Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Category: warisan budaya (page 1 of 4)

Eiffel

Beberapa minggu terakhir mata saya selalu menangkap gambar menara Eiffel pada berbagai benda. Tas sekolah, jaket, kaos oblong, sampul buku tulis, … Masuk ke toko suvenir sebuah ‘museum’ di Malang pun ketemu replika menara tersohor ini. Ke sebuah toko buku jaringan nasional, apa lagi. Ada sangat banyak benda bergambar Eiffel, pun replika tiga dimensinya.

Ketika memutar memori, ternyata bentuk bagian bawah menara Eiffel digunakan sebagai gerbang suatu acara yang di selenggarakan di kompleks Plaza Pasar Ngasem, di tahun 2014 kemarin! Replika kaki menara ini dibuat dengan bambu. Entah apa banyak pengunjung yang menyadari keberadaannya.

pasar ngasem eiffel

Replika Menara Eiffel di Plaza Pasar Ngasem, 2014.

Menara ini dahulu digunakan untuk penanda lahan pada Pameran Dunia. Rencananya, karya Gustaf Eiffel ini–ia juga merancang Patung Liberty–akan dirubuhkan setelah pameran selesai. Namun entah kenapa, bangunan besi tersebut masih tegak hingga sekarang dan bahkan semakin terkenal.

Sampai akhir puasa kemarin, seorang teman yang baru pulang dari Paris berkata: “Aku wis ndelok Eiffel. Ternyata mung wesi koyo ngono …” Wuitts….

Saya jawab: “Kowe ora dhewekan. Guy de Maupassant pun bilang bangunan itu jelek.” Sastrawan ngetop dari Prancis itu konon saban hari makan di restoran di puncak menara itu justru agar tidak melihatnya!

Beruntung saya nontonnya dari kejauhan, dari Palais du Chaillot. Lokasi tersebut berjarak enam ratusan meter dari menara. Seorang reviewer di TripAdvisor menyatakan bahwa tempat tersebut merupakan tempat yang paling bagus untuk nonton Eiffel. Jadi saya tidak melihat besi-besi pating ketholang yang menyusun bangunan itu, persis seperti anak-anak yang mengenakan jaket atau t-shirt bergambar Eiffel, hanya melihat sosoknya yang diminiaturisasi.[z]

ke atas

509 total views, 1 views today

“Kasta” Batik

Tidak semua batik adalah “batik”. Paguyuban Pecinta Batk “Sekar Jagad” di Yogyakarta mempopulerkan istilah BBB, alias “batik bukan batik” untuk menjuluki kain yang tidak dikerjakan dengan teknik batik namun menggunakan motif hias yang umum digunakan pada kain batik.

Secara sederhana, batik adalah kain yang dihasilkan dengan teknik tutup-celup dengan menggunakan malam (lilin batik) sebagai bahan penutup. Teknik ini akan menghasilkan warna celupan pada kain di luar bagian yang tertutup malam. Terdapat banyak cara untuk menghasilkan kain batik yang masing-masing memiliki keunggulan tersendiri.

Kasta

Maka, secara berturut-turut, “kasta” batik dari sisi teknis ini adalah sebagai berikut.

  • 1. Batik tulis. Dikerjakan dengan menempelkan malam pada kain dengan menggunakan canting sebelum dicelup dengan pewarna.
  • 2. Batik cap. Dikerjakan dengan menempelkan malam menggunakan cap tembaga sebelum dicekup dengan pewarna.
  • 3. Batik kombinasi, antara cap dan tulis.
  • 4. Batik coletan, dikerjakan dengan tulis atau cap, namun pada bagian-bagian tertentu diberi warna menggunakan kuas.
  • 5. Batik kombinasi printing dan tulis/cap. Ada yang rajin memberikan sentuhan batik pada kain printing bermotif batik. Biasanya pola dasar dikerjakan dengan printing, sementara detil atau isen-isen dilakukan dengan batik, meski dapat pula sebaliknya, misalnya mengisi bagian-bagian tertentu dengan teknik sablon.

