Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Category: BUDAYA (page 1 of 23)

Rawon

Mojokerto dan rawon. Meski makanan satu ini dapat dijumpai di berbagai tempat di Jawa Timur–juga di provinsi selebihnya–namun berkunjung ke bekas pusat Kerajaan Majapahit ini selalu terbayang makanan berkuah hitam ini. Jombang juga terkenal dengan satu rumah makan yang menyediakan olahan daging ini, yang dekat alun-alun itu…

Rawon adalah masakan daging sapi dengan kuah hitam dari buah kluwak, disantap dengan kecambah kacang ijo alias tauge atawa toge, sambal, serta telur asin. Mungkin karena kuah cairnya cukup banyak, salah satu buku terbitan Gramedia memasukkannya ke dalam golongan soto.

Buah kluwak, kluwek, cukup menarik. Kita mungkin hanya mengenal biji dengan cangkang keras dan isi berwarna hitam seperti busuk. Namun, sebenarnya aselinya, yaitu sebelum dibuat menghitam seperti itu, daging biji ini berwarna putih pucat, dan juga dikonsumsi yang di daerah Magelang dikenal sebagai menje. Yap. Ini adalah bagian dari buah pohon pucung (Pangium edule). Sebagian orang menyebutnya sebagai kepayang. Ingat istilah ‘mabuk kepayang’? Buah pohon pucung ini memang memabukkan karena beracun sianida sehingga orang harus pandai-pandai mengolah sebelum dapat menyajikan sebagain menje bacem-goreng.

Kembali ke rawon, Kenapa makanan ini dinamakan rawon? Saya belum menemukan alasannya, baik historis, filosofis, maupun semantiknya. Hanya, guyon saja, karena ada suku kata ‘ra’ yang barangkali adalah potongan dari kata ‘ora‘ alias ‘tidak’, apakah makanan ini berarti tidak ‘won‘ sementara makanan selebihnya adalah ‘won‘?

Apa itu ‘won‘?

Mi-Won? Wah, jangan-jangan ini masakan Korea 🙂

Trowulan, 10 Juli 2017, sehabis sahur dengan rawon.

80 total views, no views today

Mojo atawa Maja

Buah ini tidak lagi populer, apalagi bagi orang kota. Dahulu di tepi kali atau sawah masih sering saya jumpai pohon dengan buah bulat berwarna hijau berdiameter kurang lebih satu jengkal ini. Dan buah yang tidak tahu untuk apa.  Sepertinya, buah ini pahit, barangkali. Beberapa tulisan di internet bilang bahwa buah ini sebenarnya manis. Nungkin juga di belahan Bumi yang lain buah ini digoreng menjadi cemilan… Siapa tahu.

Meski secara fisik sudah tidak mudah dijumpai, kata ‘mojo’ masih dikenal karena nama kerajaan besar di masa lalu: Majapahit, atau Mojopait. Jika nama maja atau mojo tersebut merujuk ke buah yang sama, yang bernama ilmiah Aegle marmelos itu, maka orang dahulu pun juga merasakan bahwa buah ini berasa pahit. 

Atau, karena orang di Trowulan dulu tahu bahwa ada buah maja yang tidak pahit, sehingga satu jenis yang ditemukan itu harus dilabeli dengan kata “pahit”, agar terbedakan dari maja yang tidak pahit itu. Kemungkinan kedua adalah menyangatkan, yaitu memberi informasi lebih bahwa buah itu memang pahit. Atau kemungkinan ketiga yang mirip dengan yang kedua: bagian pahit itu adalah hal yang paling diingat dari buah hijau ini. Menurut bacaan daring lagi, buah ‘maja’ yang pahit adalah yang disebut berenuk (Crescentia cujete)

Btw, di Boyolali terdapat toponim Mojolegi (“Maja yang manis”), di Kecamatan Teras. Masih di kawasan bekas Karesidenan Surakarta tersebut, terdapat toponim Mojogedang (“Maja pisang”), yaitu di Kabupaten Karanganyar. Menilik namanya, dua-duanya sepertinya adalah buah maja yang edibel, enak dimakan.

