Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Tag: bahasa

Sama (id), sami (jw), same (en)

Sambil berkendara di tengah bulak yang sepi, pikiran saya sering menemukan kata-kata yang mirip atau bahkan sama, baik fisik maupun maknanya. Saya pikir dari sekian milyar (mungkin) kata di dunia, banyak di antaranya yang mirip tatanan hurufnya, ucapannya, dan bahkan hingga artinya.

Kemiripan tersebut dapat berlaku pada satu bahasa, kelompok bahasa, atau bahkan bahasa yang jauh. Mungkin pernah terjadi kontak, atau mereka merespon hal yang sama ketika mencipta kata. Entahlah, itu urusan para ahli linguistik. Saya menikmati kesamaan-kesamaan itu saja, sebatas pengetahuan dan kemampuan saya. Tentu dengan segala maaf dan hormat kepada para ahli.

***

Guru bahasa saya di SMA dulu pernah mengenalkan teori tentang akar kata, tetapi konon teori tersebut tidak digunakan lagi. Mungkin maksudnya adalah tidak produktif sehingga tidak banyak ditengok.

Pulut, pilut, pelet. Terdapat makna lengket di situ. Pulut adalah getah, yang lengket itu. Pilut, adalah terpesona, mirip dengan pelet, membuat seseorang lengket juga.

Melet, dapat berarti ‘melakukan pelet’, atau menjulurkan lidah, melalui mulut. Jadi, melet (jw) dan mulut (id) adalah dekat. Pilut kira-kira dekat dengan liput (id). ‘Meliput’ (berita) dan ‘meliputi’ memiliki konotasi menyeluruh, cover, atau mungkin memilliki.

Cover (en)? Mungkin (me-) liput dan (se-) limut juga bersaudara seperti pada frasa kaliput ing pedhut atau yang digunakan sebagai judul karya oleh sastrawan jawa Iesmaniasita, “Kalimput ing Pedhut”, ‘terselimuti kabut’. Liliput?

Lepat dan luput, kelihatannya berdekatan. Keduanya kira-kira bermakna ‘salah,’ atau ‘tidak tepat (sasaran)’. Jadi, kadang pelet juga luput jika yang di-pelet tidak ter-pilut.

Lipat (id) dan lempit (jw) bermakna sama. Limpad (jw), lempad (bl)?

sesal(id) dan sebal(id)? Keduanya adalah perasaan yang tidak enak.

***

Meler, mulur, molor, melar (jw). Terdapat makna yang mirip: yaitu memanjang. Meler, seperti ingus yang turun dari lubang hidung, mulur yang memanjang elastis, serta molor yang memanjang juga, sementara melar dapat melebar atau membesar. Dahulu ada teman dijuluki ‘melur’.

Iler, ‘liur’? Cairan yang memanjang dari mulut? Liur dari akar kata lur? Dalam bahasa Jawa, lur adalah cacing (hewan yang bergerak memanjang-memendek itu, biasa untuk umpan pancing). Di-ulur, juga berarti (tali) dipanjangkan.

Mungkin berkait dengan lar, yaitu sayap burung, yang dipajangkan ketika hendak terbang. Dalam bahasa Indonesia terdapat kata ‘ular’, hewan panjang itu, dan dalam bahasa jawa terdapat uler, ‘ulat’, yang juga panjang jika dibanding lebar. Ular-ular adalah pidato nasihat dalam bahasa jawa yang panjang lebar.

Lar juga terdapat pada kata gelar (jw) ‘diperlebar’ seperti pada frasa klasa digelar. Lar mungkin juga berubah menjadi ler dalam ngeler (jw) ‘menganginkan’ yang berarti membuka lebar satu permukaan. Keler-keler berarti didiamkan tanpa diperhatikan.

Kelar?

Ler kata krama untuk lor (jw) atau ‘utara’ adakah berarti ‘jauh di sana’? Dalam bahasa India atau setidaknya jawa kuna, kelihatannya lor berkait dengan lwar atau luar, yang kira-kira memang berkonotasi dengan ‘di sana’, bukan di sini (dalam).

