Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Page 2 of 46

Mojo atawa Maja

Buah ini tidak lagi populer, apalagi bagi orang kota. Dahulu di tepi kali atau sawah masih sering saya jumpai pohon dengan buah bulat berwarna hijau berdiameter kurang lebih satu jengkal ini. Dan buah yang tidak tahu untuk apa.  Sepertinya, buah ini pahit, barangkali. Beberapa tulisan di internet bilang bahwa buah ini sebenarnya manis. Nungkin juga di belahan Bumi yang lain buah ini digoreng menjadi cemilan… Siapa tahu.

Meski secara fisik sudah tidak mudah dijumpai, kata ‘mojo’ masih dikenal karena nama kerajaan besar di masa lalu: Majapahit, atau Mojopait. Jika nama maja atau mojo tersebut merujuk ke buah yang sama, yang bernama ilmiah Aegle marmelos itu, maka orang dahulu pun juga merasakan bahwa buah ini berasa pahit. 

Atau, karena orang di Trowulan dulu tahu bahwa ada buah maja yang tidak pahit, sehingga satu jenis yang ditemukan itu harus dilabeli dengan kata “pahit”, agar terbedakan dari maja yang tidak pahit itu. Kemungkinan kedua adalah menyangatkan, yaitu memberi informasi lebih bahwa buah itu memang pahit. Atau kemungkinan ketiga yang mirip dengan yang kedua: bagian pahit itu adalah hal yang paling diingat dari buah hijau ini. Menurut bacaan daring lagi, buah ‘maja’ yang pahit adalah yang disebut berenuk (Crescentia cujete)

Btw, di Boyolali terdapat toponim Mojolegi (“Maja yang manis”), di Kecamatan Teras. Masih di kawasan bekas Karesidenan Surakarta tersebut, terdapat toponim Mojogedang (“Maja pisang”), yaitu di Kabupaten Karanganyar. Menilik namanya, dua-duanya sepertinya adalah buah maja yang edibel, enak dimakan.

Lepas dari itu semua, beberapa toponim di sekitar lokasi yang diduga kuat sebagai salah satu pusat atau ibukota Majapahit, menggunakan buah ini sebagai nama. Sebut Mojokerto yang menjadi nama kabupaten dan nama kota,dan puluhan nama desa di kabupaten ini. Di Kabupaten ini terdapat Kecamatan Mojoanyar dan Mojosari. Sementara itu, desa-desa (setingkat kelurahan) dengan ‘mojo’ adalah Mojosulur, Mojotamping, Mojorejo (terdapat tiga desa dengan nama ini), Curahmojo, Mojokarang, Balongmojo (“kolam dengan pohon maja”), Mojoranu (“danau dengan pohon maja”), Mojogeneng, Mojokembang, Mojolebak, Mojojajar, Mojosari, Mojowiryo, Mojowates, Mojogebang (“pohon maja dan pohon gebang”), Mojopilang, Mojokusumo, Mojokumpul, Mojodadi, Mojowono (“hutan maja”), dan Mojodowo (“maja yang panjang”).

Di kabupaten sebelah, yaitu Jombang, terdapat Mojoagung dan Mojowarno. Di Kediri terdapat nama Mojoroto (“buah maja yang rata” atau “rata dengan pohon maja”). Entah kapan toponim-toponim dengan kata ‘mojo’ tersebut muncul, apakah bersamaan dengan berkembangnya Majapahit atau setelah nama kerajaan ini populer lagi di awal abad ke-20.

Yang jelas, antropolog kenamaan Clifford Geertz terkesan dengan kata yang muncul berulang dalam toponim di Jawa Timur ini, dan memberi nama tempat penelitiannya dengan Mojokuto, seperti kebiasaan para antropolog. Padahal, nama asli tempat penelitiannya tersebut, konon, adalah Pare di Kediri. Pare, peria, atau paria (Momordica charantia) adalah buah yang sama pahitnya dengan maja namun umum dikonsumsi.

Di luar seputaran Mojokerto itu, terdapat Mojolaban di Sukoharjo dan Mojosongo (“Sembilan pohon/buah maja”) di Surakarta, Jawa Tengah. Dan jangan lupa Karangmojo di Gunungkidul, Yogyakarta, yang ada warung sate terkenalnya, “Pak Turut”. Di Jawa Barat terdapat Majalengka, yaitu nama salah satu kabupaten, dan Majalaya, nama daerah di Bandung. Entah apa nama-nama di Sunda tersebut juga merujuk pada buah bulat-hijau itu.

