Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Category: KAMPUS & KULIAH (page 1 of 2)

Arkeologi dan Bela Diri


indiana jones - raiders of the lost ark

Indy yang berbekal cambuk, bukan cethok ...


Nonton The Mummy Returns tadi malam, yang entah sudah berapa puluh kali ditayang di televisi kita, membuat saya berpikir, bahwa mungkin menjadi arkeolog perlu kemampuan bela diri. Selama ini memang belum menemukan kasus di lapangan yang membutuhkan kemampuan tersebut, tetapi siapa tahu, dunia sangat luas dan permasalahan kadang menjadi sangat kompleks.

Yaa, tapi kan itu cuma film?

Hmmm. Banyak anak mengaku masuk Jurusan Arkeologi karena diinspirasi oleh film Indiana Jones. Di film tersebut Indy juga piawai berkelahi, dengan lecutan cambuknya. Mungkin kepiawaiannya sama dengan Uling Putih dan Uling Kuning dalam cerita pribumi favorit saya, Nagasasra dan Sabukinten karya Singgih Hadi Mintardja.

Dan saya kemudian teringat kepada mahasiswa saya di Jurusan Arkeologi, Helmi Yanuar. Ia pada Sea Games 2011 yang baru lalu mempersembahkan medali emas kepada Indonesia tercinta pada cabang Kempo beregu. Pas seperti film, kombinasi arkeologi dan bela diri. Entah, apakah dia dulu juga terinspirasi oleh Indiana Jones waktu memilih jurusan ini.

Eh, tapi Rick dan Evelyn O’ Connell itu arkeolog atau bukan ya? Entahlah, yang jelas mereka masuk menelusup piramid, membaca hiroglif…[z]

Ke atas

266 total views, no views today

Kaos dan Urban Heritage


 Arsitektur cukup menonjol sebagai warisan kota. Pada masa Kolonial, ketika budaya urban terbentuk, terdapat berbagai bangunan yang berdiri megah di tengah kota, sebagai peninggalan dari kebudayaan masa tersebut.

Gedung-gedung Bank Indonesia yang tersebar di berbagai kota di Indonesia, biasanya memiliki arsitektur khas dengan hiasan raya. Oleh karena itu, tidak salah jika seminar internasional Urban Heritage di Jurusan Arkeologi UGM tahun 2011 menggunakan bangunan BI dalam logo seminar, termasuk dalam kaos-kaos ini.

459 total views, no views today

Karcis Parkir

Sepeda motor menjadi salah satu alat angkut utama bagi mahasiswa di kawasan Bulaksumur. Dulu, parkir terdesentralisasi, terdapat di masing-masing fakultas atau upt. Beberapa tahun terakhir, terdapat kebijakan untuk mensentralisasi parkir. Portal kemudian dijadikan satu, misalnya di Jalan Sosio Humaniora. Beberapa jalan menuju kawasan Bulaksumur juga dipasang portal. Akibatnya, kadang terjadi penumpukan pengantre bermotor yang hendak keluar kawasan.

Satu hal yang saya amati cukup menghambat pemeriksaan karcis parkir adalah karcis yang di-uwel-uwel. Petugas di pintu pemeriksaan membutuhkan waktu cukup lama untuk membuka dan membaca nomor kendaraan yang tertulis. Antrian motor atau mobil pada pintu pemeriksaan tidak terhindarkan lagi.

Mungkin pemeriksaan akan lebih cepat kalau kita membiasakan menyimpan karcis parkir dengan baik, kemudian memberikan pada petugas dengan posisi tulisan di atas, menghadap kepada petugas. Untuk lebih cepatnya lagi, karcis (semoga) bisa diberikan dengan tangan kiri tanpa dianggap melanggar sopan santun–saya masih risih dengan menggunakan tangan kiri untuk memberikan sesuatu.

Selain sebaiknya tidak di-uwel-uwel, karcis juga jangan diberikan dalam bentuk origami. Meskipun mungkin indah, waktu yang dibutuhkan untuk membuka lebih lama lagi….

karcis

kiri: sebaiknya ya, tengah: sebaiknya jangan, kanan: apalagi yang ini!

