Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Category: HIJAU (page 1 of 2)

Karhutla

Akronim ini mungkin baru. Tidak produktif juga, saya rasa hanya digunakan di running text yang lari-lari pada bagian bawah layar televisi.

Saya tebak kepanjangan akronim tersebut adalah ‘kebakaran hutan dan lahan’. Masalah kebakaran lahan ini memang lagi trending. Tidak hanya dibicarakan di mana-mana, asapnya juga sampai ke mana-mana. Konon hanya tujuh wilayah di Indonesia yang tidak kena asap. Sementara itu, Malaysia dan Singapura ikut mencicipi juga.

***

Melihat progres yang dilakukan sekarang, terlihat sulit memadamkan api karhutla. Alam diharap memadamkan sendiri: hujan diharap turun dari langit.

***

Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mencegah kebakaran.

Pertama, jangan membuat api seberapa pun kecilnya. Banyak kabar yang menyatakan bahwa kebakaran bermula dari api kecil, seperti rokok. Maka sebaiknya kita membuat api hanya jika diperlukan. Sekarang juga banyak perabot dapur dan rumah tangga yang minim api. Kompor induksi yang tanpa api itu, misalnya. Atau gunakan microwave alih-alih kompor gas/minyak untuk memanaskan makanan.

Kedua, jangan membuat benda atau lingkungan menjadi combustible, gampang terbakar. Buat bangunan dengan bahan yang tahan api, misalnya. Konon lahan gambut yang digunakan untuk menanam sawit itu dikeringkan. Oleh karena itu, mudah terbakar.

***

1,293 total views, no views today

Bijak mengelola alam

Tadi, saat saya menunaikan tugas untuk berbicara tentang kemerdekaan pada warga RT di desa, saya kepentok dengan istilah yang biasa saya ucapkan di kalangan kampus: tidak sustainable. Tetapi begitu saya kemukakan bahasa campuran itu, seorang tetangga yang petani atau tukang batu itu menyaut: ora ngoman-omani.

Ya. Saya rasa itu adalah kata tepat untuk menggambarkan etika orang desa dalam menggunakan sumber daya alam. MEreka tidak akan menguras habis tanpa sisa untuk orang lain, yang dalam bahasa mereka adalah “ora ngoman-omani”.

Kearifan ini berarti tidak serakah, mengambil semua, tidak merasa bahwa merekalah yang memiliki hak atas keseluruhan sumber daya. Ada hak orang lain juga untuk menikmati. Orang lain yang berarti para tetangga, bahkan mungkin orang lewat.

Orang lain juga berarti anak-cucu keturunan mereka nanti.

Mereka tidak risau dengan keperluan mereka sendiri. Pun anak-cucu mereka, karena percaya adanya etika.

Berbeda halnya dengan ‘orang sekarang’. Semua sibuk mengumpulkan harta untuk diri mereka, yang dibayangkan sanggup menjamin kehidupan anak-cucu tujuh turunan. Investasi menjadi kata kunci di samping eksploitasi yang lebih populer dalam kajian akademik tentang lingkungan.

Demi investasi, perumahan-perumahan dibangun dengan mengorbankan tanah pertanian. Apartemen dan hotel tinggi didirikan tanpa memperhitungkan sustainabilitas air tanah. Para pemilik uang ramai-ramai membelinya. Bukan untuk ditempati, ditinggali, melainkan berharap agar dapat dijual lagi kelak dengan harga tinggi.

478 total views, no views today

Pemilu atawa Memilih Caleg

Minggu-minggu ini atmosfer Indonesia dilingkupi gegap gempita para caleg yang mengiklankan diri agar dipilih oleh para warga di dapilnya. Beragam cara yang mereka lakukan, meskipun kebanyakan yang terlihat adalah memajang foto-foto manis mereka, atau dimanis-maniskan, dengan poster besar dan kecil di pinggir-pinggir jalan. Sebagian melakukan iklan di media massa, sebagian lagi melakukan cara aneh-aneh seperti memijit kaki para calon penumpang bis di terminal.

Rasanya setiap warga yang berhak memilih akan berhadapan dengan sekitar tiga ratus orang calon anggota legislatif, alias mereka yang berkontes di ajang pemilu ini. Memilih empat orang dari ratusan nama itu tentu tidak mudah. Daftar nama juga tidak gampang didapat (situs KPU daerah yang saya intip ternyata tidak menyediakan data  caleg alias kosong … ), apa lagi untuk mendapatkan data yang lebih rinci. Bahkan, konon ada caleg yang menolak dipublikasikannya profil dirinya.\1 Sementara banyak saran untuk menelusuri rekam jejak caleg. Lah, kami lantas harus menelusuri dengan cara apa? Bagaimana cara kami memilih orang yang kami percaya untuk duduk di parlemen mewakili kami?

