Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Tag: jakarta

Waspada Banjir

Sepanjang hari ini, 17 Januari 2013, banjir di Jakarta terlihat memuncak. Pak Jokowi meninjau Bunderan HI yang tergenang dengan naik gerobak\1 dan menyatakan situasi tanggap darurat. Presiden SBY beserta menlu menggulung celana ketika meninjau kondisi istana yang juga terendam dan penerimaan presiden Argentina ditunda.\2

Seorang kakak ipar mengunggah ke facebook foto-foto halaman rumahnya yang diluapi air. Melihat kondisi tersebut, saya bayangkan jalan di luar kompleks tempat ia tinggal mestinya ‘mendadak sungai’ sedalam setengah meter.

Telah jatuh kerugian harta benda hingga korban jiwa\3 akibat bencana banjir di Jakarta ini. Meskipun demikian terlihat sebagian warga menikmati: yang warga kampung sekitar berdatangan nonton banjir di Bunderan HI, yang anak-anak, bahkan bule, numpang berenang gratis.\4

*

Terlihat di running text salah satu stasiun televisi bahwa Gubernur Jokowi mengharap warga untuk waspada.

Tidak ada salahnya untuk waspada dan tetap waspada meski banjir sudah melanda. Sebagian dari bentuk kewaspadaan itu adalah bersiap untuk menghadapi banjir berikut yang konon masih mungkin mengancam dalam waktu dekat, atau sekadar membiasakan diri untuk senantiasa siaga menghadapi bencana.

Berikut apa yang terpikir, terutama untuk yang masih berkesempatan untuk bersiaga:

  • Pantau keadaan. Radio dan televisi merupakan perangkat penting untuk memantau keadaan. Alangkah baiknya jika memiliki radio dengan baterai tersendiri sehingga tidak tergantung kepada aliran listrik di rumah
  • Siagakan alat komunikasi. Pastikan baterai hp terisi. Periksa pula pulsa mencukupi meski sering ada penyedia layanan yang menggratiskan komunikasi pada wilayah bencana. Pembelian pulsa secara daring atau lewat SMS cukup memudahkan dalam situasi semacam ini.
  • Siapkan lampu darurat. Listrik dapat mati kapanpun akibat banjir, atau akibat kerusakan gardu seperti yang terjadi semalam di Cawang.
  • Siapkan bahan makanan/minuman cadangan. Ada kemungkinan jalan terendam atau toko tutup sehingga akan kesulitan mendapatkan bahan makanan untuk beberapa waktu. Perhatikan kebutuhan kelompok rentan, seperti anak-anak, orang sakit, orang hamil, atau orang tua.
  • Periksa juga persediaan obat-obatan, baik obat darurat (P3K) atau obat tertentu yang semestinya dikonsumsi anggota keluarga secara rutin.

[z]

ke atas

Baca juga

Pranala luar

Catatan Kaki
  1. http://www.tempo.co/read/news/2013/01/17/083455079/Jokowi-Naik-Gerobak-Pantau-Banjir-Bundaran-HI ^
  2. http://www.tempo.co/read/news/2013/01/17/078455074/Istana-Banjir-SBY-Gulung-Celana ^
  3. http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/13/01/17/mgrkp2-ini-dia-lima-korban-tewas-akibat-banjir-jakarta ^
  4. http://megapolitan.kompas.com/read/2013/01/17/18345196/Dua.Bule.Kegirangan.di.Tengah.Banjir ^

359 total views, 1 views today

Paseban

Akhir bulan November 2012 yang lalu gubernur DKI mengunjungi Pasar Paseban, Jakarta Pusat. Beliau menemukan banyak toko yang kosong, tidak dioperasikan, di pasar kecil ini.

*

Paseban tidak asing bagi telinga saya. Dalam arkeologi Islam, ‘paseban’ merupakan bangunan kecil yang terletak di bagian depan suatu kompleks milik kerajaan, digunakan oleh pengunjung yang datang menghadap.

