Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Category: KITAB-KEMITAB

Buku tentang Sultan Hamengku Buwono IX

Sultan Hamengku Buwono IX

Buku "Takhta untuk Rakyat" edisi 2011.

Di tengah-tengah menyiapkan naskah “Mengunjungi Museum, Meneladani Sang Sultan” untuk Kontes Blog UGM 2012, saya mendapati adanya berbagai buku yang menceritakan Sri Sultan Hamengku Buwono IX selain Tahta Untuk Rakyattahun 1982 yang terkenal itu.\1 Belum semua buku saya tersebut saya baca, tetapi mestinya masing-masing isi buku berbeda dalam kedalaman, sisi, dan visi penulisan.

Berikut adalah judul-judul buku tersebut. Sebagian saya dapat dari Internet.



Tahta untuk Rakyat

Sri Sultan Hamengku-Buwono IX,
Soebagijo I.N.,
Panjebar Semangat, 1952.
32 hlm., 20cm.
Tahta Untuk Rakyat: Celah-Celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX, dihimpun oleh: Mohamad Roem ... [et al.]; penyunting: Atmakusumah.
Gramedia, Jakarta, 1982.
ISBN: 9792267670.
XLIX, 453 p. : ill. ; 23 cm.


Sri Sultan:
Hari-Hari Hamengku Buwono IX
,
Majalah Tempo,
Pustaka Utama Grafiti, Jakarta, 1988.
xi, 188 p., lxxx p. of plates : ill. (some col.) ; 20 cm.
Sang Demokrat Hamengku Buwono IX,
Dokumen setelah Sri Sultan Mangkat
,
Sugiono M.P.,
Yayasan Budi Luhur, Jakarta, 1989.
xviii, 571 p.; 21 cm.




Hamengku Buwono IX dan Sistem Birokrasi Pemerintahan Yogyakarta 1942-1974, Sebuah Tinjauan Historis,
P.J. Suwarno,
Kanisius, Yogyakarta, 1994.
Sri Sultan Hamengku Buwono IX:
Riwayat Hidup dan Perjuangan
,
Sutrisno Kutoyo,
PT Mutiara Sumber Widya, Jakarta, 1996.
269 p. : ill. ; 21 cm.
ISBN: 9798011309
gusti dan kawula alit

Aku dan Sri Sultan:
nukilan-nukilan dalam jalinan persahabatan antara Gusti
dan kawula alit
,
Permadi,
Jawa Pos, 1988.
106 hlm.
Sejarah Kanjeng Sultan Hamengku Buwono IX,
Purwadi,
Hanan Pustaka, Yogyakarta, 2006.
25 cm, 432 hlm.


Merajut Kembali Pemikiran
Sri Sultan Hamengkubuwono IX,
sebuah kumpulan pemikiran dan polemik status keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta
,
H. Heru Wahyukismoyo,
Dharmakaryadhika Publisher, 2008
Hamengkubuwono IX:
Dari Serangan Umum 1 Maret
sampai Melawan Soeharto
,
K. TIno,
Navila Idea, 2010.
198 hlm.


Wasiat HB IX: Yogyakarta Kota Republik,
Haryadi Baskoro & Sudomo Sunaryo,
Galang Press, 2011
Sepanjang Hayat Bersama Rakyat,
100 tahun Sultan Hamengku Buwono IX
,
Kolumis dan Wartawan Kompas,
Penerbit Buku Kompas, 2012.
23 cm, 364 hlm.
ISBN: 9789797096342
Mengawal Transisi: Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Pemerintahan Transisi Republik Indonesia di Yogyakarta 1949
Aan Ratmanto
Atap Buku [dan] Mata Padi Pressindo, 2012
Hamengku Buwono IX: Inspiring Prophetic Leader,
Parni Hadi & Nasyith Majdi
Ikatan Relawan Sosial Indonesia (IRSI), 2013
Hamengku Buwono IX: Pengorbanan Sang Pembela Republik
Seri Buku Tempo: Bapak Bangsa. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2015.

Catatan Kaki
  1. Buku ini diluncurkan ulang tahun 2011 dengan tambahan tulisan tentang mangkatnya Sri Sultan. Sampul buku juga dirancang ulang dan judulnya menjadi “Takhta untuk Rakyat” ^

2,832 total views, no views today

Kuliner Indonesia di Belanda: Allerhande

Albert Heijn barangkali adalah jaringan toko swalayan terbesar di Belanda. Tahun ini, toko dengan logo berwarna biru ini berusia 125 tahun. Toko ini rasanya berada di seluruh penjuru negeri, dari yang kecil di stasiun hingga yang besar di winkelcentrum.

Salah satu upaya promosi dari toko ini adalah dengan membuat terbitan setiap bulan, yang bernama Allerhande. Sebagai sarana advertensi toko swalayan yang menjual ‘sembako’, terbitan tersebut berisi resep-resep masakan yang sudah barang tentu bahannya dapat dibeli langsung di toko ini. Pada terbitan nomor dua tahun 2012 ini, bulan Maret, tema yang diangkat adalah rijst & noodels, alias nasi dan mi.

Berkaitan dengan nasi dan mi, tentu masyarakat Belanda tidak dapat melupakan Indonesia, negeri yang pernah selama berabad-abad berbagi sejarah bersama. Pada Allerhande 2/2012 ini terdapat beberapa makanan yang berasal dari (atau terpengaruh oleh) Indonesia. Tidak terlalu mudah untuk mengidentifikasi makanan-makanan tersebut meskipun terdapat makanan yang telah terlihat dari namanya, yaitu nasi goreng, makanan yang sangat populer.

