Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Category: SEMANGAT (page 1 of 4)

Aja Dumeh

Salah satu ungkapan bijak ini sangat populer bagi masyarakat Jawa hingga dipasang di berbagai tempat sebagai hiasan-pengingat. Tebeng becak paling sering menggunakan kata-kata, atau mungkin lebih tepat disebut dengan frasa, ini.

Makna “aja dumeh” kira-kira adalah “jangan mentang-mentang”. Jangan mentang-mentang berkuasa, kemudian mengeksploitasi liyan. Jangan mentang-mentang kaya kemudian menyepelekan orang lain.

Konteks tebeng becak rasanya cukup pas. Tulisan ini dapat memberi peringatan kepada orang lain, yang kebetulan berkendaraan pribadi, misalnya. Namun, sebenarnya frasa itu juga dapat menjadi pengingat bagi pak becak, agar tidak mentang-mentang juga. Mentang-mentang di jalan ketika mengayuh becaknya, atau mentang-mentang kelak kemudian hari ketika “nemu mulya“, lebih sejahtera.

Tulisan itu pun dapat berfungsi sebagai semboyan yang dianut pemilik kendaraan. Hal itu seperti tulisan “Bhinneka Tunggal Ika” pada lambang negara kita.

stiker mobil

Ojo dumeh. Semar.

Beberapa hari yang lalu pada kendaraan di depan saya terpampang tulisan ini pada kaca belakang dengan ejaan “Ojo Dumeh”, lengkap dengan gambar tokoh wayang Semar, tokoh yang menjadi pamomong para ksatria Pandawa. Perpaduan gambar dan tulisan itu dapat berarti “Seperti Semar, jangan mentang-mentang, Ia adalah dewa, tetapi sangat bersahaja dan menjadi pembantu para ksatria yang manusia itu.

Tulisan di bagian belakang kendaraan itu dapat pula berarti nasihat, mungkin untuk mereka yang berada di belakang mobil tersebut. Termasuk saya.

280 total views, 2 views today

Mahasiswa Baru


Di depan situ, sedang ada acara PPSMB, “Pelatihan Pembelajaran Sukses Mahasiswa Baru”. Kira-kira acara tersebut adalah format lain dari opspek, mos, dan sebangsanya. Acara ini merupakan format yang diciptakan UGM untuk menggantikan berbagai acara berbau plonco di masa lalu.

Saya dengar, setelah tadi dengan semangat mereka menyanyikan lagu Himne Gadjah Mada dengan semangat, sekarang mereka tertawa riuh dihibur para senior. Seorang kolega, Mbak Anggra, bilang: “Senangnya melihat mahasiswa baru datang dengan gembira …”

Gembira penuh harap. Tidak ada ketakutan karena mereka diperankan sebagai junior, sebagai subordinat. Tidak ada tugas aneh-aneh, tidak pula mereka menjadi objek sementara kepentingan justru berada pada para senior. Sebagai peserta, mereka mengenakan batik yang bagus-bagus, panitia pun berdandan wajar, dengan seragam kaos polo warna merah tua (warna kebangsaan Fakultas Ilmu Budaya UGM) dan berdandan cantik serta ganteng dengan wajah berseri-seri.

Selamat datang, Mahasiswa Baru! Kali ini Jurusan Arkeologi mendapatkan 41 mahasiswa, baru, dari 5 pulau di Indonesia. [z]

ke atas

339 total views, no views today

Istimewa

Menjadi yang istimewa mungkin impian terpendam manusia, keinginan untuk berbeda dari orang lain, terutama dalam hal kelebihan. Menurut Pak Abraham Maslow, keinginan menjadi istimewa masuk ke dalam keinginan nomor dua dari atas, yaitu kebutuhan akan penghargaan: kebutuhan akan status status hingga dominasi.

Maka orang berburu akan status demi keistimewaan.

Orang tua mendaftarkan anaknya ke sekolah tertentu, yang istimewa tentunya. Yang bagus atau kadang yang mahal. Sekolah sendiri membuat diri mereka istimewa, membuat prestasi, dengan status akreditasi, atau itu tadi, mematok uang sumbangan yang cukup besar. Atau sekedar membuat seragam yang berbeda dari sekolah lain.

Rombongan pesepeda motor, yang bukan karena mudik, adalah orang-orang yang memburu status. Mereka masuk ke lingkaran sosial tertentu dengan berbagai atribut material mereka. Kemudian mereka istimewa, atau ingin merasa istimewa dengan berbagai perlakuan: dikawal polisi, mendominasi jalan, hingga ‘boleh’ menerobos lampu merah. Kemudian mereka menyampaikan status itu dalam suara knalpot yang memekakan telinga.

Tetapi sebagian mereka jelas memang istimewa. Tidak semua orang berkesempatan mengendarai moge kesana-kemari.

***

Saya intip tukang martabak di depan pasar. Martabak biasa dengan satu butir telur seharga 12.000 rupiah, martabak istimewa mengandung tiga butir telur dibanderol dengan harga 20.000 rupiah.