Nama ‘Paseban’ juga saya kenal dari lagu jazzy lantunan Dian Pramana Putra. Di akhir dasawarsa ’80-an ia mengeluarkan album “Biru” yang di dalamnya terdapat satu lagu berjudul “Paseban Café”.\1

Melangkah tanpa beban rasa
Di sudut, angan kelabu yang ada
Bersama, suka dan duka
Hadirnya kita duduk bersama

*

Pasar Paseban sendiri cukup akrab bagi saya pada suatu kurun tertentu. Pasar ini memiliki dua ‘mulut’, satu menghadap ke Jalan Paseban, sementara mulut lain berada di Jalan Kramat Raya, di sebelah selatan pertokoan alat teknik dan listrik “Kenari Mas”.

Di sisi Jalan Paseban terdapat pertokoan dua lantai. Di bagian bawah terdapat toko-toko emas, sementara di lantai atas entah apa yang ada. Saya tidak pernah naik ke tempat tersebut. Di belakangnya terdapat pasar tradisional tempat berjual sayuran dan sebangsanya. Pada bagian ini terdapat lorong ke arah Jalan Kramat Raya yang didominasi oleh kios-kios pedagang pakaian.

Pada waktu itu setidaknya sehari dua kali saya melintasi Pasar Paseban. Di pagi hari, saya melintas sewaktu pergi ke kompleks UI di dekatnya. Bau pasar sangat khas, terlebih bagian yang saya lewati adalah deretan penjual daging ayam dan ikan untuk konsumsi. Di sore hari ketika saya melintasi lagi untuk pulang ke daerah Kramat Lontar, pasar sudah tutup dan jualan sudah dibersihkan dari meja. Para pedagang yang tinggal di situ beristirahat di atasnya.

*

Di malam hari, pasar menjadi meremang tanpa penerangan yang cukup. Kadang saya melintas lagi untuk menikmati semangkok soto lamongan atau pecel lele di satu warung tenda di depan pasar. Atau ‘nasi goreng gila’ di warung tenda seafood yang terletak agak ke selatan, di sebelah gerobak penjual sate kambing. Di seberang pasar terdapat penjual nasi rames dan gerobak ayam goreng tepung.

Di kawasan seputar Pasar Paseban ini banyak penjual makanan, baik di siang maupun malam hari. Lucunya, ada satu warung yang berganti hingga dua kali sepanjang hari. Di pagi hari seorang tante menjual bubur ayam. Pada pukul sepuluh siang berganti mbak-mbak penjual mi ayam dan sebangsanya. Malam hari, seorang ibu menyediakan ayam goreng di warung tersebut. Efisiensi tempat yang sangat baik di tengah mahalnya ruang di ibukota.

*

Masih terdengar lantunan Dian Pramana Poetra dari youtube, yang susah payah kuikuti dengan lidah berlipat:

Kau semakin terbawa
Dalam heningnya suasana
Ayu malam
Hatiku dan hatimu kini luang
Untuk mencapai cita
Untuk menggapai cinta
Cintaku di Paseban Café

[z]

ke atas

Catatan Kaki
  1. Mulanya saya pikir Dian PP menyanyikan satu kafe di wilayah Paseban Jakarta Pusat. Tetapi, sohib saya, Mbak Naning, memberitahu bahwa kafe ini boleh jadi adalah “Paseban Bar” yang dahulu berada di Hotel Panghegar, Bandung. ^

1,649 total views, no views today

Sedia Ransel sebelum Hujan

Aah… Nya’ banjir!
Jakarta kebanjiran, di Bogor angin ngamuk
Ruméh ané kebakaran garé-garé kompor meleduk
Ané jadi gemeteran, wara-wiri keserimpet
Rumah ané kebanjiran gara-gara got mampet

“Kompor Mleduk”. Benjamin S., 1970.


Jakarta kelihatannya terancam kebanjiran lagi, meskipun Pak Jokowi sudah blusukan hampir setiap hari.\1 Dua tahun lalu, saya merasakan akibat banjir\2 di Jakarta itu. Jarak yang biasanya ditempuh selama empat puluh menit, dengan transjakarta plus jalan kaki, molor hingga lima setengah jam!

