Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Category: bahasa (page 1 of 9)

Mojo atawa Maja

Buah ini tidak lagi populer, apalagi bagi orang kota. Dahulu di tepi kali atau sawah masih sering saya jumpai pohon dengan buah bulat berwarna hijau berdiameter kurang lebih satu jengkal ini. Dan buah yang tidak tahu untuk apa.  Sepertinya, buah ini pahit, barangkali. Beberapa tulisan di internet bilang bahwa buah ini sebenarnya manis. Nungkin juga di belahan Bumi yang lain buah ini digoreng menjadi cemilan… Siapa tahu.

Meski secara fisik sudah tidak mudah dijumpai, kata ‘mojo’ masih dikenal karena nama kerajaan besar di masa lalu: Majapahit, atau Mojopait. Jika nama maja atau mojo tersebut merujuk ke buah yang sama, yang bernama ilmiah Aegle marmelos itu, maka orang dahulu pun juga merasakan bahwa buah ini berasa pahit. 

Atau, karena orang di Trowulan dulu tahu bahwa ada buah maja yang tidak pahit, sehingga satu jenis yang ditemukan itu harus dilabeli dengan kata “pahit”, agar terbedakan dari maja yang tidak pahit itu. Kemungkinan kedua adalah menyangatkan, yaitu memberi informasi lebih bahwa buah itu memang pahit. Atau kemungkinan ketiga yang mirip dengan yang kedua: bagian pahit itu adalah hal yang paling diingat dari buah hijau ini. Menurut bacaan daring lagi, buah ‘maja’ yang pahit adalah yang disebut berenuk (Crescentia cujete)

Btw, di Boyolali terdapat toponim Mojolegi (“Maja yang manis”), di Kecamatan Teras. Masih di kawasan bekas Karesidenan Surakarta tersebut, terdapat toponim Mojogedang (“Maja pisang”), yaitu di Kabupaten Karanganyar. Menilik namanya, dua-duanya sepertinya adalah buah maja yang edibel, enak dimakan.

Lepas dari itu semua, beberapa toponim di sekitar lokasi yang diduga kuat sebagai salah satu pusat atau ibukota Majapahit, menggunakan buah ini sebagai nama. Sebut Mojokerto yang menjadi nama kabupaten dan nama kota,dan puluhan nama desa di kabupaten ini. Di Kabupaten ini terdapat Kecamatan Mojoanyar dan Mojosari. Sementara itu, desa-desa (setingkat kelurahan) dengan ‘mojo’ adalah Mojosulur, Mojotamping, Mojorejo (terdapat tiga desa dengan nama ini), Curahmojo, Mojokarang, Balongmojo (“kolam dengan pohon maja”), Mojoranu (“danau dengan pohon maja”), Mojogeneng, Mojokembang, Mojolebak, Mojojajar, Mojosari, Mojowiryo, Mojowates, Mojogebang (“pohon maja dan pohon gebang”), Mojopilang, Mojokusumo, Mojokumpul, Mojodadi, Mojowono (“hutan maja”), dan Mojodowo (“maja yang panjang”).

Di kabupaten sebelah, yaitu Jombang, terdapat Mojoagung dan Mojowarno. Di Kediri terdapat nama Mojoroto (“buah maja yang rata” atau “rata dengan pohon maja”). Entah kapan toponim-toponim dengan kata ‘mojo’ tersebut muncul, apakah bersamaan dengan berkembangnya Majapahit atau setelah nama kerajaan ini populer lagi di awal abad ke-20.

Yang jelas, antropolog kenamaan Clifford Geertz terkesan dengan kata yang muncul berulang dalam toponim di Jawa Timur ini, dan memberi nama tempat penelitiannya dengan Mojokuto, seperti kebiasaan para antropolog. Padahal, nama asli tempat penelitiannya tersebut, konon, adalah Pare di Kediri. Pare, peria, atau paria (Momordica charantia) adalah buah yang sama pahitnya dengan maja namun umum dikonsumsi.

Di luar seputaran Mojokerto itu, terdapat Mojolaban di Sukoharjo dan Mojosongo (“Sembilan pohon/buah maja”) di Surakarta, Jawa Tengah. Dan jangan lupa Karangmojo di Gunungkidul, Yogyakarta, yang ada warung sate terkenalnya, “Pak Turut”. Di Jawa Barat terdapat Majalengka, yaitu nama salah satu kabupaten, dan Majalaya, nama daerah di Bandung. Entah apa nama-nama di Sunda tersebut juga merujuk pada buah bulat-hijau itu.