Untunglah ada beberapa situs yang entah siapa pengelolanya yang memajang data para caleg meskipun serba sedikit.

Dari ratusan nama di dapil tempat saya tinggal, rasanya hanya tiga orang yang saya kenal. Mereka ini teman sekolah atau ketika kuliah dulu. Entahlah, apa saya harus memilih mereka karena merekalah yang (paling) saya kenal.\2 Selebritas kali ini tidak ada yang nyaleg di dapil ini dan pesohor lain kelihatannya juga tidak ada.

Melintas di jalan lingkar di Purworejo pagi tadi, di tengah berjubelnya poster yang mengharap atau menyaran seseorang atau partai tertentu untuk dipilih, ada poster kecil yang menyarankan sebaliknya: jangan pilih caleg dengan kriteria tertentu. Poster yang kelihatannya dipasang oleh pecinta pohon ini menyarankan untuk tidak memilih caleg yang memasang poster kampanyenya dengan memaku ke pohon.

 

Rasanya menolong juga memilah dengan cara terbalik ini: mulai dengan mencoret caleg yang tidak kita ingini duduk di parlemen. Banyak kriteria yang dapat diterapkan untuk ini jika kita menguping pembicaraan para komentator di televisi atau di media lain. Atau googling dengan kata kunci “caleg tak layak pilih” dan sebangsanya.

Semoga pemilu mendatang berjalan damai dan lancar.

Catatan Kaki
  1. lihat misalnya di news.detik.com/read/2013/06/26/153515/2284956/10/kpu-140-caleg-menolak-dipublikasikan-profilnya ^
  2. Ada juga mantan mahasiswa saya yang nyaleg di dapil sebelah. Semoga sukses! ^

328 total views, 1 views today

Rumah Panggung

Rumah panggung, atau rumah kolong merupakan arsitektur yang umum bagi masyarakat Indonesia. Masyarakat merasa perlu meninggikan bangunan tempat tinggal untuk menghindari hal-hal tertentu, seperti tanah becek, banjir, binatang buas, atau mungkin musuh dari kelompok lain.

Gaya rumah semacam itu umum merata hampir di seluruh tanah air, kecuali beberapa tempat tertentu seperti di Jawa. Sering dikatakan oleh para ahli bahwa rumah di Jawa turun ke tanah lebih dahulu dibanding dengan masyarakat lain. Nyaris tidak ditemukan rumah panggung di Jawa yang digunakan masyarakat selain pada beberapa kelompok masyarakat di Jawa Barat. Beberapa masyarakat di Jawa Barat menggunakan rumah panggung pendek. Sementara itu, beberapa relief dari masa Klasik yang tertera di beberapa percandian di Jawa Tengah dan Jawa Timur menggambarkan adanya rumah panggung di wilayah ini pada masa lalu.

***

Orang-orang Jakarta yang tinggal di tepi sungai dan di atas rawa kelihatannya juga menggunakan rumah panggung. Berbeda dari rumah panggung Melayu atau Kalimantan dan Sulawesi, kolong rumah mereka benar-benar basah sehingga tidak dapat digunakan untuk kegiatan. Mereka menggunakan tipe panggung lantaran mengokupasi lahan basah berupa sungai atau danau/rawa.

***

Banjir di beberapa kawasan di Jawa yang merisaukan seperti yang berulang kali terjadi di Jakarta berdampak pada individu, keluarga, maupun masyarakat. Tempat tinggal terendam, hubungan dengan tempat lain terputus. Mungkin kita perlu memikirkan kembali perlunya ‘menaikkan lagi’ rumah di wilayah Jawa sebab meskipun untuk beberapa lama tanah mengering sehingga cukup nyaman untuk menjadi lantai, ternyata sekarang menjadi basah lagi karena ulah kita menebang pepohonan dan sebagainya.

Rumah panggung dapat menghindarkan penghuninya dari banjir. Bangunan semacam ini mungkin juga akan terintroduksi dengan sendirinya seiring pembangunan berbagai rumah susun. Biasanya, lantai pertama merupakan kolong yang tidak ditinggali melainkan untuk berbagai keperluan seperti parkir kendaraan.

Jika rumah panggung dikombinasi dengan gagasan Pak Jokowi tentang kampung deret, wah, mungkin akan seperti rumah panjang di Kalimantan. Antarkeluarga, atau antartetangga akan terhubung di lantai atas, bukan hanya dengan jalan di tanah. Jika terjadi banjir mereka akan tetap terhubung dan mungkin akses ke tempat lain akan lebih baik tanpa perlu banyak perahu karet dan perahu darurat lain yang sering dipatok tarif tinggi.