Sebagian lain terkelompok di bawah judul ‘selamat makan’ yang berisi beberapa resep indishe rijstaffel. Resep makanan ini terdiri atas atjar tjampoer, vispakketjes (ikan bungkus, mungkin terinspirasi dari pepes ikan), kip (ayam) ketjap, nasi kuning, gehaktomelet (omelet potong?), rundvlees in kokossaus (daging sapi santan), ei in pittige saus (telur saus …?), dan sambal boontjes. Sementara itu, di bawah judul Indisch terdapat makanan sate babi met satesaus, dan di bawah rubrik thuiskoks subjudul indonesisch terdapat makanan loempia.

Nasi kuning. Sumber: allerhande.nl

Selain nama sajian makanan, di berbagai halaman terbitan ini juga bertaburan beberapa istilah khas indonesia, seperti nasi, sambal, dan ketjap.

Mungkin kening agak berkerut membaca nama-nama makanan tersebut. Beberapa menggunakan ejaan lama (atjar tjampoer, ketjap, loempia) karena memang makanan-makanan tersebut datang ketika Indonesia masih menggunakan ejaan tersebut, mungkin pada masa kolonial atau setidaknya pada waktu kepulangan warga Belanda dan keturunannya setelah kemerdekaan. Nama makanan tersebut juga tidak di-update, karena telah menjadi khasanah kuliner Belanda.

Beberapa makanan menggunakan nama Belanda, seperti vispakketjes. Mungkin dibandingkan dengan atjar tjampoer, makanan ini ‘lebih Belanda’ daripada Indonesia. Juga omelet, yang kira-kira mirip dengan telur dadar namun lebih kaya isi (jadi ingat telur dadar di Bonbin FIB UGM, juga di beberapa warung makan di kampung-kampung di seputar kampus, yang ‘di-subal‘ habis-habisan dengan irisan kol alias kubis.

Sate babi dan loempia? Iyalah, barangkali dulu dua kuliner yang barangkali sekarang lebih dianggap sebagai kuliner Tionghoa (eh, sate babi juga biasa di beberapa tempat di Indonesia, dan lumpia dianggap camilan turistik khas Semarang) ini menjadi santapan kegemaran masyarakat Belanda dan Indo di Indonesia.

Saya belum tahu apakah resep yang dicantumkan di terbitan tersebut adalah resep ‘aseli warisan leluhur kita’, baik dari segi bahan maupun tata cara penyiapan dan penyajiannya. Besar kemungkinan resep-resep tersebut telah dimodifikasi, menjadi resep Indische, yang ‘Belanda bukan, Indonesia juga bukan”. Masakan harus sesuai dengan lidah mereka, dengan bahan yang ada, serta dengan kebiasaan makan mereka.

*
Mengutip perkataan orang Belanda: “Selamat makan!”

803 total views, no views today

Menilai Buku

What is the significance of a book cover?

‘Jangan nilai buku dari kovernya’, sebuah pernyataan yang populer, atau dipopulerkan. ‘Nilai’, ‘judge‘, mungkin menyatakan kualitas tulisan atawa isi buku.

Jadi, harus membaca buku hingga selesai, membaca resensinya, membaca daftar isinya? Atau membaca judulnya (yang harusnya menggambarkan isi), nama penulisnya (bahwa penulis tertentu selalu menulis bagus), nama penerbitnya (jaminan buku bermutu dari penerbit kondang)? Nanti muncul pernyataan lain: jangan nilai buku dari penulisnya, nilailah dari penerbitnya …

Buku-buku dengan nama penulis yang ditampilkan lebih besar daripada judul buku.
Sumber: izismile.com

Beberapa teman saya menilai dari: tahun terbit. Buku-buku berangka tahun agak lama tidak pernah dilirik. Mungkin buku satu-dua tahun yang lalu sudah dibacanya semua, atau seperti teknik membaca mailing list: baca yang terakhir, akan mendapatkan semua.\1

*

Sejak sekitar awal tahun 1990-an, sampul buku menjadi perhatian para perancang. Buku-buku terbitan Yogya sejak masa itu memiliki kover yang susah dilewatkan. Beberapa desainer kover ngetop antara lain Harry ‘Si Ong’ Wahyu dan Kang Buldanul Khuri. Buku-buku itu menggoda untuk dimiliki.

*

Sketsa-Sketsa Umar Kayam, Mangan Ora Mangan Kumpul
Dua kover, satu isi. Beda lahir, tetapi batinnya sama ...
Sumber foto-foto: Internet.


Berkaitan dengan don’t judge a book by its cover, apakah sebaiknya saya katakan: buku ini bagus kovernya tetapi bukan isinya? Banyak sisi dari sebuah buku. Di masa lalu, kover dan aspek tampilan lainnya juga penting. Naskah-naskah lama, juga kitab-kitab suci, banyak memiliki hiasan yang disebut iluminasi–meskipun pada naskah Nusantara jarang ditemukan sebagai sampul.

Perkara kover ini penting lho, seperti ensiklopedi yang diletakkan berjajar di rak di ruang kerja, apakah karena isinya? Konon ada buku ensiklopedi ‘bohongan’, hanya kulitnya saja dan yang jelas cukup keren dipajang. Tapi, zaman buku eksiklopedi diganti mBah Gugel sekarang ini, apa ya pajangan di ruang kerja?

*

‘Jangan nilai buku dari kovernya’ juga merupakan kiasan. Maksudnya, jangan nilai sesuatu dari apa yang nampak, melainkan dari isinya. Teman saya yang lain ngeles: jika terlanjur tidak memilih kover yang bagus dan ternyata isi tidak seperti yang diharapkan berarti rugi dua kali.

Ah. Sesukamu.[z]

ke atas

Catatan Kaki
  1. Bagi kalangan akademisi mungkin perlu mengetahui perkembangan terbaru dari bidang ilmunya. ^

672 total views, no views today