Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Tag: amsterdam (page 1 of 2)

Survival di Belanda


Seorang teman lagi mau ke Belanda untuk sekolah. Berikut beberapa tips saya untuknya berdasar pengalaman beberapa waktu berada di Amsterdam. Untuk kota lain, rasanya tidak terlalu berbeda. Tips ini mungkin tidak akurat atau masih terlalu ribet dan lebay, tetapi semoga sedikit berguna baik bagi yang (akan) berangkat maupun yang akan ditinggal.

Kadang yang akan ditinggal malah lebih khawatir …

***

#1 Telepon. Ada baiknya segera mengganti simcard dengan nomor lokal terutama jika akan berada di Belanda dalam waktu yang lama. Simcard saya dari provider Indonesia memang dapat digunakan di Belanda, akan tetapi kadang jika kirim sms ke Indonesia belum tentu langsung sampai ke penerima, kadang hingga keesokan harinya. Barangkali hp dengan dual simcard akan membantu. Jika kelebihan rezeki juga dapat membeli hp ‘minimalis’ yang sangat murah, di bawah 10 euro plus charger

Provider di Belanda antara lain adalah Lyca dan Lebara. Pembelian pulsa atau kredit dapat dilakukan melalui internet, kios selular, maupun voucher di supermarket.

#2 Transportasi lokal. Terdapat beberapa jenis transportasi umum, seperti kereta api, tram, metro, dan bis. Taksi juga ada tetapi rasanya jarang terdapat orang naik taksi.

Jika tinggal cukup lama di Belanda dan intensif menggunakan kereta api, ada baiknya membeli tiket elektronik personal, dengan nama dan foto kita. Caranya adalah dengan memesan pada situs kereta api Belanda, www.ns.nl, atau www.ov-chipkaart.nl. Tiket akan diantar dengan pos ke alamat kita seminggu kemudian.

Keuntungan dari tiket personalized ini adalah kita akan mendapat diskon hingga 40% pada jam tidak sibuk. Kita juga dapat ‘mendiskon’ tiga orang teman yang bepergian dengan kita, yang membeli tiket kertas. Untuk mendapatkan diskon, kita harus mendaftar lagi di situs tersebut dan membayar langganan. Harga langganan cukup beragam, antara lain 50 euro per tahun.

Untuk anak-anak terdapat tiket Railrunner seharga 2,5 euro yang dapat digunakan seharian untuk berkereta ke seluruh Belanda.

Baca juga: Kendaraan umum di Belanda

Jika menetap untuk waktu yang lama pertimbangkan untuk membeli sepeda yang irit dan praktis untuk sekedar bepergian dalam kota. Tetapi pertimbangkan untuk melatih diri mengatasi kerusakan-kerusakan sepeda karena ongkos bengkel sangat mahal. Di toko-toko dijual alat penambal ban bocor dan berbagai perlengkapan lain.

Baca juga: Balada Kota Sepeda

#3Bank. Meskipun kartu atm beberapa bank dari Indonesia dapat digunakan di Belanda (pada atm bertanda khusus), akan tetapi jika menetap cukup lama dan mendapat beasiswa tentu akan lebih mudah memiliki akun bank Belanda. Ada beberapa bank yang populer digunakan teman-teman Indonesia saya, antara lain adalah ING, ABN-AMRO, dan Rabobank. Aplikasi akun ke bank cukup mudah dan kartu atm akan dikirim melalui pos dalam waktu seminggu.

Jangan lupa membuat akun internet banking karena akan memudahkan kita bertransaksi misalnya untuk membeli pulsa hp, tiket pesawat, atau hal-hal lain karena e-commerce cukup berkembang di negeri yang konon memiliki rumah tangganya terhubung ke internet terbanyak ini. Toko-toko dan lembaga pemerintah juga memiliki ‘alat gesek atm’ sehingga di negeri keju ini kita bisa hidup tanpa memegang uang betulan …

Jika tidak memiliki akun bank Belanda, kita dapat membeli kartu pin yang dapat digunakan layaknya kartu atm. Hanya perlu perhatian karena beberapa toko, tidak banyak, mengutip ongkos tambahan untuk penggunaan kartu baik pin maupun atm.

