Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Tag: kereta api

Eksekutif

Saya senang Stasiun Tugu antara lain karena ada wifi gratis sembari menunggu kereta. Di tempat yang bukan merupakan habitat saya ini, pikiran sering kemana-mana di samping badan pun juga sedang akan kemana-mana. Maka, biasanya di stasiun ada banyak hal yang muncul di kepala untuk ditulis dan dibagi di blog.

Kali ini melintas di pikiran saya mengapa kelas kereta api di Indonesia disebut eksekutif, ekonomi, dan bisnis. Di Belanda rasanya ada kelas 1 dan 2 pada setiap rangkaian kereta reguler. Memang ada kereta antarnegara yang lebih mewah, yang entah apa nama kelasnya. Pada spoor Sprinter yang berjarak dekat itu terdapat Kelas satu di bagian depan gerbong dengan warna kursi merah. Sementara kelas dua berkursi biru terletak di belakangnya, kadang pada gerbong yang sama.

Memperhatikan pembagian kelas kereta itu, saya ingat bahwa dahulu sewaktu di SMP diajari adanya trias politika. Gagasannya adalah memisahkan antara legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Kira-kira, ketiganya berarti pembuat (peraturan), pelaksana, dan pengawas.

Berbeda dari trias politika yang menempatkan masing-masing pihak secara setara, maka trias kereta merupakan perbedaan kelas. Perbedaan ini tercermin dalam fasilitas yang didapat. Jika duduk dalam gerbong kereta eksekutif, misalnya, maka tempat duduk lebih nyaman (di depan tertulis kapasitas lima puluh penumpang per gerbong). Kereta eksekutif juga dapat sampai lebih cepat ke tujuan ketimbang jenis lain, karena mendapat prioritas. Kereta ekonomi akan menepi di stasiun dan mempersilakan kereta ini lewat jika kebetulan akan menggunakan satu penggal rel yang sama.

Kelihatannya begitu. Namun, kereta yang saya tumpangi ini ternyata juga pernah berhenti di salah satu stasiun, menunggu kereta ekonomi lewat. Mungkin kereta yang berpapasan itu lebih dulu masuk ke jalur.

jug gicak gicuk gicak gicuk …
kereta berhenti …

***

Pembagian tiga ini juga terjadi pada moda angkutan pesawat terbang. Namun, sekarang konon banyak maskapai penerbangan yang menghilangkan kelas eksekutif dan hanya berujung pada kelas bisnis. Mungkin kini para eksekutif sudah tidak semakmur dulu sehingga tidak lagi mampu numpang di kelas yang diperuntukkan bagi mereka.

Bis juga sering mencantumkan tulisan “eksekutif”, pada bodi samping. Tidak tahu, apakah hal itu benar-benar penunjuk kelas atau hanya gaya-gayaan. Saya juga belum tahu apakah juga ada bis kelas bisnis, sementara di jalan sering berseliweran bis bertulis “ekonomi ac”.

Eh, tapi ternyata masing-masing kelas kereta itu masih terbagi dalam empat sub-kelas. Menurut mbak-mbak yang melayani penjualan tiket di Gamawisata, perbedaannya hanya pada masalah posisi gerbong pada rangkaian.

***

Nah, pertanyaannya adalah kenapa yang tertinggi disebut eksekutif, yang menengah adalah bisnis, dan terendah adalah ekonomi. Yang terakhir ini lebih mudah dipahami karena mungkin berkait dengan kata ekonomis yang berarti ngirit. Namun, perlu diingat bahwa Fakultas Ekonomi biasanya merupakan fakultas ‘elite’ di suatu kampus.

Berkait dengan eksekutif, mungkin pernah suatu ketika para eksekutif menempati pucuk piramida sosial kita, baru disusul oleh para pebisnis. Di tahun ’80-’90-an dulu ada radio di Yogyakarta yang menyapa pendengarnya dengan sebutan “eksekutif dan intelektual muda”. Entah sekarang, sudah lama saya tidak mendengarkan radio. Tentunya sapaan “eksekutif” di situ adalah dalam konotasi baik. Sapaan dan predikat semacam itu tentu dalam tujuan menyanjung. Namun, belum tentu menggambarkan kenyataan.

Jika ada iklan lowongan pekerjaan sebagai “sales executive” “executive marketing”, berarti yang dibutuhkan adalah mereka yang langsung melakukan pemasaran dan bertemu konsumen.

***

Secara historis, pemisahan kelas gerbong sudah terjadi sejak kereta api dikenalkan sebagai transportasi penumpang. Menurut penelitian teman saya, Riris Purbasari, waktu dia bikin skripsi dahulu, pada masa Kolonial orang kulit putih mendapat tempat tersendiri di ruang tunggu. Saya tidak tahu bagaimana di kereta, apakah di gerbong tersendiri, atau malah kereta yang berbeda, dan apa nama kelasnya, jika ada.

[z]

ke atas

743 total views, no views today

Sancaka

Apa arti kata ‘Sancaka’? Halaman-halaman awal daftar dari google tidak memberikan jawaban atas keingintahuan saya. Hampir semua keterangan adalah mengenai kereta api kelas bisnis dan eksekutif yang melayani jalur Yogyakarta-Surabaya. Untungnya, laman wikipedia yang berkait dengan kereta api tersebut menjelaskan bahwa Sancaka adalah nama “ular naga yang pengayom dan dapat bertahan di segala keadaan.”

Laman lain memberi tahu bahwa Sancaka adalah salah satu tokoh pada komik Gundala Putera Petir. Ia adalah ilmuwan jenius yang menemukan serum antipetir!

