Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Tag: lebaran

Mudik


Salah satu kata yang populer di seputar hari raya adalah “mudik”. Pengertian umumnya adalah pulang ke tempat asal. Pada hari-hari semacam ini, negeri riuh rendah dengan orang yang pulang kampung. Perhatian seluruh negeri tertuju ke peristiwa ini, yang konon di tahun 2016 diperkirakan terdapat 17,6 juta orang yang mudik lebaran. Jumlah ini sama dengan perkiraan jumlah penduduk Mali tahun 2015, atau lebih banyak dari penduduk Belanda tahun 2016 ini yang berjumlah 16.963.200 orang.

Media massa memberikan porsi yang banyak dalam pemberitaan tentang mudik, atau disebut dengan “arus mudik”. Para naralapor, reporter, dipasang di berbagai ruas jalur penting yang biasanya ramai atau macet. Mereka melapor pada segmen berita khusus tentang peristiwa ini. Umumnya yang terjadi adalah orang-orang pergi dari Jakarta ke tempat-tempat lain di seluruh Nusantara, terutama “Jawa” dan Pulau Sumatera.

Nah, setelah satu-dua hari setelah hari raya, para pemudik mulai kembali ke tempat semula. Orang-orang yang minggu-minggu kemarin meramaikan jalanan dengan arus mudik, sekarang balik ke Jakarta untuk melanjutkan hidup. Media massa memberitakan hal sama dengan beragam istilah: “arus balik”, atau “arus balik mudik” di samping tetap menggunakan kata “mudik”. Terlihat kita agak bingung memberikan istilah yang merupakan lawan kata dari mudik.

Jadi, antonim dari “mudik” adalah “balik”, dalam kasus ini.

Dahulu waktu sekolah saya diajari kata majemuk “hilir-mudik”. Kata ini berarti ada objek yang ke sana ke mari, entah itu orang atau barang seperti kendaraan. Menariknya adalah “mudik” disandingkan dengan kata “hilir”. Hilir tentu bermakna pergi ke tempat air mengalir. Ingat lawan kata “hulu-hilir”. Mudik konon berarti “meng-udik”, “pergi ke udik”, ke suatu tempat nun jauh di sana, tempat air sungai bermula. Istilah “hilir-mudik” mungkin dahulu muncul zaman transportasi sungai masih populer, menjadi andalan. Orang pergi dengan perahu ke hulu dan ke hilir mengikuti panjang sungai, jadi hilir-mudik.

Istilah mudik tentu relevan untuk menyebut orang Jakarta yang pergi pulang kampung ke, misalnya “Jawa”. Namun, banyak mahasiswa saya yang berasal dari Jakarta, dan juga melaksanakan tradisi “mudik” ini. Entah, apa mereka sebaiknya menyebut “ngilir” atau “milir”. [z]

ke atas

395 total views, 1 views today

Harga

Fenomena yang dianggap lumrah menjelang lebaran ini, adalah kenaikan semua harga barang dan jasa. Lumrah, karena terjadi begitu juga bertahun-tahun yang lalu. Lumrah juga, karena begitulah hukum pasar menurut orang-orang ekonomi klasik. Ketika permintaan naik, harga juga akan naik.

Maka, menjelang lebaran ini, bahkan sudah menjelang bulan puasa yang baru lalu, harga daging naik tinggi, baik daging sapi maupun ayam\1. Harga cabai, seperti biasa juga berganti. Jengkol pun dikabarkan sudah duluan meroket harganya\2.

Di sisi transportasi, harga tiket penyeberangan dikabarkan naik. Harga tiket bis, tidak terkecuali Damri, juga dinaikkan\3.

Bukan hanya faktor ekonomi penyebab kenaikan harga tersebut. Ongkos penyeberangan malam hari, nanti mulai H-7, dinaikkan jauh lebih mahal dari pada siang hari, agar pemudik merata tidak hanya menyeberang pada malam hari. Lebih lanjut, seorang pengurus asosiasi yang menyelenggarakan urusan penyeberangan mengatakan bahwa, “Angkutan Lebaran itu bagian dari pekerjaan kemanusiaan”\4.

Kenaikan harga-harga itu kira-kira berkait dengan kebutuhan yang naik karena tradisi berkumpul, dalam hal ini mudik dan tamu-tenamu. Masyarakat umum melakukan perjalanan pulang ke tempat asal (dan nanti balik lagi) yang memerlukan sarana transportasi. Kemudian, saling bertamu tentu berurusan juga dengan makanan karena hal itu merupakan bagian dari hospitalitas masyarakat kita.

