Rasanya, pada Ramadhan dan Syawal tahun 2018 ini terlihat banyak bertaburan kata-kata ini: “Ramadhan Kareem” dan “Eid Mubarak”. Kata-kata itu terlihat pada selebaran, iklan di koran, di televisi, hingga pada kain-rentang yang dipasang di bagian depan toko. Kemarin-kemarin, kata-kata itu lebih banyak muncul ketika kita meng-google gambar untuk ucapan saat puasa dan idul fitri, yang akan ketemu pada situs-situs web milik orang luar negeri sono.

Yang muncul di Indonesia, ejaannya pun menggunakan “EYD Inggris”: “kareem” ketimbang “karim” atau “kariim” yang lebih dahulu kita punya. Tentu tidak masalah menggunakan istilah karim dan mubarak ini, karena bermaksud baik juga: “Ramadhan Mulia” dan “Lebaran penuh berkah”. Kurang lebih. Di depan sebuah toko kain di Yogyakarta dipasang kata “Ramadhan Mubarak”. Ramadhan memang penuh berkah juga.

Hanya yang menarik adalah irisan antara aspek komersial (iklan) dan bahasa asing itu. Juga, mungkin nanti akan sangat intensif sehingga menggeser frasa “selamat menjalankan ibadah puasa” dan “selamat hari raya idul fitri”. Orang-orang bisnis memang berusaha kreatif untuk menggunakan hal-hal baru, berbau asing, atau sedang trend, untuk menarik pembeli. Mungkin dari mereka kebudayaan, termasuk kebiasaan kita, perlahan berubah. Dan kita sedang menyaksikannya.

Selamat merayakan idul fitri, mohon maaf lahir dan batin. [z]