Numpang ular besi ini di bulan Agustus saya agak terheran: lebih separuh gerbong tiga berisi bule! Senang juga mengetahui bahwa kereta api sudah mulai menjadi sarana transportasi yang diandalkan (semoga mereka menggunakan kereta api bukan karena terpaksa: hanya ini yang tersedia untuk perjalanan yang mereka rencanakan). Menurut ibu pemandu wisata yang duduk di samping saya (dia bilang excusez moi kepada saya ketika akan menaruh barang di atas para-para bagasi, dan setelah ngobrol baru tahu bahwa beliau tetangga simbah saya. Bukan di Paris, melainkan di sini saja), di Eropa sedang libur panjang musim panas. Rata-rata bule di gerbong ini akan pergi ke Gunung Bromo.

Hanya, saya merasa sedikit malu kepada mereka karena interior kereta ini sudah mulai dekil dan terlihat bekas-bekas refurbish atawa rekondisi yang tidak rapi. Di negeri bule-bule itu mungkin kereta sekondisi ini sudah diapkir.

Bule di depan saya sudah mulai merebahkan sandaran kursinya. Pertanda ia menikmati perjalanan ini. [z]

430 total views, 2 views today

Kereta Api, Tak Sekedar Alat Transportasi?

Menikmati kereta Sprinter di Amsterdam yang tepat waktu, longgar, bersih, adem (jelas!), dan tak berisik, membuat saya berpikir apakah penumpang punya emosi tertentu jika naik kereta api ini. Mereka leyeh-leyeh saja, mendengarkan musik dari alat saku, atau berdiri di dekat pintu karena tujuan berikut akan dicapai dua-tiga menit saja. Saya teringat bahwa di Indonesia banyak ‘penggila’ kereta api yang menikmati bepergian menggunakan kereta api atau sekedar mengagumi model kereta api skalatis yang (bagi saya) mahalnya minta ampun itu.

Gila Kereta

Jika ditanya, apakah suka naik kereta api, jawabannya dapat dari beragam spektrum dan tidak sesederhana ya atau tidak. Apa yang dimaksud dengan suka? Kata ini bisa berarti ‘sering’ naik kereta api, dapat berarti ‘senang’, dan bisa juga bermakna ‘cinta’. Suka dalam arti sering, kira-kira seperti ‘dia suka ngambek’. Jadi, jawabannya bisa ya, saya sering naik kereta api, atau tidak, sukanya naik bis. Suka dalam arti senang, berarti menikmati (atau tidak menikmati) melakukan perjalanan menggunakan kereta api. Sementara itu suka yang kira-kira mirip dengan cinta, biasanya karena (atau menjadi) ketagihan naik kereta api.

Banyak penggila kereta api, dalam arti mereka yang cinta setengah mati, memiliki semacam ikatan emosi dengan kereta api. Saya pikir, dalam hal ini mereka suka kereta api bukan karena mampu membuat mereka berpindah tempat (dari satu stasiun ke stasiun lain, dari satu kota ke kota lain) dengan aman, cepat, dan nyaman (akronimnya semoga bukan ‘ancaman’ ). Bukan karena tinggal duduk, merem, setelah itu sampai di tujuan tanpa kurang satu apapun. Naik kereta api semacam itu mungkin tidak mengesan (yah, banyak juga yang terkesan dengan tepat waktunya, rapinya, dlsb, bahkan mungkin yang terakhir ini lebih banyak.)

Ada aspek lain yang membuat kereta api disukai, dicintai, digilai. Ada semacam romantika di kereta api. Memang masih banyak ketidaknyamanan di kereta api, seperti jadwal yang sering tidak tepat, gangguan kejahatan, kebersihan yang kurang, para pedagang yang hilir mudik, suara yang masih berisik… tetapi kok ya banyak yang menikmati perjalanan dengan kereta api. Mungkin terpaksa: kereta api merupakan sarana transportasi yang paling masuk akal jika menimbang ongkos (uang, capek, waktu) dan hasil yang didapat (sampai tujuan), jadi ya dinikmati saja. Akan tetapi rasanya banyak yang benar-benar menikmatinya: duduk di atas gerbong (mungkin ada yang dengan suka hati melakukan kegiatan terlarang ini), berpindah-pindah kereta di stasiun, membeli makanan restorasi, membuat kelompok (kabarnya ada kelompok arisan sesama komuter di KRL Jakarta; saya pernah nyepur berbarengan dengan kelompok mudik bareng yang membeli tiket bisnis berkelompok dan kemudian bertukar posisi: jika di kepulangan tidur di atas kursi maka di kepergian nanti akan tidur di lantai bertukar tempat dengan pasangannya tadi. Jadi semua dapat bagian tidur dengan posisi tidur dengan adil.)

Kereta api barangkali disuka juga karena ada yang dapat diceritakan: macet di mana, telat berapa jam, ada peristiwa apa di atasnya. Ada satu keluarga Belanda yang jika naik kereta di Jawa memilih yang ekonomi atau bisnis, karena suka menikmati lalu-lalang para pedagang …  Mengesankan.

Nilai sosial dan simbolik

Saya tidak ingin mengatakan bahwa tidak perlu ada perbaikan, tetapi itulah yang terjadi. Mudah-mudahan hal semacam ini, bahwa kereta api ‘hidup’ di lahir dan batin masyarakat, memiliki ‘makna yang mendalam’, tidak terlewatkan dalam dokumentasi teman-teman Indonesian Railway Heritage yang tengah getol menggeluti sejarah dan warisan kereta api.

Jadi, rasanya kereta api bukan sekedar ‘alat transportasi’ melainkan lebih bersifat ‘kendaraan’ atau mungkin ada istilah lain yang lebih tepat. (Saya ingin membandingkan dengan istilah turangga, kuda, dalam budaya Jawa yang memiliki makna sosial dan simbolik). [z]

ke atas

350 total views, no views today