Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Tag: banjir

Rumah Panggung

Rumah panggung, atau rumah kolong merupakan arsitektur yang umum bagi masyarakat Indonesia. Masyarakat merasa perlu meninggikan bangunan tempat tinggal untuk menghindari hal-hal tertentu, seperti tanah becek, banjir, binatang buas, atau mungkin musuh dari kelompok lain.

Gaya rumah semacam itu umum merata hampir di seluruh tanah air, kecuali beberapa tempat tertentu seperti di Jawa. Sering dikatakan oleh para ahli bahwa rumah di Jawa turun ke tanah lebih dahulu dibanding dengan masyarakat lain. Nyaris tidak ditemukan rumah panggung di Jawa yang digunakan masyarakat selain pada beberapa kelompok masyarakat di Jawa Barat. Beberapa masyarakat di Jawa Barat menggunakan rumah panggung pendek. Sementara itu, beberapa relief dari masa Klasik yang tertera di beberapa percandian di Jawa Tengah dan Jawa Timur menggambarkan adanya rumah panggung di wilayah ini pada masa lalu.

***

Orang-orang Jakarta yang tinggal di tepi sungai dan di atas rawa kelihatannya juga menggunakan rumah panggung. Berbeda dari rumah panggung Melayu atau Kalimantan dan Sulawesi, kolong rumah mereka benar-benar basah sehingga tidak dapat digunakan untuk kegiatan. Mereka menggunakan tipe panggung lantaran mengokupasi lahan basah berupa sungai atau danau/rawa.

***

Banjir di beberapa kawasan di Jawa yang merisaukan seperti yang berulang kali terjadi di Jakarta berdampak pada individu, keluarga, maupun masyarakat. Tempat tinggal terendam, hubungan dengan tempat lain terputus. Mungkin kita perlu memikirkan kembali perlunya ‘menaikkan lagi’ rumah di wilayah Jawa sebab meskipun untuk beberapa lama tanah mengering sehingga cukup nyaman untuk menjadi lantai, ternyata sekarang menjadi basah lagi karena ulah kita menebang pepohonan dan sebagainya.

Rumah panggung dapat menghindarkan penghuninya dari banjir. Bangunan semacam ini mungkin juga akan terintroduksi dengan sendirinya seiring pembangunan berbagai rumah susun. Biasanya, lantai pertama merupakan kolong yang tidak ditinggali melainkan untuk berbagai keperluan seperti parkir kendaraan.

Jika rumah panggung dikombinasi dengan gagasan Pak Jokowi tentang kampung deret, wah, mungkin akan seperti rumah panjang di Kalimantan. Antarkeluarga, atau antartetangga akan terhubung di lantai atas, bukan hanya dengan jalan di tanah. Jika terjadi banjir mereka akan tetap terhubung dan mungkin akses ke tempat lain akan lebih baik tanpa perlu banyak perahu karet dan perahu darurat lain yang sering dipatok tarif tinggi.

***

Tetapi tentu menjaga lingkungan tetaplah solusi utama untuk mengatasi banjir. [z]

302 total views, no views today

Waspada Banjir

Sepanjang hari ini, 17 Januari 2013, banjir di Jakarta terlihat memuncak. Pak Jokowi meninjau Bunderan HI yang tergenang dengan naik gerobak\1 dan menyatakan situasi tanggap darurat. Presiden SBY beserta menlu menggulung celana ketika meninjau kondisi istana yang juga terendam dan penerimaan presiden Argentina ditunda.\2

Seorang kakak ipar mengunggah ke facebook foto-foto halaman rumahnya yang diluapi air. Melihat kondisi tersebut, saya bayangkan jalan di luar kompleks tempat ia tinggal mestinya ‘mendadak sungai’ sedalam setengah meter.

Telah jatuh kerugian harta benda hingga korban jiwa\3 akibat bencana banjir di Jakarta ini. Meskipun demikian terlihat sebagian warga menikmati: yang warga kampung sekitar berdatangan nonton banjir di Bunderan HI, yang anak-anak, bahkan bule, numpang berenang gratis.\4

*

Terlihat di running text salah satu stasiun televisi bahwa Gubernur Jokowi mengharap warga untuk waspada.

Tidak ada salahnya untuk waspada dan tetap waspada meski banjir sudah melanda. Sebagian dari bentuk kewaspadaan itu adalah bersiap untuk menghadapi banjir berikut yang konon masih mungkin mengancam dalam waktu dekat, atau sekadar membiasakan diri untuk senantiasa siaga menghadapi bencana.

Berikut apa yang terpikir, terutama untuk yang masih berkesempatan untuk bersiaga:

  • Pantau keadaan. Radio dan televisi merupakan perangkat penting untuk memantau keadaan. Alangkah baiknya jika memiliki radio dengan baterai tersendiri sehingga tidak tergantung kepada aliran listrik di rumah
  • Siagakan alat komunikasi. Pastikan baterai hp terisi. Periksa pula pulsa mencukupi meski sering ada penyedia layanan yang menggratiskan komunikasi pada wilayah bencana. Pembelian pulsa secara daring atau lewat SMS cukup memudahkan dalam situasi semacam ini.
  • Siapkan lampu darurat. Listrik dapat mati kapanpun akibat banjir, atau akibat kerusakan gardu seperti yang terjadi semalam di Cawang.
  • Siapkan bahan makanan/minuman cadangan. Ada kemungkinan jalan terendam atau toko tutup sehingga akan kesulitan mendapatkan bahan makanan untuk beberapa waktu. Perhatikan kebutuhan kelompok rentan, seperti anak-anak, orang sakit, orang hamil, atau orang tua.
  • Periksa juga persediaan obat-obatan, baik obat darurat (P3K) atau obat tertentu yang semestinya dikonsumsi anggota keluarga secara rutin.