Jika gubernur sudah memikir yang makro–lingkup provinsi dan koordinasi dengan wilayah lain–kita perlu memikir juga tingkat pribadi. Salah satunya adalah dengan persiapan yang baik jika akan bepergian–dengan angkutan umum–agar tidak sengsara.

Ransel yang dapat dibawa sehari-hari rasanya cukup tepat untuk bersiap-siap menghadapi alam yang tak mau kompromi. Ransel dengan berbagai kantong di luar cukup pas untuk keperluan ini, agar kita tidak perlu membuka kantong utama untuk mencari barang tertentu.\3 Ransel dengan raincover akan lebih menghindarkan isi dari basah dan lebih mengamankan dari tangan jahil.

Artefak isi ransel

Berikut beberapa benda yang dapat menjadi isi ransel ‘siaga hujan’, untuk para commuter penumpang kendaraan umum seperti transjakarta.

  • Botol tentu dengan air minum isinya. Meski naik bis di Jakarta dan bukan naik unta di gurun, kita bisa saja dehidrasi. Oleh karena itu, siapkan air minum yang mudah dibawa. Letakkan di kantong samping ransel agar mudah dijangkau. Lalulintas sering macet, apalagi jika hujan dan kemudian banjir. Tidak setiap halte transjakarta terdapat mesin penjual minuman.
  • Payung atau jas hujan. Terutama jika kita harus berjalan dari angkutan umum ke kantor atau rumah dan sebaliknya. Tepat kata pepatah: “Sedia payung sebelum hujan.”
  • Sandal jepit. Benda ini berguna jika terpaksa harus berjalan di genangan air. Sayang, kan sepatu kita (itu jika kita mengenakan sepatu, lho). Atau sejak awal kita sudah mengenakan sepatu karet, seperti merk yang populer itu. Benda berguna ini kadang dijual di jembatan transjakarta. Tetapi, sebaiknya memang selalu mengenakan sepatu untuk melalui air banjir, sebagaimana anjuran IDI\4
  • Alat komunikasi. Bisa memberitahu keluarga bahwa kita perlu dijemput di suatu tempat atau memberitahu bahwa keadaan kita baik-baik saja, hanya sedang berada dalam kendaraan yang tidak dapat bergerak. Ibu-ibu mungkin harus menidurkan putra-putri mereka yang di rumah dengan menelepon dari bis. Bagus juga jika kita memberitahu kepada khalayak–lewat jejaring sosial–tentang kondisi lalu lintas dan jalan.
  • Benda pembunuh waktu. Jika terpaksa menunggu lama, kita dapat memanfaatkan waktu dengan mengerjakan sesuatu yang berharga (membaca buku, membuat rajutan) … atau sekedar menghilangkan kebosanan dengan mendengar lagu dari peranti mp3\5 atau memutar-mutar kotak rubik yang belum terpecahkan. Lumayan, daripada manyun.

Dua benda terakhir ini dapat diringkas menjadi satu: telepon genggam, benda ajaib di abad ke-21 ini. Entah, saya belum tahu ada ponsel yang dapat menjadi payung atau sandal.\6 [z]

ke atas

Ayo-ayo bersihin got Jangan takut badan blépot
Coba elu jangan ribut Jangan padé kalang kabut

Baca juga

Catatan Kaki
  1. Update: paruh terakhir Desember 2012, beberapa jalan dan kampung sudah ‘tergenang’. ^
  2. Waktu itu disebut sebagai genangan air. ^
  3. Hanya, kurang tahu apakah ransel lebih rawan pencopetan? ^
  4. http://health.kompas.com/read/2013/01/17/14161695/IDI.Selalu.Gunakan.Sepatu.ke.Lokasi.Banjir ^
  5. Tentu headphone atau earphone diperlukan. Mungkin tetangga duduk kita di bis tidak suka lagu kita, atau lagi beda mood … ^
  6. Jangan keliru dengan tempat air minum berbentuk telepon genggam… hehehe. ^

584 total views, no views today

Sinambi Kalaning Macet

Jakarta, tidak pernah lepas dari kemacetan. Apa lagi yang dikerjakan di dalam taksi selain menikmati belantara beton dan besi? Enjoy Jakarta!

893 total views, 1 views today