Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Tag: jalan

Wisata & Jalan


tambal ban
Wisata dan jalan-jalan, bagi saya rasanya sama saja. Istilah “jalan-jalan” sering digunakan untuk menggantikan pengertian yang mirip dengan kata “wisata”. Sementara, salah satu syarat dari wisata adalah: jalan-jalan di luar tempat tinggal. Berwisata berarti juga mesti menggunakan jalan, baik sebagian maupun nyaris seluruhnya.

Jalan dapat diartikan sebagai mlaku dalam bahasa jawa. Berjalan. Dalam hal ini, ada kecenderungan pengelola kota sekarang sedikit menjauhkan parkir dari objek wisata. Maka, pengunjung harus sedikit berjalan dari tempat parkir menuju ke objek. Banyak alasan yang dikemukakan, dugaan saya alasan utamanya adalah mengatur pengunjung agar menjadi lebih nyaman: lahan luas untuk parkir sulit ditemukan di sekitar ODTW. Kemudian dibuatlah perencanaan tata ruang wisata, yang menggunakan gagasan bahwa dengan parkir sedikit jauh maka wisatawan akan berjalan kaki ke objek dan di sepanjang jalan mungkin mereka akan berbelanja. Atau mereka akan menggunakan kendaraan setempat. Maka, diharapkan para wisatawan lebih banyak mengucurkan rupiahnya kepada sektor ekonomi lokal.

Wisata memang [masih] identik dengan ekonomi.

***

Apa masalah dengan menambah panjang jalan wisatawan dari tempat parkir ke objek wisata? Mungkin masalah utamanya adalah wisatawan mengucurkan lebih banyak rupiah juga mengucurkan lebih banyak keringat. Ongkos menjadi lebih mahal, dan durasi kunjungan semakin lama. Dilihat dari sisi pengelola kawasan hal ini barangkali memang diharapkan. Namun dari sisi wisatawan, boleh jadi hal ini akan mengurangi minat berkunjung. Mereka akan ‘awang-awangen’, malas untuk berjalan kaki dari tempat parkir ke objek wisata. Mungkin mereka diburu waktu, atau memang tipe orang kita adalah lebih suka ‘turun di depan pintu’. Lihat, halte-halte kita biasanya sepi dari kegiatan turun-naik penumpang kendaraan umum karena kita lebih suka turun di tempat yang sangat dekat dengan tujuan.

Faktor aksesibilitas memang penting bagi satu ODTW, selain akomodasi dan atraksi. Para ahli dan praktisi pariwisata menyebutnya sebagai 3A. Kemudahan untuk mencapai satu tujuan, baik secara literal maupun psikologis, akan mempengaruhi keputusan wisatawan (atau para operatornya) untuk berkunjung.

***

Di Yogyakarta sudah lama muncul gagasan untuk menghentikan bis wisatawan di luar benteng. Taman parkir Ngabean dan Senopati menjadi sebagian lahan untuk tempat parkir bagi wisatawan. Entah kenapa, upaya ini tidak terlaksana dengan baik untuk waktu yang sangat lama. Namun, sekitar awal Desember 2014 diluncurkan kendaraan shuttle untuk beberapa tempat di njeron beteng dan malioboro. Pengunjung harus turun dari kendaraan mereka di tempat parkir yang ditentukan dan dapat berganti dengan kendaraan ini, atau memilih moda lain seperti becak. Jika mau, mereka juga dapat berjalan kaki karena sebenarnya objek-objek wisata tidak terlalu jauh.

Apakah wisatawan ke kawasan njeron beteng sepi dengan pelarangan masuk bis-bis wisata? Entah. Akhir tulisan ini hanya akan melihat prospek wisata dengan ‘terpaksa’ berjalan kaki ini bagi perkembangan wisata.

Beberapa hari yang lalu saya melihat beberapa remaja dengan gembira melangkahkan kaki di Perempatan Gerjen menuju selatan. Mungkin mereka akan ke Pasar Ngasem atau Tamansari. Saya juga tidak tahu pasti apakah mereka terpaksa turun dari bis rombongan di Taman Parkir Ngabean. Namun, beberapa di antara mereka membawa kamera SLR, bukan sekedar kamera poket atau HP, pertanda keseriusan mereka.

Melihat mereka, saya optimistis dengan ‘wisata jalan’ ini. Di samping mengurangi keruwetan lalu lintas di kawasan objek wisata, dengan berjalan kaki maka wisatawan akan lebih melihat banyak hal. Mereka dapat bertemu penduduk, para penjaga kios, tukang becak, pedagang, dan sebagainya. Interaksi dapat muncul dengan lebih intens, sehingga mereka akan lebih banyak mendapatkan sesuatu, yang intangible. Barangkali akan terjadi juga kesepahaman di antara orang luar dan orang lokal, yaitu antara para wisatawan dan penduduk.

Wisata seperti ini mirip dengan gagasan tentang ekowisata dan wisata minat khusus yang disarankan oleh para ahli melihat apa dampak pariwisata akhir-akhir ini. Wisata massal tidak dianggap cocok lagi. Wisata dalam kelompok kecil, memperhatikan lingkungan baik alam maupun budaya, mempelajari dengan serius, serta berpartisipasi dalam pelestariannya, dianggap lebih baik untuk dikembangkan.