***

Tetapi tentu menjaga lingkungan tetaplah solusi utama untuk mengatasi banjir. [z]

302 total views, no views today

4R Melawan Sampah

reduce reuse recycle repairTindakan mengurangi sampah dalam rangka ‘go green‘ kebanyakan terbatas pada 3R, yaitu reduce, reuse, dan recyle. Sebagian pegiat memasukkan juga repair yang membuatnya menjadi 4R. Sebagian pegiat yang lain tidak memasukkan repair melainkan refuse dalam 4R mereka, atau memmilih recovery sebagai salah satu langkah. Sementara itu, muncul pula istilah upcycle yang membuat kumpulan istilah ini tidak lagi melulu berawalan huruf ‘R’.

Saya sendiri cocok dengan 4R yang pertama. Berikut pemahaman dan catatan saya tentang hal ini.

Reduce
Upaya ini berarti pengurangan penggunaan barang berpotensi sampah sebanyak mungkin.\1 Kita dapat memilih benda yang dapat digunakan secara berulang daripada benda yang sekali pakai. Kita juga dapat memilih benda yang berumur lebih panjang daripada benda-benda yang cepat rusak.

Berkait dengan hal ini muncul refuse, yaitu menolak penggunaan benda tertentu. Kita dapat menolak pemberian tas kresek di toko dengan membawa tas sendiri. Di toko-toko juga muncul anjuran untuk menggunakan tas sendiri karena konon tas kresek butuh waktu puluhan tahun untuk hancur kembali ke alam.

Toko ‘Merah’ di Jalan Kaliurang, Yogyakarta, misalnya. Beberapa tahun yang lalu, ketika masih di tempat yang lama, di meja kasir terdapat tulisan (tangan) yang kira-kira menyatakan bahwa jika tidak memerlukan tas maka silakan ngomong. Mini-market juga menyarankan penggunaan tas berulang (dan mereka membuat tas awet yang dijual cukup mahal… )

Terdapat juga gerakan seperti ‘diet tas kresek’ yang artinya bukanlah ‘makan tas kresek’ melainkan kurangi penggunaan hal yang sebenarnya tidak perlu itu.

Repair
Memperbaiki barang-barang rusak dapat memperpanjang usia pakai barang tersebut. Dengan demikian, penggunaan sumberdaya untuk memproduksi menjadi berkurang. Lampu hemat energi yang rusak diperbaiki lagi daripada membeli yang baru.

Hanya, pada titik tertentu mungkin tindakan repair tidak lagi efektif sehingga harus mengupayakan benda baru. Kadang teknologi baru juga lebih efisien dalam sumber daya.

Reuse
Penggunaan ulang barang-barang baik untuk keperluan baru atau untuk keperluan yang sama seperti sebelumnya. Penggunaan yang berbeda misalnya bekas wadah minyak sebagai pot dan botol bekas selai sebagai gelas minum. Sementara itu, penggunaan untuk keperluan yang sama antara lain adalah penggunaan isi ulang (refill), recharging baterai, juga isi ulang tinta printer.

Agak berkait dengan hal ini adalah upcycling, yang menjadi tren beberapa waktu terakhir di luar negeri. Barang-barang dibongkar, kemudian diciptakan barang baru. Maka tercipta misalnya bangku dari kayu bekas. Banyak upaya upcycle yang dilakukan oleh perancang profesional sehingga barang baru menjadi ‘naik pangkat’ dari sebelumnya. TIndakan ini konon juga menjadi tren di beberapa belahan dunia.

Recycle
Dari istilahnya, recycle adalah upaya memasukkan kembali benda ke dalam daur (cycle) hidup benda. Umumnya, upaya ini dipahami sebagai reuse dan upcylce. Jika kita meng-google atau meramban di Pinterest dengan kata kunci ‘recycle‘ akan menemukan banyak hal tentang penggunaan ulang benda sebagaimana bentuknya, alias tidak melalui banyak pengubahan.

Saya rasa, recycle lebih berkait dengan upaya mengembalikan kepada bagian-bagiannya sebelum digunakan lagi. Plastik botol PET misalnya, dicacah dan dilebur untuk menjadi busa kursi. Tidak terlihat jejak botol bekas minuman itu dalam benda recycle yang dihasilkan.

***

Dari hal-hal tersebut di atas terlihat bahwa salah satu kunci upaya ini adalah penggunaan ulang. Entah, apakah parikan Jawa ‘theklek kecemplung kalen, tinimbang golek aluwung balen‘ memang kompatibel dengan hal itu… [z]

ke atas

Catatan Kaki
  1. Hemat saya, segala bentuk pengurangan konsumsi penting untuk kegiatan go-green. Dengan demikian maka penggunaan sumber daya untuk mencipta, menggunakan, merawat, serta membuang barang akan berkurang. ^

510 total views, no views today

Older posts