Satu lagi objek wisata budaya dan alam. Lokasi objek tersebut terletak di perbatasan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, dan Kabupaten Kulonprogo, DIY. Jembatan Duwet, yang disebut oleh teman-teman saya sebagai Jemdu, yang mengangkangi Kali Progo, menghubungkan langsung dua kecamatan di kedua provinsi tersebut, yaitu Kecamatan Kalibawang di Kulonprogo, dan Kecamatan Ngluwar di Kabupaten Magelang, wetan Progo tentunya.

Jembatan ini bukan jembatan baru. Saya sudah beberapa kali melintasinya sejak duduk di bangku SD di sekitar akhir tahun 1970-an. Prasasti yang terletak di sisi Kalibawang menjelaskan bahwa jembatan ini dibangun pada tahun 1960. Sumber lain bercerita bahwa jembatan ini sudah ada pada masa Kolonial, dibangun pada tahun 1930-an. Yang baru dari jembatan ini adalah beberapa bagian hasil pemugaran di akhir tahun 2015 yang baru lalu, seperti lantai kayu. Jembatan ini sekarang kinclong, tidak seperti sebelumnya yang kusam sehingga agak menakutkan untuk dilewati.

Jembatan Duwet adalah jembatan gantung. Dua utas kabel besar terlihat melengkung di bagian atas, dan selasar jembatan bergantungan kepada dua kabel tersebut melalui kawat-kawat yang lebih kecil. Di kiri-kanan selasar terdapat pagar besi dengan konstruksi sederhana, yang sekarang dirapatkan dengan kawat kasa di sisi luar. Aliran air kali yang coklat nun jauh di bawah jembatan, diapit oleh tebing-tebing yang curam di sisi-sisinya.

Atraksi

Sebagai objek wisata, tentu (harus) ada atraksi yang dapat dinikmati oleh para pengunjung. Beberapa di antara atraksi tersebut adalah sebagai berikut.

What to see. Konstruksi jembatan gantung, alam berupa Kali Progo yang lebar dan dalam, lengkap dengan tebing, air coklat, dan tetumbuhan di sekitarnya. Di sisi selatan jembatan juga terdapat air terjun kecil.

What to do. Pengunjung dapat berjalan melintasi jembatan sekaligus uji nyali. Bagian tengah jembatan ini terasa bergoyang terutama jika terdapat sepeda motor yang lewat. Pengunjung kemini umumnya mengambil foto lingkungan dan terutama foto selfi.

What to buy. Durian! Kawasan di sekitar jembatan ini terkenal sebagai penghasil buah durian yang dianggap baik oleh penggemar di seputar Yogyakarta. Durian dijajakan pada beberapa rumah tepat di mulut jembatan di sisi Ngluwar/Bligo.

Jembatan duwet

Panorama sisi hilir Kali Progo di Jemdu.

jembatan duwet

Prasasti tentang… prasasti.

jembatan duwet

Sosok jembatan, dengan para turis lokal yang menikmati sore di Jemdu.

jembatan duwet

Konstruksi besi penopang kabel.

jembatan duwet

Sekerup raksasa di ujung jembatan.

jembatan duwet

Fasilitas parkir, terutama untuk para pembeli durian.

Aksesibilitas
Untuk mencapai Jembatan Duwet, wisatawan dapat melalui jalan Nanggulan-Muntilan, untuk kemudian berbelok ke arah timur di sebelah utara Dekso mengikuti petunjuk ke arah Ngluwar.

Dari jalan Yogyakarta-Magelang, pengunjung dapat mengambil arah selatan dari pertigaan Semen ke arah Ngluwar. Sekitar delapan kilometer, setelah SD Bligo III, mengambil arah kanan. Jika menumpang angkutan umum, dari Muntilan atau Semen, ambillah jurusan Blaburan. Turun di Bligo Beteng setelah SD Bligo III tersebut, atau di Selokan Mataram, dan diteruskan dengan berjalan kaki beberapa ratus meter ke arah kanan.

Dari Tempel, Seyegan, atau Godean, pengunjung harus mencapai pertigaan Sepetek (setelah Buk Renteng dari arah Minggir) dan mengambil arah ke Muntilan/Magelang. Setelah bertemu dengan Selokan Mataram, dapat menyusuri jalan inspeksi ke arah kiri.

Kunjungan
Kunjungan ke Jemdu sebaiknya dilakukan sore hari, ketika matahari sudah tidak begitu menyengat. Jalan-jalan sore ke objek ini dapat dilakukan sembari menikmati sawah-sawah hijau di wilayah Bligo–sisi timur Progo, atau pegunungan Menoreh dengan jalan berkelok-liku di sisi barat Progo, yaitu di daerah Kalibawang. Jika ingin lebih serius, dapat pula dilakukan dengan bersepeda menelusuri Selokan Mataram yang membentang dari Sungai Progo di ‘Ancol’, Kecamatan Ngluwar hingga berhilir di Kali Opak di kawasan Berbah, Sleman. [z]

untuk Cah-cah ’87.

ke atas

1,372 total views, 2 views today