Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Tag: buah

Durian atawa Duren

Heran juga memgetahui kegilaan teman-teman saya, sebagian saja tentunya, pada buah yang disebut durian ini. Setidaknya setiap minggu ada saja di antara mereka yang bercerita tentang aktivitas berburu buah berkulit tebal ini.

Rasanya bukan hanya teman-teman saya yang berhobi demikian. Terdapat cukup banyak penggemar buah bau ini, baik sebagai buah asli, menjadi makanan lain seperti lempok dan tempoyak, atau menjadi perasa saja macam di es duren.

Mungkin terdapat beberapa penyebab kegilaan itu. Pertama, buah ini cukup bervariasi sehingga banyak pengetahuan yang muncul darinya, mulai dari klasifikasi hingga ‘katuranggan‘ durian, atawa ciri-ciri fisik durian dan hubungannya dengan rasa atau asal. Maka terdapat sebagian orang yang begitu fasih dapat bercerita tentang jenis-jenis durian, asal, ciri durian masak, dsb.

Mirip dengan akik yang beberapa waktu yang lalu sempat booming dan menempatkan beberapa orang sebagai ahli akik di komunitasnya atawa di kampungnya.

Kedua, kadang membelah durian adalah seperti berjudi. Kadang mendapat buah yang sesuai selera, kadang di atas harapan, namun tak kurang sering adalah yang mengecewakan. Hal ini membuat orang pemasaran dengan duren. Rasanya buah ini jarang dihidangkan dalam bentuk terkupas, namun selalu ada ritual belah duren.

Ketiga, campur petualangan. Memburu durian bukanlah pergi ke supermarket meski di sana biasanya ada durian yang dijamin berasa lezat. Mencari durian berarati pergi ke tempat ‘asli’ durian dihasilkan, seperti ke Purworejo, ke Nanggulan, ke Klaten, dsb.

nodurianKeempat, kontroversi menjadi bumbu. Buah ini banyak penggemarnya, namun tidak kurang pula banyak yang ‘menentang’ atau tidak menyukainya. Maka, banyak hotel yang melarang para tamu membawa durian agar tidak mengganggu orang yang tidak menyukainya, atau sensitif terhadap aromanya. Demikian juga di MRT alias sepur bawah tanah di Singapura. Tertempel di dinding interior gerbong-gerbong kereta pengumuman larangan membawa buah itu. Mungkin karena baunya bukan karena tajamnya duri kulit. Meski sebagian orang menganggap aroma buah ini harum, namun sebagian lain menganggapnya sebagai pembuat mual.

Maka tidak ada parfum berbau durian. Kayaknya. [z]

untuk Cah-cah ’87.

ke atas

621 total views, 2 views today

Bahasa Gaul

Setiap kelompok masyarakat, atau kelompok dalam masyarakat, memiliki bahasa sendiri. Kita kenal bahasa-bahasa etnis, bahasa nasional, bahasa internasional, lingua franca, atau bahasa ciptaan baru macam esperanto yang juga menjadi bahasa resmi PBB.

Kita juga mengetahui bahwa kelompok-kelompok dalam masyarakat memiliki ‘bahasa’ sendiri, yang hanya dipahami oleh kalangannya. Istilah teknisnya adalah bahasa slang. Misalnya, para waria memiliki istilah-istilah sendiri untuk menyebut beberapa hal yang akrab dengan mereka. Di Jakarta dahulu juga berkembang bahasa prokem.

Para kriminal di biskota punya istilah sendiri seperti ‘balung dhewe‘, ‘tulang sendiri’, yang kira-kira berarti ‘kelompok mereka’. Menyebutkan kata sakti itu berarti amanlah ia dari pencopet. Sementara itu, kalangan polisi dan militer juga membuat sandi-sandi untuk berkomunikasi di antara mereka.

Sekarang bahasa alay ngetop di jejaring sosial di internet. Anak muda juga pelakunya.

Di kalangan anak muda Yogya, pernah populer bahasa walikan, yang masih ‘tersisa’ dalam merk kaos ‘Dagadu’, walikan dari ‘matamu‘. Selain kata tersebut terdapat jape methe, pisu, sahan, hongib, poya hoho, mothiq, dab, pabu sacilat, dan sebagainya. Arek Malang dengan mudah membalik susunan huruf menciptakan kata-kata yang khas: Kera Ngalam.

