Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Tag: hari penting

Hari Ibu (Bangsa)


1.

Kenapa Hari Ibu dirayakan? Ibu yang seperti apa? Yang telah bekerja dalam ranah domestik, ibu yang kita kenal di rumah, ibu sebagai ‘profesi’, ibu yang melahirkan kita?

Mungkin bukan, jika melihat sejarah Hari Ibu. Kabarnya, tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai Hari Ibu karena pada tanggal tersebut pada tahun 1928 sekitar 30 organisasi perempuan\1  melaksanakan kongres pertama di Yogyakarta, di lokasi yang sekarang dikenal sebagai kompleks Mandala Bhakti Wanitatama\2 .

Keputusan kongres tersebut\3 adalah

  1. mengirimkan mosi kepada pemerintah kolonial untuk menambah sekolah bagi anak perempuan;
  2. pemerintah wajib memberikan surat keterangan pada waktu nikah (undang-undang perkawinan); dan segeranya
  3. memberikan beasiswa bagi siswa perempuan yang memiliki kemampuan belajar tetapi tidak memiliki biaya pendidikan, lembaga itu disebut studie fonds;
  4. mendirikan suatu lembaga dan mendirikan kursus pemberantasan buta huruf, kursus kesehatan serta mengaktifkan usaha pemberantasan perkawinan kanak-kanak;

Kongres tahun 1935 (di Jakarta) memutuskan:

  1. mendirikan Badan Penyelidikan Perburuhan Perempuan yang berfungsi meneliti pekerjaan yang dilakukan perempuan Indonesia;
  2. meningkatkan pemberantasan buta huruf;
  3. mengadakan hubungan dengan perkumpulan pemuda, khususnya organisasi putri;
  4. mendasari perasaan kebangsaan, pekerjaan sosial dan kenetralan pada agama;
  5. Perempuan Indonesia berkewajiban berusaha supaya generasi baru sadar akan kewajiban kebangsaan: ia berkewajiban menjadi “Ibu Bangsa”.

Kongres tahun 1938 (di Bandung) memutuskan, antara lain: tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu dengan arti seperti yang dimaksud dalam keputusan kongres tahun 1935.

Kongres tahun 1935 sendiri mengkaitkan tugas ibu dengan pewarisan semangat kebangsaan.

Sebagian orang bilang ini bukan Mother’s Day melainkan Women’s Day, jika dihubungkan dengan kebiasaan bangsa-bangsa lain. (Ah, tapi tidak jelas juga. Ada berbagai versi hari ibu dan hari perempuan di dunia.) Hanya, mungkin untuk urusan emansipasi kita sudah punya Hari Kartini sehingga terdapat kecenderungan membaca “Hari Ibu” secara berbeda. Sementara itu, kongres tahun 1935 sendiri mengkaitkan tugas ibu dengan pewarisan semangat kebangsaan.\4

2.

Dilihat dari status-status yang hari ini diunggah, Hari Ibu versi facebooker lebih berkaitan dengan “ibu” yang telah melahirkan dan membesarkan, memberi kasih sayang.

  • “… Still this seems so very small / For all / She did for me”
  • “… my mom my superhero …”
  • “… telah menjadikanku sesuatu sepeti yang kumau dan bukan seperti yang kau mau …”
  • ” … setiap hari.ibuku selalu istimewa.perayaan kasih sayangnya selalu setiap hari …”

Mungkin kita memang membutuhkan satu Hari Ibu, yang karena dia adalah ibu seperti dimaksud oleh lagu “Kasih Ibu kepada Beta”\5 atau “Ibu” karya Iwan Fals.\6

3.

