Di Singapura ada wayang. Tentu bukan hal yang aneh, dikelilingi oleh budaya yang mengenal wayang, setidaknya ada Indonesia di sisi selatan, Malaysia di utara, dan Thailand lebih jauh di utara, membuat negara pulau ini juga mengenal wayang.

Namun entah seperti apa rincian bentuknya, saya tidak sempat menjumpai artefak apalagi pertunjukannya. Jejak keberadaan wayang saya lihat sebagai mural pada satu pagar di antara Museum Peranakan dan Museum Filateli, November 2015. Wayang kulit, dengan perpaduan dari berbagai etnis: dari Jawa dapat dikenali dari bagian kepala, dengan tampak samping dan ikatan rambut yang khas seperti para ksatria Pandawa. Sementara pengaruh dari Thailand terlihat pada ujung-ujung pakaian yang mencuat.

Mural Wayang pada sepenggal pagar di Singapura

Unsur Singapura modern tentu ada pula: tokoh wayang mengenakan dasi kupu. Di sana-sini di pagar tembok yang sepanjang dua puluhan meter itu terdapat gambar pixel, yang seperti bata ditumpuk-tumpuk itu. Dan tentu isi cerita scene tersebut juga Singapura: satu tokoh membawa cat semprot, dan satu membawa rol cat. Saya rasa scene itu menggambarkan kampanye antigrafiti, di samping bahwa mural itu sendiri adalah upaya mengurangi grafiti.

190 total views, 1 views today