“Jogja Jogja tetap istimewa
Istimewa negerinya istimewa orangnya
Jogja Jogja tetap istimewa
Jogja istimewa untuk Indonesia”

“Jogja Tetap Istimewa”, Jogja Hip Hop Foundation

755 total views, no views today

Bijak mengelola alam

Tadi, saat saya menunaikan tugas untuk berbicara tentang kemerdekaan pada warga RT di desa, saya kepentok dengan istilah yang biasa saya ucapkan di kalangan kampus: tidak sustainable. Tetapi begitu saya kemukakan bahasa campuran itu, seorang tetangga yang petani atau tukang batu itu menyaut: ora ngoman-omani.

Ya. Saya rasa itu adalah kata tepat untuk menggambarkan etika orang desa dalam menggunakan sumber daya alam. MEreka tidak akan menguras habis tanpa sisa untuk orang lain, yang dalam bahasa mereka adalah “ora ngoman-omani”.

Kearifan ini berarti tidak serakah, mengambil semua, tidak merasa bahwa merekalah yang memiliki hak atas keseluruhan sumber daya. Ada hak orang lain juga untuk menikmati. Orang lain yang berarti para tetangga, bahkan mungkin orang lewat.

Orang lain juga berarti anak-cucu keturunan mereka nanti.

Mereka tidak risau dengan keperluan mereka sendiri. Pun anak-cucu mereka, karena percaya adanya etika.

Berbeda halnya dengan ‘orang sekarang’. Semua sibuk mengumpulkan harta untuk diri mereka, yang dibayangkan sanggup menjamin kehidupan anak-cucu tujuh turunan. Investasi menjadi kata kunci di samping eksploitasi yang lebih populer dalam kajian akademik tentang lingkungan.

Demi investasi, perumahan-perumahan dibangun dengan mengorbankan tanah pertanian. Apartemen dan hotel tinggi didirikan tanpa memperhitungkan sustainabilitas air tanah. Para pemilik uang ramai-ramai membelinya. Bukan untuk ditempati, ditinggali, melainkan berharap agar dapat dijual lagi kelak dengan harga tinggi.

509 total views, no views today

17-an (lagi)

Hadirin yang saya hormati,

Malam ini kita patut bersyukur setidaknya dua kali.

Tadi Pak RT telah mengemukakan bahwa kita patut bersyukur karena dapat hadir di acara ini dengan selamat, maka yang kedua adalah kita patut bersyukur kehadiran Allah SWT, atas karunia kemerdekaan ini, yang sekarang telah mencapai usia ke-70. Usia 70, jika manusia, sampun sepuh. Kita bersyukur antara lain karena kita tidak perlu menjalani perang kemerdekaan sendiri. Para pejuang, yang sekarang disebut veteran itu, telah melakukannya untuk kita. Dan mereka tidak melakukannya untuk mereka sendiri. Dengan mengusir penjajah, maka yang diarah adalah membentuk wadah, yaitu negara, untuk waktu yang lama, sehingga anak-cucu dan keturunan mereka lah yang akan menikmati.

Dan kita kini sudah menikmati hal itu. Dengan kemerdekaan kita dapat menentukan nasib sendiri.

***

Kita dapat menentukan corak kebudayaan kita sendiri. Jika orang lain memiliki pakaian resmi berupa jas, kita boleh mengenakan batik, meski sebenarnya pakaian sipil lengkap kita menurut aturan pemerintah adalah jas. Namun kita lebih suka batik, dan boleh dikenakan saat apapun juga. Waktu jagong manten mengenakan batik, yang kadang-kadang terbuat dari kain satin sehingga mengkilat. Sarimbit, lagi. Waktu hadir saat hari pencoblosan waktu pemilu, pilpres, pilgub, pilbub, pilkades, pilkadus, juga banyak yang mengenakan batik. Saat layat pun kita mengenakan batik yang bergambar-gambar itu. Satin mengkilat lagi.

Bandingkan dengan orang Eropa. Jika ada acara sedih namun mengenakan pakaian yang meriah, orang akan mengatakan saltum, salah kostum. Tetapi karena kita merdeka, kita dapat menentukan sendiri corak pakaian kita. Batik boleh, mengenakan jas pun boleh. Adik-adik yang akan menikah, jika tidak punya, pinjam Pak Kodari.

Lha wong merdeka.

Kita juga boleh menentukan akan makan apa. Jika ada. Wong merdeka. Mau makan kimpul ya boleh, makan nasi beras juga boleh. Makan indomie terus juga boleh, asal tidak kebanyakan.

Semua makanan jika kebanyakan tentu tidak baik.

Mau makan pizza juga boleh, mumpung sekarang harga makanan ini di Pojok sana sudah turun menjadi 13.000 rupiah. Atau jika tidak doyan makanan Itali tersebut, seperti saya, boleh makan martabak di depan pasar itu. Boleh pilih yang manis atau yang telor yang entah dari India atau Mesir itu.

Tetapi itu kan makanan asing? Tidak apa-apa, wong merdeka. Kita boleh memilih.

