Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Category: kini-kemini (page 1 of 19)

Wayang Singapura

Di Singapura ada wayang. Tentu bukan hal yang aneh, dikelilingi oleh budaya yang mengenal wayang, setidaknya ada Indonesia di sisi selatan, Malaysia di utara, dan Thailand lebih jauh di utara, membuat negara pulau ini juga mengenal wayang.

Namun entah seperti apa rincian bentuknya, saya tidak sempat menjumpai artefak apalagi pertunjukannya. Jejak keberadaan wayang saya lihat sebagai mural pada satu pagar di antara Museum Peranakan dan Museum Filateli, November 2015. Wayang kulit, dengan perpaduan dari berbagai etnis: dari Jawa dapat dikenali dari bagian kepala, dengan tampak samping dan ikatan rambut yang khas seperti para ksatria Pandawa. Sementara pengaruh dari Thailand terlihat pada ujung-ujung pakaian yang mencuat.

Mural Wayang pada sepenggal pagar di Singapura

Unsur Singapura modern tentu ada pula: tokoh wayang mengenakan dasi kupu. Di sana-sini di pagar tembok yang sepanjang dua puluhan meter itu terdapat gambar pixel, yang seperti bata ditumpuk-tumpuk itu. Dan tentu isi cerita scene tersebut juga Singapura: satu tokoh membawa cat semprot, dan satu membawa rol cat. Saya rasa scene itu menggambarkan kampanye antigrafiti, di samping bahwa mural itu sendiri adalah upaya mengurangi grafiti.

189 total views, no views today

Oleh-Oleh

Salah satu ‘budaya kita’ adalah memberi oleh-oleh pada orang yang kita kunjungi. Kita juga biasa memberi oleh-oleh pada orang-orang yang kita tinggalkan dan kemudian ketemu lagi, seperti teman atau keluarga yang kita tinggal sebentar ke tempat lain, entah berwisata, ziarah, atau keperluan lain.

Terdapat ‘semacam kewajiban’ bagi yang pergi untuk membawa pulang oleh-oleh. Buah tangan, cenderamata, atawa suvenir. Entah berwujud apa, meski biasanya makanan atau kerajinan khas. Maunya adalah benda yang khusus dibuat di situ, tempat yang dikunjungi, sehingga merupakan benda ‘orisinal’ tempat tersebut. Akan tetapi, dibuat di Tiongkok juga sering tidak masalah. Oleh-oleh orang pergi beribadah haji ke Arab Saudi malah kadang dibeli di Indonesia.

• Baca juga: Otentik atawa Aseli

Saya sebut tadi membawa oleh-oleh ini sebagai ‘budaya kita’.

Hari minggu kemarin, pas tahun baru 2017, toko dan kantor di Yogyakarta umumnya tutup. Setelah sedikit memutar kota, terlihat bahwa tempat komersial yang masih buka antara lain adalah minimarket, warung atau restoran, pom bensin, dan… toko oleh-oleh. Sampai macet-cet jalan di depan toko-toko benda suvenir itu. Penuh dengan, kayaknya, orang luar kota yang kebetulan berlibur di Yogyakarta dan kelihatannya akan segera pulang. Maklum, dua hari lagi sudah masuk kerja atau sekolah.

Nah, kesimpulan saya bahwa membawa oleh-oleh ini adalah ‘budaya kita’ muncul ketika lewat di depan sebuah toko oleh-oleh yang jejel riyel dengan pengunjung dan tempat parkir penuh kendaraan, pun jalan di depannya menjadi macet. Di seberang toko itu terdapat dua orang bule berkali-kali memotret keriuhan itu dengan kamera poket, sambil geleng kepala dan senyum-senyum.

Entah apa yang mereka pikirkan. Dua orang itu yang pastinya bukan orang Yogyakarta itu rasanya bukan akan membeli oleh-oleh di toko yang mengunggulkan bakpia itu. Barangkali mereka malah tidak tertarik untuk membawa oleh-oleh apa pun sewaktu pulang nanti. Mereka mungkin tidak memiliki ‘obligasi’ untuk membawa oleh-oleh pada mereka yang ditinggalkan, di negerinya sono….

Bukan budaya.

***
Oh ya, hari ini seorang kolega yang baru pulang dari Negeri Gajah Putih membawakan kami, orang-orang sekantor, oleh-oleh berupa tas kecil bergambar gajah… [z]

209 total views, no views today

Lubang Angin

Peristiwa Tragedi Pulomas yang terjadi kemarin mestinya menyadarkan orang akan pentingnya lubang angin pada bangunan. Sebaiknya semua ruang mendapat akses udara yang cukup, setidaknya untuk keperluan darurat. Tidak ada orang berharap tersekap di dalam ruang tertutup, tetapi hal itu mungkin saja terjadi, baik karena ‘disalahi’ orang lain atau kecelakaan seperti terkunci tanpa sengaja. Jika pertolongan tidak segera datang, atau pintu tidak segera terbuka, terdapat kemungkinan orang yang terjebak di dalam ruang akan kehabisan udara.

Akan tetapi, ventilasi, atau lubang udara sudah mulai ditinggalkan. Lubang udara atap masjid gaya tradisional Nusantara, yaitu dengan sela antaratap tumpang, mulai ditutup. Salah satu alasan adalah karena digunakan binatang untuk masuk dan bersarang. Padahal, lubang di atap itu perlu untuk mengalirkan ke luar udara panas agar ruang tetap terasa sejuk apa lagi jika sedang penuh jemaah. Sekarang, alih-alih memanfaatkan sistem alami itu, kesejukan udara di masjid dicari dengan memasang kipas angin, yang mestinya memerlukan biaya listrik.