Lepas dari itu semua, beberapa toponim di sekitar lokasi yang diduga kuat sebagai salah satu pusat atau ibukota Majapahit, menggunakan buah ini sebagai nama. Sebut Mojokerto yang menjadi nama kabupaten dan nama kota,dan puluhan nama desa di kabupaten ini. Di Kabupaten ini terdapat Kecamatan Mojoanyar dan Mojosari. Sementara itu, desa-desa (setingkat kelurahan) dengan ‘mojo’ adalah Mojosulur, Mojotamping, Mojorejo (terdapat tiga desa dengan nama ini), Curahmojo, Mojokarang, Balongmojo (“kolam dengan pohon maja”), Mojoranu (“danau dengan pohon maja”), Mojogeneng, Mojokembang, Mojolebak, Mojojajar, Mojosari, Mojowiryo, Mojowates, Mojogebang (“pohon maja dan pohon gebang”), Mojopilang, Mojokusumo, Mojokumpul, Mojodadi, Mojowono (“hutan maja”), dan Mojodowo (“maja yang panjang”).

Di kabupaten sebelah, yaitu Jombang, terdapat Mojoagung dan Mojowarno. Di Kediri terdapat nama Mojoroto (“buah maja yang rata” atau “rata dengan pohon maja”). Entah kapan toponim-toponim dengan kata ‘mojo’ tersebut muncul, apakah bersamaan dengan berkembangnya Majapahit atau setelah nama kerajaan ini populer lagi di awal abad ke-20.

Yang jelas, antropolog kenamaan Clifford Geertz terkesan dengan kata yang muncul berulang dalam toponim di Jawa Timur ini, dan memberi nama tempat penelitiannya dengan Mojokuto, seperti kebiasaan para antropolog. Padahal, nama asli tempat penelitiannya tersebut, konon, adalah Pare di Kediri. Pare, peria, atau paria (Momordica charantia) adalah buah yang sama pahitnya dengan maja namun umum dikonsumsi.

Di luar seputaran Mojokerto itu, terdapat Mojolaban di Sukoharjo dan Mojosongo (“Sembilan pohon/buah maja”) di Surakarta, Jawa Tengah. Dan jangan lupa Karangmojo di Gunungkidul, Yogyakarta, yang ada warung sate terkenalnya, “Pak Turut”. Di Jawa Barat terdapat Majalengka, yaitu nama salah satu kabupaten, dan Majalaya, nama daerah di Bandung. Entah apa nama-nama di Sunda tersebut juga merujuk pada buah bulat-hijau itu.

Sancaka sore, YK-MR, 9 Juni 2017.

55 total views, no views today

Lukis Gelas

Siang tadi saya menemani anak dan keponakan ikut workshop (?) melukis pada gelas kaca, atau yang dalam bahasa Jawa disebut cangkir beling. Acara itu dilaksanakan dalam rangka pameran temporer Museum Sonobudoyo, yang berjudul “Bujana”. Pameran menampilkan berbagai peralatan makan, dan mainan “masak-masakan”. Ada juga kursi Ki Hajar Dewantara yang entah apa digunakan untuk makan.

Pameran itu di selenggarakan di ruang pamer baru museum tersebut, yaitu bekas gedung Koni, Jalan Pangurakan, yang berada di belakang BNI. Pameran itu dilaksanakan tanggal 14 hingga 25 Desember 2016.

Melukis di gelas kaca tidak terlalu sulit sebenarnya. Gelas dilukis dengan cat khusus untuk kaca. Itu saja. Cuman, cat tersebut harus dicampur katalis terlebih dahulu, kemudian diencerkan dengan tiner M3. Jika mengalami kesalahan dalam melukis, gampang. Usap dengan tisu dibasahi tiner. Gelas akan bersih kinclong seperti semula.

