Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Tag: kendaraan

Aja Dumeh

Salah satu ungkapan bijak ini sangat populer bagi masyarakat Jawa hingga dipasang di berbagai tempat sebagai hiasan-pengingat. Tebeng becak paling sering menggunakan kata-kata, atau mungkin lebih tepat disebut dengan frasa, ini.

Makna “aja dumeh” kira-kira adalah “jangan mentang-mentang”. Jangan mentang-mentang berkuasa, kemudian mengeksploitasi liyan. Jangan mentang-mentang kaya kemudian menyepelekan orang lain.

Konteks tebeng becak rasanya cukup pas. Tulisan ini dapat memberi peringatan kepada orang lain, yang kebetulan berkendaraan pribadi, misalnya. Namun, sebenarnya frasa itu juga dapat menjadi pengingat bagi pak becak, agar tidak mentang-mentang juga. Mentang-mentang di jalan ketika mengayuh becaknya, atau mentang-mentang kelak kemudian hari ketika “nemu mulya“, lebih sejahtera.

Tulisan itu pun dapat berfungsi sebagai semboyan yang dianut pemilik kendaraan. Hal itu seperti tulisan “Bhinneka Tunggal Ika” pada lambang negara kita.

stiker mobil

Ojo dumeh. Semar.

Beberapa hari yang lalu pada kendaraan di depan saya terpampang tulisan ini pada kaca belakang dengan ejaan “Ojo Dumeh”, lengkap dengan gambar tokoh wayang Semar, tokoh yang menjadi pamomong para ksatria Pandawa. Perpaduan gambar dan tulisan itu dapat berarti “Seperti Semar, jangan mentang-mentang, Ia adalah dewa, tetapi sangat bersahaja dan menjadi pembantu para ksatria yang manusia itu.

Tulisan di bagian belakang kendaraan itu dapat pula berarti nasihat, mungkin untuk mereka yang berada di belakang mobil tersebut. Termasuk saya.

220 total views, no views today

Ojek

Dari mana dan bagaimana ceritanya sehingga muncul kata ‘ojek’. Di lingkungan saya moda angkutan ini disebut dengan ‘trayek’. Menariknya, guru lagu kedua kata ini sama, yaitu ‘-ek’. Saya sedang membayangkan bahwa barangkali kata ‘ojek’ bersaudara dengan ‘odong-odong’ karena huruf ‘o’ di depan.

Setelah hiruk-pikuk ojek di media, baru tersadar bahwa moda satu ini tidak legal sebagai angkutan penumpang umum. Soalya, selama ini sering di pertigaan atau perempatan tempat para penumpang turun dari angkutan umum terdapat pangkalan ojek, lengkap dengan bamgunan peneduh, dan kadang daftar giliran para tukang ojek untuk membawa penumpang. Kadang mereka berseragam.

Ojek atawa trayek tadi menjadi andalan di wilayah kami jika hari sudah senja. Angkitan umum sudah nyaris tidak ada sejak maghrib. Maka, jika pulang terlalu sore dan tidak ada yang menjemput kemungkinan besar para tetangga saya akan naik trayek dari pada berjalan hingga lima-enam km.

Para pengojek ini biasanya bukan sekedar mereka yang biasa nongkrong dengan sepeda motor di mulut jalan. Biasanya mereka terorganisir. Salah satu organisasi yang terkenal di akhir 80-an adalah CCCP. Bukan pengojek dari Uni-Sovyet, namun Condong Catur Club Pengojek. Mereka mangkal di bawah pohon beringin di dekat Terminal Condong Catur, Sleman, dan mengenakan kaos dengan tulisan CCCP di bagian dada, mirip dengan para pemain sepakbola dari Sovyet yang waktu itu sangat terkenal.

Ojek juga menjadi andalan sebagian warga yang tidak memiliki pekerjaan tetap, namun mempunyai motor. Zaman ojek juga dapat dihubungi dengan cara daring atawa online seperti sekarang, profesi ini semakin naik pamornya: berseragam, smartphone nangkring di stang kiri. Mereka berafiliasi pada ‘kantor’ atau perusahaan tertentu, yang mengelola secara daring. Penghasilan mereka pun bisa luar biasa. Seorang ibu yang dua-tiga hari yang lalu diwawancara di teve bercerita bahwa penghasilannya mencapai delapan juta! Pantesan antrean untuk mendaftar tukang ojek online bisa mengular.

Namun, jika profesi tukang ojek berstatus tidak formal alias termasuk sektor informal, bagaimana status mereka berkait dengan posisi hukumnya: informal dan ilegal?

Atria, Magelang.