Awal tahun 2000-an, ketika ponsel mulai populer, digunakan bahasa aneh yang membuat pusing penerima sms. Sekarang bahasa alay ngetop di jejaring sosial di internet. Anak muda juga pelakunya.

Bahasa gaul, kata mereka.

Tetapi, bahasa gaul mungkin bukan prerogratif, hak istimewa, anak muda. Orang-orang mapan pun, seperti para pengusaha kelas kakap di Jakarta, anggota DPR, pengurus partai, (diduga) memiliki ‘bahasa’ khusus di antara mereka, seperti ‘apel washington’, ‘apel malang’, ‘artis’, ‘bali’.  Zaman cicak bermusuhan dengan buaya dulu, sekitar awal 2010, pernah ada istilah ‘trunojoyo 1’ …. Gaul, nih!

Dayi, dab![z]

ke atas

674 total views, no views today

Apel (tak selalu) Malang


Apel malang dan apel washington? Pasti istilah ini tidak asing bagi mereka yang akhir-akhir ini suka (atau terpaksa karena tidak pilihan lain: semua stasiun televisi isinya sama) mengikuti berita politik nasional. Dalam salah satu kasus korupsi, dikabarkan istilah apel malang digunakan untuk menyebut uang rupiah, sementara apel washington digunakan untuk menunjuk uang dolar. Uang-uang tersebut harus disediakan sebagai pelicin bagi pejabat korup.

***

Akhir tahun kemarin, apel lainnya juga menjadi berita. Steve Jobs, seorang pengusaha kelas dunia dari AS yang bapaknya seorang Suriah, meninggal dunia. Ia berada pada urutan ke-110 orang terkaya sedunia meskipun terlihat kurus kering di akhir masa hidupnya.

Nama Steve Jobs melekat kuat pada gadget-gadget pintar yang sangat populer (di beberapa belahan dunia): Apple. Perusahaan Apple memiliki berbagai gadget ngetop seperti iPod, iPhone, iPad, dan dahulu sangat terkenal di kalangan desainer grafis karena komputer Macintosh, yang handal itu. Zaman segitu, komputer ini termasuk mungil. Iklannya memperlihatkan seseorang bersepeda dengan komputer ini, cpu dan monitor crt di keranjang depan.

Macintosh adalah salah satu varian apel, selain apel washington dan apel malang.

Ngomong2, kenapa logo apel itu krowak? Apakah apel ini digambar dari sisa gigitan si Mister Jobs? Mungkin tidak. Dulu, zaman nama Apple masih digunakan dalam logo, huruf ‘a’ menutup sebagian gambar buah apel yang berwarna pelangi itu. Ketika logo perusahaan ini hanya mengambil gambar apelnya dan membuang tulisan ‘apple’, buah tersebut masih terlihat kerowak

***

Apel tidak hanya untuk menyebut buah hijau dan merah itu. Kita mengetahui bahasa Inggris untuk nanas adalah pineapple, yang kira-kira berarti ‘apel cemara’.

Kentang, bagi orang Belanda juga sebangsa apel: aardapple, apel tanah. Orang Prancis juga menyebut pomme de terre, yang kira-kira berarti apel tanah juga, meski dalam nomenklatur biologi, pome adalah jenis-jenis buah dengan kulit tipis seperti apel dan pir. Jeruk disebut orang Belanda sebagai apel cina, sinaasappel. Delima juga disebut apel: pomegranate atau kata pak guru bahasa Prancis saya dulu: pomme-granade. Di Jerman buah ini disebut granatapfel. Orang Inggris lama bilang: apel (dari) Granada! Buah ini dulunya memang tersebar di seputaran Mediteran sana.

Jika dilihat-lihat, ‘apel’ delima ini malah mirip granat, dengan ukuran segitu dan bentuk selongsong luar beserta biji-biji di dalamnya. Jangan-jangan juga, inilah yang membuat benda berdaya ledak ini disebut ‘granat’, karena mirip dengan apel granat! Lucunya, ada istilah ‘granat nanas’, yang bahasa sononya pineapple grenade!

Tomat, buah merah ini, konon juga disebut pome d’amor di Prancis. Kentang cinta ….

***

Saya sendiri lebih suka apel malang, yang ijo itu. Rasanya lebih renyah dan berasa apel. Juga: cinta produk dalam negeri. [z]

ke atas

1,399 total views, no views today