Apapun, yang manapun, Selamat Hari Ibu![z]

Lihat juga

ke atas

Catatan Kaki
  1. atau wanita? ^
  2. dan menjadi Museum Monumen Pergerakan Wanita Indonesia ^
  3. menurut wartafeminis.wordpress.com ^
  4. Telinga kita lebih akrab dengan istilah “Bapak Bangsa”, yaitu sebutan yang biasa diberikan kepada beberapa tokoh pendiri Republik, daripada istilah “Ibu Bangsa” ^
  5. Kasih ibu kepada beta/tak terhingga sepanjang masa/hanya memberi tak harap kembali/bagai sang surya menyinari dunia ^
  6. Ribuan kilo jalan yang kau tempuh/Lewati rintang untuk aku anakmu/Ibuku sayang masih terus berjalan/Walau tapak kaki, penuh darah penuh nanah//Seperti udara/Kasih yang engkau berikan/Tak mampu ku membalas/Ibu/Ibu//Ingin kudekat/Dan menangis di pangkuanmu/Sampai aku tertidur/Bagai masa kecil dulu//Lalu doa-doa/baluri sekujur tubuhku/Dengan apa membalas/Ibu/Ibu// ^

289 total views, no views today

Hari Menanam Pohon

Tanggal 28 November ditetapkan oleh presiden, melalui Keputusan Presiden tahun 2008, sebagai Hari Menanam Pohon Indonesia, yang diikuti dengan bulan Desember sebagai Bulan Menanam Pohon. Saya belum menemukan keterangan mengapa dipilih 28 November dan bulan Desember, apakah berkaitan dengan peristiwa tertentu di masa lalu atau berhubungan dengan hal lain. Tetapi rasanya bulan-bulan tersebut cukup pas untuk sebagian besar wilayah Indonesia jika ditinjau dari segi cuaca. Umumnya, wilayah Indonesia sedang mengalami musim hujan, yang berarti persediaan air mencukupi untuk tanaman baru.

(eh, tanaman baru perlu air seberapa, ya? Jangan-jangan jika kebanyakan air malah menjadi mati. Jadi ingat, dulu waktu mahasiswa pernah ikut penghijauan di Gunung Kidul, yang tidak tepat waktu karena dilaksanakan dalam rangka peringatan suatu hari besar… )

Pada tahun ini, Hari Menanam Pohon Indonesia merupakan kali keempat setelah dilaksanakan pertama pada tahun 2008.  Cukup menarik melihat banyak media online menyebutkan “Peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia”. Apanya yang diperingati? Apakah Hari Menanam Pohon Indonesia adalah suatu peristiwa sejarah di masa lalu, seperti Proklamasi Kemerdekaan yang perlu diperingati? Jelas (katanya) disebutkan  di Keppres bahwa tanggal tersebut adalah Hari Menanam Pohon Indonesia, bukan peringatan Hari blablabla.

Jadi, apa yang tepat jika bukan peringatan? Perayaan? Perayaan kemenangan kesebelasan xx, misalnya, berarti bukan kemenangan itu sendiri, bahkan pertandingannya saja bukan. Tetapi, bolehlah rasanya, jika kita rayakan Hari Menanam Pohon Indonesia dengan …. menanam pohon!

301 total views, no views today

Tahun Baru, Jiwa Baru

panggung di alkid malah ngrusak suasana sakral 1 suro……mestine kontemplasi bukannya malah berisik

xxx: bener Ta..masalahe ki le iso empan papan kuwi lo, nek wayangan po ngaji malah apik…la kuwi mik promo seluler je

xxx: semedi wae wkwk

xxx: neng parkir ngabean yo ho oh..malah reage nan, nek metallica sisan sing maen malah rapopo wekeke

(kutipan fb teman saya, 26 November 2011)

*

Ini malam tahun baru Jawa, 1 Sura, yang juga merupakan tanggal 1 Muharram, karena sahdan suatu ketika Sultan Agung menyesuaikannya.