Kolor, berkait dengan tali (elastik) yang dimasukkan ke lipatan kain. Jadi, kolor ijo mestinya merujuk kepada tali yang dimasukkan ke lipatan atas celana.

color, (daun) kelor …

Lir?

Kalir (sembarang kalir, kaliren?),
Kelir ‘layar’ atau ‘warna’ …
Selir
Silir, alir, milir
Pelir

***

Wur (jw) berarti sama dengan tabur (id) mirip dengan wur (jw), yang juga digunakan untuk melukiskan penyebaran benih pada lahan. Sawur (jw) dan sebar (jw, id) kira-kira memiliki arti yang mirip.

Taufiq Ismail konon memiliki cara tersendiri untuk menjelaskan perbedaan antara tawur dan tawar.


“Tawuran, biasanya hujannya hujan batu
Tawaran, biasanya uangnya uang dolar”

Taufiq Ismail, Puisi Zaman Batu.

Sawer (id?) boleh jadi berhubungan juga dengan sawur. Uang ‘disebar’ kepada para penyanyi dangdut. Namun, dalam bahasa JAwa juga terdapat kata sawer (jw krama) yang berarti ‘ular’.

***

Long: colong (jw) ‘curi’, bolong (jw) ‘berlubang’, dan kolong.
Bolong dan kolong berkonotasi pada tiadanya sesuatu. Colong pun dapat berarti adanya sesuatu yang hilang. Barang kali akarnya adalah long (jw), yang dalam bahasa Jawa digunakan untuk membentuk kata yang memiliki arti ‘kurang’. Dilongi berarti ‘dikurangi’, kelong atau kalong berarti ‘berkurang’. Kalong juga berarti kelelawar besar.

Balong berarti ‘kolam’ atau ‘bagian sungai yang dalam’. Mungkin sama dengan kata palung, bagian ‘kosong’ yang terisi air. Jika ‘o’ adalah gabungan dari ‘u’ dan ‘a’, maka long juga dapat dibaca sebagai luang. Waktu luang yang kosong, dan luangan atau luwangan yaitu lubang (luwang) di tanah biasanya sebagai tempat sampah.

Cuma, terdapat kata long yang berarti ‘petasan’, juga golong yang berarti ‘bersatu’. Terdapat makanan sega golong dan tugu Golong-Gilig di Yogyakarta dahulu. Jangan lupa, golongan yang menyatukan atas dasar kesamaan tertentu.

Tolong, polong? Di Pulau Lombok terdapat kota Selong. Teh Oolong? Atau bahasa Inggris long?

Ompong, melompong, juga dekat dengan kosong. Kempong?

Tong (jw), yaitu kaleng bulat, genthong, kothong (jw), kanthong (jw), juga berkonotasi kosong.

Song berarti gua seperti digunakan oleh orang-orang di daerah karst di Gunungkidul hingga Pacitan-Ponorogo. Gua dapat dilihat sebagai ruang kosong di dalam Bumi. Mirip dengan song adalah rong, semacam gua tempat binatang kecil bersembunyi. Di selatan Yogyakarta terdapat Gua Selarong tempat sembunyi Pangeran Diponegoro. Rong dan ruang berasa sama, yaitu tempat yang luang. Menarik, bahwa ruang dan luang mungkin berhubungan. Gorong-gorong atau dalam bahasa jawa urung-urung, adalah sebangsa ruang di bawah jalan tempat air mengalir. Di Toraja terdapat erong, yaitu peti jenazah.

Plong adalah lega, bebas dari beban, atau bebas dari sumbatan. Omplong (jw) adalah tong, kaleng bulat. Kemplong (jw), upaya para perajin membuat pandan pipih dengan menumbuk?

Blong seperti rem yang putus atau harapan yang tidak terkabul, dan oblong si kaos, dekat dengan bolong.

Bokong si engkong? Bohong?