[z]

ke atas

Baca juga

Pranala luar

Catatan Kaki
  1. http://www.tempo.co/read/news/2013/01/17/083455079/Jokowi-Naik-Gerobak-Pantau-Banjir-Bundaran-HI ^
  2. http://www.tempo.co/read/news/2013/01/17/078455074/Istana-Banjir-SBY-Gulung-Celana ^
  3. http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/13/01/17/mgrkp2-ini-dia-lima-korban-tewas-akibat-banjir-jakarta ^
  4. http://megapolitan.kompas.com/read/2013/01/17/18345196/Dua.Bule.Kegirangan.di.Tengah.Banjir ^

326 total views, 1 views today

Sedia Ransel sebelum Hujan

Aah… Nya’ banjir!
Jakarta kebanjiran, di Bogor angin ngamuk
Ruméh ané kebakaran garé-garé kompor meleduk
Ané jadi gemeteran, wara-wiri keserimpet
Rumah ané kebanjiran gara-gara got mampet

“Kompor Mleduk”. Benjamin S., 1970.


Jakarta kelihatannya terancam kebanjiran lagi, meskipun Pak Jokowi sudah blusukan hampir setiap hari.\1 Dua tahun lalu, saya merasakan akibat banjir\2 di Jakarta itu. Jarak yang biasanya ditempuh selama empat puluh menit, dengan transjakarta plus jalan kaki, molor hingga lima setengah jam!

Jika gubernur sudah memikir yang makro–lingkup provinsi dan koordinasi dengan wilayah lain–kita perlu memikir juga tingkat pribadi. Salah satunya adalah dengan persiapan yang baik jika akan bepergian–dengan angkutan umum–agar tidak sengsara.

Ransel yang dapat dibawa sehari-hari rasanya cukup tepat untuk bersiap-siap menghadapi alam yang tak mau kompromi. Ransel dengan berbagai kantong di luar cukup pas untuk keperluan ini, agar kita tidak perlu membuka kantong utama untuk mencari barang tertentu.\3 Ransel dengan raincover akan lebih menghindarkan isi dari basah dan lebih mengamankan dari tangan jahil.

Artefak isi ransel

Berikut beberapa benda yang dapat menjadi isi ransel ‘siaga hujan’, untuk para commuter penumpang kendaraan umum seperti transjakarta.

  • Botol tentu dengan air minum isinya. Meski naik bis di Jakarta dan bukan naik unta di gurun, kita bisa saja dehidrasi. Oleh karena itu, siapkan air minum yang mudah dibawa. Letakkan di kantong samping ransel agar mudah dijangkau. Lalulintas sering macet, apalagi jika hujan dan kemudian banjir. Tidak setiap halte transjakarta terdapat mesin penjual minuman.
  • Payung atau jas hujan. Terutama jika kita harus berjalan dari angkutan umum ke kantor atau rumah dan sebaliknya. Tepat kata pepatah: “Sedia payung sebelum hujan.”
  • Sandal jepit. Benda ini berguna jika terpaksa harus berjalan di genangan air. Sayang, kan sepatu kita (itu jika kita mengenakan sepatu, lho). Atau sejak awal kita sudah mengenakan sepatu karet, seperti merk yang populer itu. Benda berguna ini kadang dijual di jembatan transjakarta. Tetapi, sebaiknya memang selalu mengenakan sepatu untuk melalui air banjir, sebagaimana anjuran IDI\4
  • Alat komunikasi. Bisa memberitahu keluarga bahwa kita perlu dijemput di suatu tempat atau memberitahu bahwa keadaan kita baik-baik saja, hanya sedang berada dalam kendaraan yang tidak dapat bergerak. Ibu-ibu mungkin harus menidurkan putra-putri mereka yang di rumah dengan menelepon dari bis. Bagus juga jika kita memberitahu kepada khalayak–lewat jejaring sosial–tentang kondisi lalu lintas dan jalan.
  • Benda pembunuh waktu. Jika terpaksa menunggu lama, kita dapat memanfaatkan waktu dengan mengerjakan sesuatu yang berharga (membaca buku, membuat rajutan) … atau sekedar menghilangkan kebosanan dengan mendengar lagu dari peranti mp3\5 atau memutar-mutar kotak rubik yang belum terpecahkan. Lumayan, daripada manyun.

Dua benda terakhir ini dapat diringkas menjadi satu: telepon genggam, benda ajaib di abad ke-21 ini. Entah, saya belum tahu ada ponsel yang dapat menjadi payung atau sandal.\6 [z]

ke atas

Ayo-ayo bersihin got Jangan takut badan blépot
Coba elu jangan ribut Jangan padé kalang kabut

Baca juga

Catatan Kaki
  1. Update: paruh terakhir Desember 2012, beberapa jalan dan kampung sudah ‘tergenang’. ^
  2. Waktu itu disebut sebagai genangan air. ^
  3. Hanya, kurang tahu apakah ransel lebih rawan pencopetan? ^
  4. http://health.kompas.com/read/2013/01/17/14161695/IDI.Selalu.Gunakan.Sepatu.ke.Lokasi.Banjir ^
  5. Tentu headphone atau earphone diperlukan. Mungkin tetangga duduk kita di bis tidak suka lagu kita, atau lagi beda mood … ^
  6. Jangan keliru dengan tempat air minum berbentuk telepon genggam… hehehe. ^

546 total views, no views today