Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Tag: etika

Bijak mengelola alam

Tadi, saat saya menunaikan tugas untuk berbicara tentang kemerdekaan pada warga RT di desa, saya kepentok dengan istilah yang biasa saya ucapkan di kalangan kampus: tidak sustainable. Tetapi begitu saya kemukakan bahasa campuran itu, seorang tetangga yang petani atau tukang batu itu menyaut: ora ngoman-omani.

Ya. Saya rasa itu adalah kata tepat untuk menggambarkan etika orang desa dalam menggunakan sumber daya alam. MEreka tidak akan menguras habis tanpa sisa untuk orang lain, yang dalam bahasa mereka adalah “ora ngoman-omani”.

Kearifan ini berarti tidak serakah, mengambil semua, tidak merasa bahwa merekalah yang memiliki hak atas keseluruhan sumber daya. Ada hak orang lain juga untuk menikmati. Orang lain yang berarti para tetangga, bahkan mungkin orang lewat.

Orang lain juga berarti anak-cucu keturunan mereka nanti.

Mereka tidak risau dengan keperluan mereka sendiri. Pun anak-cucu mereka, karena percaya adanya etika.

Berbeda halnya dengan ‘orang sekarang’. Semua sibuk mengumpulkan harta untuk diri mereka, yang dibayangkan sanggup menjamin kehidupan anak-cucu tujuh turunan. Investasi menjadi kata kunci di samping eksploitasi yang lebih populer dalam kajian akademik tentang lingkungan.

Demi investasi, perumahan-perumahan dibangun dengan mengorbankan tanah pertanian. Apartemen dan hotel tinggi didirikan tanpa memperhitungkan sustainabilitas air tanah. Para pemilik uang ramai-ramai membelinya. Bukan untuk ditempati, ditinggali, melainkan berharap agar dapat dijual lagi kelak dengan harga tinggi.

509 total views, no views today

Dirundung Perundungan

Perundungan. Kata ini rasanya baru terdengar oleh saya kemarin pagi, pada judul berita di layar televisi. Saking barunya, meski sudah ada laman tahun 2010 yang menggunakan kata ini, agak sulit menemukannya menggunakan google. Mesin pencari ini menyaran “perundingan”, “peruntungan”, dan “perundangan”..

Jika kata perundungan berkata dasar “rundung”, maka saya sudah mengenalnya sejak SMP ketika membaca roman Tak Putus Dirundung Malang karya pujangga besar Sutan Takdir Alisyahbana. Menurut kamus,

rundung /run·dung/ v, merundung /me·run·dung/ v 1 mengganggu; mengusik terus-menerus; menyusahkan: anak itu ~ ayahnya, meminta dibelikan sepeda baru; 2 menimpa (tt kecelakaan, bencana, kesusahan, dsb): ia tabah atas kemalangan yg telah ~ nya\1

Dari satu sumber saya dapat bahwa “perundungan” sama dengan “harrashment” yang biasa kita terjemahkan dengan “pelecehan”. Kali ini, dalam berita televisi itu, kata tersebut dikaitkan dengan bullying pada MOS atau masa orientasi sekolah, atau resminya sekarang MOPD alias Masa Orientasi Peserta Didik. Lalu, apa padan kata di-bully? Dirundung? Dirundungi?

Orientasi dan Perploncoan

Senin kemarin adalah hari pertama anak-anak masuk sekolah. Tahun ajaran baru, biasanya diwarnai dengan pengenalan sekolah. Malangnya, acara tesebut sering menjadi arena bullying atau perundungan itu tadi.

Berbagai praktik ditengarai sebagai upaya perundungan. Intinya adalah merendahkan siswa baru. Mereka harus melakukan sesuatu, mengenakan sesuatu, berperilaku tertentu, yang bersifat melecehkan dan menekan. Atau ditekan dengan bentakan. Apa yang dilakukan atau dikenakan dapat membuat malu, seperti kaos kaki berbeda warna, atau pita kucir berlebihan.

Panitia yang mengharuskan ini-itu umumnya adalah para senior, dengan legalitas sekolah tentunya. Jika memang berniat saling mengenal, mengapa mereka tidak mengenakan atribut yang sama, minimal papan nama yang sama bentuk, besar, dan isi. Barusan ditayang di televisi Mendikbud memegang papan nama seorang siswa peserta perundungan yang bertuliskan nama neneknya.

