Pernah menjalani dan kemudian menjadi ‘objek’ kegiatan KKN, Kuliah Kerja Nyata, terpikir beberapa hal yang mungkin perlu dikuasai oleh para mahasiswa. Sering terlihat para mahasiswa bingung ketika berada di depan publik. Mungkin mereka terpaku dengan tegang pada masalah ‘apa yang harus dilakukan’, dalam arti program-program apa yang harus dilakukan nanti di lokasi KKN. Namun, tak kurang penting adalah perkara ‘bagaimana melakukannya’, dalam arti cara komunikasi dijalin dengan para warga.

Komunikasi, atau ‘pertukaran kode’ dalam istilah teknisnya, terjalin dari berbagai tindakan. Dalam konteks KKN, proses ini telah dimulai setidaknya sejak penerjunan (begitu disebut di UGM) mahasiswa ke lokasi. Mengenakan seragam almamater, misalnya, sudah menunjukkan perilaku komunikasi.

***

Secara resmi, komunikasi mulai dilakukan oleh mahasiswa ketika mengunjungi warga, melakukan perkenalan. Umumnya, pertama adalah mengunjungi para tokoh desa, baik formal maupun bukan. Kemudian warga lain, termasuk para tetangga dari rumah pondokan. Kemudian, ada lagi komunikasi dengan para warga ketika mereka berkumpul. Umumnya peserta KKN akan menemui kumpulan warga untuk menjalankan program-programnya. Pada kesempatan semacam itu diperlukan sedikit kemampuan berkomunikasi agar kegiatan berjalan lancar.

Dalam kegiatan penyuluhan, sosalisasi, demonstrasi, atau motivasi, kadang mahasiswa tidak tahu apa yang harus dikatakan. Sebagai warga yang kadang didatangi KKN, saya merasa ada beberapa hal yang harus dipersiapkan atawa dilakukan oleh para tamu saya, mahasiswa KKN itu karena kadang mereka tidak tahu apa yang harus dibicarakan, bagaimana memulainya dsb. Berikut mungkin berguna bagi mereka.

Umumnya para mahasiswa datang berombongan, tidak sendirian dalam menemui warga. Nah, salah satu harus bertindak sebagai ketua rombongan atau juru bicara. Kenalkan kepada warga siapa mereka (mungkin belum pernah berkenalan sebelumnya, namun jika pernah bertemu, mengenalkan lagi dapat mencairkan suasana). Kemudian, apa maksud kedatangan mereka. Misalnya, kali ini akan memberikan penyuluhan tentang pembuatan benda tertentu. Nah, kenalkan siapa yang akan melakukan apa, dan bagaimana urutan acara kali ini.

Pembicaraan tentang membuat suatu benda, baik kerajinan, pengolahan sesuatu, dsb, tentu tidak bisa langsung kepada cara membuatnya. Perlu diberi pengertian mengapa hal itu perlu dilakukan. Misalnya, karena di desa ini terdapat banyak limbah jerami, maka akan sangat baik jika dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, bukan hanya memberi makan ternak atau malah hanya dibakar. Jelaskan pula bagaimana hal itu akan membantu warga, meski tidak kemudian kemudian menjadi miliarder. Misalnya, lingkungan menjadi bersih, mendapatkan sedikit tambahan penghasilan, atau mempermudah hidup.

Baru kemudian cara mengerjakan sesuatunya itu. Apa alatnya, bagaimana cara kerjanya, apa bahan bakunya, apa hasilnya, dan bagaimana perhitungan efektivitasnya. Alat peraga sangat diperlukan. Jika tidak dapat didemonstrasikan secara langsung (misalnya harus membakar sesuatu padahal lokasi pertemuan berada di dalam rumah), perlu pengganti seperti foto, gambar, bagan. Hasil akhir yang sudah jadi perlu dibawa untuk diperlihatkan. Mirip dengan acara memasak di televisi. Presenternya sudah menyiapkan barang jadi yang ditunjukkan di akhir acara.

Kemudian dialog dengan warga dibuka, meski biasanya warga boleh juga menyela pembicaraan/presentasi dengan pertanyaan.

Setelah semua selesai, ucapkan terima kasih, dan harapan ” … semoga kami para mahasiswa lakukan dapat membantu warga. Kurang-lebihnya mohon maaf … ”

Begitu.

***

Tentu komunikasi, sebagaimana telah disampaikan di awal tulisan ini, bukan hanya ketika melakukan sosialisasi. Pendekatan kepada warga perlu dilakukan setiap hari. Tidak perlu muluk-muluk harus ketemu secara formal, namun kadang komunikasi informal lebih mengena. Misalnya, dengan memilih berjalan kaki daripada naik sepeda motor, maka akan lebih banyak bertemu dengan warga, dapat saling menyapa. Kumpulan warga, seperti ronda, atau sekedar kerumunan di sudut jalan, perlu juga didatangi. Umumnya warga akan senang jika para pendatang ini berpartisipasi dalam kegiatan mereka atau bahkan sekedar menyapa berbasa-basi.

Bahasa yang berbeda bukan halangan untuk dekat dengan warga. Tetangga saya di desa masih ingat dengan peserta dari Papua yang tidak dapat berbahasa Jawa namun selalu berkomunikasi dengan warga dengan cara sebisanya setiap mereka bertemu.

346 total views, 2 views today