Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Tag: jawa

Aja Dumeh

Salah satu ungkapan bijak ini sangat populer bagi masyarakat Jawa hingga dipasang di berbagai tempat sebagai hiasan-pengingat. Tebeng becak paling sering menggunakan kata-kata, atau mungkin lebih tepat disebut dengan frasa, ini.

Makna “aja dumeh” kira-kira adalah “jangan mentang-mentang”. Jangan mentang-mentang berkuasa, kemudian mengeksploitasi liyan. Jangan mentang-mentang kaya kemudian menyepelekan orang lain.

Konteks tebeng becak rasanya cukup pas. Tulisan ini dapat memberi peringatan kepada orang lain, yang kebetulan berkendaraan pribadi, misalnya. Namun, sebenarnya frasa itu juga dapat menjadi pengingat bagi pak becak, agar tidak mentang-mentang juga. Mentang-mentang di jalan ketika mengayuh becaknya, atau mentang-mentang kelak kemudian hari ketika “nemu mulya“, lebih sejahtera.

Tulisan itu pun dapat berfungsi sebagai semboyan yang dianut pemilik kendaraan. Hal itu seperti tulisan “Bhinneka Tunggal Ika” pada lambang negara kita.

stiker mobil

Ojo dumeh. Semar.

Beberapa hari yang lalu pada kendaraan di depan saya terpampang tulisan ini pada kaca belakang dengan ejaan “Ojo Dumeh”, lengkap dengan gambar tokoh wayang Semar, tokoh yang menjadi pamomong para ksatria Pandawa. Perpaduan gambar dan tulisan itu dapat berarti “Seperti Semar, jangan mentang-mentang, Ia adalah dewa, tetapi sangat bersahaja dan menjadi pembantu para ksatria yang manusia itu.

Tulisan di bagian belakang kendaraan itu dapat pula berarti nasihat, mungkin untuk mereka yang berada di belakang mobil tersebut. Termasuk saya.

280 total views, 2 views today

Nyadran

S emua tempat di Jawa, mungkin, minggu-minggu ini sibuk dengan nyadran. Ritual ini dilakukan menjelang bulan puasa yaitu pada bulan ruwah. Acara umumnya adalah pergi ke makam.

Ada beragam cara untuk melaksanakan nyadran. Umumnya orang menyempatkan diri pergi ke makam keluarganya. Mereka membersihkan makam dan berdoa. Kadang disertai tabur bunga atau bahkan ada yang membakar kemenyan.

Di Yogyakarta, rasanya juga di beberapa tempat lain, umum orang membuat apem pada saat nyadran. Menurut tradisi, keluarga tidak boleh pergi ke makam sebelum membuat apem. Sebenarnya tidak hanya apem yang dibuat, namun juga nasi ketan dan kolak ketela. Sebagian apem diberi lapisan daun dadap srep. Para warga dapat membuat sendiri-sendiri di rumah. Namun karena dianggap repot–dan tidak setiap orang biasa membuat apem, di samping mungkin tidak memiliki wajan khususnya, maka beberapa kampung mengorganisir warganya untuk membuat apem bersama. Lebih praktis lagi, orang dapat memesan atau membeli apem di pasar. Maka, penjual apem yang terkenal itu di Pasar Ngasem, hari-hari ini kebanjiran order. Orang harus mengantri cukup panjang di depan lapaknya untuk mendapatkan apem.

Mengapa apem? Saya gelagepan juga ditanya sewaktu menghadiri acara ngapem. Saya tahu bahwa ada yang menghubungkan istilah ketan, kolak, dan apem, dengan kata-kata arab, namun saya pikir itu hanya karena dicari penafsirannya. Mungkin makanan-makanan itu sudah ada jauh sebelum mendapatkan pengaruh arab. Apem, misalnya, mungkin merupakan makanan impor kita dari india selain martabak karena di sana terdapat dijumpai makanan yang mirip dan bernama appam!

***

Salah satu acara nyadran yang saya saksikan, di sebuah desa, dimulai pukul 09.00 tepat. Acara diawali dengan pembacaan ayat suci al Quran, diikuti sambuatan kepala dusun sebagai wakil panitia. Acara ‘dihentikan’ sejenak karena panitia membagikan minum dan nasi kotak. Setelah selesai makan, kira-kira, sambutan dilanjutkan oleh Pak Camat. Kemudian, pengajian oleh kyai setempat yang dimulai kira-kira pukul sepuluh pagi dan memakan waktu kurang lebih setengah jam. Setelah itu, dilaksanakan acara inti yaitu tahlil yang dipimpin oleh kyai setempat yang lain. Tahlil diakhiri pukul 10.40 disusul dengan pembagian keranjang berisi makanan kepada para seluruh hadirin bahkan anak-anak yang berkerumun. Sebaga akhir acara, pak kyai yang tadi membaca doa.