Beragam cara digunakan untuk menyambut 1 Sura, terutama dengan cara-cara penuh prihatin dan kontemplasi. Banyak orang akan berjalan mengitari benteng kraton Yogyakarta tengah malam ini, kegiatan yang dikenal dengan tapa bisu mubeng beteng. Bukan dengan pawai atau karnaval yang meriah, berbicara saja mereka tidak berniat melakukan. Di Solo juga diadakan kirab yang resmi dilakukan oleh kraton, dengan mengeluarkan beberapa pusaka. Jalan Yogyakarta-Parangtritis dijamin macet pada malam seperti ini, banyak warga ingin pergi ke pantai alam yang beraroma mistis tersebut.

Beragam cara digunakan untuk menyambut 1 Sura, terutama dengan cara-cara penuh prihatin dan kontemplasi.

Pada bulan Sura, selain berkontemplasi, juga diadakan acara bersih-bersih. Secara simbolik, bersih-bersih tersebut dilakukan dengan membersihkan berbagai ‘pusaka’ yang dimiliki. Kegiatan tersebut kurang lebih merupakan rite of passage untuk memasuki tahun yang baru dengan jiwa yang baru.

Jadi, agak heran juga sewaktu membaca kabar bahwa di alun-alun selatan Kraton Yogyakarta didirikan panggung, meskipun rasanya hal tersebut adalah perkembangan menarik untuk dikaji. Kurang tahu apa yang ada di panggung tersebut, rasanya adalah panggung musik dengan sponsor perusahaan seluler.

Semoga 1 Sura, juga 1 Muharram, belum menjadi komoditas, sebab boleh jadi nanti kita akan menyambutnya (=merayakan) di pusat-pusat perbelanjaan.

*

Saya tiba-tiba tertarik untuk mengamati kata-kata yang digunakan berkaitan dengan datangnya tahun baru Jawa dan Islam ini: menyambut, merayakan, memperingati, atau apa… Di tahun 1990-an, Jama’ah Shalahuddin UGM selalu mengadakan acara TTBH: Tasyakuran Tahun Baru Hijriah, acara bersyukur untuk menyambut kedatangan tahun baru Islam.

*

Selamat tahun baru, jiwa baru.[z]

ke atas

336 total views, no views today

Selamat Hari Guru

Terlambat sedikit. Kemarin adalah Hari Guru.

Satu kerisauan saat ini adalah adanya pertanda bahwa profesi guru tidak begitu diminati lagi. Dahulu guru adalah profesi populer, banyak anak yang bercita-cita menjadi guru. Guru juga merupakan profesi yang ‘turun-temurun’ atau profesi keluarga. Anak mencontoh orang tuanya yang menjadi guru. Adik mencontoh kakaknya. Waktu itu, guru berkaitan dengan etika: pengabdian.  Di samping itu, menjadi guru (mungkin menjadi pegawai negeri) adalah menjadi orang terhormat. Ia sangat berguna bagi masyarakat di sekelilingnya, dan seringkali menjadi tokoh setempat.

Pada perkembangannya, kira-kira di perempat terakhir abad yang lalu, profesi ini populer mungkin karena sempat terjadi ‘booming’ sekolah dasar dan guru menjadi pilihan yang relatif mudah untuk mendapatkan pekerjaan.

Entah kenapa profesi ini sekarang ditengarai menjadi tidak populer lagi. Mungkin karena sekolah negeri banyak yang tutup, atau barangkali guru memang tidak ‘berbakat’ untuk mereproduksi dirinya sendiri. Ia bertugas mengantarkan anak didiknya ke jenjang yang lebih tinggi, ke kehidupan yang lebih baik daripada dirinya. Mulia.

Salah satu upaya pemerintah mempopulerkan lagi (dengan kata lain: menambah jumlah guru) adalah dengan menaikkan kesejahteraannya. Hal ini merupakan hal yang tidak dapat dihindari, meskipun kemudian menjadi guru kadang bukan lagi panggilan hati, dan berlakulah hukum ekonomi.

(Jadi ingat sekolah-sekolah yang mahal itu..)

Selamat Hari Guru. Kami titipkan anak kami kepadamu. [z]

ke atas

235 total views, no views today