306 total views, no views today

Berjabat tangan atawa Salaman

Apa yang salah dengan berjabat tangan alias salaman? Ketika disalami oleh peserta ujian masuk UGM hari Minggu kemarin, saya sempat kaget. Di akhir waktu ujian, saya sebagai penanggungjawab ruang mengucapkan selamat berpisah kepada para peserta dan sampai jumpa di tanggal 18 Agustus, yaitu hari penerimaan mahasiswa baru oleh rektor. Sejurus kemudian, para peserta ujian keluar ruang sambil menyalami kami para penjaga.

Saya kemudian teringat penelitian Mas Heri dari Fakultas Filsafat UGM, yang menyarankan agar guru-guru sekolah bersalaman dengan para murid, tentunya dengan sepenuh hati, untuk mengurangi tindak kekerasan di sekolah.

Barangkali, saya perlu bersalaman juga dengan para mahasiswa peserta kuliah, mulai semester depan.

456 total views, 1 views today

Yogya-Sragen (Sangiran & Dayu)

Sabtu (5 Juni 2010) kemarin kami mengantar mahasiswa D3 Kepariwisataan kuliah lapangan ke Situs Manusia Purba Sangiran dan Dayu Park, Sragen, Jawa Tengah. Peserta berjumlah 50 orang mahasiswa beserta 3 dosen, sehingga epet-epetan di sebuah bis pariwisata kapasitas 60-an yang rasanya sudah cukup uzur.

Mungkin ada yang juga akan melakukan wisata ke Sragen, gambaran berikut dapat digunakan untuk menyusun itinerari.

07.15 – 10.06 perjalanan Bulaksumur, Yogyakarta, ke Sangiran
10.06 – 10.45 kegiatan di gardu pandang: pengamatan situasi kawasan dari ketinggian gardu, nonton film dokumenter sepanjang 30 menit.
10.45 – 11.07 perjalanan ke museum
11.07 – 12.06 kunjungan ke museum
12.06 – 14.44 perjalanan ke Dayu, 13.19 – ishoma di jalan raya timur Sragen KM 5
14.44 – 16.24 kunjungan ke Dayu Alam Asri (Dayu Park)
16.24 – 19.57 perjalanan pulang ke Bulaksumur.

Sangiran

Terletak sekitar 17 km di sebelah utara Kota Solo, atau sekitar 90 km dari Kota Yogyakarta, Sangiran adalah situs tempat ditemukannya fosil-fosil manusia purba, peralatan batu dan tulang, serta fitur-fitur alam penting lain. Kawasan seluas lebih dari 50 km persegi ini telah ditetapkan sebagai Warisan Dunia (World Heritage) oleh Unesco.

Kali ini kuliah lapangan mengunjungi gardu pandang dan museum. Di gardu pandang pengunjung dapat melihat keseluruhan area Kubah Sangiran yang telah tererosi menjadi basin, juga nonton film dokumenter sepanjang 30 menit tentang Sangiran.

Sementara itu, di museum terdapat pajangan tentang fosil-fosil yang ditemukan di Sangiran, baik fosil manusia maupun binatang. Terdapat juga cerita tentang evolusi. Di kompleks ini telah beberapa gedung baru yang rencananya akan digunakan untuk memperbaharui pameran museum. Di pelataran parkir kita dapat menjumpai penjual kerajinan yang rata-rata terbuat dari bebatuan.

Para Homo sapiens sapiens mejeng bersama patung kepala Homo erectus di Museum Sangiran; dan rase-terbang di Dayu, Sragen.

Dayu Park

Terletak sekitar 5 km di barat daya kota Sragen, Dayu Park adalah satu kawasan agro wisata, yang oleh pengelola disebut sebagai “Taman Edukasi”. Di kawasan seluas lebih dari 20 hektar ini terdapat kebun jati dengan berbagai fasilitas seperti taman lalu lintas, panggung hiburan. Terdapat juga fasilitas outbond, kebun binatang mini (isinya rusa, buaya, kodok, burung… ), rumah kaca (green house), kolam ikan, kolam renang, dan fasilitas penginapan serta pertemuan.

Untuk memasuki ODTW disediakan tiket terusan yang dapat digunakan mencoba lima atraksi utama yang disediakan yaitu rase-terbang [flying fox], kolam renang, bebek apung, bonbin mini, serta perahu gethek. Dengan menggunakan tiket tersebut hampir semua mahasiswa hanya memilih permainan rase-terbang yang cukup menantang, merosot pada tali melewati sebidang kolam berair coklat.

816 total views, no views today

Older posts