Yang agak mengherankan, ternyata harga barang elektronik juga ikut naik. Tidak diceritakan hubungan kenaikan tersebut dengan lebaran dan dinyatakan terjadi karena “Sejumlah faktor yang mempengaruhi hal tersebut di antaranya adalah penurunan nilai rupiah, kenaikan tarif listrik, penerapan lebel Standar Nasional Indonesia (SNI), pengurangan subsidi BBM, dan lain sebagainya.”\5

Mungkin faktor lebaran masuk ke ‘dan lain sebagainya” itu. Pembelian perabot rumah tangga baru memang juga mewarnai penyambutan lebaran.

***

Menteri Perdagangan konon keheranan dengan kenaikan harga menjelang hari raya di Indonesia. Menurutnya, di luar negeri harga-harga menjelang hari raya stabil atau justru turun\6.

Mungkin di sono infrastruktur sudah sedemikian bagus dan pasokan barang terjamin. Dengan demikian stok mencukupi dan pedagang tidak dapat mempermainkan harga seenak mereka. Kemungkinan lain, pada hari raya masyarakat di sono tidak melakukan pembelian yang lebih dari hari-hari biasa.

***

Sebenarnya tidak semua harga barang dan jasa naik meski mungkin hanya sebagian kecil. Hari-hari menjelang lebaran seperti ini swalayan, minimarket, dan sebangsanya, umum memberitahu bahwa mereka mendiskon harga beberapa barang. Maskapai penerbangan, juga kereta api juga memberikan diskon atawa harga khusus, namun sangat terbatas. Konsumen harus mencari dengan cermat promosi yang diberikan oleh perusahaan jasa transportasi. Menurut satu situs jasa travel, kadang perusahaan airline fullservice memberikan promo saat peak season\7.

Di tempat kita, rasanya hanya harga pakaian yang tidak naik atau malah berdiskon pada toko-toko berjenis department store. “Beli satu dapat tiga,” tertulis pada tanda di atas gantungan baju pada sebuah dept. store jaringan nasional di Jalan Malioboro. Sementara itu, pada kelompok pakaian lain tertulis “Beli dua gratis satu”. Entah bagaimana perhitungan mereka sehingga dapat mengeluarkan potongan harga yang cukup besar.

Kelihatannya harga turun tersebut merupakan bagian dari promosi, bukan karena berbaik hati kepada kita, para konsumen. Pada beberapa toko terlihat bahwa hanya sedikit jenis barang dan layanan yang dibuat turun harga. Logika saya, orang akan datang ke toko tersebut kemungkinan akan membeli barang lain yang tidak didiskon. Setidaknya, membuat orang datang dan familiar dengan toko.

Harga barang juga turun pada kegiatan operasi pasar dan pasar murah yang langka itu. Kegiatan semacam itu biasanya dilakukan oleh pemerintah dan organisasi nirlaba.

Adapun di sektor jasa, konon presiden menitahkan agar para pengelola jalan tol memperingan biaya pada arus mudik dan balik lebaran ini. Alhasil, hari ini diberitakan bahwa “htm” jalan tol turun hingga 35%.\8.

Yang menurut saya cukup luar biasa adalah rabat dari PT Kereta Api Indonesia. Tiket sebenarnya sudah ludes dibeli oleh calon pemudik beberapa waktu yang lalu. Tiba-tiba PT KAI menyatakan memberi potongan harga pada tiket yang sudah dibeli tersebut …\9. [z]

ke atas

Catatan Kaki
  1. “H-14 Lebaran, Harga Daging Sapi dan Ayam Mulai Merangkak Naik””, liputan6.com ^
  2. “Harga Jengkol Naik, Pelanggan Panik”, tempo.co 20 Mei 2015 ^
  3. “Harga Tiket Mudik Lebaran Bus Damri Naik, Minimal 5 Persen”, tribunnews.com 29 Juni 2015 ^
  4. “H-4 Lebaran, Tarif Penyeberangan Naik Dua Kali Lipat”, ramadan.tempo.co 30 Juni 2015 ^
  5. “Harga Barang Elektronik Naik Jelang Lebaran”, liputan6.com 29 Juni 2015 ^
  6. “Mendag Gobel: Hanya di RI, Harga Sembako Naik Jelang Hari Raya”, finance.detik.com 25 Juni 2015 ^
  7. “Kapan Sebaiknya Beli Tiket Lebaran?”, blog.traveloka.com 3 Jun 2014 ^
  8. “Hore, penurunan tarif tol hingga 35 persen dimulai hari ini!”, merdeka.com 7 Juli 2015 ^
  9. “KAI beri tarif promo khusus bagi pemudik”, antaranews.com 6 Juli 2015 ^

462 total views, no views today

Ketupat atawa Kupat

Menjelang lebaran, semua media massa, toko, hingga perkantoran memasang gambar atau replika ketupat. Diperbicangkan juga bahwa di rumah-rumah disediakan (nasi) ketupat sebagai hidangan menyambut lebaran. Sebenarnya, bagaimana asal-usul dan hubungan ketupat dengan lebaran?

ketupat alias kupat atawa telupat

Dulu sewaktu kecil sering mudik lebaran ke desa simbah di salah satu wilayah bekas Vorstenlanden, saya menyaksikan bulik memasak ketupat dan entah sayur apa. Makanan tersebut kemudian dibagi-bagikan kepada tetangga. Acara yang diselenggarakan seminggu setelah lebaran itu disebut ‘bakda kupat’, atau lebaran ketupat.

