Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Tag: film

Dar-Der-Dor!

Kita disuguhi banyak tontonan dar-der-dor baik di layar kaca maupun layar perak. Film-film a la Hollywood hadir baik di tengah kota di bioskop hingga di rumah kita dalam bentuk cakram padat, Internet, maupun televisi. Banyak di antara film tersebut yang berisi adegan tembak-tembakan, mulai dari film tentang koboi di masa silam hingga film futuristik. Kita menjadi tidak asing dengan hal tersebut, dan boleh jadi mengasosiasikan Barat atau Amerika dengan senjata.

Saya pikir, ‘dunia senjata api’ di Barat semacam itu hanya dongeng di film-film. Ternyata tidak.

Peristiwa penembakan baru-baru ini di sekolah Sandy Hook, Connecticut, A.S., yang menewaskan 27 orang termasuk si penembak\1 melengkapi kisah tentang penembakan brutal di A.S.\2 Peristiwa-peristiwa nyata tersebut seakan mengkonfirmasi gambaran yang saya peroleh dari film-film. Di sana warga ternyata memang bebas menyimpan dan menenteng senjata api, sesuatu yang dalam bayangan saya hanya ada di film atau di berita-berita perang yang masih ada di beberapa belahan Bumi ini.

Konon, terdapat sejumlah antara 270 juta-300 juta pucuk senjata api yang dimiliki oleh warga AS. Dengan jumlah tersebut, rata-rata satu senjata untuk setiap warga Amerika. Sementara itu, 40-45% rumah tangga AS memiliki senjata.\3 Konon, senjata api juga menjadi kado favorit pada saat perayaan natal.\4

Imaji yang tersaji di Internet,
beda antara tas belanja Amerika dan Jepang.
Sumber: www.9gag.com

Saya sendiri merasa orang Barat menenteng senjata api di film-film itu wangun-wangun saja, wajar. Mungkin karena asosiasi yang telah terbentuk di benak saya sebagaimana telah disinggung di atas. Hal ini berbeda jika saya melihat orang membawa senjata api di film dari Mandarin, atau film nasional. Rasanya wagu, tak wajar. Yah, mungkin saya berharap disuguhi kung fu jika nonton film Hongkong. Atau silat jika melihat film Indonesia, bukan pertikaian keluarga yang kemudian melibatkan senjata api, menodongkan pistol.

Tentu, bukan berarti di Indonesia tidak beredar senjata api di masyarakat. Kita ingat terdapat seorang pelawak yang pernah menembakkan pistol di tempat umum pada tahun 2004 yang lalu.\5 Kita juga membaca berbagai berita tentang peristiwa-peristiwa kriminal dan terorisme yang melibatkan senjata api. Menurut Polri, terdapat 59 kasus penyalahgunaan senjata api sepanjang 2001-2012 di Indonesia.\6

*

Iwan Fals di tahun 1984 menyanyikan lagu bertajuk “Sugali”, dari album yang berjudul sama:

Dar…der…dor
suara senapan
Sugali anggap petasan
Tiada rasa ketakutan
Punya ilmu kebal senapan
Semakin lupa daratan

[z]

ke atas

Catatan Kaki
  1. http://internasional.kompas.com/read/2012/12/16/05411457/Kebanyakan.Korban.Tewas.Berusia.67.Tahun ^
  2. http://www.tempo.co/read/news/2012/07/22/116418501/Sembilan-Penembakan-Paling-Brutal-di-Amerika ^
  3. http://www2.tempo.co/read/news/2012/12/16/116448486/Produsen-Senjata-AS-Melobi-dengan-Dana-Pemilu ^
  4. http://us.dunia.news.viva.co.id/news/read/377751-senapan-pembunuh-jadi-kado-natal-favorit-di-as ^
  5. http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2004/8/23/n3.htm ^
  6. http://berita.plasa.msn.com/nasional/antara/59-kasus-penyalahgunaan-senjata-api-oleh-sipil ^

506 total views, 1 views today

Geografi Film

Film atau muvi, movie, acap kali membuai kita. Kepintaran para pembuatnya kadang membuat kita terhanyut, ikut termehek-mehek, atau merasa apa yang disajikan adalah benar belaka.