#4 Makan. Sebenarnya tidak terlalu merepotkan, juga bagi muslim. Supermarket berada di setiap sudut, kadang juga ada pasar di beberapa tempat. Di supermarket tersedia berbagai ragam bumbu dan bahan makanan yang kita kenal, mulai dari beras, mi instan, hingga cabe dan krupuk serta emping.

Untuk makanan halal, beberapa supermarket terkenal seperti Albert Heijn menyediakan konter makanan halal pada toko yang berlokasi di tempat-tempat yang banyak dihuni komunitas muslim. Memang harganya lebih mahal, tetapi coba konter Mr. Wahid jika ada di supermarket, yang menyediakan berbagai makanan halal baik matang maupun mentah dengan harga yang cukup fair.

Kita juga dapat mengunjungi toko milik bangsa Timur Tengah seperti Turki dan Maroko yang banyak bertebaran di buurt atau ‘kampung’ yang dihuni banyak orang Islam. Harga makanan atau bahannya di tempat-tempat tersebut cukup murah dan umumnya memasang tanda halal di depannya.

Jika tidak, ya pilih yang kira-kira aman, misalnya sandwich tuna yang cukup mudah ditemui di supermarket dan berbagai gerai makanan lain.

#5Belanja. Bukan promosi, tetapi saya mendapat barang-barang yang saya butuhkan dengan mudah pada tiga ‘toko’ ini yang bertebaran di berbagai tempat di kota: Albert Heijn yang merupakan supermarket, Blokker yang menjual barang-barang rumah tangga dan dapur, serta Hema yang menjual beraneka ragam mulai makanan, pakaian, elektronik ‘ringan’, serta barang rumah tangga dan dapur.

Di supermarket biasanya terdapat barang-barang yang dikorting. Akan tetapi, umumnya korting hanya diberikan pada pelanggan yang memiliki kartu. Oleh karena itu, di Albert Heijn misalnya, mintalah kartu ‘Bonus’ di customer service. Jika tidak menunjukkan kartu ini kepada kasir sebelum membayar maka korting tidak diberikan.

Tips lain adalah: coba lihat barang di bagian bawah rak. Biasanya terdapat tiga jenis barang yang dijual di supermarket. Pertama adalah barang bermerek, kedua adalah barang yang dibungkus dan diberi merek oleh supermarket. Ketiga adalah barang yang diberi merek oleh pemasok tertentu. Barang pertama tentu mahal, yang kedua lebih murah, dan yang ketiga biasanya paling murah. Barang terakhir ini, misalnya di Albert Heijn bermerek Euroshopper, biasanya diletakkan di rak bagian bawah dan berharga ekonomis …

Jangan lupa membawa tas sendiri jika belanja di supermarket sebab jika tidak kita harus membeli tas yang cukup mahal untuk kalkulator Indonesia … Tidak hanya tas, kita juga harus memasukkan sendiri barang ke dalam tas … Di beberapa supermarket bahkan kita bisa menghitung sendiri dan kemudian membayar barang yang kita beli kepada mesin.

#6 Hati-hati. Tidak ada salahnya berhati-hati di negeri orang. Polisi dan caretaker asrama selalu rutin memperingatkan warga untuk mengunci pintu dan sebagainya. Hati-hati juga perlu terlebih jika mengunjungi kota wisata macam Amsterdam. Jaga baik-baik barang bawaan.