Sebelumnya, para warga telah datang sejak pagi, boleh jadi sebelum jam delapan. Mereka tidak hanya warga setempat namun juga dari desa lain. Beberapa juga merupakan undangan khusus. Mereka yang datang membawa uang sumbangan yang diberikan kepada panitia–ada meja penerima sumbangan. Yang datang kadang juga membawa keranjang berisi makanan ‘standar’, atau kardus berisi makanan kecil. Mereka yang membawa makanan ini akan diberi kembali satu keranjang makanan. Umumnya mereka membawa lebih dari satu keranjang, biasanya tiga. Keranjang-keranjang inilah yang akan dibagikan kepada hadirin.

sekti-keranjangnyadran

Makanan di dalam keranjang. Di bagian bawah keranjang terdapat nasi dalam jumlah yang cukup banyak.

Makanan untuk isi keranjang ini seperti umumnya masyarakat di tempat tersebut menyiapkan makanan untuk berbagai keperluan seperti kenduri dan ater-ater. Nasi, daging ayam, peyek-krupuk, tempe kemul, jangan kentang, jajan pasar, dan sebangsanya.

Panitia juga membagikan keranjang makanan kepada orang-orang tertentu, umumnya orang terpandang di masyarakat. Keranjang ini langsung diantar ke rumah. Konon makanan keranjang yang untuk ‘punjungan’ itu dipesan secara khusus sehingga isinya lebih ‘baik’.

***

Pak kyai tadi menekankan nilai religi dari acara nyadran ini, juga masalah kontroversi yang berkembang di masyarakat. Namun hal-hal itu tidak menjadi fokus perhatian saya kali ini.

Saya mencoba mengamati dari sisi lain. Yang pertama menarik bagi saya adalah kenyataan bahwa para warga mengenakan pakaian terbagus mereka. Bahkan, rasanya hanya saya yang bersendal jepit meski sudah kuusahakan agar tidak mengenakan sandal seperti yang bermerek swallow. Agak bagus dikit, karena akan bertemu dengan orang lain dalam situasi agak formal.

Berangkat dari itu, saya melihat nyadran juga bernilai ekonomi dan sosial. Dari sisi ekonomi, nyadran membuat seluruh warga berbelanja sejumlah bahan makanan demi dapat membawa tiga keranjang makanan ke makam. Masing-masing keranjang dapat berharga 15-20 ribu rupiah. Belum lagi terdapat acara makan bersama sehingga masing-masing rumah tangga mendapat jatah untuk membuat beberapa kardus makanan berat.

Tetangga saya pun panen pada bulan ruwah seperti ini, karena ia berjualan keranjang bambu.

Nilai ekonomi juga terlihat dari sumbangan yang diberikan oleh warga, di tempat penyelenggaraan–karena sebagian sumbangan juga sudah dikeluarkan dan dikelola oleh warga untuk penyelenggaraan. Pada acara kali ini terdengar diumumkan bahwa sumbangan mencapai delapan juta rupiah.

Nyadran juga sering membuat adanya perjalanan mudik. Mudik saat nyadran sering kali tidak dapat ditawar dan warga di perantauan merasa harus melakukannya di samping mudik lebaran. Meski tidak seheboh mudik lebaran, mudik saat nyadran pun dapat bermakna ekonomi bagi warga. Mereka yang mudik dari kota sering mendatangkan tetes rupiah pada keluarga atau warga desa.

***

Nilai sosial terlihat dari kehadiran semua warga ke kompleks makam, bahkan warga dari desa lain dan para tetamu undangan. Pada jalan masuk ke tempat acara, berderet para tokoh masyarakat menyambut tamu. Di samping ucapan selamat kepada penyelenggara dan warga pada umumnya, Pak camat berpidato tentang program dari instansinya juga menghimbau akan kerukunan warga.

Nyadran keluarga, yang diselenggarakan oleh keluarga, pun, dapat merekatkan hubungan sosial. Orang kemudian tahu silsilah keluarga. Pada saat nyadran seorang kolega saya bertemu dengan saudaranya yang belum dikenal karena mendatangi makam yang sama. Dan mereka yang mudik tadi, akan menjalin lagi tali temali persaudaraan dengan keluarga besarnya yang mungkin telah lama terpisah.