Selain dicelup dengan pewarna, pada perkembangannya terdapat kain batik yang diproses dengan penghilang warna. Jika dicelup pewarna maka motif batik akan menjadi negatif, sementara jika dicelup penghilang warna, yang disebut dengan batik cabut, maka hasilnya akan positif. Bagian yang tertutup malam akan tetap berwarna.

Di luar kategori teknik-teknik batik tersebut, terdapat kain yang oleh masyarakat juga sering disebut dengan batik meski tidak dikerjakan dengan teknik batik. Terkadang malah tidak menggunakan motif yang biasa digunakan dalam batik sama sekali. Jadi, sebenarnya “batik” ini di luar kasta.

  • 6. Batik printing. Kain ini berkategori BBB, alias “batik bukan batik”, yaitu kain yang menggunakan motif batik sebagai hiasan dan diproduksi dengan teknik cetak.

Harga dan Kualitas

Perbedaan teknik pembuatan tersebut berdampak pada kualitas dan tentu harga kain. Kualitas kriya batik terlihat tinggi pada teknik canting. Sebagaimana teknik manual lain, teknik canting menghasilkan gambar yang kadang tidak konsisten dan kerumitan sedang. Sementara itu, batik cap menghasilkan pola yang cukup seragam.

Secara ekstrem, hal tersebut di atas berbeda dari motif batik yang dihasilkan dengan mesin, yang sama merata pada setiap pola dan dapat menghasilkan garis tipis atau titik kecil yang halus dan konsisten. Besar garis atau titik pada batik manual ditentukan oleh besar lubang canting atau cap tembaga.

Tentang harga, umumnya batik tulis dikerjakan secara manual, satu demi satu, sehingga menjadi lebih mahal. Namun, banyak siasat untuk membuat harga batik tulis tidak terlalu tinggi. Misalnya adalah membuat motif sederhana, memberikan malam hanya satu sisi (tidak diterusi pada sisi kain yang lain), atau pewarnaan tidak intensif seperti batik kelengan yang hanya menggunakan satu warna. Maka, harga batik tulis pun dapat murah, lebih murah daripada batik cap.

Paling murah adalah batik printing karena diproduksi di pabrik secara besar-besaran dengan mesin atau dengan teknik sablon. Batik jenis ini mudah ditemui di toko-toko, juga di tempat-tempat wisata sebagai cinderamata massal. Baju seragam sekolah, kantor, PKK, dan sebangsanya, biasanya menggunakan batik jenis ini karena murah dan motif yang sama persis dapat diperoleh dalam jumlah besar.

1,274 total views, no views today

Batik Mandela

Perjuangan Nelson Mandela melawan apartheid tidak perlu diragukan lagi. Seluruh dunia memberi penghormatan dan mengenang kembali pada masa perkabungan atas meninggalnya tokoh dari Afrika Selatan tersebut. Ia meninggal kemarin di usia ke-95.

Yang membuat saya masih terheran-heran adalah kesukaannya mengenakan batik Indonesia di berbagai acara, bahkan acara resmi. Saya google gambar Mandela pagi ini dan menemukan bahwa foto pertama yang muncul menggambarkan tokoh ini mengenakan batik. Foto itu dimuat oleh es.wikipedia.org

Saya ingat ada seorang terkenal yang menulis kolom di harian terkemuka Indonesia beberapa tahun silam yang membandingkannya dengan jas sebagai pakaian resmi. Tulisnya, batik seperti pakaian hawaii yang digunakan untuk ke pantai. Bukan untuk ke acara resmi.