Baca juga: Copet di Amsterdam

#7 Bacaan. Untuk mengetahui lebih lanjut, dapat membaca buku yang populer seperti Undutchables: an observation of the netherlands, its culture and its inhabitants, buku yang penuh humor tentang etika dan berbagai remeh-temeh bagi orang asing yang tinggal di Belanda.

books netherlandsBuku berikutnya yang cukup baik untuk Belanda for beginner adalah The Low Sky, Understanding the Dutch. Sejarah dan sebagainya dapat dipelajari di buku ini. Jika bertujuan wisata, buku yang lain tentunya adalah panduan wisata seperti DK Eyewitness Travel Guide: Netherlands yang penuh gambar.

#8Jika kangen Indonesia? Entahlah. Mungkin cari teman dari tanah air. Tentu, coba skype dan berbagai fasilitas di internet yang dapat digunakan untuk berhubungan bervideo dan suara dengan keluarga di tanah air.

Atau mencoba makanan di beberapa restoran Indonesia, namun biasanya cukup mahal. Rata-rata, seperti juga restoran lain, adalah 10 euro, dengan minuman teh sekitar 2-2,5 euro berupa teh celup dengan air panas secangkir! Untuk agak hemat kita dapat menelusuri supermarket dan mendapati beberapa makanan yang biasa ada di rumah. Kerupuk, sambal, indomie … juga berbagai camilan produk dari Go-Tan, seperti emping, gendar manis, dan sebagainya. Untuk kecap, meski disebut kecap manis tetapi bentuknya lebih encer dan rasanya lebih asin. Di beberapa toko cina dan supermarket tertentu dijual kecap dari Indonesia.

Baca juga: Menu Indonesia di Supermarket

Baca juga: Indonesia di Bungkus Teh

Atau memasak sendiri jika setiap hari mengunyah menu seperti pistollete atau mungkin pizza gaya Timur Tengah yang murah meriah. Bahan-bahan dapat dibeli di supermarket atau di pasar. Di toko Cina yang biasanya juga terdapat di berbagai kota menyediakan tempe, tahu, segala macam bumbu dapur, dan lagi-lagi indomie …

Atau nonton televisi lewat Internet. Beberapa website televisi Indonesia menyajikan siaran live, atau coba mivo.com atau binus-access.com … Untuk radio seputar Yogya dan Jateng, dapat dinikmati melalui jogjastreamers.com.

Bisa juga mencoba berjalan-jalan mengunjungi berbagai museum yang menyimpan benda-benda dari Indonesia, atau nonton Tongtong Fair di Den Haag jika sedang digelar.

Baca juga: Nonton Pasar Tongtong

[z]

ke atas

2,408 total views, 3 views today

Balada Kota Sepeda

Pagi hari, seperti biasa saya mengambil sepeda di tempat parkir di kompleks tempat saya tinggal. Fasilitas ini hanya berupa tonggak berbentuk huruf ‘U’ terbalik, berjajar di samping gedung. Bukan di emper atau tempat beratap lainnya, parkiran ini berada di udara terbuka.

Tetapi, sepeda terasa agak berat ketika saya tarik dari tempat parkir. Setelah mengamati, ternyata, kedua ban sepeda, depan dan belakang, telah kempès. Bukan sekedar kempès, semua pèntil (ventil, Bld.) telah hilang dari tempatnya, menyisakan satu lubang menganga di masing-masing roda. Alhasil pagi ini saya harus naik bis untuk berangkat kerja ke Tropenmuseum dengan sedikit nggondhok telah dikerjai orang.

Kemudian, saya harus membeli dua biji pèntil bekas di sebuah toko sepeda di seputar Dappermarkt. Satu euro harus saya keluarkan untuk mendapatkan dua benda logam kecil tersebut. Saya juga harus membeli pompa ban cemangking, portabel, daripada saya harus mendorong ke toko sepeda yang ada entah di mana untuk meminjam pompa.\1 Pompa sepanjang dua puluh senti itu seharga tiga euro.