Sancaka sore, YK-MR, 9 Juni 2017.

84 total views, 2 views today

Mudik


Salah satu kata yang populer di seputar hari raya adalah “mudik”. Pengertian umumnya adalah pulang ke tempat asal. Pada hari-hari semacam ini, negeri riuh rendah dengan orang yang pulang kampung. Perhatian seluruh negeri tertuju ke peristiwa ini, yang konon di tahun 2016 diperkirakan terdapat 17,6 juta orang yang mudik lebaran. Jumlah ini sama dengan perkiraan jumlah penduduk Mali tahun 2015, atau lebih banyak dari penduduk Belanda tahun 2016 ini yang berjumlah 16.963.200 orang.

Media massa memberikan porsi yang banyak dalam pemberitaan tentang mudik, atau disebut dengan “arus mudik”. Para naralapor, reporter, dipasang di berbagai ruas jalur penting yang biasanya ramai atau macet. Mereka melapor pada segmen berita khusus tentang peristiwa ini. Umumnya yang terjadi adalah orang-orang pergi dari Jakarta ke tempat-tempat lain di seluruh Nusantara, terutama “Jawa” dan Pulau Sumatera.

Nah, setelah satu-dua hari setelah hari raya, para pemudik mulai kembali ke tempat semula. Orang-orang yang minggu-minggu kemarin meramaikan jalanan dengan arus mudik, sekarang balik ke Jakarta untuk melanjutkan hidup. Media massa memberitakan hal sama dengan beragam istilah: “arus balik”, atau “arus balik mudik” di samping tetap menggunakan kata “mudik”. Terlihat kita agak bingung memberikan istilah yang merupakan lawan kata dari mudik.

Jadi, antonim dari “mudik” adalah “balik”, dalam kasus ini.

Dahulu waktu sekolah saya diajari kata majemuk “hilir-mudik”. Kata ini berarti ada objek yang ke sana ke mari, entah itu orang atau barang seperti kendaraan. Menariknya adalah “mudik” disandingkan dengan kata “hilir”. Hilir tentu bermakna pergi ke tempat air mengalir. Ingat lawan kata “hulu-hilir”. Mudik konon berarti “meng-udik”, “pergi ke udik”, ke suatu tempat nun jauh di sana, tempat air sungai bermula. Istilah “hilir-mudik” mungkin dahulu muncul zaman transportasi sungai masih populer, menjadi andalan. Orang pergi dengan perahu ke hulu dan ke hilir mengikuti panjang sungai, jadi hilir-mudik.

Istilah mudik tentu relevan untuk menyebut orang Jakarta yang pergi pulang kampung ke, misalnya “Jawa”. Namun, banyak mahasiswa saya yang berasal dari Jakarta, dan juga melaksanakan tradisi “mudik” ini. Entah, apa mereka sebaiknya menyebut “ngilir” atau “milir”. [z]

ke atas

462 total views, no views today

Asal

Teman-teman saya lagi berselisih: apakah makanan gebleg berasal dari Purworejo atau Kulonprogo. Dua tempat ini berdampingan namun berbeda provinsi. Purworejo berada di provinsi Jawa Tengah, sementara Kulonprogo berada di DIY.

Gebleg (‘e’ depan dibaca seperti pada ‘kera’, dan ‘e’ belakang seperti pada ‘tokek’), sendiri adalah makanan terbuat dari singkong, dibuat berbentuk lingkaran-lingkaran yang kemudian disatukan. Makanan ini harus dikonsumsi ketika masih panas seusai digoreng sebab jika tidak maka akan sangat alot atau keras.

Pokok perkara ‘perselisihan’ itu adalah pada pemilihan kata yang tidak pas. Sebagian teman menafsir frasa “gebleg dari Purworejo” sebagai “makanan gebleg adalah makanan yang aseli berasal dari Purworejo”. Kabupaten di Jawa Tengah ini dianggap sebagai asal-muasal munculnya gebleg. Penafsir lain membantah dengan mengatakan “gebleg dari Kulonprogo”, dalam arti “makanan gebleg adalah makanan aseli yang berasal dari Kulonprogo”. Teman yang terakhir ini memiliki referensi yang mencukupi: orang-orang Kulonprogo mentahbiskan makanan ini sebagai makanan khas, aseli, dengan melegitimasi dalam batik: gebleg renteng, yang menjadi pakaian ‘resmi’ para pegawai kabupaten di sisi barat Yogyakarta itu.

