Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Tag: lalu lintas

Istimewa

Menjadi yang istimewa mungkin impian terpendam manusia, keinginan untuk berbeda dari orang lain, terutama dalam hal kelebihan. Menurut Pak Abraham Maslow, keinginan menjadi istimewa masuk ke dalam keinginan nomor dua dari atas, yaitu kebutuhan akan penghargaan: kebutuhan akan status status hingga dominasi.

Maka orang berburu akan status demi keistimewaan.

Orang tua mendaftarkan anaknya ke sekolah tertentu, yang istimewa tentunya. Yang bagus atau kadang yang mahal. Sekolah sendiri membuat diri mereka istimewa, membuat prestasi, dengan status akreditasi, atau itu tadi, mematok uang sumbangan yang cukup besar. Atau sekedar membuat seragam yang berbeda dari sekolah lain.

Rombongan pesepeda motor, yang bukan karena mudik, adalah orang-orang yang memburu status. Mereka masuk ke lingkaran sosial tertentu dengan berbagai atribut material mereka. Kemudian mereka istimewa, atau ingin merasa istimewa dengan berbagai perlakuan: dikawal polisi, mendominasi jalan, hingga ‘boleh’ menerobos lampu merah. Kemudian mereka menyampaikan status itu dalam suara knalpot yang memekakan telinga.

Tetapi sebagian mereka jelas memang istimewa. Tidak semua orang berkesempatan mengendarai moge kesana-kemari.

***

Saya intip tukang martabak di depan pasar. Martabak biasa dengan satu butir telur seharga 12.000 rupiah, martabak istimewa mengandung tiga butir telur dibanderol dengan harga 20.000 rupiah.

“Jogja Jogja tetap istimewa
Istimewa negerinya istimewa orangnya
Jogja Jogja tetap istimewa
Jogja istimewa untuk Indonesia”

“Jogja Tetap Istimewa”, Jogja Hip Hop Foundation

722 total views, no views today

Belok Kiri

Persimpangan memang membuat bingung. Tak terkecuali adalah persimpangan jalan. Masalah yang paling membingungkan adalah belok kiri. Bolehkah belok kiri jalan terus? Beberapa tahun yang lalu pada tiang-tiang lampu pengatur lalu lintas terdapat tambahan plat bertulis “Ke kiri terus. Turn left go ahead. Be Careful”. Atau “Ke kiri ikuti lampu. Turn left signal”.

Konon undang-undang tentang lalu lintas yang lama mengatur bahwa ke kiri (boleh) langsung. Undang-undang yang berlaku sekarang mengatur sebaliknya, yaitu jika ada tanda berhenti, alias lampu merah, maka kendaraan harus berhenti kecuali jika ada perintah sebaliknya. Aturan itu jelas. CMIIW.

Belok Kiri Boleh Langsung

Satu papan pemberitahuan tentang belok kiri di Klaten, Jawa Tengah, akhir 2014. Mungkin pernah ada pengendara yang berhenti dengan alasan bahwa belok kiri hanya ‘boleh’ bukan keharusan, sehingga terdapat kata yang ditutup cat.

 

Namun, kelihatannya pada masa transisi dulu, tetap terdapat keraguan dari pengguna jalan. Maka, dinas lalu lintas masih menambahkan plat pada tiang lampu lalu lintas, yang tidak hanya mengatur bahwa ke kiri dapat terus meski lampu merah, tetapi juga memberi tahu bahwa jika lampu merah harus berhenti. Biasanya papan untuk memerintahkan tetap berjalan berwarna biru, sementara papan perintah untuk berhenti berwarna merah.\1

Rupanya, tulisan yang bentuknya bermacam-macam itu disikapi dengan berbagai perilaku pula. Salah satu yang kelihatannya menjadi salah kaprah adalah jika tidak ada tulisan ‘ke kiri ikuti lampu’ atau sebangsanya, maka hal itu berarti boleh berjalan terus. Padahal, peraturan justru sebaliknya, yaitu jika tidak diperintahkan terus maka harus berhenti pada saat lampu berwarna merah. Maka, kita dapat menjumpai keraguan di beberapa perempatan yang tidak mencantumkan papan perintah berhenti.\2 Malangnya, mereka yang mematuhi lampu lalu-lintas akan diklakson oleh pengendara di belakangnya.

