Buah ini tidak lagi populer, apalagi bagi orang kota. Dahulu di tepi kali atau sawah masih sering saya jumpai pohon dengan buah bulat berwarna hijau berdiameter kurang lebih satu jengkal ini. Dan buah yang tidak tahu untuk apa.  Sepertinya, buah ini pahit, barangkali. Beberapa tulisan di internet bilang bahwa buah ini sebenarnya manis. Nungkin juga di belahan Bumi yang lain buah ini digoreng menjadi cemilan… Siapa tahu.

Meski secara fisik sudah tidak mudah dijumpai, kata ‘mojo’ masih dikenal karena nama kerajaan besar di masa lalu: Majapahit, atau Mojopait. Jika nama maja atau mojo tersebut merujuk ke buah yang sama, yang bernama ilmiah Aegle marmelos itu, maka orang dahulu pun juga merasakan bahwa buah ini berasa pahit. 

Atau, karena orang di Trowulan dulu tahu bahwa ada buah maja yang tidak pahit, sehingga satu jenis yang ditemukan itu harus dilabeli dengan kata “pahit”, agar terbedakan dari maja yang tidak pahit itu. Kemungkinan kedua adalah menyangatkan, yaitu memberi informasi lebih bahwa buah itu memang pahit. Atau kemungkinan ketiga yang mirip dengan yang kedua: bagian pahit itu adalah hal yang paling diingat dari buah hijau ini. Menurut bacaan daring lagi, buah ‘maja’ yang pahit adalah yang disebut berenuk (Crescentia cujete)

Btw, di Boyolali terdapat toponim Mojolegi (“Maja yang manis”), di Kecamatan Teras. Masih di kawasan bekas Karesidenan Surakarta tersebut, terdapat toponim Mojogedang (“Maja pisang”), yaitu di Kabupaten Karanganyar. Menilik namanya, dua-duanya sepertinya adalah buah maja yang edibel, enak dimakan.

Lepas dari itu semua, beberapa toponim di sekitar lokasi yang diduga kuat sebagai salah satu pusat atau ibukota Majapahit, menggunakan buah ini sebagai nama. Sebut Mojokerto yang menjadi nama kabupaten dan nama kota,dan puluhan nama desa di kabupaten ini. Di Kabupaten ini terdapat Kecamatan Mojoanyar dan Mojosari. Sementara itu, desa-desa (setingkat kelurahan) dengan ‘mojo’ adalah Mojosulur, Mojotamping, Mojorejo (terdapat tiga desa dengan nama ini), Curahmojo, Mojokarang, Balongmojo (“kolam dengan pohon maja”), Mojoranu (“danau dengan pohon maja”), Mojogeneng, Mojokembang, Mojolebak, Mojojajar, Mojosari, Mojowiryo, Mojowates, Mojogebang (“pohon maja dan pohon gebang”), Mojopilang, Mojokusumo, Mojokumpul, Mojodadi, Mojowono (“hutan maja”), dan Mojodowo (“maja yang panjang”).

Di kabupaten sebelah, yaitu Jombang, terdapat Mojoagung dan Mojowarno. Di Kediri terdapat nama Mojoroto (“buah maja yang rata” atau “rata dengan pohon maja”). Entah kapan toponim-toponim dengan kata ‘mojo’ tersebut muncul, apakah bersamaan dengan berkembangnya Majapahit atau setelah nama kerajaan ini populer lagi di awal abad ke-20.

Yang jelas, antropolog kenamaan Clifford Geertz terkesan dengan kata yang muncul berulang dalam toponim di Jawa Timur ini, dan memberi nama tempat penelitiannya dengan Mojokuto, seperti kebiasaan para antropolog. Padahal, nama asli tempat penelitiannya tersebut, konon, adalah Pare di Kediri. Pare, peria, atau paria (Momordica charantia) adalah buah yang sama pahitnya dengan maja namun umum dikonsumsi.

Di luar seputaran Mojokerto itu, terdapat Mojolaban di Sukoharjo dan Mojosongo (“Sembilan pohon/buah maja”) di Surakarta, Jawa Tengah. Dan jangan lupa Karangmojo di Gunungkidul, Yogyakarta, yang ada warung sate terkenalnya, “Pak Turut”. Di Jawa Barat terdapat Majalengka, yaitu nama salah satu kabupaten, dan Majalaya, nama daerah di Bandung. Entah apa nama-nama di Sunda tersebut juga merujuk pada buah bulat-hijau itu.

Sancaka sore, YK-MR, 9 Juni 2017.

56 total views, 1 views today