Benar belaka?

film anacondasSaat blog ini ditulis di salah satu televisi swasta nasional sedang diputar film berjudul Anacondas: The Hunt for the Blood Orchid. Setting cerita dari film yang dilepas tahun 2004 ini adalah Borneo, atau yang kita kenal dengan nama Kalimantan. Ada satu adegan yang menggambarkan percakapan dalam bahasa Indonesia, jadi ya kira-kira itu scene di suatu tempat di pulau besar itu. Orchid, anggrek, okelah. Ada banyak anggrek hutan di Kalimantan. Tetapi, anaconda?

Saya kutipkan dari wikipedia:

“An anaconda is a large, nonvenomous snake found in tropical South America. Although the name actually applies to a group of snakes, it is often used to refer only to one species in particular, the common or green anaconda, Eunectes murinus, which is one of the largest snakes in the world.”\1

Yak, seratus! Anaconda adalah ular dari Amerika Selatan.

ke atas

Film ini tidak sendirian dalam kekacauan geografi semacam itu.

poster film komodoSebelumnya, tahun 1999, terdapat film Komodo. Kita tahu bahwa komodo merupakan binatang endemik pulau-pulau di Nusa Tenggara Timur. Lagi, dari wikipedia:

“Komodo, atau yang selengkapnya disebut biawak komodo (Varanus komodoensis), adalah spesies kadal terbesar di dunia yang hidup di pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami di Nusa Tenggara.”\2

Film ini mengambil seting sebuah pulau di lepas pantai di Carolina Selatan\3 atau mungkin Carolina Utara.\4 Jelas bukan Indonesia, apalagi Nusa Tenggara sana. Film ini diteruskan pada tahun 2004, dengan judul The Curse of the Komodo. Seting film adalah Hawaii, meskipun konon plat nomor mobilnya adalah California. Setahun berikutnya, terdapat film Komodo vs Cobra, yang entah berseting di mana.

ke atas

Film, layaknya berbagai cerita rekaan, membutuhkan dramatisasi agar menarik sebagai tontonan. Mungkin dengan menukar lokasi geografis akan mendatangkan efek dramatis (atau komersial?) yang pas.

Menurut istilah seorang teman dari Jatim: kita dibujuki … [z]

ke atas

Catatan Kaki
  1. http://en.wikipedia.org/wiki/Anaconda ^
  2. http://id.wikipedia.org/wiki/Komodo ^
  3. menurut http://en.wikipedia.org/wiki/Komodo_%28film%29 ^
  4. menurut http://www.imdb.com/title/tt0172669/ ^

1,018 total views, no views today

Arkeologi dan Bela Diri


indiana jones - raiders of the lost ark

Indy yang berbekal cambuk, bukan cethok ...


Nonton The Mummy Returns tadi malam, yang entah sudah berapa puluh kali ditayang di televisi kita, membuat saya berpikir, bahwa mungkin menjadi arkeolog perlu kemampuan bela diri. Selama ini memang belum menemukan kasus di lapangan yang membutuhkan kemampuan tersebut, tetapi siapa tahu, dunia sangat luas dan permasalahan kadang menjadi sangat kompleks.

Yaa, tapi kan itu cuma film?

Hmmm. Banyak anak mengaku masuk Jurusan Arkeologi karena diinspirasi oleh film Indiana Jones. Di film tersebut Indy juga piawai berkelahi, dengan lecutan cambuknya. Mungkin kepiawaiannya sama dengan Uling Putih dan Uling Kuning dalam cerita pribumi favorit saya, Nagasasra dan Sabukinten karya Singgih Hadi Mintardja.

Dan saya kemudian teringat kepada mahasiswa saya di Jurusan Arkeologi, Helmi Yanuar. Ia pada Sea Games 2011 yang baru lalu mempersembahkan medali emas kepada Indonesia tercinta pada cabang Kempo beregu. Pas seperti film, kombinasi arkeologi dan bela diri. Entah, apakah dia dulu juga terinspirasi oleh Indiana Jones waktu memilih jurusan ini.

Eh, tapi Rick dan Evelyn O’ Connell itu arkeolog atau bukan ya? Entahlah, yang jelas mereka masuk menelusup piramid, membaca hiroglif…[z]

Ke atas

266 total views, no views today