Sekitar setahun yang lalu (CMIIW) di perempatan Selokan Mataram-Jalan Kaliurang, di seberang MM UGM, dipasang papan pemberitahuan untuk mengikuti lampu. Tulisan pada papan logam berwarna merah itu (yang kira-kira terbaca “Belok Kiri Ikuti APILL”) dengan segera ditutup dengan cat biru. Entah siapa yang melakukannya. Mobil dan motor pun langsung belok kiri tanpa berhenti seperti biasa meski lampu merah.

Seharusnya, ditutup cat atau tidak tulisan pada papan tersebut, maka tetap saja kendaraan harus berhenti karena lampu menyatakan demikian. Artinya, hal yang ‘mubazir’ (karena memberi tahu dua kali hal yang sama, satu dengan lampu dan lainnya dengan papan pengumuman), ditambah mubazir (karena tidak mengubah makna sama sekali).

(Lagi mengingat-ingat kuliah tentang simbol dan strukturalisme dari Mas Heddy Shri Ahimsa dulu …. )

Mungkin hasil kerja aparat di Kulonprogo ini perlu dicontoh. Daripada memberikan tanda yang ambigu, mereka memasang papan penjelasan tentang peraturan di lampu lalu-lintas. Papan ini bukan sekedar memberi perintah, tetapi juga memberi pengetahuan kepada pengguna jalan.

Papan 'pengumuman' di perempatan di Kulonprogo, DIY.

[z]

ke atas

Catatan Kaki
  1. Beberapa lampu lalin dicat menyisakan panah ke kiri pada kaca merah untuk memberi tahu bahwa ke kiri juga harus berhenti. ^
  2. Saya belum memperhatikan marka jalan, apakah putus-putus atau tidak. Biasanya, marka putus-putus berarti boleh terus. ^

1,441 total views, 1 views today

Macet

Nonton acara televisi tentang jalan-jalan, atau wisata, membuat saya membayangkan bahwa hidup di tempat wisata adalah enak. Coba kita tinggal di dekat lokasi itu, ODTW itu, kita tidak perlu pergi jauh tetapi dapat makan di warung dan resto yang di maknyus dan topmarkotp di televisi itu, dapat berkunjung ke objek itu, atau belanja di distro, di pasar yang itu. Kita dapat melakukannya setiap hari jika mau.

Akan tetapi sebagai seorang yang kadang tinggal di tengah-tengah pusaran turisme, di tengah kota Yogyakarta, saya merasa tidak seenak bayangan tersebut. Jika kami harus makan keluar–karena tidak sempat makan di rumah misalnya, harus berpikir: ke warung yang mana. Warung yang biasa disebut di televisi? Rasanya bagus untuk sekali-sekali saja makan di sana. Tentu tidak setiap hari kita dapat makan sate klathak, kupat tahu pak itu, mie goreng mbah ini, bakso super pedas, atau makanan lain yang sebangsanya. Kadang warung atau resto itu beraroma fancy, saya sebut demikian saja–yaitu yang bukan untuk keperluan sehari-hari, atau turistik: mahal. Yang lebih parah adalah jika merupakan kombinasi dari keduanya, fancy dan mahal.

Beruntungnya adalah masih ada sangat banyak warung, kios, toko, yang tidak beraroma wisata. Jadi, kami tetap tahu tempat misalnya untuk membeli kaos keperluan sehari-hari, bukan sebagai olih-olih turistik.\1

***

Satu lagi balada tinggal di kota wisata\2 : macet.