***

Begitu (dulu). [z]

ke atas

969 total views, no views today

Manten

Sering kita menghadiri undangan perkawinan, namun sebenarnya yang kita hadiri hanyalah resepsinya. ‘Upacara’ perkawinan memang terlihat difokuskan kepada penerimaan tamu (resepsi), yang kadang hingga mengundang ribuan orang. Rangkaian upacara lain tidak dirayakan, dan biasanya hanya dihadiri oleh kerabat dan teman dekat.

Ritus perkawinan juga mengalami perubahan dari masa ke masa, terutama pada bagian ‘kembangan’, bukan pada perkara inti yang terdiri atas lamaran dan akad nikah. Maka mencatat tatacara perkawinan berdasar apa yang dilakukan masyarakat dan bukan berdasar buku pakem, dapat menjadi hal yang perlu dilakukan.

***

Menurut apa yang saya amati, masyarakat (Jawa, muslim) membuat serangkaian ritus perkawinan itu mulai dari lamaran hingga ngundhuh mantu. Beberapa minggu yang lalu saya diundang saudara untuk menghadiri acara lamaran. Pihak laki-laki, yang kebetulan berasal dari luar Jawa, datang ke rumah pihak perempuan. Seorang wakil keluarga, berbicara kepada pihak perempuan bahwa ‘apabila belum ada pembicaraan dengan pihak lain, maka keluarga pihak laki-laki akan melamar putri …’. Karena si anak laki-laki tersebut sudah berpacaran beberapa lama dengan anak perempuan yang punya rumah, dan mestinya sudah diperkenalkan dengan baik kepada keluarga, maka lamaran pun diterima.

Acara dilanjutkan dengan tukar cincin (disebut ‘tukar’ meski rasanya mereka hanya saling memasangkan cincin yang diambil dari wadah yang sama), foto bersama, dan kemudian makan bersama. Perkara tukar cincin ini, konon tidak dilakukan dalam gaya Yogyakarta. Atau, bahkan tidak dilakukan dalam adat Jawa dan diduga merupakan pengaruh Eropa.

Secara informal maupun formal, kedua keluarga kemudian membicarakan hari pernikahan, syarat-syaratnya, dan sebagainya. Keluarga kemudian sibuk mengurus pernak-pernik pernikahan, seperti undangan, suvenir, katering, gedung, dan pakaian baik untuk pengantin, orang tua, maupun keluarga lain. Tetangga dan teman dekat akan dilibatkan dalam kegiatan dengan diadakan rapat khusus yang di Solo disebut dengan kumbokarnan. Entah kenapa acara itu disebut dengan nama ksatria dari Alengka, Kumbokarno.

• Tentang suvenir, baca di sini.

Surat-surat kemudian diurus ke kantor KUA di tempat pihak perempuan berada. Tidak hanya surat-surat, calon pengantin perempuan pun harus imunisasi ke puskesmas. Kedua calon pengantin kemudian melakukan semacam penataran, atau dinasehati perkara perkawinan, di kantor KUA oleh petugas. Biasanya acara ini dilakukan bersamaan dengan pasangan calon lain. Namun, bersamaan dengan saya dahulu ada seorang laki-laki yang akan menikah lagi sehingga pasangan itu diberi nasihat tambahan secara terpisah.

***

Sehari sebelum tanggal pernikahan, kadang diadakan upacara siraman, yaitu memandikan calon pengantin. Tempat siraman berada di rumah masing-masing, meski dapat juga pihak laki-laki numpang di tempat perempuan. Salah satu alasannya menumpang tersebut misalnya adalah karena rumah jauh, padahal nanti akan dibawakan air dari pihak perempuan untuk dicampur pada air yang akan digunakan untuk memandikan calon pengantin laki-laki. Orang tua calon pengantin memandikan, diikuti oleh para tetua atau orang-orang yang dihormati.

Bersamaan dengan itu, tuan rumah menghiasi tempat yang akan digunakan untuk upacara keesokan harinya. Secara simbolis diadakan acara memasang bleketepe, yaitu sebangsa papan anyaman daun kelapa, di depan pintu rumah atau pendapa. Pemasangan tersebut dilakukan oleh orang tua calon pengantin perempuan. Tentu karena acara diselenggarakan di tempat pihak perempuan. Namun, Pak Jokowi konon juga memasang bleketepe di rumahnya ketika menikahkan putranya.

