Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Page 2 of 45

Lubang Angin

Peristiwa Tragedi Pulomas yang terjadi kemarin mestinya menyadarkan orang akan pentingnya lubang angin pada bangunan. Sebaiknya semua ruang mendapat akses udara yang cukup, setidaknya untuk keperluan darurat. Tidak ada orang berharap tersekap di dalam ruang tertutup, tetapi hal itu mungkin saja terjadi, baik karena ‘disalahi’ orang lain atau kecelakaan seperti terkunci tanpa sengaja. Jika pertolongan tidak segera datang, atau pintu tidak segera terbuka, terdapat kemungkinan orang yang terjebak di dalam ruang akan kehabisan udara.

Akan tetapi, ventilasi, atau lubang udara sudah mulai ditinggalkan. Lubang udara atap masjid gaya tradisional Nusantara, yaitu dengan sela antaratap tumpang, mulai ditutup. Salah satu alasan adalah karena digunakan binatang untuk masuk dan bersarang. Padahal, lubang di atap itu perlu untuk mengalirkan ke luar udara panas agar ruang tetap terasa sejuk apa lagi jika sedang penuh jemaah. Sekarang, alih-alih memanfaatkan sistem alami itu, kesejukan udara di masjid dicari dengan memasang kipas angin, yang mestinya memerlukan biaya listrik.

Dahulu bangsa Belanda yang mengkoloni Nusantara juga cerdik mensiasati iklim tropis yang panas ini. Di bangunan-bangunan lama masih dapat kita jumpai lubang angin yang tidak saja berada di sisi atas dinding atau atap, tetapi juga di sisi bawah dinding, mepet di lantai. Gunanya adalah untuk mengalirkan udara dingin dari luar, untuk nantinya keluar lewat bukaan-bukaan di bagian atas setelah udara tersebut memanas.

Salah satu ventilasi yang tidak umum adalah lubang pada tutup ballpoint merek tertentu, seperti bic. Konon, banyak orang tersedak karena menelan tutup alat tulis itu tanpa sengaja. Maka, lubang kecil pada ujung tutup bolpen itu berguna untuk mengalirkan udara agar si penelan tak sengaja itu masih dapat bernapas.

209 total views, no views today

Lukis Gelas

Siang tadi saya menemani anak dan keponakan ikut workshop (?) melukis pada gelas kaca, atau yang dalam bahasa Jawa disebut cangkir beling. Acara itu dilaksanakan dalam rangka pameran temporer Museum Sonobudoyo, yang berjudul “Bujana”. Pameran menampilkan berbagai peralatan makan, dan mainan “masak-masakan”. Ada juga kursi Ki Hajar Dewantara yang entah apa digunakan untuk makan.

Pameran itu di selenggarakan di ruang pamer baru museum tersebut, yaitu bekas gedung Koni, Jalan Pangurakan, yang berada di belakang BNI. Pameran itu dilaksanakan tanggal 14 hingga 25 Desember 2016.

Melukis di gelas kaca tidak terlalu sulit sebenarnya. Gelas dilukis dengan cat khusus untuk kaca. Itu saja. Cuman, cat tersebut harus dicampur katalis terlebih dahulu, kemudian diencerkan dengan tiner M3. Jika mengalami kesalahan dalam melukis, gampang. Usap dengan tisu dibasahi tiner. Gelas akan bersih kinclong seperti semula.

Perkara apakah lukisan jadi bagus, itu hal lain. Cat pada lukisan saya masih tidak rata dan pating plethot. Lukisan karya si mbak instruktur rapih, garis sangat halus dibuat menggunakan tusuk gigi. Bagaimana bisa sebagus itu? “Saya sudah bikin 150 buah,” katanya. Iyalah.

14825706390390_wmMasalah susah lainnya adalah ide. Apa yang harus digambar pada gelas? Mestinya bisa segala macam, dari yang abstrak hingga yang realis. Namun, kita sebaiknya mempertimbangkan media kaca yang berbentuk gelas dan cat yang kebetulan opak itu. Dari gelas-gelas peserta yang sudah jadi, ada yang bagus, ada pula yang macet gagasannya. Nah, saya berpikir cepat dan membuat gambar gelas di atas gelas kaca, eh cangkir di atas cangkir beling, yang di sediakan…

Kemudian jadilah gelas berdekorasi ini. [z]

308 total views, no views today

Telolet

Sebenarnya saya tulalit mendapati perkembangan kemini. Anak-anak, juga yang dewasa, berdiri di pinggir jalan dan meminta sopir bis menekan klakson yang berbunyi “telolet” itu. Mereka kemudian tertawa bahagia. Konon postingan hal ini menjadi trending topik di dunia.

Tulalit saya adalah apa bagusnya mendengar suara itu di jalan. Saya lebih setuju pada semboyan “injak rem daripada bunyikan klakson”. Jika ada yang mengklakson, apa lagi di bangjo, saya biasanya merengut.

Tapi memang suara klakson itu cukup khas dan menarik perhatian. Bis (mungkin truk juga) yang biasa melaju kencang perlu menyingkirkan segenap halangan dan rintangan di jalan agar mereka tiba di tujuan tepat waktu. Atau lebih cepat agar punya sedikit waktu untuk beristirahat di terminal.

