Djalil di Kompleks Akabri dan ke Patal Secang, yang putri direkturnya (halo, R.P.!) adalah teman sekelas … Kunjungan ke Museum Abdul Djalil merupakan bagian dari mata pelajaran PSPB atau Sejarah, saya lupa, wong gurunya sama yaitu Pak Waluyo. Studi wisata ke Patal Secang dimaksudkan untuk menyiapkan penulisan sebagai salah satu syarat kelulusan atau mengikuti ujian, semacam itu.

sma n 1 magelang

Di depan perpustakaan Akabri.
Foto dari facebook siapa ya?

# Kumpul-kumpul

Saya tidak banyak dolan-dolan dengan teman-teman sekelas di luar sekolah.\6 Mungkin karena sebagai anak kos saya juga memiliki banyak teman di rumah kos. Selain itu, harus mudik setiap sabtu-minggu.\7

Tetapi, kehidupan sosial kelas tetap ada. Antara lain adalah ulang tahun salah satu teman di kompleks Polresta Jagoan (C.A., kemana dikau?). Kadang, guru memberikan tugas yang harus dikerjakan bersama. Waktu itu sempat berkumpul beberapa kali di Jagoan II (yang ini, A.W., sudah setahun kutemukan jejaknya) untuk membuat maket rumah, tugas dari Pak Hartono, guru seni rupa. Terjadi insiden kecil, cat tumpah di karpet ruang tamu…

Sempat melayat ke seorang teman di belakang pabrik atom Kebonpolo yang berduka karena ibunya meninggal dunia (konon si B.L. … ? ) . Sempat juga ramai-ramai satu sekolahan ke daerah Rejowinangun, melayat seorang alumni yang meninggal di luar negeri. Ia bekerja di instansi keren waktu itu, mungkin BPPT atau semacamnya.

Pernah ada acara nonton bareng se-SMA ke MT sewaktu terdapat pemutaran film “Kereta Api Terakhir” yang dibintangi Gito Rollies dan “Pengkhianatan G 30 S PKI” yang legendaris itu.

Kenaikan kelas satu menjadi salah satu momen penting, karena kami harus terpisah ke tiga jurusan, yaitu A1, A2, dan A3. Penamaan itu digunakan untuk pertama kalinya pada waktu itu, tahun 1984.\8 Kelas mengadakan perpisahan di rumah orang tua seorang teman di Jalan A. Yani. Karena tuan rumah suka musik (hai, T.M.!), maka ada band-band-an. Sebagai anak muda sekali, mereka suka lagu rock,\9 maka ketika seorang teman (hihihi, A.K., apa kabar) menyanyikan salah satu lagu Chrisye yang mendayu, mungkin “Selamat Jalan Kekasih” yang lagi populer waktu itu, hehe, musiknya belepotan.

Perpisahan kelas III, diselenggarakan juga di rumah orang tua seorang teman di sekitar Badakan (halo S.R.P.K.!). Masing-masing harus membawa kado silang, yang tidak boleh lebih mahal dari Rp. 250,00.

# Lulus

Lulusan pada saat angkatan 1987 cukup memuaskan, 100 persen dengan nilai yang cukup bagus. Seingat saya rata-rata nilai Bahasa Inggris kami sangat lumayan.\10 Upacara wisuda diselenggarakan di Gedung Achmad Yani, di dekat pertigaan Bayeman.

Teman-teman kemudian tersebar, sebagian masih di Magelang, lainnya umumnya hijrah ke Yogyakarta atau Semarang. STAN masih menjadi favorit lulusan SMA waktu itu, beberapa teman juga melanjutkan pendidikan ke sana.

# Reuni

Selepas SMA, ada dua reuni yang saya ikuti. Pertama, reuni kelas setelah dua tahun berpisah, di salah satu rumah orang tua teman di Mertoyudan (Rn., hai!), kedua adalah reuni sekolah, yang tidak hanya diikuti oleh angkatan 87 saja. Reuni tersebut diselenggarakan di halaman sekolah.

