Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Category: WARGA SIAGA

Lubang Angin

Peristiwa Tragedi Pulomas yang terjadi kemarin mestinya menyadarkan orang akan pentingnya lubang angin pada bangunan. Sebaiknya semua ruang mendapat akses udara yang cukup, setidaknya untuk keperluan darurat. Tidak ada orang berharap tersekap di dalam ruang tertutup, tetapi hal itu mungkin saja terjadi, baik karena ‘disalahi’ orang lain atau kecelakaan seperti terkunci tanpa sengaja. Jika pertolongan tidak segera datang, atau pintu tidak segera terbuka, terdapat kemungkinan orang yang terjebak di dalam ruang akan kehabisan udara.

Akan tetapi, ventilasi, atau lubang udara sudah mulai ditinggalkan. Lubang udara atap masjid gaya tradisional Nusantara, yaitu dengan sela antaratap tumpang, mulai ditutup. Salah satu alasan adalah karena digunakan binatang untuk masuk dan bersarang. Padahal, lubang di atap itu perlu untuk mengalirkan ke luar udara panas agar ruang tetap terasa sejuk apa lagi jika sedang penuh jemaah. Sekarang, alih-alih memanfaatkan sistem alami itu, kesejukan udara di masjid dicari dengan memasang kipas angin, yang mestinya memerlukan biaya listrik.

Dahulu bangsa Belanda yang mengkoloni Nusantara juga cerdik mensiasati iklim tropis yang panas ini. Di bangunan-bangunan lama masih dapat kita jumpai lubang angin yang tidak saja berada di sisi atas dinding atau atap, tetapi juga di sisi bawah dinding, mepet di lantai. Gunanya adalah untuk mengalirkan udara dingin dari luar, untuk nantinya keluar lewat bukaan-bukaan di bagian atas setelah udara tersebut memanas.

Salah satu ventilasi yang tidak umum adalah lubang pada tutup ballpoint merek tertentu, seperti bic. Konon, banyak orang tersedak karena menelan tutup alat tulis itu tanpa sengaja. Maka, lubang kecil pada ujung tutup bolpen itu berguna untuk mengalirkan udara agar si penelan tak sengaja itu masih dapat bernapas.

209 total views, no views today

Rumah Panggung

Rumah panggung, atau rumah kolong merupakan arsitektur yang umum bagi masyarakat Indonesia. Masyarakat merasa perlu meninggikan bangunan tempat tinggal untuk menghindari hal-hal tertentu, seperti tanah becek, banjir, binatang buas, atau mungkin musuh dari kelompok lain.

Gaya rumah semacam itu umum merata hampir di seluruh tanah air, kecuali beberapa tempat tertentu seperti di Jawa. Sering dikatakan oleh para ahli bahwa rumah di Jawa turun ke tanah lebih dahulu dibanding dengan masyarakat lain. Nyaris tidak ditemukan rumah panggung di Jawa yang digunakan masyarakat selain pada beberapa kelompok masyarakat di Jawa Barat. Beberapa masyarakat di Jawa Barat menggunakan rumah panggung pendek. Sementara itu, beberapa relief dari masa Klasik yang tertera di beberapa percandian di Jawa Tengah dan Jawa Timur menggambarkan adanya rumah panggung di wilayah ini pada masa lalu.

***

Orang-orang Jakarta yang tinggal di tepi sungai dan di atas rawa kelihatannya juga menggunakan rumah panggung. Berbeda dari rumah panggung Melayu atau Kalimantan dan Sulawesi, kolong rumah mereka benar-benar basah sehingga tidak dapat digunakan untuk kegiatan. Mereka menggunakan tipe panggung lantaran mengokupasi lahan basah berupa sungai atau danau/rawa.

***

Banjir di beberapa kawasan di Jawa yang merisaukan seperti yang berulang kali terjadi di Jakarta berdampak pada individu, keluarga, maupun masyarakat. Tempat tinggal terendam, hubungan dengan tempat lain terputus. Mungkin kita perlu memikirkan kembali perlunya ‘menaikkan lagi’ rumah di wilayah Jawa sebab meskipun untuk beberapa lama tanah mengering sehingga cukup nyaman untuk menjadi lantai, ternyata sekarang menjadi basah lagi karena ulah kita menebang pepohonan dan sebagainya.