399 total views, no views today

Sancaka

Apa arti kata ‘Sancaka’? Halaman-halaman awal daftar dari google tidak memberikan jawaban atas keingintahuan saya. Hampir semua keterangan adalah mengenai kereta api kelas bisnis dan eksekutif yang melayani jalur Yogyakarta-Surabaya. Untungnya, laman wikipedia yang berkait dengan kereta api tersebut menjelaskan bahwa Sancaka adalah nama “ular naga yang pengayom dan dapat bertahan di segala keadaan.”

Laman lain memberi tahu bahwa Sancaka adalah salah satu tokoh pada komik Gundala Putera Petir. Ia adalah ilmuwan jenius yang menemukan serum antipetir!

Numpang ular besi ini di bulan Agustus saya agak terheran: lebih separuh gerbong tiga berisi bule! Senang juga mengetahui bahwa kereta api sudah mulai menjadi sarana transportasi yang diandalkan (semoga mereka menggunakan kereta api bukan karena terpaksa: hanya ini yang tersedia untuk perjalanan yang mereka rencanakan). Menurut ibu pemandu wisata yang duduk di samping saya (dia bilang excusez moi kepada saya ketika akan menaruh barang di atas para-para bagasi, dan setelah ngobrol baru tahu bahwa beliau tetangga simbah saya. Bukan di Paris, melainkan di sini saja), di Eropa sedang libur panjang musim panas. Rata-rata bule di gerbong ini akan pergi ke Gunung Bromo.

Hanya, saya merasa sedikit malu kepada mereka karena interior kereta ini sudah mulai dekil dan terlihat bekas-bekas refurbish atawa rekondisi yang tidak rapi. Di negeri bule-bule itu mungkin kereta sekondisi ini sudah diapkir.

Bule di depan saya sudah mulai merebahkan sandaran kursinya. Pertanda ia menikmati perjalanan ini. [z]

430 total views, 2 views today

Pelat Nomor

Awal tahun ini kita sudah diributkan dengan beberapa masalah tentang pelat nomor kendaraan. Wagub DKI yang menyatakan tidak bisa menggunakan pelat nomor resminya.\1 Menteri BUMN yang memasang ‘pelat nomor’ pesanan (dari) pinggir jalan di mobil tucuxi-nya.\2 Sebelumnya, di akhir tahun lalu gubernur DKI melontarkan gagasan tentang pembatasan kendaraan di jalan dengan menggilir antara nomor ganjil dan nomor genap …\3

*

Kelihatannya terdapat beberapa fungsi pelat nomor kendaraan.

Fungsi utama pelat nomor adalah sebagai sarana registrasi dan identifikasi. Oleh karena itu, secara logis masing-masing pelat nomor adalah unik, tidak ada yang sama. Pelat nomor juga dikeluarkan oleh lembaga yang berwenang, berkaitan dengan pendaftaraan (registrasi) kendaraan bermotor.

Pelat nomor B 2 DKI yang ditunjuk oleh wagub DKI rasanya berkaitan dengan aspek identifikasi. Orang akan tahu siapa yang melintas jika melihat kendaraan dengan pelat nomor tersebut. Akan tetapi, kelihatannya sekarang belum jelas, siapa pengguna pelat nomor tersebut.\4

Pelat nomor juga dapat berfungsi sekunder antara lain sebagai sarana penggaya, alias aksesori. Menjadi lebih keren mungkin …

Hingga tahun ’90-an, rasanya, pernah ada tren memasang pelat nomor kendaraan luar negeri, entah asli entah hanya serupa. Parahnya, seringkali pelat nomor ini sering dipasang pada tempat yang semestinya digunakan untuk pelat nomor yang aseli dan resmi Indonesia sementara nomor yang resmi malah hanya ditempel di bagian bawah dari muka/belakang kendaraan. Pemerintah kemudian melarang penggunaan pelat nomor asing tersebut.

Sebagai sarana penggaya, terdapat istilah ‘nomor cantik’. Beberapa pelat nomor memiliki kombinasi angka dan huruf yang istimewa (toh semua mestilah unik) seperti angka berurutan, angka kembar, dapat dibaca, atau memiliki arti tertentu (personal, kultural, feng shui, … ).

Untuk ‘membaca’ pelat nomor harus mengkonversi angka yang ada, misalnya angka 0 menjadi huruf O atau D, angka 1 menjadi huruf I, angka 2 menjadi Z atau S, angka 3 menjadi E, 4 sebagai huruf A, 5 sebagai S, angka angka 6 sebagai G atau B, 7 sebagai huruf J atau T, 8 sebagai B, dan 9 sebagai G, misalnya. Dua angka juga dapat dijejerkan agar dapat menjadi huruf. ’13’ = B, ’12’ = R…\5

Untuk membuatnya terbaca, terkadang dilakukan modifikasi letak huruf atau angka, dengan mendekatkan atau merenggangkan. Juga modifikasi pada bentuk angka agar sesuai dengan huruf yang dikehendaki.