ke atas

*

Amsterdam memang surga bagi pengendara sepeda. Mereka dapat bersepeda kemanapun di kota ini dengan jalur tersendiri, di samping jalur tram, bus, dan mobil. Tempat parkir juga tersedia di banyak tempat di pinggir jalan. Oleh karena itu, konon terdapat satu juta sepeda di jalan-jalan di kota dengan penduduk 650.000 orang ini. Jadi, lebih banyak sepeda daripada penduduknya.\2

Akan tetapi, bagi sepedanya sendiri Amsterdam bukanlah surga. Setiap tahun terdapat sekitar 30.000 sepeda yang mengakhiri hidup di kanal. Bukan karena pengendara yang terjungkal masuk kanal tetapi karena anak-anak nakal yang iseng. Mereka pikir akan lucu jika sepeda (turis) diceburkan di kanal.\3

Sepeda yang diusili tingkat rendah

Selain mencopot pèntil sepeda saya dan menceburkan puluhan ribu sepeda lainnya ke kanal, mereka juga sering mencopot roda depan, sadel, stang, juga mencoblos ban agar kempès. Kadang sepeda juga diputar, diangkat, dibalik, ditendang …

vandalisme sepeda

Kejahatan level 3 terhadap sepeda: mencopot sadel. Dua kunci rantai tidak dapat mengatasinya.

Kriminalitas terhadap sepeda memang cukup tinggi. Oleh karena itu, perlu rantai sepeda yang ‘standar industri’ (hehehe) yang bahkan mungkin dapat untuk merantai stoomwals. Rantai ini sangat kuat dan berat, juga sangat mahal. Jika kita dapat membeli sepeda bekas (kadang bahkan sepeda baru) seharga 80 euro, maka harga rantai dapat mencapai 20 atau 40 euro! Hal itu belum cukup. Agar aman, setelah roda belakang dikunci dengan kunci ‘O’ seperti biasa, roda depan dirantai bersama rangka sepeda ke tonggak yang tidak dapat diangkat.

Banyak pemilik sepeda yang mencat sepedanya dengan warna dan pola yang aneh, atau menempeli dengan lakban atau gambar tempel wagu yang mencolok. Hal itu dilakukan di samping agar mudah dikenali ketika berada di tempat parkir, juga agar orang males mencurinya.

*

Tidak seperti di Yogyakarta yang banyak tukang tambal ban di pinggir-pinggir jalan, di Amsterdam justru tidak mudah menemukannya. Biasanya para pemilik sepeda mempunyai sendiri perangkat untuk menambal ban yang bocor. Alat yang dengan wadah plastik atau kaleng sebesar wadah permen ini dapat dibeli di toko-toko dengan mudah dan murah, sekitar 4-7 euro, atau kadang hingga belasan euro jika kemasan lebih besar. Maka tidak jarang kita dapat melihat cewek bule membongkar ban di pinggir jalan.

*

Tetapi pèntil kan tidak dapat dikunci. Jadi saya tetap was-was. [z]

ke atas

Catatan Kaki
  1. Lucu, di dekat Stasiun Central terdapat toko sepeda yang meminjamkan pompa dengan tulisan ‘Free Amsterdam Air’… ^
  2. Eh, ini statistik tahun berapa, ya? Saya cuma nemu di satu buletin popular. ^
  3. Wah, saya bayangkan jika di Yogya, pasti saya sudah gogoh-gogoh kanal buat cari sepeda … lumayan daripada beli. ^

849 total views, 1 views today

Tanpa BBM (bersubsidi)

Beberapa hari ini terkabar bahwa pemerintah membatalkan gerakan sehari tanpa BBM bersubsidi.\1 Menurut rencana semula, pada tanggal 2 Desember (2012) mendatang akan tidak dijual BBM bersubsidi selama dua belas jam.\2

*

Di Amsterdam, terdapat berbagai jenis kendaraan bermotor yang bukan saja tanpa BBM bersubsidi, bahkan tanpa BBM di tangki. Berbagai mobil listrik berseliweran, dan tonggak-tonggak pengisi daya (charger) berada di berbagai tempat di tepi jalan.\3

Yang juga menarik, ternyata sudah setahunan dioperasikan bus hidrogen (waterstof) oleh GVB. Mungkin kendaraan semacam ini yang sering kita bayangkan sebagai kendaraan berbahan bakar air yang sering dihebohkan di tanah air. Setidaknya yang dapat kita capai dengan pemahaman dan teknologi sekarang.\4

mobil hidrogen

Bus hidrogen milik GVB
melintas di Spaarndamerstraat, Amsterdam, 2012.