Yah, apa masalahnya? Tidak harus tuxedo untuk dapat disebut sebagai pakaian ‘resmi’. Saya ingat tulisan Umar Kayam yang merasa saltum waktu mengenakan jas ketika menemui Pangeran Charles. Waktu itu sang pangeran dan istrinya, Putri Diana, berkunjung ke Indonesia. Pasalnya, teman-temannya yang lain seperti Jaya Suprana mengenakan batik dalam undangan yang menyebut pakaian resmi sebagai dress code.

cnn.com

Di televisi pagi ini (atau semalam) diceritakan bahwa konon Mandela pernah mengenakan batik juga waktu bertemu Pak Harto di Jakarta. Waktu itu Pak Harto mengenakan pakaian resmi, yaitu jas. Saya tidak nemu foto itu, tetapi terdapat foto lain menggambarkan Mandela mengenakan batik ketika bertemu Bill Clinton. Keduanya ketika itu sudah menjadi mantan presiden.

***

Afrika sebenarnya juga mengenal batik. Hal itu terjadi secara kebetulan. Ketika masa Kolonial, orang-orang Eropa memproduksi batik di Eropa sono untuk dijual di Indonesia yang waktu itu cukup tinggi kebutuhannya akan bahan sandang yang satu ini. Akan tetapi ternyata batik buatan Eropa itu tidak laku di Indonesia karena dianggap tidak halus. karena urusan jalur perdagangan, jadilah batik itu mendapat pasar di Afrika.

Di Dappermarkt, pasar di sisi timur kota Amsterdam yang tidak jauh dari Tropenmuseum, terdapat beberapa penjual kain batik Afrika semacam ini. Di kawasan tersebut memang banyak orang dari Afrika yang tinggal. Batik yang dijajakan dengan digantung pada lapak itu bukan batik tulis, melainkan printing dengan motif besar-besar dan dominasi warna biru. Beberapa motif masih dapat dikenali sebagai pengaruh dari Jawa, misalnya kawung, yang dikombinasi dengan motif abstrak dan sesuluran lain.

***

Masih di acara televisi yang sama disebutkan bahwa Mandela sering tampil sederhana dengan batik Indonesia. Sederhana? Secara paradoksal si mas penyiar menambahkan bahwa batik yang dikenakan Mandela adalah karya Iwan Tirta! [z]

401 total views, 1 views today

Hari Batik Nasional 2013

Hari ini terpaksa tidak mengenakan batik. Himbauan di milis FIB UGM sebenarnya sudah disampaikan sejak kemarin siang, akan tetapi karena sedang bekerja di lapangan maka untuk sementara cuti dari seragam batik.

Tetapi tidak begitu saja saya terbebas dari batik. Hari ini sempat membuat tiga caption tentang batik untuk pameran di Sangatta, Kalimantan Timur.

Kain batik motif Kalimantan

Berbagai wilayah di Indonesia mengembangkan batik dengan mengambil motif setempat yang populer. Para perajin di Kalimantan mengangkat motif sulur atau bunga sebagai sumbangan bagi batik Indonesia.

Batik kombinasi cap dan canting. Samarinda.

Kain batik Jawa

Batik adalah motif kain yang dihasilkan dengan cara tutup (dengan malam) dan celup (dalam zat warna). Salah satu alat untuk melekatkan cairan malam pada kain dalam proses batik adalah canting, yang digunakan dalam batik tulis.

Kain batik sudagaran. Surakarta

Canting

Batik adalah motif kain yang dihasilkan dengan cara tutup (dengan malam) dan celup (dalam zat warna). Salah satu alat untuk melekatkan cairan malam pada kain dalam proses batik adalah canting, yang digunakan dalam batik tulis.

Canting cecekan. Yogyakarta

Dari bawah Bukit Pelangi, Sangatta, saya sampaikan selamat Hari Batik Nasional!

716 total views, no views today

Nonton FKY di Pasar Ngasem

sbr: internet

Festival Kesenian Yogyakarta atawa FKY kali ini cukup istimewa. Pada usianya yang mencapai seperempat abad, pusat kegiatan berpindah dari tempat biasanya, yaitu dari kompleks Museum Benteng Vredeburg, ke kompleks Pasar Ngasem. Perhelatan seni ini dilaksanakan mulai 25 Juni-5 Juli 2013 yang baru lalu. Selain di bekas Pasar Burung Ngasem, kegiatan juga dilakukan antara lain di beberapa monumen dan rumah seniman.