Rumah panggung dapat menghindarkan penghuninya dari banjir. Bangunan semacam ini mungkin juga akan terintroduksi dengan sendirinya seiring pembangunan berbagai rumah susun. Biasanya, lantai pertama merupakan kolong yang tidak ditinggali melainkan untuk berbagai keperluan seperti parkir kendaraan.

Jika rumah panggung dikombinasi dengan gagasan Pak Jokowi tentang kampung deret, wah, mungkin akan seperti rumah panjang di Kalimantan. Antarkeluarga, atau antartetangga akan terhubung di lantai atas, bukan hanya dengan jalan di tanah. Jika terjadi banjir mereka akan tetap terhubung dan mungkin akses ke tempat lain akan lebih baik tanpa perlu banyak perahu karet dan perahu darurat lain yang sering dipatok tarif tinggi.

***

Tetapi tentu menjaga lingkungan tetaplah solusi utama untuk mengatasi banjir. [z]

302 total views, no views today

Gawat Pesawat

Petang kemarin saya numpang salah satu penerbangan ekonomis ke bagian tengah Indonesia. Sebelum naik ke pesawat saya sempat khawatir jika kendaraan itu telat berangkat seperti beberapa hari yang lalu dialami teman saya ketika mengambil rute yang sama. Untung, kali ini tidak terlalu banyak molor jika dipikir itu adalah maskapai yang terkenal suka ngaret.

Kemoloran bebeberapa belas menit itu pun rasanya dapat sedikit dimaklumi. Waktu itu proses boarding penumpang cukup memakan waktu yang lama, kelihatannya karena juga harus mengatur-atur bawaan\1 . Kelihatannya semua penumpang kali itu membawa banyak barang bawaan ke kabin sehingga cukup merepotkan bagi penumpang sendiri dan pramugari untuk mengatur penempatannya.

Tentu tidak semua tas koper ukuran legal untuk kabin yang labelnya ada approval dari IATA: banyak yang membawa kotak kardus coklat yang itu, dengan beraneka ukuran. Bahkan beberapa membawa tas kresek yang isinya sampai menuh-menuhin bungkusnya hingga menggelembung seperti tubuh Bagong.

Perjalanan aman dan lancar. Tetapi begitu mendarat, penumpang di seberang saya buru-buru mengambil kardus besar di penyimpanan bagasi atas yang ada di atas kursi di depan saya. Entah kenapa, tiba-tiba dia oleng dan kardus yang cukup besar itu jatuh berdebum ke lantai tepat di samping saya duduk. Ups, kelihatannya benda itu cukup berat sehingga pasti akan berakibat fatal jika saya kejatuhan.

Barangkali menumpang pesawat perlu perhatian ekstra agar semua aman dan berjalan lancar. Bawaan ke kabin sebaiknya tidak banyak, pating greweng, dan berat. Satu wadah yang terbungkus kuat dan rapi akan memudahkan semuanya. Tentu dengan ukuran yang telah ditentukan.

***

Saya kemudian melihat-lihat apa yang dilakukan penumpang termasuk saya sendiri, yang meski tidak melanggar peraturan tetapi dapat mencelakakan.

Di depan sana seorang ibu-ibu, atau mbak-mbak, mengenakan rok panjang yang melambai-lambai. Untuk berjalan biasa saja mungkin busana itu dapat nyangkut-nyangkut ke kursi penumpang atau hal lain. Apalagi jika dalam keadaan darurat.\2 Pakaian yang siap siaga untuk bergerak cepat dan mudah dalam berbagai situasi tentu baik dikenakan ketika menumpang pesawat terbang.

Kabel-kabel mungkin juga dapat mengganggu. Kita mungkin membawa pemutar mp3 dengan headphone atau earphone. Dalam penerbangan yang lama biasanya dipinjami headphone dengan kabel panjang. Tetapi demi rasa aman dan nyaman, kabel mungkin bisa diperpendek atau malah nirkabel\3. Seperti rok melambai tadi, kabel juga dapat nyrimpeti, to?