Mendikbud Anies melarang perundungan dan menghimbau pemda untuk mengawasi MOPD. Meski begitu, sepertinya tetap ada upaya bullying itu. Diberitakan bahwa pengawas independen mendatangi sekolah, ditayang juga pendapat murid dan orang tua murid korban perundungan.

Namun, pihak sekolah selalu bilang: tidak ada perundungan. “Anda lihat sendiri, anak-anak bergembira, tidak tertekan.”

Baiklah jika itu yang menjadi ukuran. Tetapi jika memaksa tanpa terasa, atau justru anak-anak merasa takut untuk terpaksa, atau malah senang hati untuk terpaksa, sehingga gembira saja?

MOS, OPSPEK, dan sebangsanya, cenderung merupakan tradisi belaka. Seorang pejabat Kemendikbud menyatakan bahwa salah satu kesulitan memberantas perundungan adalah karena beban sejarah bagi sekolah. Mereka melaksanakan karena sudah bertahun-tahun kegiatan tersebut ada di sekolah.

Anak-anak ini dapat menjadi pendendam sebagai salah satu reaksi. Atau terpatri dalam benak bahwa nanti mereka juga akan melakukan hal yang sama jika kelak menjadi senior. Atas nama tradisi, bukan edukasi.

Re-orientasi Orientasi

Perlu pemberdayaan agar acara tersebut tepat sasaran: memberikan orientasi dunia baru kepada siswa baru, bukan merendahkan mereka dengan menjadikan subordinasi para senior dengan perintah-perintah tidak jelas tujuannya. [z]

ke atas

Catatan Kaki
  1. http://kbbi.web.id/rundung ^

631 total views, no views today

Menawar atawa Nganyang

Prof. Sjafri Sairin, dosen saya di Antropologi dulu, pernah berthesis bahwa masyarakat Indonesia memiliki mentalitas menerabas. Jalan pintas menjadi kebiasaan untuk mendapatkan hasil tanpa perlu kerja keras.

Saya pikir, kita juga punya sifat suka menawar, atau disebut nganyang dalam bahasa Jawa. Bukan saja dalam hal membeli sesuatu di pasar (sekarang hobi nganyang terkurangi karena kita lebih suka ke minimarket, supermarket, atau hipermarket.) Dalam banyak hal.

Saya perhatikan, jika kita berkendara, terutama motor, kita akan dengan tenang berhenti di sebelah kiri garis marka ketika lampu merah. Padahal, bagian tersebut digunakan untuk kendaraan yang akan berbelok ke kiri dalam persimpangan yang bekibolang, artinya belok kiri boleh langsung. Kita menawar agar mendapat lebih banyak dari jalur yang semestinya untuk kita.

Yang namanya nganyang, ya hanya sedikit. Tetapi orang lain akan nganyang lebih dari yang sudah nganyang terlebih dahulu: berhenti sedikit di sebelah kiri orang sebelumnya. Akhirnya, jalur kiri yang tidak untuk mereka yang berhenti di lampu merah jadi tertutup. Hak orang lain untuk lewat menjadi terampas.

Kadang nganyang jalur semacam itu juga terjadi di jalur sebelah kanan, yang digunakan untuk kendaraan berlawanan arah. Agaknya kita memang pemberani, bernyali besar, untuk meminta jatah jalur orang lain, bahkan yang berlawanan dengan kita.

Jika lampu lalu lintas sudah mulai merah, kita pun nganyang, meminta tambahan waktu sebentar dengan alasan takut ketubruk belakangnya, atau ngikut depannya. Akibatnya, giliran jalur lain kadang terkurangi jatahnya, hingga macet tidak dapat melaju karena terhalang kendaraan kita yang nganyang itu tadi.

***

Dalam birokrasi kita terdapat olok-olok “jika dapat dipersulit kenapa harus dipermudah.” Rupanya para birokrat juga memiliki tradisi nganyang kepada mereka yang harus dilayani.

Atau mereka yang harus dilayani juga nganyang kepada yang melayani. Mereka menawar dengan berbagai cara agar sesuai dengan selera dan kebutuhan sendiri, bukan sesuai dengan aturan dan prosedur yang telah ditetapkan.

***

Herannya, kita cukup toleran untuk orang-orang yang nganyang semacam itu, seakan permakluman bahwa hal tersebut lumrah, menjadi kebiasaan atau kebudayaan kita.

***

Kapan (atau perlukah) budaya kita menjadi fixed price?

456 total views, no views today