Kompleks Pasar Ngasem hasil revitalisasi memiliki tempat terbuka dengan panggung serupa amfiteater di sisi selatan dan kios-kios di sisi timurnya. Di sisi utara terdapat juga los-los yang kelihatannya sebagian besar masih kosong. Pasar sayur di sisi barat juga telah direnovasi sehingga cukup nyaman untuk berbelanja–bahkan berwisata.

Kompleks timur itulah yang digunakan untuk arena FKY. Selain itu, beberapa spot di Tamansari juga disertakan sebagai pendukung, seperti bengkel (workshop) para kriyawan dan seniman Tamansari.

festival kesenian yogyakarta

Salah satu pentas FKY sore hari di plasa Pasar Ngasem. Tampak di kanan belakang adalah Pulo Cemethi, sementara di sisi kiri terdapat kios dengan atap warna bata tempat para perajin-pedagang membuka lapak.

Barangkali, kemeriahan semacam ini yang dibayangkan oleh para penggagas dan perancang revitalisasi Tamansari. Orang berdatangan menikmati sajian kesenian di panggung terbuka, para perajin membuka lapak di kios-kios sekitarnya.\1

Rasa saya keren sekali kompleks Pasar Ngasem sewaktu FKY itu. Kawasan itu menjadi hidup, para pedagang dan perajin memenuhi kios-kios, juga panggung terbuka menjadi ramai dengan kegiatan kesenian. Keindahan sisa bangunan Pulo Cemethi yang merupakan bagian dari Tamansari dapat dinikmati. Apalagi ketika di malam hari bangunan tersebut diberi sorotan pola-pola cahaya dari beberapa lampu dari belakang panggung.

***

lampion festival kesenian yogyakarta

Lampion berbentuk keranjang menyambut di selasar masuk, mengingatkan pada 'kurungan manuk' Pasar Ngasem dahulu.

Hal yang perlu dipikirkan untuk penyelenggaraan acara besar di Tamansari, terutama untuk acara temporer yang pastinya mengundang banyak pengunjung adalah penataan lalu-lintas dan parkir. Jalan Ngasem cukup sempit, sering dilewati rombongan dengan bis besar. Sehari-hari, parkir sepeda motor biasanya hanya di sisi dalam pagar pasar dan sisi barat Jalan Ngasem. Parkir juga dapat dilakukan di sebelah barat pasar, juga di sekitar Sompilan, ‘pulau’ jalan yang ada pohon beringinnya di timur pasar itu.

Pada FKY kali ini konon terdapat tujuh kantung parkir. Akan tetapi, seputar pertigaan di depan venue Pasar Ngasem terlihat ramai digunakan untuk meletakkan kendaraan roda dua sehingga menambah sempit jalan.

Jangan sampai masalah parkir ini kemudian membuat orang malas mengunjungi kasawan pasar Ngasem, seperti dahulu ketika pasar burung dan ikan hias masih berada di tempat ini. Parkir motor yang dapat dua lapis di bahu jalan di depan pasar waktu itu cukup membuat orang malas sekedar melewati Pasar Ngasem di hari minggu.

Integrasi dengan pasar tradisional di sisi barat juga perlu lebih dipertegas. Pasar Ngasem yang legendaris dengan berbagai makanan tradisonalnya juga sayur-mayurnya dapat menjadi alternatif wisata. Boleh jadi, kegiatan kesenian semacam FKY dapat menjadi sarana promosi bagi pasar tradisional.

***

Tidak sabar menunggu ada event lain di Plaza Pasar Ngasem … [z]

ke atas

Catatan Kaki
  1. Setelah direnovasi beberapa waktu yang lalu, kompleks ini terlihat sepi kegiatan meski pernah terdapat beberapa pentas malam minggu. ^

1,862 total views, 2 views today

Older posts