***

Apa lagi ya … ini memang cari-cari. Lebay sedikit demi aman dan nyaman. [z]

ke atas

Catatan Kaki
  1. atau barangkali ada penumpang yang belum datang… ^
  2. Ah, mbak-mbak pramugari itu mengenakan rok sempit … Entah bagaimana mekanismenya dalam kondisi darurat. ^
  3. eh, bahaya tidak bagi penerbangan? ^

316 total views, no views today

Waspada Banjir

Sepanjang hari ini, 17 Januari 2013, banjir di Jakarta terlihat memuncak. Pak Jokowi meninjau Bunderan HI yang tergenang dengan naik gerobak\1 dan menyatakan situasi tanggap darurat. Presiden SBY beserta menlu menggulung celana ketika meninjau kondisi istana yang juga terendam dan penerimaan presiden Argentina ditunda.\2

Seorang kakak ipar mengunggah ke facebook foto-foto halaman rumahnya yang diluapi air. Melihat kondisi tersebut, saya bayangkan jalan di luar kompleks tempat ia tinggal mestinya ‘mendadak sungai’ sedalam setengah meter.

Telah jatuh kerugian harta benda hingga korban jiwa\3 akibat bencana banjir di Jakarta ini. Meskipun demikian terlihat sebagian warga menikmati: yang warga kampung sekitar berdatangan nonton banjir di Bunderan HI, yang anak-anak, bahkan bule, numpang berenang gratis.\4

*

Terlihat di running text salah satu stasiun televisi bahwa Gubernur Jokowi mengharap warga untuk waspada.

Tidak ada salahnya untuk waspada dan tetap waspada meski banjir sudah melanda. Sebagian dari bentuk kewaspadaan itu adalah bersiap untuk menghadapi banjir berikut yang konon masih mungkin mengancam dalam waktu dekat, atau sekadar membiasakan diri untuk senantiasa siaga menghadapi bencana.

Berikut apa yang terpikir, terutama untuk yang masih berkesempatan untuk bersiaga:

  • Pantau keadaan. Radio dan televisi merupakan perangkat penting untuk memantau keadaan. Alangkah baiknya jika memiliki radio dengan baterai tersendiri sehingga tidak tergantung kepada aliran listrik di rumah
  • Siagakan alat komunikasi. Pastikan baterai hp terisi. Periksa pula pulsa mencukupi meski sering ada penyedia layanan yang menggratiskan komunikasi pada wilayah bencana. Pembelian pulsa secara daring atau lewat SMS cukup memudahkan dalam situasi semacam ini.
  • Siapkan lampu darurat. Listrik dapat mati kapanpun akibat banjir, atau akibat kerusakan gardu seperti yang terjadi semalam di Cawang.
  • Siapkan bahan makanan/minuman cadangan. Ada kemungkinan jalan terendam atau toko tutup sehingga akan kesulitan mendapatkan bahan makanan untuk beberapa waktu. Perhatikan kebutuhan kelompok rentan, seperti anak-anak, orang sakit, orang hamil, atau orang tua.
  • Periksa juga persediaan obat-obatan, baik obat darurat (P3K) atau obat tertentu yang semestinya dikonsumsi anggota keluarga secara rutin.

[z]

ke atas

Baca juga

Pranala luar

Catatan Kaki
  1. http://www.tempo.co/read/news/2013/01/17/083455079/Jokowi-Naik-Gerobak-Pantau-Banjir-Bundaran-HI ^
  2. http://www.tempo.co/read/news/2013/01/17/078455074/Istana-Banjir-SBY-Gulung-Celana ^
  3. http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/13/01/17/mgrkp2-ini-dia-lima-korban-tewas-akibat-banjir-jakarta ^
  4. http://megapolitan.kompas.com/read/2013/01/17/18345196/Dua.Bule.Kegirangan.di.Tengah.Banjir ^

326 total views, 1 views today

Sedia Ransel sebelum Hujan

Aah… Nya’ banjir!
Jakarta kebanjiran, di Bogor angin ngamuk
Ruméh ané kebakaran garé-garé kompor meleduk
Ané jadi gemeteran, wara-wiri keserimpet
Rumah ané kebanjiran gara-gara got mampet

“Kompor Mleduk”. Benjamin S., 1970.


