Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Category: LUPA DIKATEGORI

Tidur

Singapura. Hampir seharian jalan mengunjungi beberapa museum, membuat saya sulit tidur. Ngantuk juga, tetapi capek di kaki terpaksa harus dinikmati. Selarut ini, yang oleh televisi Indonesia sudah dikatakan sebagai pagi, belum juga saya memincingkan mata.

Begitu pula di luar sana. Orang-orang masih ramai berlalu lalang. Jam 00 ini rasanya lebih ramai daripada jam 8 pagi. Mungkin orang-orang negeri singa ini jarang tidur. Selarut apapun masih ada kehidupan di luar. Mall super besar di depan situ buka 24 jam!

Mereka itu masyarakat insomnia, kali. Universitas memang tutup hingga jam setengah enam sore, namun kuliah dapat hingga jam sepuluh malam, kata Pak Miksic, kolega Jurusan Arkeologi di NUS. Kuliah larut itu ditujukan buat orang-orang yang mau sekolah pascasarjana tetapi harus mencari uang dulu.

Nah, jika pulang jam 10, padahal paginya harus bekerja, belajarnya mesti setelah larut itu. Paper dan projek-projek kuliah mesti juga dikerjakan malam hari.

Uhhhaaahmmmm!

305 total views, 1 views today

Komunikasi KKN

Pernah menjalani dan kemudian menjadi ‘objek’ kegiatan KKN, Kuliah Kerja Nyata, terpikir beberapa hal yang mungkin perlu dikuasai oleh para mahasiswa. Sering terlihat para mahasiswa bingung ketika berada di depan publik. Mungkin mereka terpaku dengan tegang pada masalah ‘apa yang harus dilakukan’, dalam arti program-program apa yang harus dilakukan nanti di lokasi KKN. Namun, tak kurang penting adalah perkara ‘bagaimana melakukannya’, dalam arti cara komunikasi dijalin dengan para warga.

Komunikasi, atau ‘pertukaran kode’ dalam istilah teknisnya, terjalin dari berbagai tindakan. Dalam konteks KKN, proses ini telah dimulai setidaknya sejak penerjunan (begitu disebut di UGM) mahasiswa ke lokasi. Mengenakan seragam almamater, misalnya, sudah menunjukkan perilaku komunikasi.

***

Secara resmi, komunikasi mulai dilakukan oleh mahasiswa ketika mengunjungi warga, melakukan perkenalan. Umumnya, pertama adalah mengunjungi para tokoh desa, baik formal maupun bukan. Kemudian warga lain, termasuk para tetangga dari rumah pondokan. Kemudian, ada lagi komunikasi dengan para warga ketika mereka berkumpul. Umumnya peserta KKN akan menemui kumpulan warga untuk menjalankan program-programnya. Pada kesempatan semacam itu diperlukan sedikit kemampuan berkomunikasi agar kegiatan berjalan lancar.

Dalam kegiatan penyuluhan, sosalisasi, demonstrasi, atau motivasi, kadang mahasiswa tidak tahu apa yang harus dikatakan. Sebagai warga yang kadang didatangi KKN, saya merasa ada beberapa hal yang harus dipersiapkan atawa dilakukan oleh para tamu saya, mahasiswa KKN itu karena kadang mereka tidak tahu apa yang harus dibicarakan, bagaimana memulainya dsb. Berikut mungkin berguna bagi mereka.

Umumnya para mahasiswa datang berombongan, tidak sendirian dalam menemui warga. Nah, salah satu harus bertindak sebagai ketua rombongan atau juru bicara. Kenalkan kepada warga siapa mereka (mungkin belum pernah berkenalan sebelumnya, namun jika pernah bertemu, mengenalkan lagi dapat mencairkan suasana). Kemudian, apa maksud kedatangan mereka. Misalnya, kali ini akan memberikan penyuluhan tentang pembuatan benda tertentu. Nah, kenalkan siapa yang akan melakukan apa, dan bagaimana urutan acara kali ini.

Pembicaraan tentang membuat suatu benda, baik kerajinan, pengolahan sesuatu, dsb, tentu tidak bisa langsung kepada cara membuatnya. Perlu diberi pengertian mengapa hal itu perlu dilakukan. Misalnya, karena di desa ini terdapat banyak limbah jerami, maka akan sangat baik jika dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, bukan hanya memberi makan ternak atau malah hanya dibakar. Jelaskan pula bagaimana hal itu akan membantu warga, meski tidak kemudian kemudian menjadi miliarder. Misalnya, lingkungan menjadi bersih, mendapatkan sedikit tambahan penghasilan, atau mempermudah hidup.