***

Dari kata-kata di atas terlihat adanya fenomena seperti color slider pada aplikasi pengolah foto. Penunjuk pada color slider digeser sedikit maka akan terjadi perbedaan nuansa namun masih dalam kelompok warna yang sama, seperti kolong, kopong, kosong, kothong, yang semua kira-kira bermakna ‘tidak ada apa-apa’. Kobong? Habis juga pada akhirnya.

Cekak, cedhak, cepak, celak, cerak (jw), semua bermakna dekat atau pendek, cendhak.

Siter, sitar, gitar, merupakan alat musik yang mirip, yaitu menggunakan dawai dan kotak resonator.

***

Salah satu hal lain yang terlihat dari kata, atau kumpulan kata, adalah bahwa perubahan sedikit saja akan mengubah makna secara signifikan. Waktu SMA dahulu saya diajari tentang fonem, yaitu satuan terkecil yang mengubah makna.

Maka, secara lintas bahasa, kita dapat menemukan kata yang berbeda arti karena perubahan satu huruf (tepatnya fonem).
Sebar, sedar, segar, sekar, semar, senar, sesar.
Kacang, kadang, kadhang, kakang, kalang, kapang, karang, kayang.

***

Berkait dengan sama, sami, dan same yang menjadi judul tulisan ini, terdapat kasus lain yang mirip: nama (id), nami (jw), dan name (ing)!

[z]

ke atas

1,798 total views, 2 views today

Hepi Milad!

There is an increasing trend in using ‘met milad’ to congratulate someone in her/his birthday.

Facebook membuat orang mudah terhubung dengan orang lain, termasuk mudah mengetahui kapan seseorang berulang tahun. Kita tidak perlu mengingat kapan tanggal lahir seseorang, karena Mark Zuckerberg dan teman-teman telah melakukannya dan memberitahukan kepada kita. Kemudian kita tinggal mengucapkan selamat dengan menulis di dinding teman kita itu.

Banyak kata, frasa, kalimat yang dapat digunakan seperti “selamat ulang tahun”, “met ultah”, “HBD” yang kadang ditambah “ayo traktir” hehe… Digunakan juga “selamat milad”, “met milad”, “happy milad”. Kata “milad” ini rasanya menjadi tren, banyak dijumpai di jejaring sosial beberapa waktu terakhir. Di dunia nyata sendiri saya jarang mendengar penggunaan frasa tersebut untuk memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada seseorang.

Milad secara kamus berarti hari lahir, dalam bahasa arab. Kita mengenal keluarga kata ini misalnya dalam frasa “maulud nabi”, atau “maulid nabi”.

*

Secara umum terdapat dua kalender yang kita gunakan, yaitu kalender Hijriah yang dihitung sejak peristiwa hijrah Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya, dan kalender Masehi, yang konon dihitung sejak kelahiran Nabi Isa al Masih. Oleh karena hal terakhir itu, kalender Masehi juga disebut kalender Miladiah.

Kalender Hijriah berdasarkan pada siklus Rembulan–oleh karena itu juga disebut sistem qomariyah, sementara kalender Masehi berdasar pada siklus Matahari, sehingga juga disebut sistem syamsiah.

(Sebenarnya terdapat banyak kalender di dunia ini. Rasanya setiap budaya memiliki sistem kalender sendiri. Ingat dengan draf proklamasi kita yang berangka tahun 05, tahun Jepang? Ada kalender Jawa, Kalender Bali, kalender Cina, dlsb. Orang-orang Maya juga memiliki kalender sendiri yang menghebohkan itu.)

Sebagian masyarakat (dan lembaga) Islam menggunakan istilah milad untuk ulang tahun. Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, memperingati ulangtahunnya juga dengan istilah ‘milad’ dan mengambil dasar perhitungan kalender Hijriah, yang kira-kira berumur sebelas hari lebih pendek. Universitas ini menyatakan\1 bahwa mereka adalah satu-satunya universitas yang menggunakan kalender Hijriah untuk perhitungan usia.