Selain itu, para pengguna kadang juga memodifikasi dengan menutup sebagian huruf/nomor dengan cat, menebalkan huruf/nomor tertentu, melipat huruf di pinggir ke belakang … dan sebagainya. Pelat AB 9199 BA misalnya (sekadar contoh, semoga tidak ada nomor tersebut), ditutup bagian huruf A dan ketiga angka 9 sehingga sepintas seperti nomor cantik dan istimewa dari Jakarta.

Nomor cantik yang ‘maksa’.\6

Tetapi ‘nomor cantik’ mungkin kadang perlu juga. Nomor semacam ini mudah diingat, mudah dicari, mudah dikenali.

*

Hari ini, KPU (Komisi Pemilihan Umum) mengundi nomor partai peserta pemilu tahun 2014. Cakupan nomor cantik akan melebar ke nomor urut partai, dengan tiga huruf di belakang sebagai singkatan nama partai.

Nomor ini mungkin yang akan menjadi buruan: B 2 PKB, B 3 PKS, B 8 PAN, dan B 9 PPP.

[z]

ke atas

Catatan Kaki
  1. http://jakarta.tribunnews.com/2013/01/04/ini-penjelasan-ahok-soal-b-2-dki-dan-plat-nomor-cantik ^
  2. http://www.solopos.com/2013/01/07/plat-mobil-tucuxi-ilegal-365590 ^
  3. http://www.merdeka.com/jakarta/jokowi-ganjil-genap-bisa-januari-maret-atau-september.html ^
  4. Update: Akhirnya mobil dinas gubernur DKI menggunakan pelat ‘B 1 DKI’. http://jakarta.tribunnews.com/2013/01/15/jokowi-akhirnya-pakai-plat-nomor-b-1-dki ^
  5. Kok seperti 4l4y … ^
  6. UU No. 22 Tahun 2009 ttg Lalu lintas dan Angkutan Jalan, ps 280: “Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan yang tidak dipasangi TNKB (Tanda Nomor Kendaraan Bermotor) yang ditetapkan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 68 ayat (1) dipidana dengan kurungan 2 (dua) bulan atau denda paling banyak Rp500.000 (Lima ratus ribu rupiah)”. ^

1,337 total views, 1 views today

Alat Transportasi a.k.a Kendaraan

Kamus Besar Bahasa Indonesia daring:

trans·por·ta·si n 1 pengangkutan barang oleh berbagai jenis kendaraan sesuai dng kemajuan teknologi; 2 perihal (seluk- beluk) transpor; 3 pemindahan bahan lepas hasil pelapukan dan erosi oleh air, angin, dan es

Akan tetapi, manusia juga perlu berpindah tempat sehingga membutuhkan juga alat transportasi. Mungkin pada kamus tersebut manusia dianggap sebangsa dengan barang.

Kita lihat lagi, terdapat kata “kendaraan” pada batasan tersebut. Menurut kamus yang sama, pada lema ‘kendara’ terdapat jabaran:

ken·da·ra·an n sesuatu yg digunakan untuk dikendarai atau dinaiki (spt kuda, kereta, mobil): kita harus memakai ~ untuk menempuh jarak sejauh itu;
~ bermotor kendaraan yg memakai mesin (motor) untuk menjalankannya; ~ umum kendaraan yg dapat disewa oleh orang banyak;

Angkutan banjir jakarta

Mengendarai? Banjir Jakarta, 2013. Sumber: banjarmasin.tribunnews.com

Jika melihat batasan ‘kendaraan’ maka ada keharusan untuk dapat dikendarai atau dinaiki. Sementara itu, salah satu batasan ‘alat transportasi’ adalah kendaraan untuk mengangkut barang.

Kelihatannya, batasan ‘alat transportasi’ lebih bersifat umum daripada ‘kendaraan’. Gerobak dorong merupakan alat transportasi sementara sepeda motor adalah kendaraan. Keduanya merupakan alat transportasi.

Bus kota adalah alat transportasi, tetapi juga kendaraan. Mungkin si sopir bus dapat dianggap pengendara sementara orang yang lain yang ikut adalah penumpang. Kondektur?\1

Memang jarang disebut ‘mengendarai bus’, ‘mengendarai kereta api’, ‘mengendarai pesawat terbang’, meskipun ia seorang sopir bus, masinis, atau pilot. Yang ada malah “… pak kusir yang sedang bekerja, mengendali kuda supaya baik jalannya…”

***

Apa yang termasuk alat transportasi atau kendaraan?