Tentu bus ini tidak membawa galon akua sebagai ganti tangki BBM. Saya lihat di dalam bus terdapat skema sistem bahan bakarnya. Dalam bacaan awam saya yang curious dengan skema tersebut, turbin angin di suatu tempat sono menghasilkan listrik yang digunakan untuk mengelektrolisa air.\5 Hidrogen yang dihasilkan dibawa ke tangki bus. Nantinya, hidrogen ini digunakan untuk menghasilkan listrik yang pada gilirannya akan menggerakkan motor listrik yang dipasang di bus.\6

Tidak berhenti di situ. Untuk lebih menghemat, daya dorong (?) yang tersisa waktu ngerèm dikonversi juga ke dalam energi (disebut hibrida?) Simak saja gambar berikut, mungkin pembaca lebih paham daripada saya.\7

skema non-bbm

Skema yang ditempel di dalam bis.

*

GVB hanya menjalankan dua bus jenis ini. Jalur yang dilalui adalah Lijn 22 yang membentang antara Indischebuurt di sisi timur Amsterdam dan Sparndaamerbuurt di sisi barat, melewati depan Stasiun Central yang sangat ramai. Waktu tempuhnya sekitar setengah jam.

Juga dinyatakan dalam websitenya:

“De kennis en ervaring die GVB opdoet met de techniek van deze bussen, is nuttig voor toekomstige ontwikkelingen op het gebied van schone lucht en duurzaamheid. Alle betrokken partijen kunnen ervan leren.”\8

Menurut Oom Google, kalimat tersebut berarti:

“The knowledge and experience gained with the CFP technique of these buses is useful for future developments in the field of clean air and sustainability. All interested parties can learn.”

Jadi, kelihatannya belum masuk ke perhitungan komersial. Adalah sangat bagus operator transportasi mau mencobanya sehingga ‘bahan bakar’ hidrogen bukan hanya khayalan awam atau percobaan para ilmuwan di laboratorium.[z]

ke atas

Catatan Kaki
  1. solopos.com/2012/11/28/bbm-bersubsidi-gerakan-sehari-tanpa-bbm-bersubsidi-batal-spbu-beri-penjelasan-ke-konsumen-351950 ^
  2. pikiran-rakyat.com/node/212831 ^
  3. Kendaraan umum seperti kereta, tram, dan metro memang menggunakan listrik sejak dulu. Mungkin listriknya yang disubsidi … ^
  4. Kita ingat terdapat kasus ‘blue energy’ dan ‘banyugeni’ di paruh pertama tahun 2008 yang lalu. ^
  5. Konon, titik kritis ide penggunaan air sebagai sebagai sumber energi (untuk tidak mengatakan sebagai ‘bahan bakar’) adalah bagaimana mengambil hidrogen dari air yang ternyata membutuhkan listrik. Besar lagi.. ^
  6. Gambaran sederhana caranya, dapat dibaca misalnya di teknologi.kompasiana.com/terapan/2012/04/02/bahan-bakar-hydrogen/ ^
  7. Gambar dan keterangan lebih jelas dapat dilihat di: gvb.nl/overgvb/brandstofcelbus/Pages/Hoe-werkt-het.aspx ^
  8. gvb.nl/overgvb/brandstofcelbus/Pages/default.aspx ^

531 total views, no views today

Pencopet (di) Belanda


Predikat sebagai salah satu tujuan wisata dunia, tidak membuat Amsterdam aman bagi wisatawan.\1 Konon kota ini termasuk salah satu kota rawan copet bagi wisatawan di Eropa. Baca misalnya bundavanrafizya.blogspot.nl/2012/08/jalan-jalan-di-eropa-awas-copet.html. Blog tersebut juga memberikan tips untuk mengurangi resiko kecopetan dalam berwisata.