Dari empat puluhan teman kelas tiga, beberapa telah meninggal dunia (N.A., T.A.S., R.S., B.L.?). Semoga Allah mengampuni dosa-dosa mereka.

Beberapa terus mengadakan kontak semenjak kuliah, beberapa berkontak setelah ada facebook, ada yang baru tahu keberadaannya setelah ada acara reuni perak meskipun belum bertemu secara langsung. Beberapa teman belum saya temukan.

Ada di antara Anda yang dahulu adalah teman sekelas saya? Seangkatan? Tetangga angkatan? Atau malah guru saya … [z]

[tbc]

ke atas

Catatan Kaki
  1. Kenapa untuk SMA digunakan tahun lulus untuk angkatan dan untuk universitas digunakan tahun masuk? ^
  2. Tulisan ini sekaligus merupakan permohonan maaf kepada kalian yang telah repot mengorganisir, mengundang, dan juga yang datang ke reuni, baik di Magelang maupun di Jakarta. ^
  3. Gedung ini sama persis dengan gedung SMA 1 Yogyakarta (dan ISI di sebelahnya?), dan konon juga SMA 1 Pekalongan ^
  4. Apakah beliau yang sekarang menjadi Kepala Dinas P dan K Jateng? ^
  5. Ke Kraton memiliki misi khusus, yaitu mau mempelajari candrasengkala. Tetapi, guide di kraton tidak tahu tentang candrasengkala … ^
  6. Tapi sempat nginep di rumah W.D. dan Y.N. (haloooo) Ada acara apa ya waktu itu? ^
  7. Eh, ada juga teman2 dari angkatan di atas yang selalu berhubungan hingga kuliah. Halo E.L., dan K.M.A.! ^
  8. Sebelumnya diadakan psikotes. ^
  9. waktu itu mereka memainkan “Jump” dari van Halen yang lagi popular. ^
  10. Ibu pengajar bahasa Inggris, jika memberi latihan soal sering ngendika: “Aah, yang ini gampang to…” Kemudian soal dilewati. ^

1,877 total views, 1 views today

Trinil

1

fosil manusia purba trinil

Fosil manusia purba dari Trinil. homepage.ntlworld.com

Situs paleontologi di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Di situs tersebut, di akhir abad ke-19 Eugene Dubois menemukan fosil yang pada waktu itu kemudian disebut dengan Pithecanthropus erectus. Penemuan ini cukup penting karena dianggap sebagai missing link, satu mata rantai evolusi manusia yang hilang. Sekarang, di dekat lokasi penemuan tersebut, di tepi Bengawan Solo, didirikan Museum Trinil.

2

Panggilan kesayangan untuk Kartini kecil yang kelak menjadi pahlawan emansipasi wanita. Panggilan tersebut karena konon tingkah laku putri Jepara ini seperti polah seekor burung trinil.

3

Burung yang namanya digunakan untuk menjuluki Ibu Kartini kecil tadi.

4

Sandiwara radio pada pertengahan tahun 1980-an, sebelum Saur Sepuh kondang dan lebih belakangan ketimbang cerita Nogososro dan Sabuk Inten atau Untung Suropati yang juga populer.

Sandiwara horor buatan salah satu radio swasta di Magelang ini sangat populer. Jika waktu itu di siang hari kita berjalan menelusuri gang-gang di Kota Magelang, kita tidak akan ketinggalan cerita sandiwara ini karena di setiap rumah orang memasang radio dengan keras untuk mendengarkan.

“Niiilllll, balekna gembungku, Nillllllll….”

Sponsor sandiwara ini adalah produsen obat batuk, mungkin mix*grip. Tokohnya adalah Pak Darmo, seorang sopir yang terbatuk-batuk sewaktu diperintah ndoronya untuk berangkat. Sukses serial sandiwara ini kemudian diikuti oleh seri lain seperti Miranti. [z]

ke atas

1,403 total views, 1 views today