Saya pernah menjawab “andong”. Tetapi, setelah dipikir-pikir, andong di Yogyakarta tidak lagi menjadi alat transportasi, kecuali bagi para bakul, pedagang pasar, yang mau berpindah dari Pasar Legi ke Pasar Beringharjo dan sebaliknya. Andong lebih berfungsi sebagai, apa ya, ‘alat pariwisata’, atau daya tarik wisata (DTW). Mungkin dalam hal ini andong dapat dianalogikan dengan jet coaster atau roller coaster\2

Saya juga pernah menjawab pertanyaan di atas dengan: “Sepeda motor”. Tetapi, dulu salah satu orang tua mahasiswa saya berkata bahwa sepeda motor lebih berfungsi sebagai alat olah raga daripada alat transportasi: karena sehabis naik motor badan malah menjadi capek. Iya juga, hanya saja sepeda motor merupakan pilihan terekonomis bagi saya. Termasuk kategori ‘kendaraan sebagai alat olah raga’ ini mungkin mobil balap atau mobil sport.

Sepeda? Dulu Yogyakarta mendapat julukan sebagai kota sepeda karena para penduduk menggunakan sepeda sebagai alat trasnportasi utama. Sekarang, para pesepeda memang ada yang menggunakannya sebagai alat transportasi, tetapi banyak juga yang menggunakan sebagai alat penggaya. Biar gaya, maksudnya. Hal ini berkait dengan istilah “gaya hidup”. Nah, mobil sport yang masuk kota barangkali tergolong kategori ini.

Pesawat terbang? OK. Terdapat pesawat penumpang dan pesawat kargo, setidaknya. Bagaimana dengan pesawat tempur? Untuk mentranspor bom…? Menko Polhukam menyatakan keterangan tentang jatuhnya pesawat Hawk 200 di Riau menunggu penyelidikan KNKT (Komisi Nasional Keselamatan Transportasi)\3 sementara Kapuskom Publik Kemenhan menyatakan bahwa KNKT tidak dilibatkan, dan penyelidikan dilakukan internal\4

***

Berita di salah satu media online, 8 Januari 2013:

“MK menyatakan, alat-alat berat merupakan satu bagian dari kelompok kendaraan karena fungsinya sebagai alat pengangkut hasil tambang. Atas dasar itu, MK menilai alat-alat berat itu tetap harus dikenakan pajak kendaraan bermotor.”\5

***

Dalam kuliah ikonografi di Jurusan Arkeologi terdapat istilah “wahana” yang diterjemahkan sebagai “kendaraan”. Nandi adalah wahana dari Dewa Siwa, Garuda adalah wahana Dewa Wisnu.

***

Di zaman hiruk pikuk para politisi memperebutkan jabatan seperti sekarang ini sering terlintas istilah ‘kendaraan politik’. Maksud istilah ini kurang lebih adalah ‘partai (politik) yang dapat digunakan untuk meraih jabatan (politik).’ Kelihatannya makna ini belum dicantumkan di kamus-kamus bahasa. Makna ini bersifat konotatif, menyamakan partai sebagai sarana untuk mengantarkan politisi mencapai suatu tujuan tertentu, yaitu jabatan.

***

Zaman dulu ada komik “Arad dan Maya”, yang memiliki alat transportasi efisien, bernama ‘teleporter’. Alat yang mirip juga ada pada film-film sebangsa Star Trek. ‘Stargate’ dan segala macam portal penghubung dunia paralel? Mesin waktu? Pintu-kemana-saja dan baling-baling bambu milik Doraemon mungkin juga termasuk alat transportasi.

Robot Doraemon dengan baling-baling bambu, mengangkut Nobita dan teman-teman.


Eh, tetapi benda-benda tersebut tidak dikendarai atau dinaiki, kecuali mesin waktu seperti yang ada di film Back to the Future[z]

ke atas

Catatan Kaki
  1. Lalu, bagaimana dengan kendaraan otomatis tanpa sopir seperti sebagian metro di Paris itu? ^
  2. Di taman-taman hiburan, jet coaster atau roller coaster disebut ‘wahana’ beserta sarana mainan lain. ^
  3. merdeka.com/peristiwa/menko-polhukam-tak-ada-warga-jadi-korban-jatuhnya-hawk-200.html akses 19 Okt 2012 ^
  4. news.detik.com/read/2012/10/16/130528/2063771/10/letda-reza-sempat-melapor-ada-kerusakan-mesin-sebelum-pesawatnya-jatuh?9911012 akses 19 Okt 2012 ^
  5. merdeka.com/peristiwa/mk-nyatakan-alat-berat-tetap-mendapat-pajak-kendaraan.html ^

1,008 total views, no views today