Musim liburan seperti ini, menempuh jalan Malioboro yang hanya satu kilometer itu bisa setengah jam. Jalan alternatif bagi saya nyaris tidak ada, karena Malioboro adalah jalan paling dekat dari kantor ke rumah. Di musim liburan kami biasa menghindari kawasan Malioboro. Selain itu, kemacetan biasanya juga terjadi di Jalan Solo hingga Kalasan, dan Jalan Magelang terutama di sekitar Jombor dan Tempel.

Berkait dengan kondisi lalu-lintas tersebut, kami berkesimpulan untuk tinggal di rumah jika musim libur. Berbagai kebutuhan sehari-hari dicukupi jauh hari. Jadi, menghadapi musim liburan malah siaga seperti menghadapi bencana.

***

Tetapi, tetap saja kami sambut para wisatawan. Selamat datang, selamat menikmati Yogya. [z]

ke atas

Catatan Kaki
  1. Sebenarnyalah kios turistik hanya sedikit dan kami dengan mudah mengenalinya. ^
  2. haiyah, malah ada kompleks perumahan di dekat Jakarta saya yang menamakan diri kota wisata ^

401 total views, no views today

Lampu Bangjo dan City Branding

ampelmann berlinApa yang terlintas ketika mendengar kata ‘Berlin’? Tembok Berlin? Gerbang Brandenburger?

Kota ini memiliki hal lain yang cukup unik yaitu lampu lalu lintas, khususnya di wilayah Berlin Timur. Tidak seperti umumnya di bagian lain di Jerman, atau bahkan di dunia, di kawasan tersebut kita dapat menemui lampu lalu lintas bergambar seorang laki-laki mengenakan topi. Jika memberi tanda kepada penyeberang untuk menunggu, ia akan merentangkan tangan, dan berwarna merah, sementara untuk mempersilakan pejalan melintas ia akan berwarna hijau dan menggambarkan seorang sedang berjalan.

Gambar orang yang lumayan lucu ini memiliki sejarah. Di tahun 1960-an dibutuhkan tanda lalu lintas yang akan digunakan untuk mendidik penyeberang jalan seiring dengan ramainya lalu lintas pada waktu itu. Dicari tanda yang familiar untuk anak-anak akan tetapi juga gampang dibaca oleh orang dewasa. Akhirnya diciptakanlah gambar yang kemudian menjadi legendaris itu.

Bukan kebetulan gambar ini digunakan sebagai city branding. Pada pasca-runtuhnya Tembok Berlin, dilakukan upaya penyeragaman lampu lalu lintas yang berarti mengganti si manusia bertopi tersebut. Akan tetapi warga Berlin Timur terlanjur cinta dan melakukan kampanye untuk mempertahankan gambar lucu ini. Mereka melakukannya antara lain dengan membuatnnya sebagai cinderamata. Hingga sekarang lampu dengan gambar Ampelmann masih bertahan dan dapat ditemui selain di jalan protokol yang harus mengikuti aturan tertentu.

ampelmann souvenirSekarang kita tidak hanya menemukan gambar ini sebagai tanda lalu lintas. Desain berbentuk orang menyeberang yang disebut dengan Ampelmann, atau Ampelmannchen ( ‘Orang Kecil Lampu Bangjo’ ) ini juga direproduksi dalam berbagai produk turistik yang dijual di berbagai toko cinderamata dan beragam wujud pernik kota. Kita dapat menemukan berbagai benda dengan tema orang bangjo ini mulai dari alat tulis hingga peralatan rumah tangga, dari kaos oblong hingga cetakan kue.

*

Mmmm…, jika gambar orang mengenakan blangkon menghiasi lampu tanda penyeberang jalan di Yogyakarta. Dapatkah blangkonmann mendidik warga untuk menyeberang di tempat yang disediakan, dan mengamankan mereka dari lalu lintas yang kian semrawut, sekaligus menjadi sarana promosi kota? [z]

477 total views, no views today