Sancaka sore, YK-MR, 9 Juni 2017.

Aja Dumeh

Salah satu ungkapan bijak ini sangat populer bagi masyarakat Jawa hingga dipasang di berbagai tempat sebagai hiasan-pengingat. Tebeng becak paling sering menggunakan kata-kata, atau mungkin lebih tepat disebut dengan frasa, ini.

Makna “aja dumeh” kira-kira adalah “jangan mentang-mentang”. Jangan mentang-mentang berkuasa, kemudian mengeksploitasi liyan. Jangan mentang-mentang kaya kemudian menyepelekan orang lain.

Konteks tebeng becak rasanya cukup pas. Tulisan ini dapat memberi peringatan kepada orang lain, yang kebetulan berkendaraan pribadi, misalnya. Namun, sebenarnya frasa itu juga dapat menjadi pengingat bagi pak becak, agar tidak mentang-mentang juga. Mentang-mentang di jalan ketika mengayuh becaknya, atau mentang-mentang kelak kemudian hari ketika “nemu mulya“, lebih sejahtera.

Tulisan itu pun dapat berfungsi sebagai semboyan yang dianut pemilik kendaraan. Hal itu seperti tulisan “Bhinneka Tunggal Ika” pada lambang negara kita.

stiker mobil

Ojo dumeh. Semar.

Beberapa hari yang lalu pada kendaraan di depan saya terpampang tulisan ini pada kaca belakang dengan ejaan “Ojo Dumeh”, lengkap dengan gambar tokoh wayang Semar, tokoh yang menjadi pamomong para ksatria Pandawa. Perpaduan gambar dan tulisan itu dapat berarti “Seperti Semar, jangan mentang-mentang, Ia adalah dewa, tetapi sangat bersahaja dan menjadi pembantu para ksatria yang manusia itu.

Tulisan di bagian belakang kendaraan itu dapat pula berarti nasihat, mungkin untuk mereka yang berada di belakang mobil tersebut. Termasuk saya.

Wayang Singapura

Di Singapura ada wayang. Tentu bukan hal yang aneh, dikelilingi oleh budaya yang mengenal wayang, setidaknya ada Indonesia di sisi selatan, Malaysia di utara, dan Thailand lebih jauh di utara, membuat negara pulau ini juga mengenal wayang.

Namun entah seperti apa rincian bentuknya, saya tidak sempat menjumpai artefak apalagi pertunjukannya. Jejak keberadaan wayang saya lihat sebagai mural pada satu pagar di antara Museum Peranakan dan Museum Filateli, November 2015. Wayang kulit, dengan perpaduan dari berbagai etnis: dari Jawa dapat dikenali dari bagian kepala, dengan tampak samping dan ikatan rambut yang khas seperti para ksatria Pandawa. Sementara pengaruh dari Thailand terlihat pada ujung-ujung pakaian yang mencuat.

Mural Wayang pada sepenggal pagar di Singapura

Unsur Singapura modern tentu ada pula: tokoh wayang mengenakan dasi kupu. Di sana-sini di pagar tembok yang sepanjang dua puluhan meter itu terdapat gambar pixel, yang seperti bata ditumpuk-tumpuk itu. Dan tentu isi cerita scene tersebut juga Singapura: satu tokoh membawa cat semprot, dan satu membawa rol cat. Saya rasa scene itu menggambarkan kampanye antigrafiti, di samping bahwa mural itu sendiri adalah upaya mengurangi grafiti.

Oleh-Oleh

Salah satu ‘budaya kita’ adalah memberi oleh-oleh pada orang yang kita kunjungi. Kita juga biasa memberi oleh-oleh pada orang-orang yang kita tinggalkan dan kemudian ketemu lagi, seperti teman atau keluarga yang kita tinggal sebentar ke tempat lain, entah berwisata, ziarah, atau keperluan lain.

Terdapat ‘semacam kewajiban’ bagi yang pergi untuk membawa pulang oleh-oleh. Buah tangan, cenderamata, atawa suvenir. Entah berwujud apa, meski biasanya makanan atau kerajinan khas. Maunya adalah benda yang khusus dibuat di situ, tempat yang dikunjungi, sehingga merupakan benda ‘orisinal’ tempat tersebut. Akan tetapi, dibuat di Tiongkok juga sering tidak masalah. Oleh-oleh orang pergi beribadah haji ke Arab Saudi malah kadang dibeli di Indonesia.

