Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Category: mas petruk

Dibangunkan asap


Hari sudah siang, Mas Petruk belum bangun juga. Dewi Ambarwati, istrinya tidak sabar. Ia sudah mengerjakan berbagai pekerjaan rumah sejak fajar merekah tetapi si suami masih molor hingga matahari meninggi.

Dari jalan kampung di depan sono terdengar suara gemuruh, asap terlihat membubung di atas atap tetangga. Bukan terjadi kebakaran rumah atau ada orang membakar sampah, tetapi ternyata sedang dilakukan fogging, pengasapan untuk membasmi nyamuk, di kompleks tersebut. Tingkat demam berdarah memang cukup tinggi di kampung ini dalam beberapa waktu terakhir. Belum lagi jika menghitung penderita chikungunya.

Tiba-tiba di dalam benak Mbak Ambarwati terpikirkan satu cara jitu membangunkan suaminya yang malas-malasan itu.

Ia pun pergi ke jalan yang membelah kompleks untuk menemui sang juru asap. Dengan uang lima ribu rupiah sebagai salam tempel, Mbak Ambarwati meminta orang ‘bersenjata’ menderu itu untuk mengasapi rumahnya. Alasannya adalah karena terdapat banyak nyamuk di rumahnya. Pengasapan yang dilakukan di jalan-jalan tidak menjangkau rumah tersebut yang terletak agak di belakang bangunan tempat tinggal para warga lain.

Mas fogging segera menuju rumah Mbak Ambarwati sembari terus menebar asap di sepanjang gang. Di rumah mungil itu, asap ia hembuskan ke segenap sudut dan penjuru. Alhasil, Mas Petruk yang lagi tidur terbangun dan dengan terhuyung-huyung segera berlari ke luar rumah.

Mbak Ambarwati tersenyum, suaminya sudah bangun. [z]

Samarinda 28 September 2013, di tengah kepulan asap pestisida.

ke atas

450 total views, no views today

Mas Petruk guyon

Petruk adalah sosok punakawan cerdas yang kritis. Tokoh yang tinggi kurus dan berhidung panjang ini sering digunakan oleh dalang sebagai wakil dirinya.

Sekarang, guyon-guyon dulu.

guyon mas petruk

Negara mana yang keturunan bangsawan?
Den Mark.

beda tim oranye

Apa beda Kesebelasan Negara Belanda dari kesebelasan lain?
Ora Nye (Tidak Nye). Tim lain Nye

2,527 total views, 4 views today

Bahasa Indonesia untuk Jagad TIK

Penggunaan istilah-istilah dalam bahasa Indonesia untuk menggantikan istilah-istilah asing di dunia TIK mengundang banyak diskusi, setuju dan tidak setuju. Antara lain sebagian merasa sudah enak dan mudah dengan istilah yang ada sekarang, sebagian merasa padanan yang dibakukan terasa aneh (tetikus sebagai ganti mouse misalnya). Di lain pihak ada yang merasa bahwa penggunaan bahasa Indonesia dapat memudahkan pemahaman terhadap TIK karena kita sejak dulu diajar dengan bahasa ibu ini. Nasionalisme juga menjadi alasan untuk mendukung hal ini.

Pemerintah telah memerintahkan (ya iyalah) pada tahun 2001 melalui Instruksi (=perintah?) Presiden Nomor 2 tahun tersebut tentang Penggunaan Komputer dengan Aplikasi Komputer Berbahasa Indonesia. Pihak yang berwenang, kelihatannya, kemudian merespon dengan menerbitkan “Kiat Pembakuan Peristilahan Perkomputeran dalam Bahasa Indonesia”. Pada bagian akhir naskah tersebut terdapat senarai lebih dari enam ratus istilah yang berkaitan dengan komputer dan padanannya dalam bahasa Indonesia.\1

Enam ratusan istilah cukup lumayan banyak, dan mestinya tidak semua istilah perlu diberitahukan atau didaftar karena mungkin telah diketahui padanannya (apa beda padan kata dari terjemahan dan alih bahasa atau alih kata?) Dalam daftar yang disusun pada awal tahun 2000-an tersebut saya belum menemukan banyak kata-kata yang berkaitan dengan internet dan dunia ngeblog (mungkin kawasan TIK yang ini belum populer waktu itu). Apa padan kata misalnya ‘blog‘, ‘blogging‘, ‘blogger‘, ‘tag‘, ‘post‘, ‘posting‘, dan ‘theme‘? Facebook menggunakan istilah ‘tanda’ untuk menterjemahkan ‘tag‘, meskipun kata (juga ‘blog’, ‘bloger’, dan ‘bloging’ ) sudah memenuhi struktur kata dalam bahasa Indonesia.

Bagaimana jika 'tetikus' diganti 'celurut'?

Ada baiknya kita, para pelaku TIK apapun peringkatnya, perlu kreatif sendiri, mumpung belum dibakukan. Itung-itung ikut membangun bahasa Indonesia partisipatif…

(Sutan Takdir Alisjahbana pernah rerasan, terdapat kemungkinan nanti bahasa Indonesia tinggal sebagai dialek dari bahasa Barat.)

Catatan Kaki
  1. Pedoman ini dapat dilihat di sini. ^

489 total views, no views today