Perkara apakah lukisan jadi bagus, itu hal lain. Cat pada lukisan saya masih tidak rata dan pating plethot. Lukisan karya si mbak instruktur rapih, garis sangat halus dibuat menggunakan tusuk gigi. Bagaimana bisa sebagus itu? “Saya sudah bikin 150 buah,” katanya. Iyalah.

14825706390390_wmMasalah susah lainnya adalah ide. Apa yang harus digambar pada gelas? Mestinya bisa segala macam, dari yang abstrak hingga yang realis. Namun, kita sebaiknya mempertimbangkan media kaca yang berbentuk gelas dan cat yang kebetulan opak itu. Dari gelas-gelas peserta yang sudah jadi, ada yang bagus, ada pula yang macet gagasannya. Nah, saya berpikir cepat dan membuat gambar gelas di atas gelas kaca, eh cangkir di atas cangkir beling, yang di sediakan…

Kemudian jadilah gelas berdekorasi ini. [z]

308 total views, no views today

Mudik


Salah satu kata yang populer di seputar hari raya adalah “mudik”. Pengertian umumnya adalah pulang ke tempat asal. Pada hari-hari semacam ini, negeri riuh rendah dengan orang yang pulang kampung. Perhatian seluruh negeri tertuju ke peristiwa ini, yang konon di tahun 2016 diperkirakan terdapat 17,6 juta orang yang mudik lebaran. Jumlah ini sama dengan perkiraan jumlah penduduk Mali tahun 2015, atau lebih banyak dari penduduk Belanda tahun 2016 ini yang berjumlah 16.963.200 orang.

Media massa memberikan porsi yang banyak dalam pemberitaan tentang mudik, atau disebut dengan “arus mudik”. Para naralapor, reporter, dipasang di berbagai ruas jalur penting yang biasanya ramai atau macet. Mereka melapor pada segmen berita khusus tentang peristiwa ini. Umumnya yang terjadi adalah orang-orang pergi dari Jakarta ke tempat-tempat lain di seluruh Nusantara, terutama “Jawa” dan Pulau Sumatera.

Nah, setelah satu-dua hari setelah hari raya, para pemudik mulai kembali ke tempat semula. Orang-orang yang minggu-minggu kemarin meramaikan jalanan dengan arus mudik, sekarang balik ke Jakarta untuk melanjutkan hidup. Media massa memberitakan hal sama dengan beragam istilah: “arus balik”, atau “arus balik mudik” di samping tetap menggunakan kata “mudik”. Terlihat kita agak bingung memberikan istilah yang merupakan lawan kata dari mudik.

Jadi, antonim dari “mudik” adalah “balik”, dalam kasus ini.

Dahulu waktu sekolah saya diajari kata majemuk “hilir-mudik”. Kata ini berarti ada objek yang ke sana ke mari, entah itu orang atau barang seperti kendaraan. Menariknya adalah “mudik” disandingkan dengan kata “hilir”. Hilir tentu bermakna pergi ke tempat air mengalir. Ingat lawan kata “hulu-hilir”. Mudik konon berarti “meng-udik”, “pergi ke udik”, ke suatu tempat nun jauh di sana, tempat air sungai bermula. Istilah “hilir-mudik” mungkin dahulu muncul zaman transportasi sungai masih populer, menjadi andalan. Orang pergi dengan perahu ke hulu dan ke hilir mengikuti panjang sungai, jadi hilir-mudik.

Istilah mudik tentu relevan untuk menyebut orang Jakarta yang pergi pulang kampung ke, misalnya “Jawa”. Namun, banyak mahasiswa saya yang berasal dari Jakarta, dan juga melaksanakan tradisi “mudik” ini. Entah, apa mereka sebaiknya menyebut “ngilir” atau “milir”. [z]

ke atas

395 total views, 1 views today

Cabai

Meski konon katanya berasal-usul dari luar negeri, benda kecil satu ini merupakan hal yang sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat Nusantara. Berbagai penganan dibuat pedas dengan cabai alias lombok. Tidak hanya masakan Padang yang selalu pedas, orang Yogya pun sudah ketularan doyan makanan pedas. Sambel goreng, misalnya, yang selalu disertakan dalam sepaket gudeg itu, pastilah pedas. Makan tahu goreng hingga tempe kemul pun kurang afdol tanpa pendamping cabai. Jangan lupa kuliner pinggir jalan yang beberapa tahun terakhir berseliweran di televisi, yaitu oseng-oseng mercon. Ditanggung mulut terbakar saat mengkonsumsinya.

