Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Category: LELANA (page 1 of 5)

Wayang Singapura

Di Singapura ada wayang. Tentu bukan hal yang aneh, dikelilingi oleh budaya yang mengenal wayang, setidaknya ada Indonesia di sisi selatan, Malaysia di utara, dan Thailand lebih jauh di utara, membuat negara pulau ini juga mengenal wayang.

Namun entah seperti apa rincian bentuknya, saya tidak sempat menjumpai artefak apalagi pertunjukannya. Jejak keberadaan wayang saya lihat sebagai mural pada satu pagar di antara Museum Peranakan dan Museum Filateli, November 2015. Wayang kulit, dengan perpaduan dari berbagai etnis: dari Jawa dapat dikenali dari bagian kepala, dengan tampak samping dan ikatan rambut yang khas seperti para ksatria Pandawa. Sementara pengaruh dari Thailand terlihat pada ujung-ujung pakaian yang mencuat.

Mural Wayang pada sepenggal pagar di Singapura

Unsur Singapura modern tentu ada pula: tokoh wayang mengenakan dasi kupu. Di sana-sini di pagar tembok yang sepanjang dua puluhan meter itu terdapat gambar pixel, yang seperti bata ditumpuk-tumpuk itu. Dan tentu isi cerita scene tersebut juga Singapura: satu tokoh membawa cat semprot, dan satu membawa rol cat. Saya rasa scene itu menggambarkan kampanye antigrafiti, di samping bahwa mural itu sendiri adalah upaya mengurangi grafiti.

189 total views, no views today

Jembatan Duwet


Satu lagi objek wisata budaya dan alam. Lokasi objek tersebut terletak di perbatasan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, dan Kabupaten Kulonprogo, DIY. Jembatan Duwet, yang disebut oleh teman-teman saya sebagai Jemdu, yang mengangkangi Kali Progo, menghubungkan langsung dua kecamatan di kedua provinsi tersebut, yaitu Kecamatan Kalibawang di Kulonprogo, dan Kecamatan Ngluwar di Kabupaten Magelang, wetan Progo tentunya.

Jembatan ini bukan jembatan baru. Saya sudah beberapa kali melintasinya sejak duduk di bangku SD di sekitar akhir tahun 1970-an. Prasasti yang terletak di sisi Kalibawang menjelaskan bahwa jembatan ini dibangun pada tahun 1960. Sumber lain bercerita bahwa jembatan ini sudah ada pada masa Kolonial, dibangun pada tahun 1930-an. Yang baru dari jembatan ini adalah beberapa bagian hasil pemugaran di akhir tahun 2015 yang baru lalu, seperti lantai kayu. Jembatan ini sekarang kinclong, tidak seperti sebelumnya yang kusam sehingga agak menakutkan untuk dilewati.

Jembatan Duwet adalah jembatan gantung. Dua utas kabel besar terlihat melengkung di bagian atas, dan selasar jembatan bergantungan kepada dua kabel tersebut melalui kawat-kawat yang lebih kecil. Di kiri-kanan selasar terdapat pagar besi dengan konstruksi sederhana, yang sekarang dirapatkan dengan kawat kasa di sisi luar. Aliran air kali yang coklat nun jauh di bawah jembatan, diapit oleh tebing-tebing yang curam di sisi-sisinya.

Atraksi

Sebagai objek wisata, tentu (harus) ada atraksi yang dapat dinikmati oleh para pengunjung. Beberapa di antara atraksi tersebut adalah sebagai berikut.

What to see. Konstruksi jembatan gantung, alam berupa Kali Progo yang lebar dan dalam, lengkap dengan tebing, air coklat, dan tetumbuhan di sekitarnya. Di sisi selatan jembatan juga terdapat air terjun kecil.

What to do. Pengunjung dapat berjalan melintasi jembatan sekaligus uji nyali. Bagian tengah jembatan ini terasa bergoyang terutama jika terdapat sepeda motor yang lewat. Pengunjung kemini umumnya mengambil foto lingkungan dan terutama foto selfi.

What to buy. Durian! Kawasan di sekitar jembatan ini terkenal sebagai penghasil buah durian yang dianggap baik oleh penggemar di seputar Yogyakarta. Durian dijajakan pada beberapa rumah tepat di mulut jembatan di sisi Ngluwar/Bligo.