Maka, berjalan kaki dan moda-moda pergerakan yang ‘slow’ lain dari para wisatawan akan lebih baik.

***

Untuk itu perlu persiapan lebih banyak bagi ODTW. Jalan-jalan pedestrian perlu ditata dengan lebih baik, lengkap dengan petunjuk-petunjuk dan tempat-tempat yang dapat dikunjungi, atau menarik untuk dilihat di sepanjang jalan. Trotoar harus nyaman untuk pejalan kaki, tidak dihabiskan untuk berdagang, parkir, atau pot bunga.

Dalam hal konten, sepanjang pedestrian dari parkiran ke ODTW mestinya nantinya tidak hanya dipenuhi oleh pedagang benda-benda suvenir bagi para turis. Rasanya hal-hal yang ‘asli’ bagi penduduk kawasan tersebut perlu dipertahankan, misalnya adalah kios-kios atau warung yang melayani kebutuhan masyarakat sekitarnya. Wisatawan juga akan dapat menikmati sajian visual lokal, baik keseharian penduduk, kios dan pasar dagangan lokal, atau bangunan-bangunan unik setempat. Jika tidak, tampilan baru seperti mural dapat juga menjadi daya tarik.

Jika pengaturan ini tidak segera diadakan, mungkin sepanjang jalan akan seragam semua: berjual kaos sablon atau batik printing untuk wisatawan. Maka, keunikan setempat akan hilang, dan wisatawan hanya akan menemui produk turistik baik secara visual maupun material. Aspek intangible, cerita dan gagasan setempat tidak tersampaikan. [z]

ke atas

914 total views, no views today

Esem menteri

Terdapat pameo Jawa: esem mentri, semu bupati, dupak bujang, seblak jaran. Mungkin dulu kata-kata ini ditujukan untuk menggambarkan bahwa dalam berkomunikasi kita perlu menyesuaikan dengan target komunikasi kita. Seorang menteri cukup diberi esem, atau senyum, dan ia akan tahu apa yang dimaksud. Pada kutub yang berseberangan, seekor jaran, yaitu kuda, harus di-seblak, atau dipukul dengan cemeti agar tahu apa yang harus diperbuat.

***

Mengamati perkembangan desain jalan-jalan yang sering saya lewati, membuat saya teringat kepada pameo di atas. Dulu ada jalan yang tidak memiliki marka, orang tahu bahwa jika berjalan harus di kiri. Kemudian diberi marka yang menandakan bahwa mereka tidak boleh melewati garis. Sekarang, marka dan segenap tanda yang simbolik itu tidak lagi mempan. Pengelola jalan menambahkan bangunan pemisah atau devider berupa pagar rendah di bagian tengah jalan. Pagar itu diperlukan untuk memaksa pengendara agar tidak berjalan di sisi yang salah.

Beberapa jalan di pemukiman menambahkan ‘polisi tidur’ untuk memaksa agar pengendara melambatkan kendaraan. Atau sebenarnya tidak peduli apakah pengendara melambatkan kendaraan, yang penting kendaraan melambat. Kita sekarang sudah senang berkendara dengan cepat meski di tengah pemukiman ramai. Bahkan, di tempat yang sedang ada upacara (layatan, hajatan) yang terpaksa menggunakan sebagian jalan pun kendaraan berlalu lalang seperti biasa.

Apakah kita sudah jatuh ke level jaran, yang harus diseblak agar tahu apa yang harus, atau harus tidak, dikerjakan? [z]

ke atas

472 total views, no views today

Jalan buntu

Sekelompok teman-teman saya punya kebiasaan unik. Setiap pergi ke luar negeri, mereka selalu mencari tanda “Jalan Buntu” dalam bahasa lokal, dan mempostingnya dalam grup di fb. Seorang teman memulai ketika pergi ke Italia dan mengunggah foto tanda jalan buntu di negeri pizza dan Pisa tersebut. Keterangan yang ia berikan cukup sederhana tetapi menggelitik kami yang kala itu sedang suntuk belajar bahasa asing: “Ini artinya ‘jalan buntu’.”

Akan tetapi, ternyata tidak mudah mencari tanda ini di tempat-tempat yang saya kunjungi. Setelah hampir setahun mencermati tanda-tanda lalu lintas di Belanda (ehm, tidak setiap hari juga menthelengi papan lalu lintas), barulah saya menemukannya. Eureka!

doodlopende weg

*

Ada beberapa kemungkinan penyebab mengapa tanda ini susah saya temukan. Kemungkinan pertama, orang Belanda tidak menyukai jalan buntu, yang sering kita buat karena dapat menghindarkan lingkungan dari ramainya lalu lintas. Sebagai contoh, umumnya jalan di Amsterdam terhubung satu dengan lainnya, di kedua ujung. Orang akan dapat dengan mudah berpindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa khawatir tersesat.

Jika menghindari jalan buntu memang bukan kebiasaan orang Belanda dalam membangun kota, maka saya bayangkan dinas tata kota sangat kuat dalam mengatur kota. Barangkali mereka tidak mengizinkan para pengembang (jika ada) membuat jalan buntu dengan alasan-alasan yang kuat.

Kemungkinan kedua, mereka tidak suka atau tidak merasa perlu memasang tanda “jalan buntu”. Begitu saja. [z]

511 total views, no views today