*

Dini hari ini, baru kembali dari mengantar teman mencari kantor polisi, membuat laporan atas kehilangan tas seisinya. Tas teman yang baru beberapa hari datang dari Indonesia ini hilang di tempat yang tidak terkira, di kafe yang tidak terlalu ramai, dan bukan kafe untuk wisatawan seperti yang banyak terdapat di sekitar Centrum. Tas diletakkan di lantai, di samping kursi. Kami berlima asyik ngobrol dan tanpa disadari tas ransel melayang.\2

Bersama pegawai kafe, kami mencoba mengingat, apa yang terjadi ketika kami duduk. Pegawai kafe mengingat bahwa ada seseorang yang duduk di dekat kami, sibuk menelefon tetapi ia tidak pesan makanan atau minuman apapun. Jadi, dia yang tersangka. Kami juga mencoba mencari di sekitar kafe, karena mungkin si pencopet akan membuang tas setelah mengambil barang berharga. Tidak ketemu juga.

Kami harus ke polisi karena memerlukan surat untuk mengurus surat yang lain.

Mencari polisi di kawasan Centrum yang ramai dengan wisatawan ini ternyata tidak mudah. Beruntung pegawai kafe mau menunjukkan alamatnya, meskipun tidak kami pahami dengan detil. Setelah berjalan jauh, bertanya ke seseorang yang sangat membantu karena mau membuka telepon pintarnya untuk melihat peta, kantor tersebut ternyata tidak membuka pintunya meskipun kami pencet bel berkali-kali. Kantor sudah gelap meskipun belum jam sepuluh malam. Tertulis di pintu, jika lebih dari jam 10, harap mencari dua alamat yang lain. Yah, ini masih 10-15 menit.

police amsterdamDua alamat yang disebutkan tidak juga mudah ditemukan. Yang satu tidak ada di peta yang kami bawa. Yang lain tidak segera ketemu. Papan nama kantor polisi tidak mencolok, orang-orang juga tidak dapat menunjukkan dengan tepat di sebelah mana kantor tersebut. Peta tidak membantu, karena menunjukkan arah yang berbeda. Setelah kurang lebih satu setengah jam berputar-putar–jalan kaki tentunya–barulah kantor tersebut ditemukan.

Tentu, polisi tidak dapat mengembalikan apa yang hilang. Meneer polisi juga bilang, jika uang dan hp pasti hilang, tetapi barangkali surat dan tas masih dapat ditemukan. Selama setengah jam, meneer polisi menanyai dan membuat catatan. Hanya, dia juga memerlukan nomor paspor, yang tentunya teman saya tidak mengingatnya. Dia harus kembali ke kantor polisi keesokan harinya, setelah menemukan nomor paspor di dokumen yang tersisa.

*

Bukan kali ini saja saya memiliki teman yang kehilangan tas di Amsterdam. Selama setahun ini, seorang teman kehilangan tas saat baru datang di Bandara Schiphol. Seorang teman yang lain kehilangan tas berisi laptop, paspor dsb dari boncengan sepeda. Yang terakhir ini rasanya memang sembrono, meletakkan barang di boncengan sepeda, tempat yang tidak dapat kita awasi.