Jembatan duwet

Panorama sisi hilir Kali Progo di Jemdu.

jembatan duwet

Prasasti tentang… prasasti.

jembatan duwet

Sosok jembatan, dengan para turis lokal yang menikmati sore di Jemdu.

jembatan duwet

Konstruksi besi penopang kabel.

jembatan duwet

Sekerup raksasa di ujung jembatan.

jembatan duwet

Fasilitas parkir, terutama untuk para pembeli durian.

Aksesibilitas
Untuk mencapai Jembatan Duwet, wisatawan dapat melalui jalan Nanggulan-Muntilan, untuk kemudian berbelok ke arah timur di sebelah utara Dekso mengikuti petunjuk ke arah Ngluwar.

Dari jalan Yogyakarta-Magelang, pengunjung dapat mengambil arah selatan dari pertigaan Semen ke arah Ngluwar. Sekitar delapan kilometer, setelah SD Bligo III, mengambil arah kanan. Jika menumpang angkutan umum, dari Muntilan atau Semen, ambillah jurusan Blaburan. Turun di Bligo Beteng setelah SD Bligo III tersebut, atau di Selokan Mataram, dan diteruskan dengan berjalan kaki beberapa ratus meter ke arah kanan.

Dari Tempel, Seyegan, atau Godean, pengunjung harus mencapai pertigaan Sepetek (setelah Buk Renteng dari arah Minggir) dan mengambil arah ke Muntilan/Magelang. Setelah bertemu dengan Selokan Mataram, dapat menyusuri jalan inspeksi ke arah kiri.

Kunjungan
Kunjungan ke Jemdu sebaiknya dilakukan sore hari, ketika matahari sudah tidak begitu menyengat. Jalan-jalan sore ke objek ini dapat dilakukan sembari menikmati sawah-sawah hijau di wilayah Bligo–sisi timur Progo, atau pegunungan Menoreh dengan jalan berkelok-liku di sisi barat Progo, yaitu di daerah Kalibawang. Jika ingin lebih serius, dapat pula dilakukan dengan bersepeda menelusuri Selokan Mataram yang membentang dari Sungai Progo di ‘Ancol’, Kecamatan Ngluwar hingga berhilir di Kali Opak di kawasan Berbah, Sleman. [z]

untuk Cah-cah ’87.

ke atas

1,251 total views, no views today

Hotel

Hotel kok mung jangan kacang,” kata seorang teman. Di hotel kok hanya makan dengan sayur kacang panjang.

Iya juga ya.

Citra hotel sebagian memang kemewahan. Nginep di hotel, misalnya, adalah menikmati kemewahan: dilayani, kasur empuk, air panas, gedung bagus. Yang datang mesti juga cantik-cantik atau bagus-bagus.

Namun teman saya yang lain pernah bingung. Jika sudah membayar mahal, apakah hanya untuk tidur? Kan tidak terasa … tetapi jika akan melek semalaman juga tidak betah.

Nah, hotel yang merupakan ‘barang’ mewah itu juga identik dengan Barat. Kata ‘hotel’ kan bukan berasal dari bahasa kita. Hotel juga berstandar internasional dengan sistem perbintangannya. Maka, ketika bertemu dengan jangan kacang, rujak cingur, dan beraneka ragam kuliner tradisional kita lainnya, teman saya bersungut-sungut. Meski tidak sampai keluar ‘sungut’-nya. Dirasa makanan itu tidaklah internasional, yang sebenarnya dapat kita perdebatkan juga kriteria internasional itu.

Perkaranya, kadang hotel adalah semacam oase. Sebagian memang menggunakan hotel sebagai sarana praktis: untuk tidur menginap di perjalanan, untuk sarana MICE. Namun, ada juga yang menggunakan hotel untuk melarikan diri dari keseharian.

Mirip dengan konsep wisata: pergi ke luar dari tempat kediamannya dan tidak untuk bekerja.

Jika keseharian kita makan dengan sayur jangan kacang, maka di hotel akan berharap bertemu dengan roti-keju, yang bukan berasal dari habitatnya. Begitu kira-kira.

Namun hotel bukan hanya (dan barangkali memang tidak) ditujukan untuk mencatu para tetangganya, kecuali ia ikut MICE yang umumnya diorganisir atau dibayari kantor. Jika makan di restoran hotel dan memegang sendok yang segede gaban itu, saya merasa bahwa hotel bukan untuk saya.