Namun, jika ingin mengkonsumsi makanan dari negeri sendiri tentu juga lebih baik. Tahukah apa makanan terbaik di dunia?
Tahun 2010 terdapat survei yang menghasilkan kesimpulan bahwa rendang adalah makanan paling lezat di dunia. sayang sekarang harga daging sapi sedang naik, terutama di Jakarta dan Jawa Barat-Banten.

Kemudian, survei yang lain menyatakan bahwa gado-gado adalah makanan paling sehat di dunia. Tentu bukan untuk orang yang alergi kacang.

Kita masih punya makanan hebat yang lain. Nasi goreng termasuk makanan favorit dari Indonesia. Sementara tempe dianggap makanan yang sehat pula, dan sedang dikembangkan di beberapa negara. Sayang kedelai di Indonesia banyak yang masih impor.

***

Kemudian, bagaimana cara untuk menghargai kemerdekaan itu, yang telah memungkinkan kita bebas menentukan pilihan kita?

Yang pertama tentu adalah tidak melanggar kebebasan orang lain. Dumeh merdeka, terus boleh semaunya, tentu tidak. Kebebasan itu batasnya adalah kebebasan orang lain. Kira-kira begitu.

Sebagai contoh, kemarin Yogyakarta geger karena ada pengendara sepeda ontel yang mencegat kelompok moge. Mereka ini sering melanggar lalu lintas, pergi dengan rombongan besar, menyulitkan pengguna jalan lain, dan suara yang cukup membuat telinga sakit. Komentar dari salah seorang teman saya cocok dengan tema pembicaraan kita ini: kita kok seperti belum merdeka, dijajah para pengendara moge.

Nah, pengonthel ini memaksa agar kelompok yang kelihatannya serem ini untuk mematuhi aturan lalu lintas. Jadi, di bangjo ringroad mereka dihentikan, disuruh ikut aturan.

Kita juga punya banyak contoh pelanggaran semacam ini. Nyumet mercon di pemukiman. Untungnya di RT ini untuk waktu yang lama tidak pada nyumet mercon, mungkin sangune untuk berangkat teraweh sithik. Tetapi saya tinggal di perbatasan dusun, jadi ya tetap banyak mendengar suara keras seputar lebaran kemarin.

Kemudian, kita senang juga membuat suara keras dengan motor kita, terlebih jika pergi rombongan. Perginya berombongan kadang memenuhi jalan, dengan tongkat yang diobat-abitkan, sehingga menakutkan orang yang lewat. Belum lagi dengan suara kerasnya yang cukup mengganggu.

Yang kedua, adalah dengan menghargai apa yang telah dikaruniakan oleh Allah. Dengan kemerdekaan kita dapat menikmati semau kita, tanpa harus nyetor ke negeri penjajah. Konon, jaman Jepang dulu, iles-iles pun harus disetor ke tentara pendudukan jepang, katanya untuk diolah menjadi makanan mereka. Nah, kita kini dapat menikmati kekayaan alam kita–jangan tanya tentang perusahaan Freeport dan sebangsanya, saya ora dong.

Kekayaan alam kita kan luar biasa. Kita ingat lagunya Koesplus zaman dulu, jaman nom-nomannya Pak RT tahun 1973.
Bukan lautan, hanya kolam susu,” jadi yang kimplah-kimplah di pantai selatan yang kita lihat dulu di Pantai Kwaru itu adalah susu, bukan hanya air. Jadi, manfaatnya sangat besar. Air saja manfaatnya sangat besar, apalagi jika air susu.

kail dan jala cukup menghidupimu,” cukup dengan kail dan jala,

tiada badai tiada topan kau temui
ikan dan udang menghampiri dirimu.” Seperti di surga.
Orang bilang tanah kita tanah surga.” Betul, kan…
tongkat kayu dan batu jadi tanaman,” tancapkan saja kayu nanti akan thukul jadi tumbuhan.

Nah, untuk itu tentu perlu pengelolaan yang tepat. Kita tidak boleh berlebihan mengambil hasil bumi, karena kebutuhannya bukan hanya sekarang.

Kita tidak perlu bom ikan, atau potas dan jenu, atau strum. Pancing dan jala saja sudah mencukupi kebutuhan kita sehari-hari.

Jadi, saya ringkas bahwa kita dapat menghargai kemerdekaan dengan dua hal. Yang pertama adalah kita harus bertoleransi, agar kemerdekaan kita tidak melanggar kemerdekaan orang lain. Yang kedua adalah menghargai apa yang menjadi milik kita, baik kebudayaan yang kita ciptakan, maupun apa yang dikaruniakan Allah kepada kita berupa alam seisinya. Tentu masih banyak yang dapat kita lakukan.

Demikian apa yang dapat saya sampaikan untuk menyambut ulang tahun kemerdekaan esok hari.

Wonten tumpang-suh ing atur, saya mohon maaf.

*)teks untuk ngobrol tirakatan bersama warga RT 3 plus KKN UII. Karangkopek Kulon, 16 Agustus 2015.

802 total views, 1 views today

Older posts