Jakarta kelihatannya terancam kebanjiran lagi, meskipun Pak Jokowi sudah blusukan hampir setiap hari.\1 Dua tahun lalu, saya merasakan akibat banjir\2 di Jakarta itu. Jarak yang biasanya ditempuh selama empat puluh menit, dengan transjakarta plus jalan kaki, molor hingga lima setengah jam!

Jika gubernur sudah memikir yang makro–lingkup provinsi dan koordinasi dengan wilayah lain–kita perlu memikir juga tingkat pribadi. Salah satunya adalah dengan persiapan yang baik jika akan bepergian–dengan angkutan umum–agar tidak sengsara.

Ransel yang dapat dibawa sehari-hari rasanya cukup tepat untuk bersiap-siap menghadapi alam yang tak mau kompromi. Ransel dengan berbagai kantong di luar cukup pas untuk keperluan ini, agar kita tidak perlu membuka kantong utama untuk mencari barang tertentu.\3 Ransel dengan raincover akan lebih menghindarkan isi dari basah dan lebih mengamankan dari tangan jahil.

Artefak isi ransel

Berikut beberapa benda yang dapat menjadi isi ransel ‘siaga hujan’, untuk para commuter penumpang kendaraan umum seperti transjakarta.

  • Botol tentu dengan air minum isinya. Meski naik bis di Jakarta dan bukan naik unta di gurun, kita bisa saja dehidrasi. Oleh karena itu, siapkan air minum yang mudah dibawa. Letakkan di kantong samping ransel agar mudah dijangkau. Lalulintas sering macet, apalagi jika hujan dan kemudian banjir. Tidak setiap halte transjakarta terdapat mesin penjual minuman.
  • Payung atau jas hujan. Terutama jika kita harus berjalan dari angkutan umum ke kantor atau rumah dan sebaliknya. Tepat kata pepatah: “Sedia payung sebelum hujan.”
  • Sandal jepit. Benda ini berguna jika terpaksa harus berjalan di genangan air. Sayang, kan sepatu kita (itu jika kita mengenakan sepatu, lho). Atau sejak awal kita sudah mengenakan sepatu karet, seperti merk yang populer itu. Benda berguna ini kadang dijual di jembatan transjakarta. Tetapi, sebaiknya memang selalu mengenakan sepatu untuk melalui air banjir, sebagaimana anjuran IDI\4
  • Alat komunikasi. Bisa memberitahu keluarga bahwa kita perlu dijemput di suatu tempat atau memberitahu bahwa keadaan kita baik-baik saja, hanya sedang berada dalam kendaraan yang tidak dapat bergerak. Ibu-ibu mungkin harus menidurkan putra-putri mereka yang di rumah dengan menelepon dari bis. Bagus juga jika kita memberitahu kepada khalayak–lewat jejaring sosial–tentang kondisi lalu lintas dan jalan.
  • Benda pembunuh waktu. Jika terpaksa menunggu lama, kita dapat memanfaatkan waktu dengan mengerjakan sesuatu yang berharga (membaca buku, membuat rajutan) … atau sekedar menghilangkan kebosanan dengan mendengar lagu dari peranti mp3\5 atau memutar-mutar kotak rubik yang belum terpecahkan. Lumayan, daripada manyun.

Dua benda terakhir ini dapat diringkas menjadi satu: telepon genggam, benda ajaib di abad ke-21 ini. Entah, saya belum tahu ada ponsel yang dapat menjadi payung atau sandal.\6 [z]

ke atas

Ayo-ayo bersihin got Jangan takut badan blépot
Coba elu jangan ribut Jangan padé kalang kabut

Baca juga

Catatan Kaki
  1. Update: paruh terakhir Desember 2012, beberapa jalan dan kampung sudah ‘tergenang’. ^
  2. Waktu itu disebut sebagai genangan air. ^
  3. Hanya, kurang tahu apakah ransel lebih rawan pencopetan? ^
  4. http://health.kompas.com/read/2013/01/17/14161695/IDI.Selalu.Gunakan.Sepatu.ke.Lokasi.Banjir ^
  5. Tentu headphone atau earphone diperlukan. Mungkin tetangga duduk kita di bis tidak suka lagu kita, atau lagi beda mood … ^
  6. Jangan keliru dengan tempat air minum berbentuk telepon genggam… hehehe. ^

546 total views, no views today