Hotel juga buat orang asing, oase buat mereka. Mereka mungkin ingin melupakan keju dan mencicipi singkong. Maka dekorasi hotel, dari jaringan internasional pun, biasanya juga menyertakan unsur-unsur tradisional sekitarnya.

… dan salah satu hidangan hotel berbintang itu di pagi yang mendung tersebut adalah “Singkong Thailand”.

Maka, memang orang yang ikut mice di hotel di dekat rumahnya akan mengeluarkan sungut, eh bersungut-sungut, karena kadang jangan kacang-nya lebih enak yang di rumah. Lebih spicy, dan sambalnya pedas beneran.

387 total views, no views today

Eiffel

Beberapa minggu terakhir mata saya selalu menangkap gambar menara Eiffel pada berbagai benda. Tas sekolah, jaket, kaos oblong, sampul buku tulis, … Masuk ke toko suvenir sebuah ‘museum’ di Malang pun ketemu replika menara tersohor ini. Ke sebuah toko buku jaringan nasional, apa lagi. Ada sangat banyak benda bergambar Eiffel, pun replika tiga dimensinya.

Ketika memutar memori, ternyata bentuk bagian bawah menara Eiffel digunakan sebagai gerbang suatu acara yang di selenggarakan di kompleks Plaza Pasar Ngasem, di tahun 2014 kemarin! Replika kaki menara ini dibuat dengan bambu. Entah apa banyak pengunjung yang menyadari keberadaannya.

pasar ngasem eiffel

Replika Menara Eiffel di Plaza Pasar Ngasem, 2014.

Menara ini dahulu digunakan untuk penanda lahan pada Pameran Dunia. Rencananya, karya Gustaf Eiffel ini–ia juga merancang Patung Liberty–akan dirubuhkan setelah pameran selesai. Namun entah kenapa, bangunan besi tersebut masih tegak hingga sekarang dan bahkan semakin terkenal.

Sampai akhir puasa kemarin, seorang teman yang baru pulang dari Paris berkata: “Aku wis ndelok Eiffel. Ternyata mung wesi koyo ngono …” Wuitts….

Saya jawab: “Kowe ora dhewekan. Guy de Maupassant pun bilang bangunan itu jelek.” Sastrawan ngetop dari Prancis itu konon saban hari makan di restoran di puncak menara itu justru agar tidak melihatnya!

Beruntung saya nontonnya dari kejauhan, dari Palais du Chaillot. Lokasi tersebut berjarak enam ratusan meter dari menara. Seorang reviewer di TripAdvisor menyatakan bahwa tempat tersebut merupakan tempat yang paling bagus untuk nonton Eiffel. Jadi saya tidak melihat besi-besi pating ketholang yang menyusun bangunan itu, persis seperti anak-anak yang mengenakan jaket atau t-shirt bergambar Eiffel, hanya melihat sosoknya yang diminiaturisasi.[z]

ke atas

474 total views, no views today

Ngapain Saja di Yogya


Yap. Ngapain saja di Yogya. Apa yang dilakukan jika berada di Yogya?

Bagi kami, di Yogya adalah hidup. Makan, bekerja, tidur… Namun, bagi pendatang yang disebut turis atawa wisatawan, yang menurut kamus pariwisata adalah “orang yang bepergian tidak untuk mencari nafkah alias tidak untuk penghidupan”, ngapain?

Tentu banyak hal yang dapat dilakukan oleh para wisatawan. Tengok situs-situs biro travel yang menawarkan berbagai kegiatan untuk dinikmati. Lihat pula blog para ‘travel writer’ atau para pelancong-penulis amatiran. Banyak hal menarik yang mereka sampaikan. Saya sendiri, yang nyaris sepanjang tahun berada di kota ini, sebenarnya bingung jika ditanya ‘apa yang dapat dikunjungi di Yogya’.

Banyak objek wisata yang “mainstream” seperti berbagai pantai, dan monumen. Namun banyak juga hal-hal tersembunyi yang dapat dicoba. Berbagai desa wisata mencoba menawarkan keunikan. Banyak pula keunikan yang justru tidak disadari oleh para penduduk setempat. Coba kita lihat daya tarik Yogyakarta dari tiga kategori: what to see, what to do, dan what to buy.