Usut punya usut, teman yang pertama ternyata hanya ingin menyatakan bahwa “Saya punya gebleg yang dibawa dari Purworejo”. Kata “dari”, atau seka dalam bahasa jawa memang dapat berarti “berasal dari daerah” dalam konotasi seperti “tari janger berasal dari Bali”. Kata ini juga dapat berarti “datang” dalam arti “dibawa dari” atau “dibeli di”. Tidak ada pretensi keaslian di situ.

Akan lebih beragam lagi jika kita mendengar lagu “Gethuk”. Lirik pertama “Gethuk asale saka tela”, berarti “makanan gethuk berasal dari ketela”, dalam konotasi dibuat dari bahan berkarbohidrat itu. Bukan asal lokasional melainkan bahan. Tidak pula mengklaimkan keaslian budaya kuliner suatu suku bangsa, kecuali bahwa nama makanan tersebut digunakan masyarakat Jawa.

Mungin masyarakat lain memiliki makanan yang sama namun dengan nama yang berbeda. Ketela pohon ditemukan di banyak tempat di permukaan bumi ini bahkan kita hanya mengimpor tanaman ini dari Amerika Latin. Pengolahan gethuk pun sangat sederhana, hanya direbus dan ditumbuk.

Jadi, penasaran juga dengan nama gethuk di berbagai suku bangsa di Afrika atau Amerika Latin sono.

Baca juga:

otentik

377 total views, no views today

Hari

Membaca kolom bahasa di harian Kompas beberapa waktu yang lalu mengkonfirmasi mwngapa saya sering ragu dalam menggunakan kata ‘hari’. Apakah yang disebut sehari adalah 24 jam, atau 12 jam. Jika 24 jam, mengapa ada istilah ‘sehari semalam’?

Jika 12 jam, berarti malam ‘hari’ tidak bernama? Jadi, apakah ‘hari Kamis’ hanya di siang ‘hari’, misalnya. Matahari hanya beredar di siang, atau siang hari. Malam tidak punya mata.

Setengah hari adalah sekitar enam jam. Pekerja bangunan akan pulang ke rumahnya saat lohor jika ia bekerja setengah hari.

Perkara nama, untuk malam hari agak dispute. Jam enam sore ke atas disebut kamis malam, malam jumat, atau seperti tetangga-tetangga saya yang menyebutnya langsung sebagai kamis. Sering disebut bahwa ‘pertemuan jumat mendatang diselenggarakan di rumah pak anu’ berarti kamis malam kami akan bertamu ke rumah pak anu.

Mungkin para tetangga ini terpengaruh dengan penyebutan hari lima atau pasaran. Pon-wage-kliwon-legi-paing memang berganti sore hari, bukan jam 12 malam.

312 total views, no views today

Bahasa Lebay

Bahasa lebay, barangkali dalam istilah teknis perbahasaan disebut pleonasme. Di media massa, terutama dalam straight news yang harus cepat menyajikan berita ke publik, sehingga mungkin tidak sempat mengedit dengan ketat, gaya bahasa semacam ini sering kita temui. Contohnya adalah judul berita “Pria Bersenjata Lepaskan Tembakan dalam Kereta Api Eropa”. Ya iyalah, yang melepas tembakan adalah mesti seorang yang bersenjata.

Pada peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi, salah satu media menulis “Ini Curhatan Teman Dita, Pramugari Cantik Trigana Air”. Perasaan pramugari di Indonesia mesti cantik deh.

Entah apa yang dituju oleh penulis berita dengan membuat gaya pleonasme semacam itu. Untuk kasus yang kedua kelihatannya terdapat upaya menonjolkan tragedi: cantik namun menjadi korban.

Sejalan dengan ini adalah gaya yang rasanya bukan pleonasme melainkan lebih kepada provokasi. Misalnya, selalu menyebut mobil yang disita aparat penegak hukum selalu mobil mewah, atau yang digeledah selalu rumah mewah, selingkuhan selalu disebut cantik.

Mungkinkah ragam bahasa jurnalisme semacam itu merupakan cerminan kondisi tertentu masyarakat kita (… dan kondisi apakah itu?)

367 total views, no views today

Older posts