Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Category: kini-kemini (page 1 of 20)

Kareem

Rasanya, pada Ramadhan dan Syawal tahun 2018 ini terlihat banyak bertaburan kata-kata ini: “Ramadhan Kareem” dan “Eid Mubarak”. Kata-kata itu terlihat pada selebaran, iklan di koran, di televisi, hingga pada kain-rentang yang dipasang di bagian depan toko. Kemarin-kemarin, kata-kata itu lebih banyak muncul ketika kita meng-google gambar untuk ucapan saat puasa dan idul fitri, yang akan ketemu pada situs-situs web milik orang luar negeri sono.

Yang muncul di Indonesia, ejaannya pun menggunakan “EYD Inggris”: “kareem” ketimbang “karim” atau “kariim” yang lebih dahulu kita punya. Tentu tidak masalah menggunakan istilah karim dan mubarak ini, karena bermaksud baik juga: “Ramadhan Mulia” dan “Lebaran penuh berkah”. Kurang lebih. Di depan sebuah toko kain di Yogyakarta dipasang kata “Ramadhan Mubarak”. Ramadhan memang penuh berkah juga.

Hanya yang menarik adalah irisan antara aspek komersial (iklan) dan bahasa asing itu. Juga, mungkin nanti akan sangat intensif sehingga menggeser frasa “selamat menjalankan ibadah puasa” dan “selamat hari raya idul fitri”. Orang-orang bisnis memang berusaha kreatif untuk menggunakan hal-hal baru, berbau asing, atau sedang trend, untuk menarik pembeli. Mungkin dari mereka kebudayaan, termasuk kebiasaan kita, perlahan berubah. Dan kita sedang menyaksikannya.

Selamat merayakan idul fitri, mohon maaf lahir dan batin. [z]

Mi Cepat Saji

Mi instan, atau mi cepat saji, sering ditulis dengan ‘mie”, sangat akrab dengan mahasiswa. Atau sebaliknya, sebenarnya. Mi-nya sih cuek saja. Hanya mahasiswalah yang suka memburu, menyimpan sebagai cadangan. Atau malah sebagai makanan utama….

Makanan yang ditemukan, atau mungkin dipopulerkan oleh orang Jepang kelahiran Taiwan ini memang seperti mi, mengular membelit. Temuan yang jenial, makanan siap saji yang awet disimpan, tinggal tuang (air panas), sudah.

Mi cepat saji juga muncul dengan berbagai ragam rasa, dan upaya memberikan rasa tempatan menjadi salah satu cara untuk memperbanyak keragaman itu, di samping untuk menarik minat mereka yang akan merasa bahwa mi rasa tertentu itu mereka sekali. Sebagian sih mencoba karena penasaran seperti apa rasa mi varian suatu tempat tertentu. Atau untuk menunjukkan bahwa mi cepat saji juga membumi, punya akar di kuliner setempat.

Makanan ini populer tentu bukan hanya di kalangan mahasiswa. Jika melihat statistik, konon milyaran bungkus mi cepat saji dikonsumsi oleh orang Indonesia. Pada tahun 2013 sasja, konon kita bersama telah mengkonsumsi 14,9 milyar bungkus, atau 1,5 dus per orang pada tahun itu\1.

Sebagian menggunakan mi cepat saji sebagai bahan darurat mengatasi kelaparan. Sering di laci meja tersimpan barang satu atau dua bungkus mi instan untuk kondisi ketika siang hari malas atau tidak sempat mencari makan, meski, “… tidak menyelesaikan masalah,” kata Mas Gutomo, teman saya. Maksudnya, tetap lapar. Bantuan-bantuan untuk korban bencana alam juga sering dalam bentuk mi instan. Mudah didapat, mudah diangkut, mudah dibuat/disajikan. Perkara apakah menyelesaikan masalah lapar seperti tadi, entahlah.

Selain entahlah itu, hal lain yang meragukan adalah rumor tentang bahwa makanan ini tidak sehat, dicampur ini dan itu, dan sebagainya. Tetapi hemat saya, jika makanan sudah lolos dari pengawasan pemerintah, berarti tinggal kita, konsumen, saja yang mengukur sendiri: seberapa sering dan banyak akan mengkonsumsi mi cepat saji sehingga tidak merugikan diri sendiri.

Artinya kita, juga para mahasiswa itu, harus memperkaya asupan makanan agar tidak satu jenis saja, apalagi hanya mi cepat saji. [z]

Catatan Kaki
  1. https://indonesiana.tempo.co/read/29922/2015/01/22/kadirsst/konsumsi-mie-instan-masyarakat-indonesia-mencengangkan ^

Ngobrol

Setiap lebaran sebagian besar dari kita kelihatannya pergi bertandang ke tetangga dan sanak-saudara, untuk bermaaf-maafan. Oleh karena itu, para perantau akan berupaya keras untuk dapat pulang sampai ke kampung halaman untuk menjumpai keluarga, handai taulan, serta tentu para tetangga.

Tentu tidak hanya bermaafan itu, karena ucapan resmi dari tetamu biasanya dimulai dengan, “Kedatangan kami ke sini pertama adalah untuk bersilaturahmi”. Maka ada lah makan-minum, dan ngobrol tentu.

Ngabrol ngalor-ngidul, “ke utara-ke selatan”. Apa pun. Yang penting mengisi waktu dan ‘mengabsahkan’ kegiatan komunikasi. Tentu, seberapa akrab dan seberapa besar persamaan di antara tamu dan tuan rumah, akan berpengaruh terhadap topik pembicaraan.

Obrolan bisa berkisar seputar cuaca. Hari ini terasa panas, atau beruntung bahwa pada hari penting ini tidak turun hujan. Segenap aspek sebab dan akibat kemudian dideskripsikan. Antara tuan rumah dan tamunya saling timpal.