Pada skala nasional, kadang cabai dapat mengganggu konsentrasi pemerintah, dan juga rakyat. Musim hujan berkepanjangan, atau Ramadhan dan Lebaran datang menjelang, komoditas satu ini akan menyita perhatian kita karena harganya pasti melambung. Sebenarnya entah apa hubungan cabai dan puasa Ramadhan. Kolak pisang tidak memerlukan cabai sama sekali.

‘Ketergantungan’ kita akan cabai mungkin karena mengkonsumsi bahan makanan ini merupakan semacam olah raga, sport, yang berkaitan dengan peningkatan adrenalin. Aktivitas yang agak-agak menyerempet ketidaknyamanan selalu malah dicari, seperti mengkonsumsi cabai yang dapat membakar mulut dan lambung itu.

Tetapi tidak masalah dengan rasa tidak nyaman itu. Terdapat ungkapan bahasa Jawa, kapok lombok . Kapok setelah terbentur masalah, tetapi lain kali tetap akan melakukannya lagi. Dalam hal makan lombok adalah masalah kepedasan, hingga mungkin perut mulas dan harus bermasalah di kakus.

Serunya lombok atawa cabai tdak berhenti di situ. Persis seperti batu akik yang beragam jenis, ternyata cabai juga beraneka ragam. Secara umum mungkin kita, eh masyarakat di sekitar saya, hanya mengenal dua jenis, yaitu lombok rawit dan lombok jawa. Yang pertama berbentuk kecil,  berasa pedas, dan biasa digunakan untuk sambal, sementara satunya berbentuk besar dan kurang pedas. Yang terakhir ini malah sering disayur, bukan menjadi tambahan yang minoritas.

Namun, terdapat berjenis-jenis lombok di luar yang dua itu. Memang, jika kita pergi keluar dari Jawa, akan ketemu beragam cabai. Umumnya berwarna hijau, kecil, keras, dan …. pedas! Rumus umum dari tingkat kepedasan adalah dengan melihat bentuknya. Semakin besar semakin kurang kepedasannya.

Ahli cabai kemudian membuat skala kepedasan.Pak Scoville merumuskan indeks SHU pada awal abad yang lalu. Rumus itu untuk mengukur dengan pasti seberapa pedas suatu cabai. Namun, skala itu kelihatannya hanya beredar di kalangan tertentu dan tidak tersebar luas meski sudah terbilang berusia seabad. Maka, Yu Yem yang menjual lotek tetap bertanya dengan skala biji: “lomboke pinten?” cabai berapa. Alhasil, kadang lotek terasa lebih pedas dari yang diharapkan, atau malah tidak terasa pedas sama sekali.

Beberapa produk makanan kemasan mencantumkan kemasan skala kepedasan menurut mereka. Sebuah produk keripik mencantumkan ‘level’ untuk kepedasannya, misal ‘level 3’. Meski demikian, tidak jelas seperti apa level 3 itu. Yang jelas, keripik level ini relatif lebih pedas dibanding level 2.

Tingkat kepedasan cabai memang tidak sama. Konon, ketika harga cabai cukup tinggi, maka rasa cabai akan tidak pedas. Hal ini terjadi karena para petani buru-buru memetik cabai yang masih muda untuk segera dijual. Begitu pula sebaliknya, jika harga lagi turun, maka rasa cabai akan pedas karena dipetik setelah cukup umur. Petani menunggu harga membaik sebelum memetik.

Jadi, loteknya mau seberapa shu?

Sancaka, 09:37 selepas ketemu penggila cabai, Pak Halim.[z]

ke atas

393 total views, no views today

Older posts