Suara itu jelas tidak dicipta untuk ditujukan kepada segerombolan anak di pinggir jalan. Jadi, mengapa anak-anak bahagia dengan pembajakan itu?

Ikut tren, boleh jadi. Karena lagi viral di dunia maya (anak-anak itu tahu apa tidak?) maka mereka juga ikut. Atau karena jenuh. Cari lucu-lucuan yang murah meriah. Teman saya, Fajri, malah menganalisis bahwa hal itu karena orang bosan dengan segala macam hoax dan kebencian di medsos. Maka, guyon sederhana yang gampang dicerna lebih disuka.

Boleh jadi, Jri… [z]

152 total views, no views today

Nulis

Bagaimana menulis blog yang baik, dari sisi tata bahasa dan pemilihan kata, sehingga enak dinikmati pembaca, mengalir dengan lancar dari depan hingga belakang?


Entahlah, saya tidak tahu. Menulis cukup sulit bagi saya. Gagasan sering tidak mengalir, selalu tunjang-menunjang antara berbagai hal di dalam alinea dan bahkan kalimat. Oleh karena itu, selalu ada revisi yang hingga puluhan kali untuk setiap artikel yang saya unggah di blog.

Senangnya adalah saya tidak sendiri. Konon, keranjang para penulis terkenal pun sering penuh dengan kertas ketikan yang ‘tidak jadi’. Tidak hanya dalam hal menulis, juga dalam berkarya seni rupa. Dulu, belasan tahun yang lalu maestro seni rupa batik Amri Yahya berkata bahwa untuk membuat sebuah lukisan kaligrafi kadang perlu diulang berkali-kali sebelum mencapai hasil yang diinginkan. Waktu itu dia berbicara pada acara Pesantren Seni yang dibuat oleh kami para mahasiswa untuk mengisi kegiatan Ramadhan. Makalah yang dia bawa menggunakan kover bergambar kaligrafi yang dibicarakan itu.

Jadi, rasanya untuk menulis blog yang baik yang pertama harus dilakukan ya menulis. Tidak ada cara lain. Setelah itu, baca dan perbaiki jika ada yang belum sesuai. [z]

ke atas

523 total views, no views today

Mudik


Salah satu kata yang populer di seputar hari raya adalah “mudik”. Pengertian umumnya adalah pulang ke tempat asal. Pada hari-hari semacam ini, negeri riuh rendah dengan orang yang pulang kampung. Perhatian seluruh negeri tertuju ke peristiwa ini, yang konon di tahun 2016 diperkirakan terdapat 17,6 juta orang yang mudik lebaran. Jumlah ini sama dengan perkiraan jumlah penduduk Mali tahun 2015, atau lebih banyak dari penduduk Belanda tahun 2016 ini yang berjumlah 16.963.200 orang.

Media massa memberikan porsi yang banyak dalam pemberitaan tentang mudik, atau disebut dengan “arus mudik”. Para naralapor, reporter, dipasang di berbagai ruas jalur penting yang biasanya ramai atau macet. Mereka melapor pada segmen berita khusus tentang peristiwa ini. Umumnya yang terjadi adalah orang-orang pergi dari Jakarta ke tempat-tempat lain di seluruh Nusantara, terutama “Jawa” dan Pulau Sumatera.

Nah, setelah satu-dua hari setelah hari raya, para pemudik mulai kembali ke tempat semula. Orang-orang yang minggu-minggu kemarin meramaikan jalanan dengan arus mudik, sekarang balik ke Jakarta untuk melanjutkan hidup. Media massa memberitakan hal sama dengan beragam istilah: “arus balik”, atau “arus balik mudik” di samping tetap menggunakan kata “mudik”. Terlihat kita agak bingung memberikan istilah yang merupakan lawan kata dari mudik.

Jadi, antonim dari “mudik” adalah “balik”, dalam kasus ini.

Dahulu waktu sekolah saya diajari kata majemuk “hilir-mudik”. Kata ini berarti ada objek yang ke sana ke mari, entah itu orang atau barang seperti kendaraan. Menariknya adalah “mudik” disandingkan dengan kata “hilir”. Hilir tentu bermakna pergi ke tempat air mengalir. Ingat lawan kata “hulu-hilir”. Mudik konon berarti “meng-udik”, “pergi ke udik”, ke suatu tempat nun jauh di sana, tempat air sungai bermula. Istilah “hilir-mudik” mungkin dahulu muncul zaman transportasi sungai masih populer, menjadi andalan. Orang pergi dengan perahu ke hulu dan ke hilir mengikuti panjang sungai, jadi hilir-mudik.

Istilah mudik tentu relevan untuk menyebut orang Jakarta yang pergi pulang kampung ke, misalnya “Jawa”. Namun, banyak mahasiswa saya yang berasal dari Jakarta, dan juga melaksanakan tradisi “mudik” ini. Entah, apa mereka sebaiknya menyebut “ngilir” atau “milir”. [z]

ke atas

395 total views, 1 views today

« Older posts Newer posts »