Sepanjang saya tahu, umumnya universitas, lembaga yang rasanya sangat Barat ini, menggunakan perhitungan Masehi dan menyebutnya dies natalis, yang kira-kira berarti ‘hari lahir’. Untuk siklus lima tahunan, disebut lustrum.

Kalender Masehi merupakan penanggalan yang umum kita kenal. Dalam kaitan dengan ini, Prof. T. Jacob (almarhum, Kedokteran UGM) dan Prof. Inajati Adrisijanti (Arkeologi UGM) menggunakan istilah TU yang berarti Tarikh Umum. Kalender ini juga merupakan kalender resmi pemerintah sehingga surat-menyurat, agenda, dan sebagainya berdasar kepada kalender ini dan sering disebut sebagai kalender nasional.

Perhitungan ulang tahun seseorang atau lembaga secara umum juga menggunakan kalender masehi. Beberapa perkecualian misalnya sultan dan sri paduka di Yogyakarta, juga sunan di Surakarta, yang menghitung ulang tahun berdasarkan kalender Jawa.

*

Masih berpikir: mengapa “selamat milad” menjadi tren di jejaring sosial. Kontestasi? Internalisasi? Pergulatan identitas? Rekontekstualisasi? [z]

ke atas

Catatan Kaki
  1. website UII, 2011 ^

390 total views, no views today

Bahasa Indonesia untuk Jagad TIK

Penggunaan istilah-istilah dalam bahasa Indonesia untuk menggantikan istilah-istilah asing di dunia TIK mengundang banyak diskusi, setuju dan tidak setuju. Antara lain sebagian merasa sudah enak dan mudah dengan istilah yang ada sekarang, sebagian merasa padanan yang dibakukan terasa aneh (tetikus sebagai ganti mouse misalnya). Di lain pihak ada yang merasa bahwa penggunaan bahasa Indonesia dapat memudahkan pemahaman terhadap TIK karena kita sejak dulu diajar dengan bahasa ibu ini. Nasionalisme juga menjadi alasan untuk mendukung hal ini.

Pemerintah telah memerintahkan (ya iyalah) pada tahun 2001 melalui Instruksi (=perintah?) Presiden Nomor 2 tahun tersebut tentang Penggunaan Komputer dengan Aplikasi Komputer Berbahasa Indonesia. Pihak yang berwenang, kelihatannya, kemudian merespon dengan menerbitkan “Kiat Pembakuan Peristilahan Perkomputeran dalam Bahasa Indonesia”. Pada bagian akhir naskah tersebut terdapat senarai lebih dari enam ratus istilah yang berkaitan dengan komputer dan padanannya dalam bahasa Indonesia.\1

Enam ratusan istilah cukup lumayan banyak, dan mestinya tidak semua istilah perlu diberitahukan atau didaftar karena mungkin telah diketahui padanannya (apa beda padan kata dari terjemahan dan alih bahasa atau alih kata?) Dalam daftar yang disusun pada awal tahun 2000-an tersebut saya belum menemukan banyak kata-kata yang berkaitan dengan internet dan dunia ngeblog (mungkin kawasan TIK yang ini belum populer waktu itu). Apa padan kata misalnya ‘blog‘, ‘blogging‘, ‘blogger‘, ‘tag‘, ‘post‘, ‘posting‘, dan ‘theme‘? Facebook menggunakan istilah ‘tanda’ untuk menterjemahkan ‘tag‘, meskipun kata (juga ‘blog’, ‘bloger’, dan ‘bloging’ ) sudah memenuhi struktur kata dalam bahasa Indonesia.

Bagaimana jika 'tetikus' diganti 'celurut'?

Ada baiknya kita, para pelaku TIK apapun peringkatnya, perlu kreatif sendiri, mumpung belum dibakukan. Itung-itung ikut membangun bahasa Indonesia partisipatif…

(Sutan Takdir Alisjahbana pernah rerasan, terdapat kemungkinan nanti bahasa Indonesia tinggal sebagai dialek dari bahasa Barat.)

Catatan Kaki
  1. Pedoman ini dapat dilihat di sini. ^

489 total views, no views today