Maka, saya dapat mengerti jika seorang oom yang aseli Belanda pada hari-hari pertama kedatangan saya di Amsterdam dulu sedikit-sedikit mengingatkan saya untuk berhati-hati dalam membawa tas. Atau selalu berkata dengan sedikit keras: “Kenapa membawa tas…” Selalu memeriksa, apakah tas terbuka, letakkan di depan, apakah membawa kamera, laptop, dimana meletakkan uang, paspor …

Pelajaran dari peristiwa ini adalah:

  • hati-hati dengan barang bawaan. Awasi terus. Apalagi jika terlepas dari badan, wong dompet yang di saku saja dapat melayang. Konon tas punggung (ransel/backpack) lebih rentan terhadap pencopetan.
  • batasi barang yang dibawa, cukup seperlunya. Uang cash tidak terlalu diperlukan karena toko-toko menerima uang kartu, kecuali akan belanja di pasar. Jika tidak memiliki kartu ATM, dapat membeli kartu (pin) di toko-toko. Untuk transportasi, dapat membeli kartu di mesin-mesin di pinggir jalan.
  • gandakan dokumen, simpan terpisah. Fotokopi, juga pindai (scan) dan simpan secara daring (online), cari yang aman tentunya.
  • saling mengingatkan, terutama jika kita menjadi orang yang telah lebih lama tinggal. Teman yang baru datang mungkin tidak tahu situasi, oleh karena itu perlu diingatkan sambil tetap waspada dengan bawaan sendiri tentunya.
  • mengenali dan mengingat tempat pertolongan atau apa istilahnya, tempat-tempat yang dibutuhkan untuk kondisi darurat atau perlu, ada baiknya buat yang tinggal lama di suatu tempat. Kantor polisi, rumah sakit, pemadam kebakaran …

Jadi, harap berhati-hati di Amsterdam, ya. Saya juga … [z]

ke atas

Catatan Kaki
  1. Jadi ingat Sapta Pesona yang pernah digalakkan sebagai upaya untuk memajukan pariwisata Indonesia. “Aman” menjadi pesona nomor satu. 1. Aman, 2. Tertib, 3. Bersih, 4. Sejuk, 5. Indah, 6. Ramah Tamah, 7. Kenangan. ^
  2. Konon, ransel lebih diincar pencopet di Amsterdam ini karena merupakan properti turis. Waktu itu, satu tas yang bukan ransel miliki seorang teman terletak dalam posisi yang lebih rawan. Tas tersebut tidak hilang. ^

1,300 total views, 1 views today

Jalan buntu

Sekelompok teman-teman saya punya kebiasaan unik. Setiap pergi ke luar negeri, mereka selalu mencari tanda “Jalan Buntu” dalam bahasa lokal, dan mempostingnya dalam grup di fb. Seorang teman memulai ketika pergi ke Italia dan mengunggah foto tanda jalan buntu di negeri pizza dan Pisa tersebut. Keterangan yang ia berikan cukup sederhana tetapi menggelitik kami yang kala itu sedang suntuk belajar bahasa asing: “Ini artinya ‘jalan buntu’.”

Akan tetapi, ternyata tidak mudah mencari tanda ini di tempat-tempat yang saya kunjungi. Setelah hampir setahun mencermati tanda-tanda lalu lintas di Belanda (ehm, tidak setiap hari juga menthelengi papan lalu lintas), barulah saya menemukannya. Eureka!

doodlopende weg

*

Ada beberapa kemungkinan penyebab mengapa tanda ini susah saya temukan. Kemungkinan pertama, orang Belanda tidak menyukai jalan buntu, yang sering kita buat karena dapat menghindarkan lingkungan dari ramainya lalu lintas. Sebagai contoh, umumnya jalan di Amsterdam terhubung satu dengan lainnya, di kedua ujung. Orang akan dapat dengan mudah berpindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa khawatir tersesat.

Jika menghindari jalan buntu memang bukan kebiasaan orang Belanda dalam membangun kota, maka saya bayangkan dinas tata kota sangat kuat dalam mengatur kota. Barangkali mereka tidak mengizinkan para pengembang (jika ada) membuat jalan buntu dengan alasan-alasan yang kuat.

Kemungkinan kedua, mereka tidak suka atau tidak merasa perlu memasang tanda “jalan buntu”. Begitu saja. [z]

577 total views, no views today

Older posts