Sekarang, saya lebih menyaksikan kepungan ketupat dalam rangka komersial. Media massa yang banyak menggantungkan nasib pada iklan komersial membanjiri kita dengan image ketupat.

Memang, di depan pasar-pasar berderet perajin ketupat betulan. Diberitakan di koran bahwa mereka dapat berpenghasilan hingga 800.000 rupiah dalam dua hari, h-1 dan hari lebaran. Satu selongsong ketupat dijual seharga 600 rupiah.\1

Memang, ibu mertua juga berpesan untuk menyambut lebaran kali ini dengan memasak apa saja asal menyertakan ketupat sebagai ‘nasi’-nya. Beberapa tahun terakhir keluarga mertua memasak soto banjar yang menggunakan ketupat untuk hari raya yang satu ini. Saya berpikir untuk mengusulkan kupat tahu sebagai menu lebaran tahun depan.

Akan tetapi, kenyataan keseharian saya menjumpai kebiasaan yang agak berbeda. Tinggal di desa, rasanya tidak ada tetangga yang memiliki kebiasaan masak kupat pada hari lebaran. Ibu saya biasanya memasak ikan air tawar pada lebaran tahun-tahun yang lalu. Seiring dengan agak sulitnya mendapatkan ikan, menu lebaran berganti dengan daging sapi.\2

Penjual kupat tahu pun sudah jarang terlihat di sekitar tempat tinggal saya meskipun konon kupat tahu dari Magelang cukup dikenal, beberapa kali muncul di acara wisata kuliner di televisi. Pun beberapa warung makanan ini di beberapa kota mencantumkan atribut ‘Kkupat Tahu Magelang’ atau ‘Kupat Tahu Blabak’, atau ‘Kupat Tahu Muntilan’. Tetapi, di pertigaan di dekat rumah malah seorang penjual mie ayam selalu mangkal setiap lebaran. Ya, hanya setiap lebaran sehingga kadang kami merayakan hari istimewa itu dengan makan mi ayam bersama.

Makanan yang sekarang kelihatannya wajib disuguhkan kepada tetamu di hari lebaran pun bukan ketupat. Nastar dan kastengel yang dari namanya terlihat berasal dari Negeri Belanda menjadi makanan wajib. Juga terdapat putri salju dan lidah kucing pada setoples plastik bening di atas meja. Mungkin karena mudah dibuat sendiri, atau murah tetapi ‘sudah roti’, yang ‘modern’ dan menggunakan tepung terigu itu …

Sementara itu, terdapat satu makanan lagi yang rasanya benar-benar khas bagi sebagian keluarga di Yogyakarta, khususnya yang sholat ied di Alun-Alun Utara Kraton Yogyakarta. Makanan tersebut adalah sate gajih, yaitu sate yang terbuat dari lemak sapi. Bau sate ini saat dibakar sangat luar biasa. Lebih dari opor atau apapun, makanan ini juga menjadi menu lebaran wajib bagi keluarga besar kami. Sayang, lebaran tahun ini kami telat sampai di penjual yang berada di seberang Museum Kereta Karaton itu. Jadi, tahun ini kami tidak berlebaran dengan sate gajih …

***

Mantan guru saya dulu, Prof. Chamamah hikmah syawalan tadi pagi di panggung terbuka FIB UGM mendefinisikan ‘syawalan’ kurang lebih sebagai ” … acara dengan kegiatan upacara resmi atau santai, dengan hidangan khas …”. Lucunya, Bu Chamamah melanjutkan dengan bertanya, “… hidangan khas itu apa?”

Yang sudah disediakan di belakang sana ya lontong opor, Bu! Acara syawalan yang diselenggarakan fakultas saban tahun ini selalu menampilkan menu yang sama yaitu opor ayam yang disajikan dengan lontong. Bukan ketupat. Secara simbolik beberapa selongsong ketupat dari pita jepang ditampilkan di panggung, digantung pada hadiah yang diundi untuk para tetamu.