Lihat-lihat

Alam Yogyakarta menawarkan berbagai hal, terutama puluhan pantai di sisi selatan, pegunungan agak ke tengah dengan berbagai luweng dan gua, waduk, dan sisa-sisa gunung api, serta Gunung Merapi di ujung utara. Banyak yang telah dikembangkan, seperti Pantai Parangtritis, Gua Pindul, Gunungapi Purba Nglanggeran, Waduk Sermo, hingga kawasan dingin Kaliurang di lereng Merapi.

• Baca juga: Jembatan Duwet.

Dari sisi budaya tangible, monumen dan relik, di kawasan Yogyakarta terdapat banyak peninggalan dari masa Prasejarah hingga Kolonial. Peninggalan prasejarah di Gunungkidul, meski belum dikembangkan, cukup menarik untuk dikunjungi. Dari masa Klasik terdapat berbagai candi terutama di kawasan Kabupaten Sleman di kaki Gunung Merapi. Yang paling besar adalah kompleks Prambanan, yang terdiri atas ratusan bangunan candi, mulai dari Candi Sewu di Utara hingga Ratu Boko di selatan.

Pada masa Islam terdapat situs bekas keraton Mataram di Kotagede, Plered-Kerto, dan Keraton Yogyakarta tentunya. Di samping itu masih terdapat berbagai sarana seperti (bekas) pesanggrahan, dalem, dan tata kota lama. Tamansari adalah salah satu peninggalan yang terkenal, juga Puro Pakualaman.

• Baca juga: Potensi Wisata Njeron Beteng.

Pada masa Kolonial terdapat berbagai bangunan lama terutama di kawasan kota, seperti di Kilometer Nol, Kotabaru, Bintaran, dan Jetis. Benteng Vredeburg dan Gedung Agung mewakili bangunan-bangunan itu. Pada masa tersebut juga berkembang pemukiman Tionghoa, yang dapat dilihat di sekitar Malioboro, terutama kawasan Ketandan di utara Pasar Beringharjo.

Museum juga menyajikan peninggalan sejarah serta budaya Yogyakarta. Terdapat tidak kurang dari tiga puluh museum di Yogyakarta, dengan Museum SOnobudoyo sebagai museum tertua di sini, kemudian terdapat juga Museum Dirgantara dengan berbagai pesawat tempur. Berkait dengan museum adalah Kebun Binatang Gembira Loka yang sekarang menyebut dirinya GL Zoo, dan Taman Pintar sebagai tempat pembelajaran sains.

• Baca juga: Museum di Yogyakarta

Dari sisi budaya takbenda, atau intangible, terdapat berbagai pertunjukan kesenian, event, serta budaya keseharian yang menarik untuk diamati. Di keraton secara rutin digelar pertunjukan, yang bergantian dari wayang kulit dan tari, juga kerawitan. Tiga kali setahun diadakan upacara besar yang disebut garebeg.

Di kawasan Prambanan terdapat pertunjukan sendratari, yang mengambil inspirasi cerita Ramayana seperti tertera pada dinding percandian Lara Jonggrang. Dalam versi yang pendek, sendratari Ramayana juga terdapat di kompleks Purawisata. Jika menghendaki melihat wayang kulit, selain mungkin akan menemukan digelar pada upacara adat–seperti rasulan di Gunungkidul–kita juga dapat melihatnya dalam versi ringkas di Museum Sonobudoyo.

Musik dan teater modern juga dapat dicari di Yogyakarta. Terdapat Taman Budaya belakang Benteng Vredeburg, yang sering digunakan untuk menggelar pertunjukan seni dan teater. Pasar Burung Ngasem, sekarang sebagian telah disulap menjadi plaza. Sering digelar pertunjukan di tempat tersebut.

20141025-038_cr

Konser musik di Plaza Ngasem, dengan latar belakang sisa bangunan Pulo Cemeti Tamansari.

Pameran lukisan sering diselenggarakan di kota ini. Berbagai galeri bertebaran di samping beberapa museum seni. Taman Budaya, Bentara Budaya, Jogja Gallery, Jogja National Museum, Galeri Cemeti, Kedai Kebun, Museum Affandi, Museum Amri Yahya, dan Museum Nyoman Gunarsa hanya sebagian dari venue pameran lukisan.