• Baca juga: Otentik atawa Aseli

Saya sebut tadi membawa oleh-oleh ini sebagai ‘budaya kita’.

Hari minggu kemarin, pas tahun baru 2017, toko dan kantor di Yogyakarta umumnya tutup. Setelah sedikit memutar kota, terlihat bahwa tempat komersial yang masih buka antara lain adalah minimarket, warung atau restoran, pom bensin, dan… toko oleh-oleh. Sampai macet-cet jalan di depan toko-toko benda suvenir itu. Penuh dengan, kayaknya, orang luar kota yang kebetulan berlibur di Yogyakarta dan kelihatannya akan segera pulang. Maklum, dua hari lagi sudah masuk kerja atau sekolah.

Nah, kesimpulan saya bahwa membawa oleh-oleh ini adalah ‘budaya kita’ muncul ketika lewat di depan sebuah toko oleh-oleh yang jejel riyel dengan pengunjung dan tempat parkir penuh kendaraan, pun jalan di depannya menjadi macet. Di seberang toko itu terdapat dua orang bule berkali-kali memotret keriuhan itu dengan kamera poket, sambil geleng kepala dan senyum-senyum.

Entah apa yang mereka pikirkan. Dua orang itu yang pastinya bukan orang Yogyakarta itu rasanya bukan akan membeli oleh-oleh di toko yang mengunggulkan bakpia itu. Barangkali mereka malah tidak tertarik untuk membawa oleh-oleh apa pun sewaktu pulang nanti. Mereka mungkin tidak memiliki ‘obligasi’ untuk membawa oleh-oleh pada mereka yang ditinggalkan, di negerinya sono….

Bukan budaya.

***
Oh ya, hari ini seorang kolega yang baru pulang dari Negeri Gajah Putih membawakan kami, orang-orang sekantor, oleh-oleh berupa tas kecil bergambar gajah… [z]

Lubang Angin

Peristiwa Tragedi Pulomas yang terjadi kemarin mestinya menyadarkan orang akan pentingnya lubang angin pada bangunan. Sebaiknya semua ruang mendapat akses udara yang cukup, setidaknya untuk keperluan darurat. Tidak ada orang berharap tersekap di dalam ruang tertutup, tetapi hal itu mungkin saja terjadi, baik karena ‘disalahi’ orang lain atau kecelakaan seperti terkunci tanpa sengaja. Jika pertolongan tidak segera datang, atau pintu tidak segera terbuka, terdapat kemungkinan orang yang terjebak di dalam ruang akan kehabisan udara.

Akan tetapi, ventilasi, atau lubang udara sudah mulai ditinggalkan. Lubang udara atap masjid gaya tradisional Nusantara, yaitu dengan sela antaratap tumpang, mulai ditutup. Salah satu alasan adalah karena digunakan binatang untuk masuk dan bersarang. Padahal, lubang di atap itu perlu untuk mengalirkan ke luar udara panas agar ruang tetap terasa sejuk apa lagi jika sedang penuh jemaah. Sekarang, alih-alih memanfaatkan sistem alami itu, kesejukan udara di masjid dicari dengan memasang kipas angin, yang mestinya memerlukan biaya listrik.

Dahulu bangsa Belanda yang mengkoloni Nusantara juga cerdik mensiasati iklim tropis yang panas ini. Di bangunan-bangunan lama masih dapat kita jumpai lubang angin yang tidak saja berada di sisi atas dinding atau atap, tetapi juga di sisi bawah dinding, mepet di lantai. Gunanya adalah untuk mengalirkan udara dingin dari luar, untuk nantinya keluar lewat bukaan-bukaan di bagian atas setelah udara tersebut memanas.

Salah satu ventilasi yang tidak umum adalah lubang pada tutup ballpoint merek tertentu, seperti bic. Konon, banyak orang tersedak karena menelan tutup alat tulis itu tanpa sengaja. Maka, lubang kecil pada ujung tutup bolpen itu berguna untuk mengalirkan udara agar si penelan tak sengaja itu masih dapat bernapas.

« Older posts Newer posts »