Atau bencana yang baru lalu. Meski telah diceritakan berkali-kali, tetapi mengenang bencana yang pernah dilakui bersama itu tetap dilakukan. Mungkin oleh karena hal itu adalah unsur perekat sesama anggota komunitas/masyarakat.

Atau saudara-saudara yang merantau, siapa yang pulang dan siapa yang tidak. Bisa jadi ini juga bagian dari bond, ikatan tadi. Selain mengesankan bahwa penanya peduli pada yang ditanya, hal tersebut juga menandakan bahwa mereka saling mengenal dengan baik.

Atau situasi sosial-ekonomi-politik Indonesia dan dunia yang terkini. Tentu pebicaraan sederhana dan penuh duga dan rasa. Sumber data saya dan para tetangga ini kan hanya dari media, terutama media massa.

Ini adalah obrolan khas kampung (atau tepatnya adalah desa) yang nyaris di setiap keluarga terdapat anggota yang merantau. Tentu lain lagi jika kondisi sosial-ekonomi masyarakat selingkung berbeda. Entah apa pula yang diobrolkan oleh para pejabat yang suka dilaporkan di televisi sebagai berkunjung ke pejabat lain saat lebaran. Biasanya mereka bilang ke wartawan, “Nggak ngomongin politik.”

Ah.

Selamat idul fitri, mohon maaf lahir dan batin.

Wayang Singapura

Di Singapura ada wayang. Tentu bukan hal yang aneh, dikelilingi oleh budaya yang mengenal wayang, setidaknya ada Indonesia di sisi selatan, Malaysia di utara, dan Thailand lebih jauh di utara, membuat negara pulau ini juga mengenal wayang.

Namun entah seperti apa rincian bentuknya, saya tidak sempat menjumpai artefak apalagi pertunjukannya. Jejak keberadaan wayang saya lihat sebagai mural pada satu pagar di antara Museum Peranakan dan Museum Filateli, November 2015. Wayang kulit, dengan perpaduan dari berbagai etnis: dari Jawa dapat dikenali dari bagian kepala, dengan tampak samping dan ikatan rambut yang khas seperti para ksatria Pandawa. Sementara pengaruh dari Thailand terlihat pada ujung-ujung pakaian yang mencuat.

Mural Wayang pada sepenggal pagar di Singapura

Unsur Singapura modern tentu ada pula: tokoh wayang mengenakan dasi kupu. Di sana-sini di pagar tembok yang sepanjang dua puluhan meter itu terdapat gambar pixel, yang seperti bata ditumpuk-tumpuk itu. Dan tentu isi cerita scene tersebut juga Singapura: satu tokoh membawa cat semprot, dan satu membawa rol cat. Saya rasa scene itu menggambarkan kampanye antigrafiti, di samping bahwa mural itu sendiri adalah upaya mengurangi grafiti.

Oleh-Oleh

Salah satu ‘budaya kita’ adalah memberi oleh-oleh pada orang yang kita kunjungi. Kita juga biasa memberi oleh-oleh pada orang-orang yang kita tinggalkan dan kemudian ketemu lagi, seperti teman atau keluarga yang kita tinggal sebentar ke tempat lain, entah berwisata, ziarah, atau keperluan lain.

Terdapat ‘semacam kewajiban’ bagi yang pergi untuk membawa pulang oleh-oleh. Buah tangan, cenderamata, atawa suvenir. Entah berwujud apa, meski biasanya makanan atau kerajinan khas. Maunya adalah benda yang khusus dibuat di situ, tempat yang dikunjungi, sehingga merupakan benda ‘orisinal’ tempat tersebut. Akan tetapi, dibuat di Tiongkok juga sering tidak masalah. Oleh-oleh orang pergi beribadah haji ke Arab Saudi malah kadang dibeli di Indonesia.

• Baca juga: Otentik atawa Aseli

Saya sebut tadi membawa oleh-oleh ini sebagai ‘budaya kita’.

Hari minggu kemarin, pas tahun baru 2017, toko dan kantor di Yogyakarta umumnya tutup. Setelah sedikit memutar kota, terlihat bahwa tempat komersial yang masih buka antara lain adalah minimarket, warung atau restoran, pom bensin, dan… toko oleh-oleh. Sampai macet-cet jalan di depan toko-toko benda suvenir itu. Penuh dengan, kayaknya, orang luar kota yang kebetulan berlibur di Yogyakarta dan kelihatannya akan segera pulang. Maklum, dua hari lagi sudah masuk kerja atau sekolah.

Nah, kesimpulan saya bahwa membawa oleh-oleh ini adalah ‘budaya kita’ muncul ketika lewat di depan sebuah toko oleh-oleh yang jejel riyel dengan pengunjung dan tempat parkir penuh kendaraan, pun jalan di depannya menjadi macet. Di seberang toko itu terdapat dua orang bule berkali-kali memotret keriuhan itu dengan kamera poket, sambil geleng kepala dan senyum-senyum.

Entah apa yang mereka pikirkan. Dua orang itu yang pastinya bukan orang Yogyakarta itu rasanya bukan akan membeli oleh-oleh di toko yang mengunggulkan bakpia itu. Barangkali mereka malah tidak tertarik untuk membawa oleh-oleh apa pun sewaktu pulang nanti. Mereka mungkin tidak memiliki ‘obligasi’ untuk membawa oleh-oleh pada mereka yang ditinggalkan, di negerinya sono….

Bukan budaya.

***
Oh ya, hari ini seorang kolega yang baru pulang dari Negeri Gajah Putih membawakan kami, orang-orang sekantor, oleh-oleh berupa tas kecil bergambar gajah… [z]

Older posts