Pada malam harinya diselenggarakan upacara midodareni di rumah calon mempelai perempuan. Biasanya upacara ini disertai dengan upacara lain, seperti menyerahkan paningset (srah-srahan), dan tantingan. Jika masih ada kakak perempuan yang belum menikah maka diadakan upacara langkahan. Di wilayah Solo bahkan juga diserahkan calon pengantin laki-laki. Di wilayah tersebut juga diselenggarakan ‘nebus kembar mayang‘. Acara tersebut dilakukan dengan dialog dan tembang.

Namun, sekarang banyak yang mengganti upacara midodareni dengan pengajian.

Eh, kadang acara lamaran tidak diselenggarakan jauh-jauh hari, namun menjadi rangkaian acara pernikahan. Hal ini seperti dilakukan oleh Pak Jokowi yang akan menikahkan anaknya di Solo itu. Ia melamar dua hari sebelum akad nikah. Lamaran atau disebut tembungan itu dilakukan dengan mendatangi kediaman calon mempelai perempuan. Karena persiapan untuk keseluruhan acara sudah mendekati seratus persen, maka lamaran ini terlihat hanya formalitas. Mestinya sudah ada pembicaraan di antara kedua keluarga.

***

Pagi harinya, sesuai dengan waktu yang dianggap tepat, dilakukan akad nikah. Pada dasarnya, orang tua calon pengantin perempuan menikahkan anaknya kepada calon pengantin laki-laki. Dua orang saksi, satu dari pihak laki-laki dan satu dari pihak perempuan akan menyaksikan akad ini. Seorang petugas negara dari Kantor Urusan Agama akan mencatat peristiwa tersebut dan memberi buku nikah yang berisi kutipan akta nikah.

Tempat akad nikah seringnya adalah di rumah perempuan. Kadang, acara tersebut tidak diselenggarakan di rumah melainkan harus pergi ke KUA, atau ke masjid di dekat rumah, atau masjid yang terkenal. Terkadang juga dilakukan di tempat akan diadakannya resepsi, mungkin demi praktisnya.

Acara berikut adalah panggih. Mempelai perempuan yang tidak hadir dalam upacara akad nikah, akan dipertemukan untuk pertama kali dengan pengantin laki-laki. Upacara tersebut dilakukan di pendapa. Setelah itu diadakan acara di dalam rumah, atau dalem, yaitu kacar-kucur, dan kembul. Ada upacara ‘timbangan’ juga, yaitu ayah mempelai perempuan memangku kedua mempelai dan berkata: beratnya sama. Saya tidak tahu apakah hanya gaya Solo atau Jogja juga menyelenggarakan upacara timbangan ini.

Jika pengantin perempuan adalah anak terakhir yang akan dinikahkan dalam keluarganya, kadang diadakan upacara tumplak punjen. Ibu pengantin akan memberikan berbagai peralatan dapur kepada para tamu.

Acara biasanya sudah dihadiri pihak keluarga. Acara berikutnya adalah makan bersama, atau di kraton disebut dengan dhahar klimah. Yang menarik adalah bahwa acara makan tersebut diselenggarakan di Kesatriyan, yang menjadi tempat tinggal pengantin baru di kompleks kediaman para pangeran laki-laki.

Setelah itu baru acara resepsi. Tamu-tamu datang menyalami kedua pengantin dan keempat orang tua yang berdiri di depan pintu rumah (dalem).

Kadang upacara seharian yang cukup panjang ini diringkas, meski sering kali akad nikah tetap disendirikan. Hal ini terutama dalam resepsi dengan pesta duduk. Tetamu yang datang akan juga mengikuti seluruh rangkaian upacara, dari panggih hingga selesai, yang memakan waktu hingga dua jam. Makan bagi tetamu disampaikan dengan cara ‘piring terbang’ atau ‘usdek’. Sering juga dipentaskan organ tunggal dengan penyanyi setempat.

***

Akhir dari rangkaian acara panjang ini adalah boyongan. Pada hari yang sama atau menunggu beberapa hari kemudian, pengantin diboyong ke pihak laki-laki dalam acara acara ngundhuh mantu. Pada salah satu acara semacam itu di wilayah Kabupaten Magelang, pertangahan 2015 yang lalu terdapat acara pasrah-tampa dan nasihat dari penceramah agama. Sebagaimana umumnya, resepsi untuk tetamu pada acara tersebut dilakukan secara usdek.

• Tentang pidato, silakan tengok Mantra.