***

Eh, hubungan antara ketupat dan lebaran juga tercermin dalam satu parikan (pantun Jawa): Kupat nganggo santen, menawi lepat nyuwun pangapunten.

Minal aidin wal faidzin. [z]

ke atas

Catatan Kaki
  1. Seharian kemarin kami penasaran untuk dapat menganyam ketupat (lagi). Setelah berguru kepada youtube barulah ketupat dari pita plastik dapat kami buat. ^
  2. … dan saya masih terbayang rasa ikan masakan ibu saya itu. Hal semacam ini yang mungkin membuat orang rela repot-repot mudik ketika lebaran tiba. ^

1,154 total views, no views today

Uang bagus

Kehebohan menjelang perayaan lebaran tidak saja urusan harga sembako yang naik dan masalah transportasi mudik sekaligus jalurnya yang dipertanyakan kesiapannya. Urusan yang kelihatannya remeh ternyata juga dapat menjadi masalah besar: penukaran uang baru, dalam arti uang yang masih bagus, bukan yang baru keluar dari percetakan.

Tradisi memberi uang kepada anak-anak pada saat lebaran bukan sekedar memberi uang nominal. Agaknya para orang tua tidak enak jika memberi uang lusuh meski untuk anak-anak. Meski mereka toh tidak akan meneliti uang seperti pedagang uang yang akan menukar dolar kita, namun senyum anak-anak menerima uang baru itu dirasa sangat menyenangkan.

Maka, menjelang lebaran orang-orang ramai antre di beberapa kantor bank untuk ‘membarukan’ uang. Uang yang sudah lusuh atau agak lecek ditukar dengan uang yang masih kinyis-kinyis. Uang itu masih ‘berbau uang’ dan bukannya berbau terasi. Di pinggir Jalan P. Senopati, Yogyakarta, juga ramai orang menjajakan uang baru bagi mereka yang malas antre di Bank Indonesia.

Biasanya para penukar hanya menukar dalam jumlah sekedarnya. Akan tetapi secara akumulatif ternyata besar juga. Terlihat di berita-berita bahwa di beberapa kota penukaran sehari dapat mencapai 4-5 milyar. Konon, BI Pekanbaru menyiapkan 70 milyar untuk penukaran angpau lebaran kali ini …\1

***

Guru ekonomi saya sewaktu SMA dulu mengatakan bahwa terdapat hukum “bad money drives out good money”. Uang jelek mengusir uang bagus. Kita akan mengeluarkan uang jelek untuk keperluan transaksi, sementara uang bagus kita simpan. Maka, yang beredar senyatanya adalah uang jelek.

Akan tetapi, tentunya tidak jelek-jelek amat. Suatu ketika uang akan mampir ke bank. Uang yang secara fisik jeleknya tidak ketulungan akan dimusnahkan dan bank akan mengganti dengan uang bagus. Oleh karena itu, uang yang beredar tetap layak untuk dibawa dan dipertukarkan.

Dikaitkan dengan uang lebaran tadi, barangkali ungkapan guru saya tersebut benar jika anak-anak eman-eman membelanjakan uang baru mereka dan memilih menyimpannya … Bagi bank sendiri, penukaran uang ini menjadi kesempatan untuk menarik uang jelek dan mengganti dengan uang bagus. Jadi, uang bagus ada di masyarakat meski mungkin tidak dibelanjakan.

***

Suatu kesempatan saya pergi ke suatu pulau kecil berjarak dua puluhan jam dari ibukota provinsi menggunakan feri penyeberangan. Tidak terpencil sekali, kapal milik Pelni menyinggahi pelabuhan dua kali setiap pekan dan setiap hari terdapat penerbangan dari satu bandara kecil. Ibukota kabupaten berada di pulau tersebut sehingga terdapat keramaian pasar yang lumayan. Waktu itu uang yang saya bawa bukanlah uang baru, akan tetapi di tempat tersebut tetap paling ‘nggantheng‘. Setiap mendapat kembalian dari penjual, selalu uang kluwus

Mungkin tidak ada tradisi memberi angpau uang baru di tempat tersebut …

***

Satu insiden kecil terjadi sewaktu saya dan beberapa teman pergi ke kompleks Candi Borobudur dengan menumpang mobil minibus. Sewaktu menerima uang parkir dari seorang teman yang mengemudi, si embak di loket parkir nyeletuk: “Wonge bagus kok dhuwite elek…”

Aiyah! Apa hubungane, Mbak? [z]

ke atas

Catatan Kaki
  1. http://www.riauterkini.com/usaha.php?arr=62505. Update: orang BI yang diwawancara salah satu televisi, 26 Juli 2013, mengatakan bahwa BI menyediakan 9,7 trilyun rupiah untuk seluruh Indonesia. ^

438 total views, no views today