Baru kemudian cara mengerjakan sesuatunya itu. Apa alatnya, bagaimana cara kerjanya, apa bahan bakunya, apa hasilnya, dan bagaimana perhitungan efektivitasnya. Alat peraga sangat diperlukan. Jika tidak dapat didemonstrasikan secara langsung (misalnya harus membakar sesuatu padahal lokasi pertemuan berada di dalam rumah), perlu pengganti seperti foto, gambar, bagan. Hasil akhir yang sudah jadi perlu dibawa untuk diperlihatkan. Mirip dengan acara memasak di televisi. Presenternya sudah menyiapkan barang jadi yang ditunjukkan di akhir acara.

Kemudian dialog dengan warga dibuka, meski biasanya warga boleh juga menyela pembicaraan/presentasi dengan pertanyaan.

Setelah semua selesai, ucapkan terima kasih, dan harapan ” … semoga kami para mahasiswa lakukan dapat membantu warga. Kurang-lebihnya mohon maaf … ”

Begitu.

***

Tentu komunikasi, sebagaimana telah disampaikan di awal tulisan ini, bukan hanya ketika melakukan sosialisasi. Pendekatan kepada warga perlu dilakukan setiap hari. Tidak perlu muluk-muluk harus ketemu secara formal, namun kadang komunikasi informal lebih mengena. Misalnya, dengan memilih berjalan kaki daripada naik sepeda motor, maka akan lebih banyak bertemu dengan warga, dapat saling menyapa. Kumpulan warga, seperti ronda, atau sekedar kerumunan di sudut jalan, perlu juga didatangi. Umumnya warga akan senang jika para pendatang ini berpartisipasi dalam kegiatan mereka atau bahkan sekedar menyapa berbasa-basi.

Bahasa yang berbeda bukan halangan untuk dekat dengan warga. Tetangga saya di desa masih ingat dengan peserta dari Papua yang tidak dapat berbahasa Jawa namun selalu berkomunikasi dengan warga dengan cara sebisanya setiap mereka bertemu.

331 total views, 1 views today

Membayangkan Cipali

Saya tidak berkesempatan merasakan jalan tol baru, ruas Cikopo-Palimanan, atau yang disebut dengan Cipali, kali ini. Bukan karena apa-apa, hanya karena saya tidak perlu mudik lebaran dari Jakarta atau sebaliknya. Semua keluarga saya tidak terlalu berjauhan, masih di seputar Yogyakarta dan Jawa Tengah. Mungkin nanti jika berkesempatan menumpang mobil, bus, atau mungkin truk ke Jakarta, saya dapat menikmati ruas jalan tol terpanjang di Indonesia ini.

selanjutnya …

522 total views, 1 views today

Syar’i


Satu televisi nasional menayang liputan pasar busana menjelang Ramadhan beberapa hari yang lalu. Salah satu narasumber, seorang penjual busana di pasar, menyatakan bahwa sekarang yang sedang trend adalah yang syar’i.

Pernyataan itu mengandung makna bahwa beragama adalah masalah manusia. Jadi, syar’i pun bisa menjadi tren, yang mungkin akan tidak ngetren lagi beberapa waktu mendatang.

Namun terdapat pandangan lain atas larisnya jilbab syar’i ini. Fenomena ini tidak disebut sebagai tren melainkan pilihan. Satu media daring menulis begini.\1

“Ramadhan ini, tren hijab modis kalah bersaing dengan syar’i. Pembina Duta Hijab Malang, Belinda Rizki Amalia, menjelaskan, syar’i lebih laku di pasaran.
Menurutnya, saat ini, banyak muslimah mulai memilih hijab yang lebih santun dan praktis digunakan sholat.
“Sekarang, hijab syar’i lebih mendominasi. Ini membuktikan, ada kecenderungan mengikuti sunnah, tidak hanya mengedepankan tren modisnya saja. Bahkan beberapa komunitas hijaber pun sudah lazim menggunakan rok dan gamis yang menutupi seluruh bagian tubuhnya,”ujar Belinda.”

Jadi, kita tunggu.[z]

ke atas

Catatan Kaki
  1. http://www.timesindonesia.co.id/baca/101831/20150626/105936/hijab-syari-lebih-digemari-dari-modis/ ^

598 total views, 1 views today