Untuk budaya keseharian, kita dapat melihat budaya agraris di pedesaaan. Petani mengelola sawah, misalnya. Di Bantul terdapat pengolahan mie tradisional yang dapat juga dikunjungi. Pasar tradisional juga menarik untuk dikunjungi. Terdapat pasar hampir di setiap kecamatan di Yogyakarta, namun Pasar Beringharjo sebaiknya tidak dilewatkan.

Tidak hanya rutinitas sehari-hari, terdapat juga “keseharian” yang dilakukan masyarakat secara berkala. Jika kebetulan berada di kota ini dalam rangka mudik lebaran, maka malam idul fitri kita boleh jadi akan dapat menikmati arak-arakan takbiran. Anak-anak dari masjid-masjid berkeliling kampung dengan berbagai atribut dan lampion. Lumayan untuk dilihat sambil mempersiapkan diri menyambut kemenangan esok paginya. Selain pada malam idul fitri, takbiran juga dapat ditemui pada malam idul adha. Spot favorit saya untuk melihat pawai itu adalah seputar Ngabean dan Gerjen, di sebelah barat alun-alun keraton.

Coba-coba

Dari sisi “what to do”, kita dapat belajar membatik di kawasan Tamansari, membuat cincin perak di Kotagede. Bersepeda keliling kota, maupun menjelajahi desa-desa di sekitar Yogyakarta cukup menarik. Di berbagai desa wisata, pengelola menawarkan pengalaman untuk mengelola sawah, seperti membajak, menanam padi, dan sebagainya.

Nongkrong di warung dan resto termasuk ke dalam kegiatan yang dapat dilakukan. Terdapat berbagai warung legendaris yang menjadi jujugan baik wisatawan maupun warga setempat. Makanan yang disajikan mulai dari nasi kucing, kopi, bakmi, hingga steak.

Alun-alun selatan juga menjadi tempat nongkrong. Jika di malam hari terdapat banyak penjual jagung bakar, di pagi hari terkenal dengan lontong opor dan bubur ayam, terutama di minggu pagi. Para warga berolah raga di minggu pagi, sementara para wisatawan mencoba keberuntungan dengan masangin, berjalan di antara dua pohon beringin dengan mata tertutup. Sepeda hias dengan lampu kelap-kelip juga dapat disewa untuk berkeliling alun-alun ini.

Belanja-belanja

What to buy? Malioboro menjadi pusat cinderamata untuk wisatawan. Kemudian, berbagai perusahaan batik yang bertebaran di seluruh provinsi, terutama di kota, di Bantul, dan Kulonprogo, menyediakan kain tradisional dengan kualitas yang baik dan harga yang relatif terjangkau. Namun, harap memahami dahulu apa yang disebut batik, karena tidak semua “batik” dikerjakan dengan malam dan dicelup ke pewarna. Di kawasan Tamansari kita dapat menjumpai batik lukis, kreasi modern dalam bentuk kaos serta hiasan dinding. Mereka masih mengerjakan dengan teknik batik dan umumnya juga membuat motif tradisional.

• Baca juga: Kasta Batik

Masih dari sisi kriya, Kotagede yang merupakan salah satu kecamatan di Kota Yogyakarta terkenal dengan kerajinan perak. Berbagai kios seni dan bengkel kerajinan di tempat tersebut menjual barang dari perak.

Gudeg menjadi andalan untuk dibeli para wisatawan selain bakpia. Pusat penjualan gudeg ada di daerah Wijilan, yaitu di sebelah timur Alun-alun Utara, serta di utara kampus UGM Bulaksumur. Bakpia, yang sering diincar wisatawan adalah di wilayah Pathok. Namun, percayalah, terdapat banyak penjual bakpia berkualitas di kota ini, juga beragam jenis makanan lain.

Kaos, terutama yang bermerek “Dagadu” cukup legendaris sebagai cinderamata. Selain merek tersebut yang sepertinya hanya disediakan di tiga gerai, terdapat banyak penjual kaos khas Yogyakarta berbagai merk di seputar keraton.

… dan lain-lain!

Daftar itu tentu belum berakhir, karena selalu muncul yang baru. Mahasiswa D-3 Kepariwisataan dan atau S-1 Pariwisata yang bertemu saya baik dalam bimbingan tugas akhir atau dalam perkuliahan, dulu, selalu datang dengan ide-ide segar tentang pengembangan destinasi wisata di Yogyakarta.

Selamat datang di Yogyakarta! [z]

ke atas

1,586 total views, no views today

Older posts