Dahulu bangsa Belanda yang mengkoloni Nusantara juga cerdik mensiasati iklim tropis yang panas ini. Di bangunan-bangunan lama masih dapat kita jumpai lubang angin yang tidak saja berada di sisi atas dinding atau atap, tetapi juga di sisi bawah dinding, mepet di lantai. Gunanya adalah untuk mengalirkan udara dingin dari luar, untuk nantinya keluar lewat bukaan-bukaan di bagian atas setelah udara tersebut memanas.

Salah satu ventilasi yang tidak umum adalah lubang pada tutup ballpoint merek tertentu, seperti bic. Konon, banyak orang tersedak karena menelan tutup alat tulis itu tanpa sengaja. Maka, lubang kecil pada ujung tutup bolpen itu berguna untuk mengalirkan udara agar si penelan tak sengaja itu masih dapat bernapas.

209 total views, no views today

Telolet

Sebenarnya saya tulalit mendapati perkembangan kemini. Anak-anak, juga yang dewasa, berdiri di pinggir jalan dan meminta sopir bis menekan klakson yang berbunyi “telolet” itu. Mereka kemudian tertawa bahagia. Konon postingan hal ini menjadi trending topik di dunia.

Tulalit saya adalah apa bagusnya mendengar suara itu di jalan. Saya lebih setuju pada semboyan “injak rem daripada bunyikan klakson”. Jika ada yang mengklakson, apa lagi di bangjo, saya biasanya merengut.

Tapi memang suara klakson itu cukup khas dan menarik perhatian. Bis (mungkin truk juga) yang biasa melaju kencang perlu menyingkirkan segenap halangan dan rintangan di jalan agar mereka tiba di tujuan tepat waktu. Atau lebih cepat agar punya sedikit waktu untuk beristirahat di terminal.

Suara itu jelas tidak dicipta untuk ditujukan kepada segerombolan anak di pinggir jalan. Jadi, mengapa anak-anak bahagia dengan pembajakan itu?

Ikut tren, boleh jadi. Karena lagi viral di dunia maya (anak-anak itu tahu apa tidak?) maka mereka juga ikut. Atau karena jenuh. Cari lucu-lucuan yang murah meriah. Teman saya, Fajri, malah menganalisis bahwa hal itu karena orang bosan dengan segala macam hoax dan kebencian di medsos. Maka, guyon sederhana yang gampang dicerna lebih disuka.

Boleh jadi, Jri… [z]

152 total views, no views today

Mudik


Salah satu kata yang populer di seputar hari raya adalah “mudik”. Pengertian umumnya adalah pulang ke tempat asal. Pada hari-hari semacam ini, negeri riuh rendah dengan orang yang pulang kampung. Perhatian seluruh negeri tertuju ke peristiwa ini, yang konon di tahun 2016 diperkirakan terdapat 17,6 juta orang yang mudik lebaran. Jumlah ini sama dengan perkiraan jumlah penduduk Mali tahun 2015, atau lebih banyak dari penduduk Belanda tahun 2016 ini yang berjumlah 16.963.200 orang.

Media massa memberikan porsi yang banyak dalam pemberitaan tentang mudik, atau disebut dengan “arus mudik”. Para naralapor, reporter, dipasang di berbagai ruas jalur penting yang biasanya ramai atau macet. Mereka melapor pada segmen berita khusus tentang peristiwa ini. Umumnya yang terjadi adalah orang-orang pergi dari Jakarta ke tempat-tempat lain di seluruh Nusantara, terutama “Jawa” dan Pulau Sumatera.

Nah, setelah satu-dua hari setelah hari raya, para pemudik mulai kembali ke tempat semula. Orang-orang yang minggu-minggu kemarin meramaikan jalanan dengan arus mudik, sekarang balik ke Jakarta untuk melanjutkan hidup. Media massa memberitakan hal sama dengan beragam istilah: “arus balik”, atau “arus balik mudik” di samping tetap menggunakan kata “mudik”. Terlihat kita agak bingung memberikan istilah yang merupakan lawan kata dari mudik.

Jadi, antonim dari “mudik” adalah “balik”, dalam kasus ini.

Dahulu waktu sekolah saya diajari kata majemuk “hilir-mudik”. Kata ini berarti ada objek yang ke sana ke mari, entah itu orang atau barang seperti kendaraan. Menariknya adalah “mudik” disandingkan dengan kata “hilir”. Hilir tentu bermakna pergi ke tempat air mengalir. Ingat lawan kata “hulu-hilir”. Mudik konon berarti “meng-udik”, “pergi ke udik”, ke suatu tempat nun jauh di sana, tempat air sungai bermula. Istilah “hilir-mudik” mungkin dahulu muncul zaman transportasi sungai masih populer, menjadi andalan. Orang pergi dengan perahu ke hulu dan ke hilir mengikuti panjang sungai, jadi hilir-mudik.

Istilah mudik tentu relevan untuk menyebut orang Jakarta yang pergi pulang kampung ke, misalnya “Jawa”. Namun, banyak mahasiswa saya yang berasal dari Jakarta, dan juga melaksanakan tradisi “mudik” ini. Entah, apa mereka sebaiknya menyebut “ngilir” atau “milir”. [z]

ke atas

395 total views, 1 views today

Older posts