Begitu. Tentu banyak ragam tatacara pernikahan di antara masyarakat yang menjadi kekayaan budaya. [z]

ke atas

984 total views, 1 views today

Esem menteri

Terdapat pameo Jawa: esem mentri, semu bupati, dupak bujang, seblak jaran. Mungkin dulu kata-kata ini ditujukan untuk menggambarkan bahwa dalam berkomunikasi kita perlu menyesuaikan dengan target komunikasi kita. Seorang menteri cukup diberi esem, atau senyum, dan ia akan tahu apa yang dimaksud. Pada kutub yang berseberangan, seekor jaran, yaitu kuda, harus di-seblak, atau dipukul dengan cemeti agar tahu apa yang harus diperbuat.

***

Mengamati perkembangan desain jalan-jalan yang sering saya lewati, membuat saya teringat kepada pameo di atas. Dulu ada jalan yang tidak memiliki marka, orang tahu bahwa jika berjalan harus di kiri. Kemudian diberi marka yang menandakan bahwa mereka tidak boleh melewati garis. Sekarang, marka dan segenap tanda yang simbolik itu tidak lagi mempan. Pengelola jalan menambahkan bangunan pemisah atau devider berupa pagar rendah di bagian tengah jalan. Pagar itu diperlukan untuk memaksa pengendara agar tidak berjalan di sisi yang salah.

Beberapa jalan di pemukiman menambahkan ‘polisi tidur’ untuk memaksa agar pengendara melambatkan kendaraan. Atau sebenarnya tidak peduli apakah pengendara melambatkan kendaraan, yang penting kendaraan melambat. Kita sekarang sudah senang berkendara dengan cepat meski di tengah pemukiman ramai. Bahkan, di tempat yang sedang ada upacara (layatan, hajatan) yang terpaksa menggunakan sebagian jalan pun kendaraan berlalu lalang seperti biasa.

Apakah kita sudah jatuh ke level jaran, yang harus diseblak agar tahu apa yang harus, atau harus tidak, dikerjakan? [z]

ke atas

516 total views, 1 views today

Nama anak

Si gendhuk saya yang kelas dua sekolah dasar sedang belajar dibantu ibunya. Kali ini yang dipelajarinya adalah nama-nama anak binatang dalam bahasa Jawa. Berkali-kali ibunya, yang orang kota itu, bertanya kepada saya, yang orang desa, tentang nama-nama anak binatang. Maklum, mereka, atau kami, sekarang tidak lagi menggunakan nama tersendiri untuk nama anak binatang. Biasanya disebut ‘anak cecak’, anak sapi, anak kerbau, atau anak ayam dan anak bebek.

“Anak gajah jenenge …”

Meskipun dalam LKS, buku yang digunakan untuk belajar tersebut, disebut dengan jeneng, ‘nama’, akan tetapi yang dimaksud bukan nama diri melainkan nama jenis. Dalam bahasa Jawa yang lain (Surakarta?) disebut dengan aran yang kurang lebih bermakna ‘sebutan’ dalam bahasa Indonesia.

***

Orang Jawa dahulu sangat rinci memberikan identitas pada masing-masing binatang yang antara lain dibagi sesuai dengan usia. Dugaan awam saya dalam hal ilmu bahasa, hal itu menyatakan pentingnya binatang menurut kelompok usia. Mereka akan memberi perlakuan berbeda antara pedhet dan sapi, antara belo dan jaran, ‘kuda’. Atau, pedhet dan sebangsanya merupakan komoditas yang berbeda dari sapi dan binatang dewasa lain, dengan harga yang berbeda …

Barangkali pentingnya identifikasi itu seperti perlunya kita menggolongkan mana flash disk, mana disket, mana hardisk …

Cuma herannya, mengapa juga memberi identitas tersendiri kepada anak cicak. Seingat saya, saya tidak pernah mendengar orang menyebut nama ‘sawiyah’. Saya mendengarnya dalam pelajaran bahasa Jawa beberapa puluh tahun lalu di sekolah dasar. Juga tidak terlihat adanya keperluan orang Jawa terhadap si sawiyah ini. Mungkin dahulu pernah penting, tetapi sejak beberapa puluh tahun lalu sudah tidak lagi mendapat tempat, kecuali pada pelajaran bahasa Jawa …\1

***

“Anak kodhok apa, Pak?” terdengar istri saya bertanya dari ruang sebelah. Wadhuh. Setelah menetas dari telur, anak katak disebut cebong, sementara setelah bermetamorfosis menjadi katak kecil disebut precil. Yang mana? [z]

ke atas

Catatan Kaki
  1. Menarik juga, mengapa pelajaran bahasa Jawa selalu mencantumkan pertanyaan tentang ‘sawiyah’ yang tidak banyak digunakan itu … ^

406 total views, no views today